Kisah Ayub: Kebijakan Allah yang Dipertanyakan
PRASANGKA IBLIS (Pendahuluan)
Shalom, kita akan mempelajari seri kitab Ayub. Kitab ini bagi sebagian besar sulit dipahami. Tetapi kita akan mencoba mempelajarinya untuk memahaminya.
Kita Ayub masuk dalam kategori kitab hikmat bersama dengan Mazmur, Amsal, Pengkotbah, Kidung Agung.
Kitab yang berisi cerita tentang Ayub. Tapi ini bukan tentang Ayub. Namun tentang Tuhan. bukan tentang penderitaan Ayub, tapi tentang Allah yang kebijakannya sedang diuji.
Kitab ini berisi banyak tentang alasan-alasan kebenaran dari pada alasan penderitaan.
Membaca kitab Ayub dan melihat Ayub menderita begitu hebat menimbulkan pertanyaan dan perdebatan tentang siapa yang dapat memahami mengapa Ayub orang benar. Setia. Tetapi menderita..
Banyak orang yang mengaku bijaksana mencoba menganasilis mengapa Ayub menderita. Mereka mengatakan Ayub menderita karena telah melalukan dosa besar.
Namun hikmat mereka semua salah. Tuhan yang bijaksana. Itu akan terungkap kemudian.
Dalam Ayub 1:1 keterangan tentang karakter Ayub dilaporkan, “orang itu saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan..”
Jadi Ayub adalah orang benar..
Namun pertanyaannya, Apakah Ayub akan mempertahankan integritasnya; kesalehan, kejujuran, dan takut akan Allah pada saat dia menderita?
Karena pada hemat Iblis dan mungkin orang-orang yang lain, yang cemburu pada kekayaan Ayub, mereka menduga bahwa kemakmuran Ayub itu bersifat transaksional.
Maksudnya, Ayub setia kepada Tuhan hanya karena dia diberkati berlimpah-limpah. Dan itulah argumentasi Iblis kepada Tuhan di ayat 9-10.
Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: “Apakah dengan tidak mendapat apa-apa Ayub takut akan Allah?
Bukankah Engkau yang membuat pagar sekeliling dia dan rumahnya serta segala yang dimilikinya? Apa yang dikerjakannya telah Kauberkati dan apa yang dimilikinya makin bertambah di negeri itu.
Jadi iblis membuat premis bahwa Ayub takut akan Tuhan hanya karena telah memberkatinya dengan kekayaan. Maka jika semua kekayaannya diambil, maka dia akan berubah meninggalkan Tuhan.
Karena itu pandangan ini telah mempertanyakan kebijakan Tuhan dalam memberkati orang benar.
Pandangan ini bermasalah. Jika kemakmuran; kekayaan, sebagai hadiah atas kebenaran, maka kebenaran sejati akan tumbang.
Karena orang akan bertindak benar semata-mata untuk mendapat keuntungan. Maka Tuhan dalam kebijakannya telah menciptakan orang-orang bayaran.
Persoalan mendasar yang dipertanyakan dalam kitab Ayub adalah apakah memberkati orang benar dengan kemakmuran (Kekayaan, Kesehatan), merupakan kebijakan yang baik bagi Allah?
Sang penantang. Iblis. Berargumen bahwa ini bukanlah kebijakan yang baik. Sebab kalau Ayub diuji, semua kekayaannya dicabut akan terbukti dia tidak akan setia.
Maka akan terbukti, kebenarannya semata hanya untuk mendapat kekayaan. Tidak akan pernah menjadi kebenaran yang sejati.
Poinnya, Iblis menduga motif Ayub melakukan kebenaran adalah agar diberkati oleh Tuhan dengan kemakmuran.
Melakukan kebenaran, setia kepada Tuhan agar diberkati dengan kemakmuran materi adalah cara berpikir yang kurang tepat.
Kesetiaan dan kesalehan hidup tidak tergantung kepada kemakmuran secara materi dan Ayub membuktikannya. Dia tetap setia kepada Tuhan saat hidupnya melarat dan hampir mati.
Roma:8:28, “Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.”
BAGAIMANA ALLAH MENJALANKAN DUNIA INI?
Pertanyaan utama dalam kitab Ayub adalah bagaimana Allah menjalankan dunia ini?
Respon Ayub terhadap penderitaannya menjadi penting karena akan menjadi pertimbangan untuk melihat bagaimana Tuhan menjalankan dunia ini.
Disini kita akan melihat apakah ada kebenaran tanpa pamrih atau melayani Tuhan tanpa pamrih..
Saat Ayub menderita kita dapat melihat bahwa dia memiliki masalah dengan kebijakan Tuhan.
Dia beranggapan bahwa kebijakan Tuhan membiarkan orang benar menderita adalah kebijakan yang buruk. Dia berpikir Allah tidak adil.
Ketika orang-orang benar menderita itu bukanlah kebijakan yang baik.
Maka mucul pertanyaan yang lebih dalam. Apakah benar kebijakan Allah untuk memberkati hanya orang benar dan mendatangkan penderitaan hanya kepada orang jahat?
Jika jawabanya “ya” mengapa dalam praktekt hidup sering kali hal itu tidak benar? faktanya banyak orang benar menderita dan sebaliknya orang jahat kaya raya. Makmur..
Bagaimana Allah menjalankan dunia ini? Apakah kita bisa mengatakan bahwa kebijakan Allah adalah yang terbaik?
Jadi saat kita mempertanyakan kebijakan Allah, maka Ayub adalah contoh kasus yang dapat kita pertimbangkan bagaimana Allah mengatur dunia ini dan bagaimana kita berpikir tentang Allah ketika hidup kita menjadi kacau..
Nah untuk memahami bagaimana Allah menjalankan dunia ini maka kita harus fokuskan pikiran kita kepada Allah bukan kepada Ayub.
Kita perlu melihat alasan kebenaran bukan alasan penderitaan..
Mungkin pertanyaannya perlu kita ganti. Kita sering membuat pertanyaan, “Mengapa Ayub menderita?
Sekarang kita ganti pertanyaanya, , “Mengapa Ayub orang benar?”
Tidak ada penjelasan yang pasti yang ditawarkan mengapa penderitaan terjadi. Tetapi ada banyak hal yang menarik tentang apa yang dimaksud dengan kebenaran..
Kita tidak perlu memahami penderitaan Ayub. Karena kita tidak akan mampu memahaminya. Apalagi kita tidak pernah merasakan penderitaan seperti dia..
Apa yang perlu kita pahami adalah kebenarannya. Apakah kebenaran Ayub bertahan ketika kebijakan Allah tidak dapat dipahami atau tidak masuk akal?
Rasa sakit dan penderitaan Ayub menimbulkan perdebatan tentang mengapa dia menderita. Ketiga sahabatnya bertindak sebagai guru bijaksana.
Mereka memiliki pendapat masing-masing tentang alasan penderitaan Ayub.
Dan kita akan dapat melihat dalam alur cerita, siapa yang menang dalam perdebatan tentang alasan penderitaan Ayub. Tuhan juga masuk dalam perdebatan..
Pada akhirnya kita akan melihat bahwa ini bukan tentang Ayub tetatau tentang manusia yang hikmatnya terbatas..
Tetapi ini tentang Tuhan, yang hikmatnya tidak terbatas dan hanya dia yang Maha Bijaksana, yang kebijaksanaan-Nya sulit diselami manusia..
Paulus menyadari akan hal itu, dia mengatakan,
“O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!”
“Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya?” Roma 11:33-34.
Dalam buku Kebahagiaan Sejati, hal 99 menuliskan,
“Mustahil sekali pikiran yang terbatas dengan sepenuhnya memahami semua sifat pekerjaan Allah Yang Tiada Batasnya itu. Bagi pikiran yang cerdas sekalipun, otak yang dididik setinggi-tingginya, kepadanya Allah masih tetap harus merupakan rahasia..”
Poinnya bahwa kita tidak dapat memahami cara kerja Allah atas dunia ini. Tetapi kita dapat memahaminya tindakan-Nya terhadap kita dan motif yang menggerakkan-Nya.
“Kita dapat memahami maksud-maksud-Nya sejauh yang perlu kita tahu untuk kebaikan kita; dan lebih daripada itu kita harus percaya pada tangan yang maha kuasa, hati yang penuh dengan kasih itu.” KS, 99.
Jadi sekali pun kita tidak tahu mengapa orang benar menderita, yang kita tahu adalah bahwa Allah bekerja disana untuk kebaikan kita..
“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8:28
TIDAK SEMUA DAPAT DIJELASKAN
“Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau; Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu.” Ayub 42:5–6
Bagaimana kita berpikir dengan baik tentang Allah ketika bencana melanda? Ketika hidup berjalan tidak baik: Kecelakaan, penyakit, dukacita, usaha gagal, musibah menimpa kita, dll
Kita ingin mengetahui bagaimana Allah mengatur dunia ini. Dan apakah kebenaran kita akan bertahan?
Kitab Ayub menjelaskan bahwa kita tidak dapat menjelaskan semua peristiwa yang terjadi dalam hidup kita.
Kita tidak dapat memahami cara Allah bekerja menjalankan dunia ini. Ayub juga menjelaskan bahwa keadilan Allah bukanlah dasar bagaimana dunia ini berjalan.
Dari pada mencoba memahami segala sesuatu yang terjadi sebagai cerminan dari keadilan Allah, kita harus belajar untuk mempercayai hikmat-Nya atas segala sesuatu.
Karena kita tidak memahami cara Tuhan menjalankan dunia ini, maka Tuhan menyuruh kita untuk diam saja.
Tuhan berkata, “Akulah Allah, engkau bukan Tuhan..jadi diam saja urus urusanmu sendiri..”
“Aku bisa melakukan apa yang kuinginkan,”
Pemahaman yang lebih baik adalah, “Akulah Allah, yang sangat bijaksana dan berkuasa, jadi Aku ingin kamu mempercayai-Ku bahkan ketika kamu tidak mengerti.”
Rasa sakit pasti akan menimpa kita masing-masing. Kita tidak dapat menghindari penderitaan dalam hidup ini.
Maka hal yang lebih penting adalah, apakah hubungan kita dengan Tuhan cukup ketika pencobaan datang?
Akankah kita mempercayai-Nya pada waktu kita menderita? Coba baca Ayub 38–42 . Luangkan waktu merenungkannya.
Berdoalah untuk iman yang lebih kuat kepada Pencipta yang kuat yang dijelaskan dalam pasal-pasal tersebut.
Berdoalah untuk sudut pandang yang benar tentang-Nya sehingga kita dapat melihat situasi kita melalui mata-Nya.
Alih-alih bertanya di mana Tuhan ketika kita menderita, kitab Ayub menegaskan kendali Tuhan dan bertanya kepada kita, “Di mana kita dalam rasa sakit kita?
Apakah kita mempercayai Pencipta kita, meskipun kita tidak dapat memahami keadaan kita?”
Tuhan mengizinkan rasa sakit karena alasan yang baik, tetapi Dia mungkin tidak pernah mengungkapkan alasan-alasan itu.
Tuhan tidak menjawab pertanyaan Ayub tentang “Mengapa?” Dia malah membanjiri Ayub dan teman-temannya dengan kebenaran tentang keagungan dan kedaulatan-Nya.
Ayub menjadi lebih memahami kuasa dan kemegahan Tuhan, lebih mempercayai-Nya. Itu sebabnya Ayub berkata:
“Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau; Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu.” Ayub 42:5–6
Join channel telegram websitekami.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya
Join now



