Ketika penyembahan dianggap pemborosan (Matius 26:6-13)
“Ketika Yesus berada di Betania, di rumah Simon si kusta, datanglah seorang perempuan kepada-Nya membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi yang mahal. Minyak itu dicurahkannya ke atas kepala Yesus, yang sedang duduk makan. Melihat itu murid-murid gusar dan berkata: “Untuk apa pemborosan ini?” Matius 26:6-13.
Pasal 26 diawali cerita rencana pembunuhan Yesus. Namun ceritanya di jeda sementara dengan menyisipkan cerita kilas balik ke hari Sabtu sebelumnya..
Yaitu ketika Yesus datang ke daerah Betania dan Betfage, sebelah timur Yerusalem dekat Bukit Zaitun (lihat Matius 21:1; Markus 11:1).
Kisah ini mengharukan. Digambarkan sebagai persiapan kematian Yesus. Pertemuan yang dilandasi kasih.
Saat berada di Betania, Yesus dan para murid diundang ke rumah Simon si penderita kusta untuk makan malam.
Dari kisah Yohanes kita mengetahui bahwa Maria, Marta, dan Lazarus juga hadir dan bahwa Marta menyajikan makanan tersebut, mungkin sebagai tanda persahabatan dengan Simon dan juga dengan Tuhan (Yohanes 12:1-3).
Simon diperkenalkan sebagai simon sikusta untuk menerangkan kondisi dia sebelumnya. Artinya dia pernah menderita penyakit kusta..
Penyakit tersebut sangat berbahaya pada masa itu. Tidak dapat diobati. Orang yang menderita sakit tersebut hanya tinggal menunggu hari kematiannya..
Orang yang sakit kusta akan menderita secara fisik dan batin. Dia akan dikucilkan dari lingkungan. Dia tidak boleh tinggal dikota dan bergaul dengan orang-orang.
Dia akan dikarantina disebuah tempat terpencil.
Dan Simon telah disembuhkan oleh Yesus. Sebagai rasa terima kasih, dia mengundang Yesus dan murid-murid untuk makan dirumahnya.
Pada saat makan malam itu, seorang wanita, yang tidak disebutkan namanya oleh Matius tetapi menurut Yohanes adalah Maria (12:3), datang kepada-Nya dengan sebuah botol pualam berisi minyak wangi yang sangat mahal..
Dan dia menuangkannya ke atas kepala-Nya ketika Dia sedang berbaring di meja. Dari Markus kita mengetahui bahwa minyak wangi yang sangat mahal itu harganya “lebih dari tiga ratus dinar,”
Itu adalah jumlah upah setahun bagi seorang buruh atau tentara biasa, dan bahwa cawan pualam yang mahal itu pecah, sehingga membuat tindakan Maria menjadi lebih mahal lagi (Markus 14:3-5 ).
Memang, pada masa itu ada tradisi meminyaki kepala para tamu yang datang. Mungkin tidak semua tamu, tetapi tamu-tamu yang terpandang secara status sosial.
Ini dilakukan untuk menyambut dan sebagai tindakan keramah tamahan.
Dan Ketika Maria mengurapi Yesus dengan minyak, itu melebihi dari tindakan keramahan yang umumnya dilakukan..
Maria adalah orang yang memberikan perhatian khusus terhadap ajaran Yesus (lihat Lukas 10:39).
Dan saat ini dia menerima dan memahami pentingnya kematian Yesus yang mungkin akan terjadi dalam waktu dekat..
Pemahaman dia lebih baik daripada Dua Belas Rasul. Dia merasakan bahwa dalam kematian tragis Yesus, entah bagaimana, ada penebusan baginya.
Dia memahami apa yang para murid tidak ingin pahami, bahwa Yesus harus mati untuk dibangkitkan kembali.
Karena itu, Maria tidak ingin terperangkap dalam keinginan duniawi dan egois. Minyak yang berharga itu bisa dia pendam untuk diri sendiri, tetapi tidak akan berdampak apa-apa.
Minyak itu dicurahkannya ke atas kepala Yesus, yang sedang duduk makan..
Menurut Yohanes 12:3, minyak itu juga digunakan mengurapi kaki Yesus. jadi bisa dibayangkan minyak itu habis dan tidak tersisa.
Dan memang Maria tidak mempunyai rencana menyisakan minyak itu, tetapi dia ingin mencurahkan semuanya untuk Yesus.
Tindakan itu adalah kesaksian kasihnya kepada Yesus. Maria mencurahkan jiwanya dalam ibadah bahkan saat dia menuangkan minyak wangi.
Karena sepenuhnya dikendalikan oleh pemujaan kepada Tuhannya, maka dia tidak merasa sayang dengan minyak itu. Meminyaki Yesus jauh lebih penting dari uang.
Maria tidak mempersembahkan harta berharga itu untuk mendukung suatu program atau pelayanan, namun mempersembahkannya kepada Kristus sendiri.
Dia mempersembahkan harta duniawinya yang paling mahal kepada Tuhan dalam suatu tindakan pemujaan yang limpah dan penuh kasih.
Selain minyak narwastu yang mahal, botol tempat penyimpanan minyak itu juga mahal. Itu dibuat dari batu pualam yang mahal menerupai marmer dan semi transparan.
Botol itu memiliki leher yang Panjang. Maka bila ingin mengeluarkan seluruh minyak, maka leher botol itu harus dipatahkan..
Dan mematahkan leher botol itu dan mencurahkan minyak dikepala Yesus.
Narwastu yang digunakan Maria bukan sembaran minyak. Itu Narwastu murni. Minyak itu diekstraksi dari akar tanaman narwastu yang ditanam di India.
Sehingga minyak ini bukan minyak yang umum terdapat disetiap rumah tangga. Ini adalah minyak wangi yang mahal, yang digunakan untuk upacara pengabdian yang khidmat dan khusus.
Saya pernah memiliki minyak wangi yang mahal. Dari luar negeri. Saya berusaha menghemat minyak itu supaya tidak cepat habis. Saya pakai satu atau dua tetes saja. Bertahan hampir 2 tahun.
Maria dapat menghemat minyak itu.
Tetapi dengan dia memecahkan botol tersebut, menunjukkan bahwa ia tidak hanya menuangkan beberapa tetes untuk menambah aroma pesta tetapi juga melakukan tindakan pengabdian diri tertinggi kepada Yesus, bahkan mengurapi kaki-Nya. (lih. Yoh 12:3).
Sekarang, apakah reaksi dari murid-murid terhadap tindakan Maria?
Melihat itu murid-murid gusar dan berkata: “Untuk apa pemborosan ini? Selanjutnya Yudas dengan lantang berkata untuk mempertanyakan, yang menurut mereka pemborosan..
“Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?”
Jadi, harga minyak itu setidaknya tiga ratus dinar (Markus 14:5), setara dengan upah rata-rata pekerja selama satu tahun (yaitu setara dengan lebih dari $12.000)
Atau kalau dirupiahkan dalam kurs saat ini kurang lebih 180 juta rupiah.
Motif Yudas mengatakan demikian bukan karena dia peduli kepada orang miskin. Yohanes 12:6 menjelaskan,
“Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya.”
Intinya, dia ingin uang kas bisa lebih banyak, supaya dia dapat mengambil lebih banyak untuk dirinya sendiri..
Apa yang dia katakan sangat tidak rohani dan cenderung melukai perasaan Maria. Cara dia menilai tindakan Maria sangat dangkal.
Itu karena hubungan dan pemahaman mereka terhadap recana Tuhan sangat dangkal..
Bagi Maria, tidak ada yang terlalu mahal untuk diserahkan kepada Yesus. Dia telah memberi contoh kepada kita tentang pengabdian sejati kepada Tuhan..
Mari kita persembahkan hidup kita kepada Tuhan, sebagai pengabdian tertinggi kita.








