Kebahagiaan Orang Yang Membawa Damai (Matius 7:9)

Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Matius 5:9

Tidak ada didunia ini satu tempat yang benar-benar aman dan damai. Bebas dari gangguan dan kejahatan.

Kalaupun ada tempat yang paling aman itu adalah rumah kita sendiri. Tetapi itupun tidak benar-benar murni damai dan aman.

Sewaktu-waktu bisa timbul gangguan keamanan kepada seluruh anggota keluarga. Itu bisa karena kepala keluarga, ibu rumah tangga, atau anak-anak yang bikin ulah.

Gereja sebagai tempat berkumpulnya orang percaya juga, tidak bebas dari gangguan keamanan dan damai.

Tidak sedikit, gereja yang terusik rasa damainya karena ulah jelek dari pemuka gereja, majelis, anggota dan orang-orang sekitar.

Lingkungan RT, desa, kota dimana kita tinggal, juga bukan tempat yang sepenuhnya aman dan damai. Sewaktu-waktu timbul gangguan keamanan yang mengusik rasa damai.

Terusiknya rasa damai dan aman karena seseorang, sekelompok manusia yang membuat ulah. Sengaja merencanakan kejahatan, perbuatan onar, ambisi akan kekuasaan dan eksploitasi sumber daya.

Karena itu Yesus menghendaki, rasa damai disemua tempat dimana kita tinggal. Dan itu akan tercipta jika setiap orang hadir membawa damai dimana saja.

Dunia yang tidak kunjung damai

Koran kompas.com, pada 29 juni 2020, menurunkan sebuah survey dengan judul, Indeks Perdamaian Dunia 2020 Mengalami Penurunan. (https://www.kompas.com/tren/read/2020/06/29/165500365/indeks-perdamaian-dunia-2020-mengalami-penurunan-ini-rinciannya?page=all. (Diakses tanggal 18-4-2021).

Dilaporkan bahwa indeks perdamaian dunia memburuk dengan skor rata-rata negara turun 0,34 persen.

Islandia masih menjadi negara paling damai di dunia sejak 2008 lalu, disusul oleh Selandia Baru, Austria, Portugal, dan Denmark.

Afghanistan Negara paling tidak damai didunia. Disusul Suriah, Irak, Sudan, Yaman, Negara timur tengah dan Arika Utara mendominasi Negara yang paling tidak aman didunia.

Menurunnya tingkat perdamaian dunia disebabkan berbagai factor. Meningkatnya terorisme, konflik di Timur Tengah.

Meningkatnya ketegangan regional di Eropa Timur, Asia timur laut. Meningkatnya jumlah pengungsi dan ketegangan politik di Eropa dan Amerika,

Terbaru di Myanmar, Negara yang dilanda kekerasan karena menentang kudeta militer terhadap pemerintah sipil.

Memang harapan perdamaian dunia tidak akan pernah tercapai. Tetapi Yesus tetap memanggil setiap orang untuk membawa damai. Ada janji bagi mereka yang membawa damai.

Arti membawa damai

Membawa damai, Bahasa Yunani. eirēnopoioi, dari eirēnē, “peace”, dan poieō “to make.”

Di sini Kristus secara khusus mengacu pada membawa manusia ke dalam harmoni dengan Allah (DA 302–305; MB 28).

“Pikiran duniawi adalah permusuhan terhadap Allah” (Rom 8: 7). Tapi Kristus, Sang Pencipta Perdamaian, datang untuk menunjukkan kepada manusia bahwa Allah bukanlah musuh mereka (lihat MB 25).

Kristus adalah “Raja Damai ”(Yes. 9: 6, 7; lih. Mikha 5: 5).

Dia adalah utusan perdamaian dari Sorga kepada manusia, dan “kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus.” (Rm. 5: 1).

Ketika Yesus menyelesaikan tugas-Nya yang telah ditetapkan dan kembali kepada Bapa, Dia berkata, “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu,” (Yohanes 14:27; lih. 2 Tes 3:16).

Kata Ibrani yang setara dengan kata Yunani eirnē, adalah shalom, yang berarti “kelengkapan”,sehat”, “kemakmuran”, “kondisi kesejahteraan”, “kedamaian“.

Mengingat fakta bahwa Kristus dan orang-orang lain menggunakan bahasa Aram, bahasa yang sangat mirip dengan bahasa Ibrani.

Maka Yesus pasti menggunakan kata tersebut dengan konotasi Semitnya. Orang Kristen harus berdamai di antara diri mereka sendiri (1 Tes. 5:13) dan untuk ” Berusahalah hidup damai dengan semua orang” (Ibr. 12:14).

Mereka harus berdoa untuk perdamaian, untuk bekerja untuk perdamaian, dan untuk menaruh minat dalam kegiatan yang berkontribusi bagi kedamaian masyarakat.

Will dan Ariel Durant, dalam buku The Lessons of History, memulai bab tentang “Sejarah dan Perang” dia mencatat bahwa:

“Perang adalah salah satu peristiwa dalam sejarah yang tidak pernah berhenti, dan tidak berkurang sekalipun peradaban berubah dan dalam dunia demokrasi.

Dalam 3.421 tahun sejarah yang tercatat hanya 268 yang belum menyaksikan perang. “

Jelas bahwa umat manusia membutuhkan pembawa damai.

Kebutuhan nyata akan perdamaian yang pertama adalah antara Tuhan dan manusia. Manusia telah berperang terus-menerus dengan Tuhan sejak Kejadian 3.

Tidak ada tahun dimana tidak ada perang. Oleh karena itu, rekor ini lebih buruk daripada rekor antara sesama manusia!

Eirene

Eirene berasal dari kata kerja eiro yang artinya mengikat atau menggabungkan bersama yang pecah atau terbagi.

Jadi kita bisa memperluas definisi “pembawa damai” sebagai mereka yang memfasilitasi mengikat bersama mereka yang terpecah, sehingga menjadikannya satu kembali.

Yesus mengacu pada mereka yang secara aktif turun tangan untuk mengikat bersama mereka yang terpecah. Dengan membawa damai, warga kerajaan Allah memanifestasikan diri mereka sebagai anak-anak Allah.

Spurgeon berkata bahwa pembawa damai “kadang-kadang menempatkan dirinya di antara kedua orang yang bertikai.”

Ketika mereka yang bertikai sangat marah, maka pembawa damai itu bisa saja menerima pukulan dari kedua sisi.

Mereka melakukannya karena karena mereka tahu bahwa Yesus telah lebih dahulu melakukannya.

Dia menerima pukulan dari Bapa-Nya dan dari kita juga, sehingga dengan menderita menggantikan kita, perdamaian bisa dibuat antara Tuhan dan manusia.

Yang dimaksud dengan pembawa damai adalah mereka yang tidak hanya mencari perdamaian dan menghindari pertengkaran.

Tetapi yang juga bekerja untuk menyelesaikan perbedaan, menasihati semua orang untuk hidup damai, dan menghilangkan kebencian dan perselisihan.

Manusia pembawa damai adalah mereka yang telah mengalami perdamaian dengan Tuhan.

Sekarang mereka yang pernah terasing dan bermusuhan dengan Tuhan dipulihkan kedalam hubungan yang harmonis dengan-Nya.

Dan kepada mereka diberi hak istimewa untuk menjadi pembawa damai-Nya di dunia yang bermusuhan dan terasing ini.

Ketika Kristus berkata, “Berbahagialah pembawa damai,” Dia sedang berbicara tentang mereka yang berdamai dengan Tuhan, yang membawa pesan perdamaian kepada manusia, bahwa mereka dapat dibawa ke dalam harmoni dengan Tuhan dari Siapa mereka telah terasing (Rm 5: 6, 7, 8) Rm 5: 6; 8; 10).

Ilustrasi tentang Damai

Suatu kali, seorang bernama Jim Walton sedang menerjemahkan PB untuk orang Muinane dari La Sabana yang tinggal dipedalaman hutan Kolombia.

Kemudian dia tiba kepada satu kata dimana dia mengalami kesulitan menerjemahkan kata damai.

Lalu suatu kali, Fernando, sang kepala desa disana, dijanjikan naik pesawat selama 20 menit ke suatu lokasi, dimana tempat ini sangat jauh djika ditempuh dengan jalan kaki, bisa memakan waktu 3 hari.

Tetapi karena pesawat terlambat datang di La Sabana, maka Fernando berangkat dengan berjalan kaki.

Tetapi pesawat akhirnya datang, kemudian seorang pelari mengejar Fernando untuk membawa dia supaya naik pesawat.

Tetapi pada saat dia kembali, pesawat telah pergi. Melihat hal itu, Fernando sangat marah karena campur aduk itu.

Dia mendatangi Jim dan melontarkan omelan dengan marah. Sementara kepala suku ini marah, Walton merekam kecaman kepala suku.

Ketika dia kemudian menerjemahkannya, dia menemukan bahwa kepala suku terus mengulangi kalimat, “Saya tidak punya satu hati.”

Jim bertanya kepada penduduk desa lainnya apa artinya memiliki “satu hati”, dan dia menemukan bahwa itu seperti mengatakan, “Tidak ada apa-apa antara kamu dan orang lain.”

Walton menyadari, itulah yang dia butuhkan untuk menerjemahkan kata damai.

Berdamai dengan Tuhan berarti tidak ada – tidak ada dosa, tidak ada kesalahan, tidak ada penghukuman – yang memisahkan kita.

Dan perdamaian dengan Tuhan itu hanya mungkin melalui Kristus (Rm 5: 1).

Apakah Anda memiliki “satu hati” dengan Tuhan? Jika demikian, Anda memenuhi syarat untuk diutus sebagai pembawa damai-Nya.

Ishak dari Syria menasihati kita semua – “Jika Anda bukan pembawa damai, setidaknya jangan menjadi pembuat onar atau masalah.”

Memang cukup sulit untuk menjaga perdamaian. Tetapi lebih sulit lagi untuk membawa perdamaian di tempat yang tidak semestinya.

Warren Wiersbe dengan baik merangkum ucapan bahagia ini dengan mencatat bahwa … Orang Kristen harus membawa perdamaian, antara manusia dan Tuhan dan antara mereka yang berselisih satu sama lain. Kita harus membagikan Injil perdamaian.

Cara membawa damai yang salah

Sering terjadi ketika seseorang yang mencintai perdamaian tapi dengan cara yang salah. Justru membuat masalah, bukan kedamaian.

Misalnya jika kita menghadapi situasi, dimana ini akan berkembang kepada situasi yang mengancam dan berbahaya.

Dan karena kita tidak ingin berurusan, dan kita ingin damai, sehingga tidak melakukan apapun.

Banyak orang yang mengira bahwa dia mencintai perdamaian, padahal sebenarnya dia menumpuk masalah untuk masa depan, karena ia menolak untuk menghadapi situasi dan mengambil tindakan yang dituntut oleh situasi tersebut.

Berbahagia yang membawa damai yang disebut di Alkitab, tidak datang dari penghindaran masalah; itu datang dari menghadapi mereka, berurusan dengan mereka, dan menaklukkan mereka.

Apa yang dituntut oleh kebahagiaan ini bukanlah penerimaan pasif atas sesuatu karena kita takut akan mengalami kesulitan kalau menghadapi mereka.

Tetapi kita harus menghadapi secara aktif dengan jalan damai dan menciptakan perdamaian. Benar bahwa mereka yang membawa damai jalan mereka penuh dengan perjuangan.

Membawa damai pekerjaan Yesus

“Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka melakukan pekerjaan seperti Tuhan.”

Orang yang mendamaikan terlibat dalam pekerjaan yang dilakukan oleh Tuhan yang damai. ((Rom 15:33 2 Kor 13:11; 1 tes 5:23; Ibrani 13:20).

Yesus tidak hadir secara fisik sekarang untuk memberikan kedamaian yang sangat dibutuhkan dunia … tetapi “pembawa damai“-Nya hadir!

Untuk menjadi pembawa damai-Nya, pertama-tama seseorang harus berdamai dengan Tuhan. Jadi pertanyaannya adalah … Bagaimana seseorang menjadi “pembawa damai”?

Pertama-tama mereka harus didamaikan dengan Tuhan. Di Taman Eden ada kedamaian yang sempurna sampai dosa masuk ke dunia. Dosa memunculkan permusuhan dengan Tuhan (Kej 3:15).

Mereka yang dulunya berada dalam kedamaian sempurna sekarang menjadi musuh.

Jadi seluruh umat manusia telah mewarisi kecenderungan Adam untuk berdosa dan pada dasarnya “Karena waktu kita masih lemah…

Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka” (Rm 5: 6-lihat Rom 5: 6 5: 8) “Karena Dialah damai sejahtera kita” (Ep 2: 14).

Singkatnya, umat manusia yang berdosa membutuhkan rekonsiliasi. Dan Tuhanlah yang berusaha untuk mendamaikan manusia dengan diri-Nya sendiri.

Ketika manusia menjauh dari Tuhan karena dosanya, Tuhan dalam kasih-Nya bergerak menuju manusia untuk membawanya kembali kepada diri-Nya.

Guzik kemudian menjelaskan bahwa pembawa damai yang “didamaikan” bukanlah “mereka yang hidup dalam damai, tetapi mereka yang benar-benar membawa damai, mengatasi kejahatan dengan kebaikan.

Iblislah yang menjadi pembuat onar; Allahlah yang mencintai perdamaian dan yang sekarang melalui anak-anaknya, seperti sebelumnya melalui Putra tunggal-Nya, bertekad untuk berdamai.

Kristus kemudian adalah model kita sebagai “Raja Damai” (Yes 9: 6), Dia adalah Pembawa Damai yang agung.

Jadi, jika kita ingin membawa damai, kita harus bedamai dengan Tuhan, dan pergi membawa damai bagi dunia ini dan menjadi damai itu sendiri.

Kehadiran kita, baik dirumah, dilingkungan masyarakat, di gereja, di kota kita tinggal, akan menjadi pembawa damai, bahkan menjadi damai itu sendiri.

Dengan demikian, kita bisa merasakan, betapa senangnya tinggal dirumah, tinggal digereja, tinggal dilingkungan, dikota kita.

Dan semua orang akan tau, Tuhan Yesus raja damai yang menjadi sumber kedamaian sejati yang diperlukan dunia saat ini.

Berkat bagi yang membawa damai

Berkatnya adalah, “ Mereka akan disebut sebagai anak-anak Allah.

Kata “Disebut” dalam Bahasa Yunani adalah “kaleo”

Secara harfiah berarti berbicara dengan orang lain untuk menarik perhatian mereka atau mendekatkan mereka, baik secara fisik maupun dalam hubungan pribadi.

Kaleo adalah kata kerja utama dalam PB dan arti spesifiknya bergantung pada konteks penggunaannya.

Arti dasar kaleo termasuk

  1. Untuk memanggil dengan nama
  2. Untuk mengeluarkan undangan atau meminta kehadiran seseorang di pertemuan
  3. Untuk memanggil –
  4. Untuk memanggil dalam arti memilih sehingga seseorang dapat menerima beberapa keuntungan atau pengalaman khusus. Ini mengacu pada panggilan Tuhan bagi orang-orang berdosa (“panggilan Ilahi” Tuhan untuk berpartisipasi dalam keselamatan).

Disebut Anak-anak Allah

Mereka akan disebut/dipanggil – Kalimat pasif menunjukkan bahwa panggilan itu bersifat eksternal dan dengan jelas mengandaikan Tuhan sebagai Dia yang memulai tindakan dengan menyebut mereka anak-anak-Nya.

Menjadi anak Allah sama saja dengan memasuki keluarga Allah atau diselamatkan.

Pahala bagi pembawa damai adalah bahwa mereka diakui sebagai anak-anak Allah yang sejati. Mereka berbagi semangat-Nya untuk perdamaian dan rekonsiliasi, meruntuhkan tembok pemisah di antara orang-orang.

Ide Ibrani dari istilah “anak” adalah salah satu yang mencerminkan karakter orang lain.

Di sini aspek positif ditekankan dengan istilah “Anak Allah”, Anak yang mencerminkan karakter Bapa Surgawi mereka.

Berkat itu menyiratkan bahwa di dalam kerajaan Allah kita dipulihkan kepada apa yang seharusnya kita lakukan – anak-anak Allah.

“Berbahagialah orang yang membawa damai,” kata Yesus, “karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Mat 5: 9).

Pembawa damai sendiri dipenuhi dengan kedamaian Tuhan. Sifat yang mereka gunakan untuk membantu orang lain.

Itu lebih dari sekadar menyelesaikan argument. Pembawa damai adalah bukti hidup dari kasih Allah yang mendamaikan dalam Kristus.

Di rumah, di tempat kerja, atau di sekolah, kita dapat menunjukkan Yesus Kristus kepada orang lain melalui cara kita menangani konflik. —D C McCasland

Anda bisa menjadi pembawa damai jika Anda memiliki damai Tuhan di hati Anda.

Pembawa damai disebut Anak-anak Allah, bahkan menjadi Anak Allah. Sebaliknya pembawa onar, disebut anak-anak setan, Bapa mereka adalah Iblis raja kejahatan.

Kelak kita akan bertemu dengan Bapa Sorgawi kita, pencipta dan penebus kita, hanya kalau kita menjadi pembawa damai didunia yang tidak damai ini.

Bagikan:

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.