Kebahagiaan Orang yang Suci Hatinya (Matius 5:8)

“Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.” Matius 5:8

Pendahuluan

Yuri Gagarin, seorang astronot Rusia. Dia orang pertama yang mengadakan perjalanan keruang angkasa pada tahun 1961.

Setelah dia Kembali ke bumi, dia mengatakan bahwa dia tidak melihat Tuhan dimanapun. Dengan kata lain, dia mau katakan tidak ada Tuhan.

Tuhan itu ada walau tidak kelihatan secara fisik. Karya tanganya jelas terlihat.  Ayat hari ini mengatakan, hanya orang yang suci hatinya yang dapat melihat Tuhan.

Arti Kata Suci

Matius 5:8, menggunakan kata katharos untuk menggambarkan hati yang suci dalam motif dan yang menunjukkan pikiran tunggal, pengabdian tak terbagi dan integritas spiritual.

Secara harfiah katharos “Suci” berarti bersih secara fisik atau murni dan memiliki arti tidak kotor (bebas dari kotoran), murni, tanpa noda, bebas dari campuran najis atau bebas dari pemalsuan.

Secara kiasan katharos digunakan dalam arti ritual tentang makanan yang dinyatakan tidak tercemar dan dapat diterima (bdk. Roma 14:20).

Dalam arti moral atau spiritual, katharos (Suci) berarti bebas dari keinginan yang rusak atau perbuatan salah (dosa dan rasa bersalah).

Katharos harus bebas dari campuran, sehingga menyampaikan gagasan yang asli, tidak bersalah atau tidak berdosa.

Berbahagialah orang yang suci hatinya, adalah mereka yang memiliki integritas, yang hatinya tidak terbagi. Kata itu secara harfiah berarti “ketunggalan hati.”

Murni (katharos) berkaitan dengan sikap, integritas, dan kebulatan hati sebagai lawan dari sikap bermuka dua dan mendua hati.

Katharos “memiliki dua arti dasar: “bersih” dan “tidak bercampur.” Maka dalam ucapan Bahagia ini (katharos) memiliki arti kedua, yaitu “hati yang murni” berarti tidak bercampur dan juga bersih.

Makna Suci Hatinya

Contoh untuk menggambarkan kemurnian yang tidak dipalsukan dengan air. Emas dengan kotoran dihilangkan adalah emas murni. Gandum dengan sekam dihilangkan adalah gandum murni.

Gagasan dasarnya adalah integritas, ketunggalan hati, berlawanan dengan sikap bermuka dua, hati yang mendua, hati yang terbagi.

Menjadi suci dalam hati berarti tulus, transparan dan tanpa tipu daya. Apa yang kita lihat adalah apa yang kita dapatkan. Tidak ada kepalsuan, tidak ada tipu daya, tidak ada kemunafikan.

Ketika Tuhan menyucikan para pendosa dan menjadikan mereka anak-anak-Nya, Dia melakukan lebih dari sekadar membasuh dosa.

Dia menempatkan di dalam diri mereka hati yang baru yang ingin berfokus sepenuhnya pada Tuhan.

“Aku akan memberi mereka satu hati dan satu tingkah langkah, sehingga mereka takut kepada-Ku sepanjang masa untuk kebaikan mereka dan anak-anak mereka yang datang kemudian.” Yeremia 32:39.

Ini adalah integritas spiritual dan moral. Integritas inilah yang membuat Daud menjadi raja yang sukses, dan kurangnya integritas inilah yang merusak dan mengalahkan Saul.

Pikiran yang mendua selalu menjadi salah satu tulah besar gereja. Kita ingin melayani Tuhan dan mengikuti dunia pada saat yang sama.

Yesus menginginkan hati yang tidak tercampur dalam pengabdian dan motivasinya. Motif yang murni berasal dari hati yang murni.

Integritas

Apakah hidup kita adalah buku yang terbuka? Atau apakah kita memiliki hal-hal yang kita sembunyikan dari sahabat dan orang yang kita cintai?

Apakah ada orang yang mengetahui kebenaran tentang siapa kita sebenarnya?  Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka tidak menyembunyikan apa pun.

Kita harus mengerti bahwa Tuhan jauh lebih tertarik pada apa adanya kita daripada apa yang kita LAKUKAN untuk Tuhan.

Jika keberadaan kita tidak menyenangkan kesucian-Nya, maka apa yang kita lakukan sebenarnya tidak berharga.

Orang yang suci hatinya sama di dalam seperti di luar. Orang yang suci hatinya, bukanlah orang yang tidak berdosa. Mereka tulus. Mereka sama Ketika sendirian dan didepan umum.

Ketika orang yang berhati murni pergi ke gereja, hatinya ada di sana.

Agamanya bukanlah ritual yang mati, tetapi pengalaman hidup. Dia menyembah, berdoa, memberi, melayani dan bersaksi bagi Kristus, dan berusaha untuk hidup dalam ketaatan kepada Firman Tuhan.

Seorang munafik adalah seseorang yang membiarkan cahayanya begitu bersinar di depan manusia sehingga tidak ada yang tahu apa yang terjadi di belakang.

Tidak demikian halnya dengan orang yang suci hatinya. Tidak ada agenda tersembunyi, tidak ada sulap moral, spiritual atau agama.

Ketika Brian Johnston, penyiar terkenal Inggris, meninggal pada tahun 1994, teman-temannya mengatakan, “Dia selalu menjadi dirinya sendiri sepenuhnya, tidak dapat ditekan, dan tidak menyesal: apa yang Anda lihat atau dengar adalah apa yang Anda dapatkan.”

Terkadang menyenangkan orang lain lebih penting daripada menyenangkan Tuhan. Apakah yang saya lakukan konsisten dengan apa yang sebenarnya saya pikirkan?

Karakter

Apakah saya terkadang mengutamakan popularitas di atas prinsip? Apakah saya lebih mementingkan membuat kesan daripada melakukan apa yang benar?

Apa yang memenuhi pikiran saya ketika saya sendirian, dan tidak ada orang yang membuat saya terkesan?

Apakah saya lebih mementingkan reputasi saya daripada karakter saya? Seperti yang diingatkan oleh John Calvin kepada kita, ‘Tuhan pertama-tama menginginkan ketulusan dalam pelayanannya, kesederhanaan hati tanpa tipu daya dan kepalsuan.’

“Kita semua bergumul dengan masalah kemunafikan. Tapi ketika hati kita murni, kita tidak punya alasan untuk menutupi wajah kita.”

Setiap orang Kristen harus terus berdoa bersama Pemazmur, “Ya Tuhan … bulatkan lah untuk takut akan nama-Mu.” (Mazmur 86: 11).

Orang yang suci hatinya adalah mereka yang mengikuti kekudusan, yang tanpanya tidak seorang pun akan melihat Tuhan.

Kita tidak dapat secara fisik melihat Tuhan sekarang dengan mata fisik manusia kita, dan karena itu dalam ucapan bahagia ini, Yesus berbicara secara kiasan tentang penglihatan rohani.

Kitab Suci berulang kali menyatakan bahwa tidak ada manusia yang secara fisik pernah melihat Allah Bapa…

Baca Juga:

Kebahagiaan Orang yang Miskin (Matius 5:3)

Kebahagiaan orang yang Bedukacita (Matius 5:4)

Kebahagiaan Orang yang Lemahlembut (Matius 5:5)

Kebahagiaan Orang yang Lapar dan Haus (Matius 5:6)

Kebahagiaan Orang yang Murah Hati (Matius 5:7)

Kebahagiaan Orang yang Membawa Damai (Matius 5:9)

Kebahagiaan Orang yang Teraniaya (Matius 5:10-12)

Arti Melihat Tuhan?

Ringkasnya, melihat Tuhan yang dimaksud Yesus  adalah melihat dengan mata hati.

Kegembiraan tertinggi umat manusia datang dari mengolah bagian terdalam dari umat manusia, yaitu hati.

Ketika hati bersih, maka penglihatan menjadi jelas, dan seseorang akan melihat Tuhan.

Memurnikan hati adalah karya Roh Kudus, tetapi ada beberapa hal yang harus kita lakukan sebagai tanggapan atas bisikan Roh Kudus.

Pertama, kita harus mengakui bahwa kita tidak dapat menyucikan hati kita sendiri. Amsal 20:9

Kedua, kita harus menaruh iman kita kepada Yesus Kristus, yang telah mati di kayu salib menjadi dasar penyucian kita.

Ketiga, kita harus mempelajari Alkitab dan berdoa. Mzm. 119:9, 11.

Begitulah cara kita memperoleh dan mempertahankan hati yang murni. Hasilnya kita “akan melihat Allah” (Mat. 5:8).

Itu tidak berarti kita akan melihat Dia dengan mata jasmani, melainkan dengan mata rohani. Kita akan mulai hidup di hadirat-Nya dan semakin menyadari pekerjaan-Nya dalam hidup kita.

Kita akan mengenali kuasa dan karya tangan-Nya dalam keindahan dan kerumitan ciptaan (Mzm. 19:1-2).

Kita akan melihat kasih karunia dan tujuan-Nya di tengah pencobaan dan akan belajar untuk memuji Dia dalam segala hal (1Tes 5:18).

Kita akan merasakan pelayanan-Nya melalui orang Kristen lainnya dan akan melihat kedaulatan-Nya dalam setiap peristiwa hidup kita.

Tidak ada sukacita yang lebih besar daripada mengetahui bahwa kita murni di hadapan Tuhan dan bahwa hidup kita memuliakan Dia.

Orang yang suci hatinya cenderung melihat semua hal dalam cahaya yang murni. Orang yang suci hatinya melihat orang lain sebagai pribadi yang dicintai Tuhan. Yang hatinya tidak suci melihat mereka sebagai objek seks.

Orang yang suci hatinya menganggap niat orang lain baik, dan karena itu mereka jarang sakit hati. Yang hatinya tidak suci menganggap sebagai hinaan atau serangan.

Yang murni bergembira atas kesuksesan orang lain, yang tidak suci cemburu melihat keberhasilan orang lain.

Kemurnian hati kita akan membentuk cara kita memandang segala sesuatu. Hati yang dimurnikan oleh Tuhan melindungi dari banyak luka dan bahaya.

Jika tangan kita tidak bersih, marilah kita membasuhnya dengan darah Yesus yang berharga, dan marilah kita mengangkat tangan yang murni kepada Tuhan.

Tetapi “tangan yang bersih” tidak akan cukup, kecuali jika dihubungkan dengan “hati yang murni”.

Penutup

Apa yang Yesus maksud dengan “Suci hatinya?” Itu berarti memiliki pikiran murni, motif murni, kehendak murni, dan emosi murni.

Tuhan membutuhkan kemurnian di pusat keberadaan kita, di dalam hati kita. Daud mengatakannya seperti ini dalam Mazmur 24:3-6.

“Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?” “Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu. Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia. Itulah angkatan orang-orang yang menanyakan Dia, yang mencari wajah-Mu, ya Allah Yakub.” Sela

Poinya, orang yang suci hatinya akan diberkati dengan kesanggupan melihat Tuhan secara rohani dan melihat Tuhan secara fisik pada waktu kedatangan-Nya yang kedua kali.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *