Pastordepan Media Ministry
Beranda Seri Berkat Abraham Ketika Tuhan mengingat Sara (Kejadian 21:1)

Ketika Tuhan mengingat Sara (Kejadian 21:1)

DRAMA kebohongan Abraham telah berakhir dengan damai. Tidak ada konflik. Balas dendam atau pertikaian lanjutan. Benar-benar damai.

Abimelek yang merupakan korbah penipuan Abraham telah ditegur Tuhan akan ketidak tahuannya tentang status Sara.

Abraham telah mengakui kesalahannya. Dan Abimelek telah memberikan kompensasi sejumlah harta benda kepada Abraham.

Abraham telah mendoakan Abimelek dan seisi rumahnya untuk kesembuhan dari kemandulan. Dan berkat Abraham menjadi bagian mereka yaitu perempuan mereka melahirkan anak-anak.

Abraham masih tinggal di tanah Negeb. Sekarang dia dapat hidup tenang menikmati hari tuannya bersama Sara.

Iman mereka kepada Tuhan semakin bertumbuh. Mereka telah banyak belajar dari Kesalahan demi kesalahan yang mereka lakukan..

Itu semakin mendekatkan mereka kepada kekudusan hidup dan ketergantungan kepada Tuhan. Iman dan tabiat mereka semakin berkilau. Pencobaan hidup telah memoles karakternya.

Mereka masih ingat setahun yang lalu, saat mereka masih tinggal di dekat pohon tarbantin di Mamre, Tuhan memberitahukan bahwa tahun depan, Sara sudah akan menggendong bayi.

Walau dianggap sebagai candaan dari Tuhan, namun mereka tetap berharap dan percaya. Maka setelah peristiwa dengan Abimelek, narasi selanjutnya di pasal 21 menuliskan..

TUHAN memperhatikan Sara, seperti yang difirmankan-Nya, dan TUHAN melakukan kepada Sara seperti yang dijanjikan-Nya. (21:1)

Kata Tuhan memperhatikan Sara adalah Tuhan tidak melupakan Sarah. Memperhatikan dari kata paqad yang diterjemahkan dalam Septuaginta dengan kata kerja episkeptomai..

Secara harfiah berarti memandang, pergi untuk melihat, memeriksa dengan saksama, memeriksa keadaan sesuatu, menjaga atau mengawasi..

Ini menggambarkan seseorang pergi menemui yang lain dengan maksud untuk memberikan bantuan..

Ini bukan sekedar “mampir,” tetapi menyiratkan intervensi yang disengaja dalam kehidupan seseorang.

Dalam Septuaginta episkeptomai berbicara tentang kunjungan dari Tuhan, dan ini kunjungan untuk kebaikan.

Dalam penggunaan Yahudi, ini umumnya menunjukkan untuk mengunjungi dengan tujuan merawat dan memenuhi kebutuhan mereka yang dikunjungi.

Dalam hal ini Sarah perlu rahimnya dibuka agar bisa melahirkan anak.

Jadi TUHAN memperhatikan Sara, menggambarkan campur tangan ilahi untuk memberkati. Di sini Ia mengunjungi Sarah, untuk mengizinkannya memiliki anak yang dijanjikan.

Disini Tuhan membuat mujizat. Bagi wanita yang normal dan masih muda, melahirkan anak itu biasa. Namun bagi perempuan tua, tua sekali seperti Sara, perlu ada mujizat sebab dia sudah menopause..

Secara alami menurut hukum alam, dia tidak dapat mengandung, apalagi selama ini dia mandul.

Setahun yang lalu Tuhan datang dan memberitahukan kabar baik yang akan segera terjadi,

Dan firman-Nya: “Sesungguhnya Aku akan kembali tahun depan mendapatkan engkau, pada waktu itulah Sara, isterimu, akan mempunyai seorang anak laki-laki.” Dan Sara mendengarkan pada pintu kemah yang di belakang-Nya. (18:10-11).

Waktu itu Sara tertawa mendengar kata-kata diatas. Lalu Tuhan berkata, “Adakah sesuatu apa pun yang mustahil untuk TUHAN?..”

Pada waktu yang telah ditetapkan itu, tahun depan, Aku akan kembali mendapatkan engkau, pada waktu itulah Sara mempunyai seorang anak laki-laki.”

Bahwa tidak ada yang terlalu sulit bagi Tuhan. Allah dapat menciptakan manusia tanpa ayah dan ibu itulah Adam.

Allah dapat membuat Maria mengandung tanpa seorang laki-laki. Kalau hanya membuat perempaun tua mengandung dan melahirkan, itu terlalu mudah buat Tuhan..

Karena Dia juga mampu menghadirkan kehidupan dari “kematian” dan kematian menjadi kehidupan.

Oleh karena itu, Abraham setidaknya memiliki dua alasan untuk mempercayai janji-janji Allah:

(1) Allahnya mahakuasa, dan

(2) “tidak mungkin bagi Allah untuk berdusta”, Ibrani 6:18 .

Sebelumnya Abraham dan Sarah telah berusaha untuk mempercepat segala sesuatunya dengan berbagi wanita lain untuk mendapatkan anak.

Tetapi Allah tidak membutuhkan rencana manusia untuk membantu-Nya mencapai tujuan-Nya.

Sekitar 25 tahun telah berlalu sejak Tuhan pertama kali berbicara kepada Abraham di Ur-Kasdim. Selama waktu itu Abraham mengalami banyak petualangan dan banyak pasang surut spiritual.

Kadang-kadang dia sangat percaya kepada Tuhan, tetapi sering kali dia ragu. Berkali-kali Tuhan menampakkan diri kepadanya untuk mengingatkannya tentang janji-Nya.

Saya yakin dia sering bertanya-tanya mengapa Tuhan butuh waktu begitu lama untuk menepati Firman-Nya.

Biarkan kisah kelahiran Ishak mengingatkan kita tentang kebenaran ini: Tuhan tidak pernah datang lebih awal dan Dia tidak pernah terlambat.

Dia juga tidak terburu-buru dan Dia tidak bekerja sesuai dengan jadwal kita.

Seberapa sering kita gelisah dan rewel dan marah ketika Tuhan menunda jawaban-Nya atas doa-doa kita.

Jauh lebih baik untuk mengatakan, “Tuhan, biarlah kehendak-Mu terjadi pada waktu-Mu sendiri dengan cara-Mu sendiri.”

Dan pada waktunya seperti kepada Sara, Tuhan akan memperhatikan kita dan melakukan apa yang Dia janjikan. Pada waktu dan cara Tuhan sendiri.

“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya..” Pengkhotbah 3:11.

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan