Ketika teman hanya ada ketika senang(Ayub 6:15-21)
Setelah mempertanyakan daya tahannya dalam menghadapi penderitaannya, sekarang Ayub mempertanyakan kesetiaan teman-temannya dalam mendukungnya..
Dia mengatakan, “Siapa menahan kasih sayang terhadap sesamanya, melalaikan takut akan Yang Mahakuasa..” (Ayub 6:14).
Ayub merasakan dalam penderitaannya, teman-temannya tidak setiakawan kepadanya. Mereka tidak melindunginya.
Kata kasih sayang dari kata ibrani ḥesed. Kata ini sering digunakan untuk menggambarkan jenis kasih yang ditunjukkan Allah kepada umat-Nya.
Itu adalah jenis kasih yang menghasilkan perlindungan dan pertolongan di saat kesulitan.
Misalnya, dalam Mazmur 77, di tengah penderitaan, pemazmur bertanya apakah ḥesed Allah telah lenyap..
Ayub menduga bahwa kesetiaan teman-temannya memang belum terwujud. Mereka tidak melindunginya; mereka menyerangnya.
Mereka membuat masalah semakin rumit dan ruwet. Bukan memperkecilnya. Dalam pikirannya, sikap seperti itu menunjukkan bahwa mereka bukan pengikut Tuhan yang setia.
Orang-orang seperti itu tidak menunjukkan sikap takut kepada Allah (Syaddai). Perbuatan mereka tidak sesuai dengan pengakuan mereka..
Dalam hidup, saat kita menderita, boleh jadi kita menemukan orang-orang seperti teman-teman Ayub, yang dalam penderitaan, bukannya membantu, namun menjadi hakim yang menghukum kita atas penderitaan kita.
Entah pun kita menderita karena perbuatan kita sendiri, namun tidak seharusnya orang-orang menghakimi dan menuduh kita dengan kata-kata sindiran.
Pada saat ada saudara kita yang menderita, seharusnya kita seperti Tuhan, yang bertindak sebagai penolong dan pelindung dalam kesukaran.
Tindakan seperti itu menunjukkan siapa kita dihadapan Tuhan. Kita harus setiakawan. Gantinya menyerang atau meninggalkan mereka yang menderita, sebaliknya kita ada bersama mereka..
Sahabat sejati terliat bukan pada waktu kita senang. Ketika semua baik-baik saja. kita masih punya uang dan kedudukan.
Coba lihat, ketika uang dan kedudukan kita telah hilang, apakah masih ada yang datang kepada kita untuk tertawa dan menangis bersama?
Mungkin masih ada. tapi tidak banyak. Atau bahkan tidak ada sama sekali. Mereka semua pergi..
Mereka bukanlah sahabat Allah. Mereka sahabat mamon, yang selalu ada karena ada kepentingan.
Setelah kita tidak lagi penting bagi mereka, kita ditinggalkan. Sendirian. Tanpa dukungan.
Selanjutnya, dalam Ayub 6:15–20, Ayub kemudian mengemukakan metafora yang panjang untuk menggambarkan sifat ketidaksetiaan teman-temannya..
Metafora tersebut melukiskan gambaran tentang harapan yang tidak terwujud.
Ayub mengibaratkan teman yang tidak setiakawan itu seperti sungai yang kering.
“..seperti sungai, seperti dasar dari pada sungai yang mengalir lenyap, yang keruh karena air beku, yang di dalamnya salju menjadi cair..’
“..yang surut pada musim kemarau, dan menjadi kering di tempatnya apabila kena panas; berkeluk-keluk jalan arusnya, mengalir ke padang tandus, lalu lenyap..”
Poin dari metafora ini menyatakan bahwa teman-teman akan melimpah dengan kebaikan dan kesetiaan selama masa-masa baik..
Tetapi ketika cobaan berat datang, kebaikan itu menghilang; mereka menjadi tidak dapat diandalkan.
Kemudian Ayub menggambarkan tentang kafilah yang terkejut dan tertipu dengan keadaan sungai yang kering..
“..Kafilah dari Tema mengamat-amatinya dan rombongan dari Syeba mengharapkannya, tetapi mereka kecewa karena keyakinan mereka, mereka tertipu setibanya di sana. Demikianlah kamu sekarang bagiku, ketika melihat yang dahsyat, takutlah kamu…” Ayub 6:19-21.
Umumnya para Kafilah-kafilah jaman dulu, sangat ahli dalam menyeberangi gurun yang panas. Mereka para pedagang yang handal..
Ayub menyebutkan dua kota terkenal, Tema dan Sheba, yang ada hubunganya dengan kafilah. Tema adalah pusat jalur perdagangan di barat laut Arab, dan Sheba adalah pusat di barat daya Arab.
Kafilah-kafilah dari kota-kota ini melakukan usaha komersial secara teratur melalui tanah tandus ini, mengikuti jalan yang memiliki stasiun-stasiun yang terputus-putus dengan sumber air yang dapat diandalkan.
Tetapi jika mereka menemukan sumur atau mata air yang dapat diandalkan dan mendapatinya kering, mereka akan terkejut.
Dalam keputusasaan, sebuah kafilah akan meninggalkan dasar lembah dan berbelok-belok naik melalui tanah tandus mencari air, tetapi tidak menemukan jejaknya.
Seluruh kafilah akan binasa di pasir yang tak berjejak. Terperangkap oleh kebodohan mereka karena mengandalkan apa yang mengecewakan mereka, mereka malu dan bingung.
Ayub menerapkan metafora-metafora ini secara langsung kepada teman-temannya. Ia berdiri di hadapan mereka, seperti kafilah yang kehausan di depan sungai yang kering.
Teman-temannya seperti sungai yang kering kepadanya. Mereka tidak berarti apa-apa. Mereka tidak memiliki air segar untuk ditawarkan kepadanya.
Saat memandang Ayub, mereka merasa takut. Ketakutan telah melenyapkan kesetiaan mereka dan menggagalkan upaya mereka untuk menghiburnya.
Saat kita menderita, mungkin kita menemukan teman-teman kita seperti sungai kering. Tidak dapat memberi apa-apa. Mereka tidak berguna.
Tapi jangan kecewa. Kita masih memiliki seorang sahabat sejati, yang tidak meninggalkan kita saat menderita. Dia adalah Yesus Kristus.
Dia mengundang kita, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu..” Matius 11:28
Pemazmur mengatakan, “Allah adalah tempat perlindungan dan kekuatan kita, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti.” Mazmur 46:2
Nahum 1:7: “TUHAN itu baik; Ia adalah tempat perlindungan pada waktu kesusahan; Ia memperhatikan orang-orang yang berlindung kepada-Nya.”
Andalkan Tuhan, maka hidup kita akan OKE. Andalkan manusia kita akan KO.




