Kesepakatan jahat di balik pintu tertutup (Matius 26:3-4)
KETIKA RENCANA JAHAT MENJADI BERKAT
“Pada waktu itu berkumpullah imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi di istana Imam Besar yang bernama Kayafas, dan mereka merundingkan suatu rencana untuk menangkap Yesus dengan tipu muslihat dan untuk membunuh Dia.” Matius 26:3-4
Prediksi Yesus bahwa dalam 2 hari Dia akan disalibkan. Siapa perencana dan eksekutornya, dan bagaimana scenario menuju kesana diterangkan.
Perencananya adalah imam-iman kepala dan tua-tua bangsa Yahudi. Para imam kepada adalah bangsawan agama yang kaya dan berpengaruh..
Tua-tua banga adalah bangsawan awam yang kaya dan berpengaruh.
Mereka berkumpul di istana imam besar Kayafas untuk menyusun rencana dan strategi membunuh Yesus.
Menurut sejarawan Yahudi terkenal Josephus, nama lengkap imam besar itu adalah Joseph Kayaphas.
Dia merupakan menantu dari imam besar sebelumnya, Hanas (yang masih memiliki banyak pengaruh).
Kayafas diangkat menjadi imam besar pada tahun 18 M oleh gubernur Romawi Valerius Gratus, pendahulu Pontius Pilatus.
Dia adalah orang yang licik, pengkhianat, dan penipu yang digambarkan dalam Kitab Suci. Dalam cerita pembunuhan Yesus, dia membawa peran antagonis..
Disetiap bagian cerita, dia terus mengejar Yesus untuk menghancurkan-Nya. Seperti Herodes, kebencian dan ketakutannya terhadap Yesus bukan bersifat teologis melainkan politis.
Kayafas ingin menghancurkan Yesus karena dia takut Yesus akan menjadi ancaman serius terhadap posisi dan kekuasaannya atas orang-orang Yahudi.
Didorong semata-mata oleh keserakahan dan egois, ambisi iri hati, dia tidak memiliki rasa keadilan, kebenaran, atau kesopanan.
Dia tidak peduli kepada negaranya, rakyatnya, atau agamanya, dia hanya ingin mencari popularitas dan keuntungan diri sendiri..
Dia memiliki prinsip, yang dia sendiri ucapkan, “..bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita dari pada seluruh bangsa kita ini binasa.” Yohanes 11:50.
Jabatan imam besar secara tradisional sebenarnya diwariskan melalui garis keturunan Lewi..
Namun pada masa pendudukan Romawi, jabatan itu diperjual belikan, atau didapatkan secara politis. Jadi jabatan imam besar saat itu menjadi jabatan politik.
Gubernur Romawi dapat mengangkat dan memberhentikan seseoran dari jabatan imam besar.
Sehingga orang yang mendapat jabatan itu bisa saja orang yang jahat seperti Kayafas.
Kayafas menjabat sebagai imam besar sangat lama dari tahun 15 hingga 37 M. Mengapa dia bisa menjabat begitu lama?
Untuk memegang jabatan tersebut dalam jangka waktu yang lama diperlukan hubungan yang erat dengan Roma.
Kayafas tahu cara memanipulasinya dengan baik. Dia pintar cari muka kepada Roma.
Penerus Kayafas selanjutnya hanya menjabat selama 50 hari..
Kayafas adalah lambang merosotnya sistem keagamaan Israel. Meskipun dia jahat, dia sendiri yang bisa masuk ke Tempat Mahakudus pada Hari Pendamaian dan mempersembahkan kurban.
Dia mengawasi semua fungsi imam di Bait Suci dan mengambil keuntungan dari pasar keagamaan yang mereka selenggarakan..
Itu yang membuat Yesus pernah begitu marah sehingga Dia dua kali mengusir para penukar uang dan penjual hewan kurban (Yohanes 2:14-16; Mat. 21:12-13).
Jabatan imam yang kudus, reputasinya menjadi rusak. Komunitas Qumran sangat kritis terhadap kepemimpinan imam besar, yang mereka sebut sebagai “Imam Jahat.”
Di istana Kayafas, mereka rapat bagaimana cara untuk menangkap Yesus. Mereka menyusun strategi tipu muslihat yang licik dan cara membunuh Yesus.
Mereka cukup hati-hati untuk tidak melakukannya pada hari raya paskah.
Tetapi mereka berkata: “Jangan pada waktu perayaan, supaya jangan timbul keributan di antara rakyat.”
Pada perayaan paskah, Yerusalem akan membludak dengan pengujung dari berbagai penjuru negeri, jumlah orang yang merayakannya bisa melebihi dua juta.
Banyak orang-orang itu berasal dari Galilea dan tempat-tempat lain di mana Yesus pernah melayani dan mendapatkan popularitas besar karena khotbah-Nya yang penuh kuasa dan mukjizat.
Karena itu mereka mengganggap paskah waktu yang tidak tepat untuk menangkap Yesus. Karena itu dapat menimbulkan kekacauan dari orang-orang yang mengagumi Yesus.
Namun disisi lain, Paskah adalah waktu yang Tuhan pilih, dan para penolak yang penuh kebencian itu akan menyalibkan Yesus menurut rencana Tuhan dan bukan rencana mereka sendiri.
Yesus harus mati pada hari paskah sebagai korban paskah yang sejati.
Dulu, mereka ingin membunuh Yesus dengan cepat, tetapi tidak bisa mereka lakukan.
Sekarang Ketika mereka ingin menunda membunuh Yesus, mereka tidak bisa menunda..
Tadinya mereka berencana membunuh setelah paskah, Ketika semua orang sudah meninggalkan Yerusalem. Artinya sekiar 8 hari setelah paskah..
Tetapi waktu Tuhan tidak dapat mereka hindari. Karena waktu kematian Yesus, Tuhan sendiri yang mengatur, bukan para Imam-imam..
Itu sebabnya penangkapan Yesus sudah mereka lakukan dua hari menjelang paskah. Ini terjadi untuk memenuhi rencana Tuhan..
Mereka menghindari membunuh Yesus pada hari raya paskah, tetapi atas ijin dan kedaulatan Tuhan atas mereka, hati mereka yang jahat dialirkan membunuh Yesus sesuai rencana Tuhan. Saat paskah.
Allah berdaulat atas hati manusia. Dia dapat menggunakan rencana jahat manusia untuk kebaikan manusia.
Mungkin sering dalam hidup ini, kita menjadi korbah atau tumbal dari orang-orang jahat. Situasi itu bisa terjadi ditempat kerja, disekolah, dilingkungan..
Kita menjadi korban dari kelalaian atau kejahatan orang lain..
Ingat saja, Ketika kita hidup benar dihadapan Allah. Hati kita murni dan jujur. Kita hidup dalam iman kepada Tuhan..
Maka apapun rencana jahat manusia, yang dilandasi kebencian atau ketidaksukaan, yang ditujukan kepada kita, untuk menyiksa dan merugikan kita…
Sekali lagi ingat, Tuhan berdaulat atas hati mereka, maka rencana jahat mereka itu akan menjadi berkat bagi kita dan bagi orang lain..
Berdoa dan berserahlah kepada kehendak Tuhan..








