
“Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang.” — Matius 24:42
Di tengah kerusuhan, konflik antarbangsa, dan ketidakpastian dunia, Yesus mengingatkan kita untuk berjaga-jaga, menjaga kasih, dan tetap setia kepada-Nya.
Dunia yang gelisah
Berita tentang demonstrasi dan kerusuhan di berbagai kota Eropa kembali mengingatkan kita bahwa kehidupan masyarakat modern tidak selalu berjalan tenang.
Persoalan biaya hidup, pendidikan, pekerjaan, dan perumahan membuat banyak orang menyuarakan ketidakpuasan.
Di beberapa tempat, demonstrasi bahkan berubah menjadi bentrokan, perusakan dan penjarahan.
Di tengah berbagai aksi tersebut, terlihat pula simbol-simbol politik dan kemanusiaan, termasuk bendera Palestina dalam demonstrasi solidaritas.
Semua ini memperlihatkan bahwa dunia sedang menghadapi berbagai persoalan yang saling berkaitan, mulai dari tekanan ekonomi hingga konflik internasional.
Bagi orang Kristen, peristiwa seperti ini membawa kita kepada sebuah pertanyaan: apakah keadaan dunia sekarang ini ada hubungannya dengan tanda-tanda akhir zaman yang disampaikan Yesus?
Kita perlu menjawab pertanyaan ini dengan hati-hati. Karena tidak semua kerusuhan membuktikan bahwa kedatangan Yesus sudah sangat dekat dalam hitungan waktu.
Sejarah manusia telah lama diwarnai peperangan, pemberontakan, dan ketidakadilan.
Yang perlu kita lakukan mempelajari perkataan Yesus dan memahami bagaimana seharusnya kita hidup di tengah dunia yang tidak menentu.
1. Peringatan Yesus
Dalam Matius 24:6–8, Yesus berbicara tentang peperangan, kabar-kabar perang, kelaparan, dan gempa bumi di berbagai tempat. Ia menyebut semuanya itu sebagai permulaan penderitaan.
Yesus tidak mengatakan kondisi dunia akan semakin damai menjelang kedatangan-Nya. Sebaliknya, sejarah manusia akan terus diwarnai pergolakan dan kesusahan.
Namun, ada sesuatu yang menarik. Sebelum berbicara tentang peperangan, Yesus berkata, “Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu” (Matius 24:4).
Peringatan pertama-Nya adalah tentang penyesatan.
Mengapa hal ini penting? Karena ketika dunia diliputi ketakutan, manusia mudah mempercayai informasi yang belum tentu benar.
Berita yang menakutkan dapat menyebar dengan cepat. Foto dan video dapat menimbulkan kemarahan, sementara pernyataan politik dapat membuat orang mengambil kesimpulan sebelum mengetahui seluruh fakta.
Karena itu, mempelajari tanda-tanda zaman harus disertai ketekunan mempelajari Firman Tuhan.
Kita perlu membedakan fakta dari dugaan dan tidak menggunakan setiap peristiwa untuk membenarkan pendapat kita sendiri.
Nubuatan diberikan bukan untuk membuat kita sibuk menebak tanggal kedatangan Yesus. Nubuatan menolong kita berjaga-jaga, memahami zaman, dan tetap setia kepada Tuhan.
2. Ketika kasih manusia menjadi dingin
Di antara tanda-tanda yang disebutkan Yesus, ada satu yang sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari.
“Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin” (Matius 24:12).
Yesus tidak hanya berbicara tentang peperangan antarbangsa. Ia juga berbicara tentang keadaan hati manusia.
Kita melihat bagaimana kemarahan dapat berkembang menjadi kebencian. Perbedaan pendapat dapat berubah menjadi permusuhan.
Obanyak orang merasa yakin sedang membela kebenaran sehingga tidak lagi peduli pada cara mereka memperlakukan sesamanya.
Dalam situasi konflik, seseorang mungkin membela kelompok tertentu, tetapi pada saat yang sama merendahkan kelompok lain.
Seseorang mungkin menuntut keadilan, tetapi membenarkan kekerasan. Bahkan, berita yang belum terverifikasi dapat dibagikan hanya karena sesuai dengan pandangan pribadi.
Tentu saja, tidak semua demonstrasi merupakan tindakan kekerasan. Banyak orang menyampaikan pendapat secara damai dan memperjuangkan persoalan yang sungguh-sungguh mereka hadapi.
Kita perlu membedakan mereka dari orang-orang yang melakukan perusakan atau penjarahan.
Namun, perkataan Yesus mengajak kita memeriksa diri sendiri.
Apakah kasih kita masih hidup ketika dunia dipenuhi kemarahan? Apakah kita masih mampu mengasihi orang yang berbeda pandangan?
Apakah kita berani menolak ketidakadilan tanpa memelihara kebencian?
Mungkin salah satu persiapan terpenting menghadapi akhir zaman bukan hanya memahami berbagai nubuatan, melainkan membiarkan Kristus membentuk hati kita agar tetap penuh kasih.
3. Fokus memperhatikan hati kita sendiri
Saat ini, kita dapat mengikuti peristiwa dunia melalui telepon genggam. Dalam hitungan detik, kita bisa melihat kerusuhan di Eropa, peperangan di Timur Tengah, dan berbagai konflik politik di belahan dunia lain.
Pengetahuan itu dapat menolong kita memahami keadaan dunia. Namun, ada bahaya jika kita terlalu sibuk mengikuti berita sampai melupakan kehidupan rohani sendiri.
Kita mungkin mengetahui perkembangan berbagai konflik, tetapi jarang berdoa. Kita dapat berdebat panjang tentang tanda-tanda akhir zaman, tetapi tidak memiliki waktu untuk mempelajari Alkitab.
Kita mungkin sangat yakin bahwa dunia sedang menuju kehancuran, tetapi kehidupan kita sendiri tidak menunjukkan pertumbuhan iman.
Yesus berkata, “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku” (Yohanes 14:1).
Perkataan ini tidak mengajarkan kita untuk menutup mata terhadap masalah dunia. Yesus sendiri meminta umat-Nya berjaga-jaga. Namun, berjaga-jaga tidak sama dengan hidup dalam ketakutan.
Kita dapat memperhatikan keadaan dunia tanpa dikuasai kecemasan. Kita dapat mempelajari nubuatan tanpa menyebarkan spekulasi.
Kita dapat mengetahui penderitaan manusia tanpa kehilangan pengharapan.
Pertanyaan yang lebih penting bukan hanya, “Apa yang akan terjadi dengan dunia ini?” Melainkan, “Bagaimana hubungan saya dengan Kristus hari ini?”
Sebab, kesiapan menyambut kedatangan Yesus tidak diukur dari seberapa banyak berita yang kita baca, tetapi dari iman yang bertumbuh dan kehidupan yang semakin diserahkan kepada-Nya.
4. Tetap setia menantikan kedatangan-Nya
Dalam Matius 24:14, Yesus menyampaikan bahwa Injil Kerajaan akan diberitakan di seluruh dunia sebagai kesaksian bagi semua bangsa.
Di tengah pembicaraan tentang pergolakan dan kesusahan, Yesus tetap menempatkan misi Injil sebagai bagian penting dari gambaran akhir zaman.
Artinya, gereja tidak dipanggil hanya untuk mengamati keadaan dunia. Gereja juga dipanggil untuk bekerja.
Ketika banyak orang kehilangan pengharapan, kita dapat memperkenalkan mereka kepada Kristus.
Ketika keluarga menghadapi kesulitan, kita dapat hadir dan memberikan dukungan. Ketika masyarakat dipenuhi kebencian, kita dapat menjadi pembawa damai.
Ketika orang bingung menghadapi berbagai informasi, kita dapat mengajak mereka mencari kebenaran dengan hati yang jujur.
Yesus berkata dalam Matius 5:9, “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.”
Inilah kesaksian yang dibutuhkan dunia. Bukan sekadar perkataan tentang akhir zaman, tetapi kehidupan yang menunjukkan karakter Kristus.
Sebagai orang Advent, kita percaya pada kedatangan Yesus yang kedua kali. Pengharapan ini seharusnya membuat kita lebih tekun melayani, lebih setia mempelajari Firman Tuhan, dan lebih peduli kepada sesama.
Kita tidak mengetahui hari dan saat kedatangan-Nya. Karena itu, kita tidak perlu menetapkan tanggal berdasarkan kerusuhan, peperangan, atau peristiwa politik tertentu.
Yang perlu kita pastikan adalah bahwa kita hidup dalam hubungan yang benar dengan Tuhan dan tetap setia menjalankan pekerjaan yang dipercayakan kepada kita.
Apakah kita telah bersedia?
Dunia boleh berubah. Pemerintahan dapat berganti. Konflik dapat muncul dan mereda. Berita yang hari ini memenuhi perhatian kita mungkin akan dilupakan beberapa bulan kemudian.
Namun, janji kedatangan Kristus tetap teguh.
Wahyu 21:4 memberikan gambaran tentang masa depan ketika Allah akan menghapus segala air mata.
Tidak akan ada lagi maut, perkabungan, ratap tangis, atau dukacita. Inilah pengharapan yang menolong kita bertahan di tengah dunia yang masih mengenal penderitaan.
Karena itu, ketika menyaksikan dunia semakin gelisah, jangan hanya bertanya apakah akhir zaman semakin dekat.
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah apakah iman kita semakin kuat, apakah kasih kita masih hidup, dan apakah kita tetap setia kepada Kristus.
Kita tidak dipanggil untuk hidup dalam ketakutan, tetapi dalam pengharapan. Kita tidak dipanggil untuk menebak-nebak tanggal kedatangan Tuhan, tetapi untuk berjaga-jaga dan melakukan kehendak-Nya.
Jadi jangan sibuk membaca tanda-tanda zaman. Pastikan bahwa hati kita tetap tertuju kepada Dia yang akan datang kembali.
Maranatha! Tuhan kita datang.



