“Agama yang murni dan tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka…” (Yakobus 1:27)

Kita mendengar beberapa hamba Tuhan meninggal dunia saat mereka masih aktif melayani. Ada yang masih berusia muda. Anak-anak mereka masih kecil.

Ada yang sudah mendekati pensiun. Anak-anak mereka sudah besar dan bekerja.

Beristirahatnya seorang hamba Tuhan, entah karena sakit atau kecelakaan, selalu meninggalkan duka yang dalam dan beban yang berat.

Ada duka yang sering kali tidak terlihat oleh banyak orang.

Ketika seorang pendeta meninggal, bukan hanya anggota jemaat yang kehilangan gembala mereka.

Terlebih, ada seorang istri yang kehilangan suami, yang selama ini dia dampingi melayani dengan setia. Tanpa gaji dan penghargaan.

Ada anak-anak yang kehilangan ayah mereka, yang selama ini mereka dukung pelayanannya dengan setia.

Ada sebuah keluarga yang kehilangan orang yang selama ini menjadi penopang kehidupan. Penyedia nafkah. Makanan dan minuman serta kebutuhan lain bagi mereka.

Beristirahatnya banyak para hamba Tuhan menjadi pengingat bagi kita bahwa keluarga kita bisa mengalami apa yang mereka alami.

Kita meninggal suatu waktu, entah karena kecelakaan atau sakit. Tentu kita tidak mengharapkan itu terjadi. Namun apa yang tidak kita harapkan sering kali terjadi.

Di balik berita dukacita, ada seorang istri yang kini harus menjalani hidup tanpa pendamping. Separuh jiwanya ikut mati.

Ada anak-anak yang kehilangan ayah mereka. Bersamaan dengan itu, keluarga juga kehilangan pencari nafkah utama.

Sumber penghasilan tidak ada lagi. Istri tidak bekerja bukan karena tidak punya kompetensi.

Tapi karena fokus melayani dengan suaminya dan aturan gereja yang tidak mengijinkannya bekerja, kecuali untuk beberapa pekerjaan seperti guru dan petugas medis.

Itu pun sulit sebab pendeta harus pindah tugas keberbagai wilayah yang jauh.

Maka pertanyaan yang kemudian layak direnungkan bukanlah untuk menyalahkan siapa pun, melainkan untuk mencari jalan yang lebih baik bagi masa depan keluarga para hamba Tuhan, yang ditinggal mati oleh sang pendeta.

Ketika Pelayanan Berakhir Mendadak

Kematian adalah seperti pencuri malam hari. Tidak ada yang tahu. Mendadak dan mengejutkan.

Saya masih ingat, ada pendeta yang meninggal dunia, tidak sedang dalam keadaan sakit.

Beliau sedang mengikuti sebuah acara di satu tempat. Di malam hari tidur di asrama, namun malam itu juga meninggal sementara tidur.

Ada pendeta yang meninggal saat berkotbah di mimbar.

Pendeta meninggal dalam kecelakaan saat perjalanan pelayanan. Anda bisa tambahkan lagi para hamba Tuhan yang meninggal ketika mereka aktif dalam pelayanan.

Poinnya, tidak ada seorang pendeta yang tahu kapan pelayanannya di dunia akan berakhir.

Banyak pendeta yang melayani hingga usia lanjut, meski sudah pensiun. Mereka masih sehat dan aktif.

Namun ada pula yang meninggal ketika mereka masih sangat dibutuhkan. Baik oleh keluarga dan jemaat.

Banyak pendeta hidup dengan penghasilan yang sederhana..

Namun ketika mereka meninggal, sering kali keluarga menghadapi masa transisi yang berat. Khususnya dibidang dukungan keuangan.

Tadinya setiap bulan menerima dana yang sudah pasti dari gereja. Sekarang penghasilan berhenti seketika.

Sementara kebutuhan hidup terus berjalan dan tidak bisa ditawar.

Mereka harus meninggalkan rumah pastori atau tidak lagi mendapatkan bantuan sewa rumah.

Tagihan tetap datang dan harus dibayar.

Biaya pendidikan anak tetap harus dibayar.

Biaya makan, tempat tinggal, dan kebutuhan sehari-hari tidak ikut berhenti hanya karena seorang pendeta telah meninggal. Semua itu terus berjalan..

Di sinilah gereja dihadapkan pada sebuah pertanyaan penting: apakah sistem yang ada sudah cukup melindungi keluarga para pelayan Tuhan?

Tanggung Jawab Organisasi gereja Bukan Sekadar Pemakaman

Sudah menjadi hal yang baik jika organisasi membantu biaya pemakaman atau memberikan santunan.

Namun pertanyaannya, apakah tanggung jawab itu berhenti sampai di sana?

Alkitab menunjukkan bahwa jemaat mula-mula tidak membiarkan janda-janda hidup terlantar (Kisah Para Rasul 6). Apalagi janda seorang pendeta, yang setia mengabdi. Sampai harus sakit.

Rasul Paulus juga mengajarkan pentingnya memperhatikan mereka yang berkekurangan di dalam keluarga iman.

Artinya, kepedulian kepada keluarga hamba Tuhan bukan hanya tindakan belas kasihan, tetapi juga bagian dari tanggung jawab moral dan rohani orang percaya.

Tentu, kemampuan setiap organisasi berbeda-beda. Tidak semua gereja memiliki sumber daya yang sama.

Namun setiap organisasi dapat memikirkan langkah-langkah yang sesuai dengan kapasitasnya untuk memberikan perlindungan yang lebih baik bagi keluarga pelayan Tuhan.

Haruskah Istri Pendeta Bekerja?

Pertanyaan ini sering muncul, tetapi jawabannya tidak sesederhana “ya” atau “tidak.” Banyak faktor yang menyertai.

Mungkin tidak ada aturan baku untuk ini. Karena kenyataanya banyak istri pendeta bekerja, bukan hanya di gereia, tapi juga diluar lingkungan gereja..

Mungkin seorang istri pendeta yang memiliki pendidikan, keterampilan, perlu bekerja agar dapat menopang keluarga, ketika terjadi keadaan yang tidak terduga. Seperti kematian.

Banyak keluarga pendeta yang dapat bertahan karena istri memiliki kemampuan untuk ikut menopang ekonomi rumah tangga.

Namun di sisi lain, tidak adil jika muncul anggapan bahwa setiap istri pendeta wajib bekerja. Kondisi setiap keluarga berbeda.

Ada istri pendeta yang memilih fokus mendampingi pelayanan suami, membina jemaat, mengasuh anak, atau melayani dalam berbagai bidang gereja. Itu pun merupakan pelayanan yang bernilai.

Karena itu, isu ini sebaiknya tidak dipandang sebagai kewajiban mutlak, melainkan sebagai kesiapsiagaan keluarga.

Bila memungkinkan, memiliki keterampilan, pendidikan, atau sumber penghasilan tambahan dapat menjadi bentuk hikmat dalam mengantisipasi masa depan.

Apa yang Bisa dilakukan Organisasi gereja untuk Mengantisipasi?

Daripada hanya bereaksi setelah seorang pendeta meninggal, organisasi dapat memikirkan langkah-langkah pencegahan dan perlindungan jangka panjang, misalnya:

  1. Membangun dana kesejahteraan atau dana darurat bagi keluarga pendeta.
  2. Menyediakan program asuransi jiwa atau kesehatan jika kondisi keuangan organisasi memungkinkan.
  3. Membantu biaya pendidikan anak-anak pendeta yang ditinggalkan hingga tamat kuliah.
  4. Membantu istri pendeta dengan menempatkannya bekerja dikantor daerah atau uni, rumah sakit, atau sekolah atau Lembaga lain yang dimilki organisasi.
  5. Memberikan pendampingan dan pelatihan bagi istri pendeta agar memiliki keterampilan yang dapat digunakan bila diperlukan.
  6. Membantu keluarga memasuki masa transisi setelah kehilangan pencari nafkah, baik melalui dkungan finansial sementara maupun pendampingan pastoral.

Langkah-langkah seperti ini bukan hanya soal bantuan materi, tetapi juga menunjukkan bahwa gereja menghargai pengabdian para pelayan Tuhan beserta keluarga mereka.

Tanggung Jawab Jemaat Juga Penting

Kepedulian terhadap keluarga pendeta bukan hanya tugas organisasi. Jemaat yang selama ini telah dilayani juga dapat mengambil bagian.

Kasih tidak berhenti ketika suara pendeta tidak lagi terdengar dari mimbar. Kasih justru diuji ketika keluarga yang ditinggalkan membutuhkan perhatian, doa, dan dukungan nyata.

Sering kali, satu beasiswa bagi anak, bantuan usaha kecil bagi istri, atau perhatian yang konsisten jauh lebih berarti daripada belasungkawa yang hanya berlangsung beberapa hari.

Pelajaran Bagi Semua Pendeta

Kita harus memikirkan masa depan keluarga kita tanpa merasa kurang beriman. Merencanakan keuangan, memiliki dana darurat..

Mempertimbangkan perlindungan asuransi jika memungkinkan, serta melibatkan pasangan dalam perencanaan ekonomi keluarga adalah bentuk tanggung jawab, bukan tanda kurang percaya kepada Tuhan.

Meningkatkan kompetensi Istri kita dengan berbagai ketrampilan, pendidikan, agar suatu waktu mereka dapat survive tanpa sang pendeta.

Iman tidak bertentangan dengan hikmat. Dalam Alkitab, kita diajar untuk mempercayai pemeliharaan Allah sekaligus hidup dengan bijaksana dalam mengelola apa yang dipercayakan-Nya.

Selain itu, kita harus menjaga Kesehatan tubuh kita. Mengaktifkan pola hidup sehat. Rutin cek ksehatan. Dan waspada dalam berkendara.

Penutup

Kematian seorang hamba Tuhan meninggalkan duka yang mendalam.

Namun melalui peristiwa ini juga, kita menjadi terpanggil untuk melakukan evaluasi yang membangun.

Bukan untuk mencari kesalahan, melainkan untuk bertanya: bagaimana gereja dapat lebih baik menjaga mereka yang telah mengabdikan hidupnya bagi pelayanan, serta keluarga yang ikut berkorban bersama mereka?

Seorang pendeta tidak pernah melayani sendirian. Di belakangnya ada istri yang mendukung, dalam doa dan tenaga.

Ada anak-anak yang ikut berkorban, dan keluarga yang sering kali rela menanggung berbagai keterbatasan demi pelayanan.

Karena itu, ketika seorang pendeta meninggal dunia, gereja bukan hanya kehilangan seorang gembala.

Gereja juga dipanggil untuk memastikan bahwa keluarga yang ditinggalkannya tidak merasa ditinggalkan. Tidak menjadi terpuruk, baik secara ekonomi maupun rohani.

“Cara gereja memperlakukan keluarga seorang hamba Tuhan setelah ia meninggal akan menjadi cermin bagaimana gereja menghargai pengorbanan pelayanannya semasa hidup.”

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *