Ketika kasih diabaikan, penghakiman datang (Matius 25:41-43)
“Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya.
Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum;
ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku.” Matius 25:41-43.
Setelah mengucapkan kata-kata berkat, sekarang Yesus beralih kepada kambing, orang-orang disebelah kiri Yesus..
Kepada mereka Yesus mengucapkan kata-kata kutukan: Enyahlah dari hadapan Ku. Enyah kedalam api kekal, bersama iblis dan malaikat-malaikat-Nya..
Tentu ini sangat mengerikan…
Penolakan Yesus adalah karena mereka tidak melakukan perbuatan praktis. Kasih dan belas kasihan.
Mengapa mereka tidak melakukan perbuatan praktis? Mereka tidak memiliki iman yang hidup. Iman mereka mati, karena hanya sekedar jubah agama atau pengakuan belaka.
Mereka cuma senang melayani diri sendiri. Memenuhi hanya kebutuhan sendiri. Mereka berhenti pada diri sendiri.
Mereka tidak mengalokasikan waktu, talenta, harta mereka untuk menunjukkan pelayanan praktis kepada “saudara yang paling hina ini..” Mereka takut lelah, takut berbagi.
Segala sesuatu yang akan mereka lakukan kepada orang-orang yang membutuhkan, semuanya dihitung laba dan ruginya..
Mereka dibatasi oleh kesibukan mereka. Tidak punya waktu melawat orang sakit. Tidak ada waktu kepenjara. Tidak ada waktu membantu orang yang menderita..
“Saya sangat sibuk, pekerjaan saya banyak. Untuk ku saja tidak cukup waktu apalagi kepada orang lain..” demikian mereka berkata dalam hatinya..
Mereka juga dibatasi oleh anggaran mereka. Padahal ini bukan tentang sepuluh atau seratus orang. Ini tentang “salah seorang dari saudara yang hina”
Maka ini bukan tentang saya punya waktu atau uang. Tetapi tentang, apakah saya punya iman yang hidup atau tidak..
Maka prinsip disini adalah bagaimana kita harus keluar dari diri kita sendiri kepada orang lain, tanpa mengabaikan diri..
Mereka yang berada disebelah kiri Yesus, yang digambarkan sebagai kambing, mereka merasa telah berbuat banyak kepada Yesus.
Saat Yesus menerangkan perbuatan praktis yang mereka tidak lakukan mereka komplain..
“Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau?”
Jadi, mereka merasa telah melayani Yesus dengan sepenuh hidup mereka.
Mereka seperti orang yang diceritakan Yesus di Matius 7:21-23. Mereka adalah orang-orang yang menyerukan nama Tuhan, tetapi tidak melakukan kehendak-Nya.
Mereka bernubuat dan mengusir setan dengan nama Yesus. Membuat banyak mujizat demi nama Yesus.
Atau mereka telah berjerih lelah dalam pekerjaan Tuhan…
Tidak ada yang salah dengan bernubuat, mengusir setan dan menyembuhkan. Itu adalah bagian dari pekerjaan Yesus dan murid-murid-Nya dalam rangka pemberitaan injil.
Maka yang salah bukan pada pekerjaan itu, tetapi cara atau motifasi dalam melakukannya.
Jawaban Yesus kepada mereka yang disebelah kirinya,
“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku..”
Kita sudah mengetahui siapa itu saudara Yesus yang paling hina..
Intinya, jika tidak melakukan apa-apa terhadap mereka yang membutuhkan, itu sama dengan mengabaikan Yesus.
Abaikan saja mereka yang menderita kesusahan, tutup pintu kepada mereka, sudah menjadi bukti penolakan kita kepada Yesus..
Yang Tuhan butuhkan bukan ritual keagamaan atau teori agama, tetapi praktikal agama, atau agama yang dipraktekkan. Itu terlihat dari perbuatan praktis..
Jadi, tindakan mereka adalah dosa kelalaian yang sangat besar.
Mereka yang lalai melakukan sesuatu kepada salah seorang saudara Yesus, akan mendapat hukuman yang terakhir..
Kematian kekal..perpisahan dari sumber hidup – Yesus Kristus..
Orang yang diberkati akan merasakan sukacita yang tak terkatakan di hadirat Tuhan selamanya, dan orang yang terkutuk akan mengalami kengerian yang tak terkatakan saat terpisah dari Tuhan.
Matius 25 ditutup dengan berkat bagi orang benar dan kutuk bagi orang jahat..
“Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.”
Hidup kekal atau kematian kekal adalah pilihan bebas setiap orang..







