Janji besar dibalik ketaatan besar (Kejadian 22:16-18)
TEGANGAN TINGGI telah mencapai puncaknya. Itu telah dilalui. Situasi kembali normal. Waktunya turun gunung.
Apa yang Tuhan minta telah dilaksanakan. Tuhan telah menguji Iman Abraham. Lolos uji. Dia layak menyandang gelar Bapa Semua Orang Percaya.
Ibarat sebuat produk, sebelum dipasarkan, harus lolos uji dalam segala hal. Sebelum Abraham menyandang predikat Bapa orang percaya dia diuji. Lolos.
Karena iman tersebut Allah berdiri dan memberikan apresiasi. Salut dan hormat kepada Abraham dan Ishak.
Karena itu Allah berseru dari langit dan bersumpah kepada Abraham. Dan ini hal yang unik. Allah bersumpah.
Sejauh ini, hanya manusia yang secara eksplisit bersumpah dalam kitab Kejadian (21:22-32).
Sekarang Tuhan melakukannya. Mungkin implikasinya adalah bahwa ini memang merupakan “pencobaan terakhir” (lih. Kej. Rab. 56.11).
kata-Nya: “Aku bersumpah demi diri-Ku sendiri — demikianlah firman TUHAN —: Karena engkau telah berbuat demikian, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku,
maka Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya.
Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firman-Ku.” Kejadian 22:16-18.
TUHAN bersumpah “demi diri-Nya sendiri.” Sementara manusia bersumpah demi seseorang atau sesuatu selain dirinya sendiri..
Kemudian saat seseorang bersumpah, meminta Allah, khususnya, untuk mencatat sumpah tersebut dan bertindak terhadap mereka jika mereka ingkar.
Dalam hal ini ketika Tuhan bersumpah Dia dia akan menepati janji-Nya..Jadi ketika Tuhan berkata, Aku bersumpah demi diri-Ku sendiri,
“Seolah-olah Aku akan menghukum diri-Ku sendiri jika Aku tidak melakukan apa yang Kukatakan”; atau secara lebih realistis dan mendalam, “Jika Aku tidak menepati janji-janji-Ku, Aku tidak lagi menjadi diri-Ku
Mengapa Tuhan sampai bersumpah demikian?
Karena kesediaan Abraham untuk memberikan hal terpenting yang dimilikinya, dengan tidak segan untuk mengorbankan anaknya yang tunggal..
Dalam Kejadian 22:17-18a, Allah menyatakan beberapa ketentuan dari perjanjian tersebut, dengan menyebutkan empat hal.
Pertama, Allah menyatakan bahwa memberkati engkau berlimpah-limpah.
Kedua, Allah menyatakan bahwa Aku akan membuat keturunanmu bertambah banyak, dengan memberikan dua ilustrasi: seperti bintang di langit, dan seperti pasir di tepi laut,
Yang menunjukkan bahwa kedua hal tersebut adalah frasa yang benar-benar bersinonim.
Ketiga, Allah melanjutkan: Keturunanmu akan menduduki pintu gerbang musuh-musuhnya.
Keempat, Allah menyimpulkan: Melalui keturunanmu semua bangsa di bumi akan mendapat berkat.
Seperti dalam pernyataan pertama dari Perjanjian Abraham, penegasan terakhirnya kepada Abraham, Allah dengan jelas menjanjikan berkat bagi bangsa-bangsa lain..
Kejadian 22:18b kemudian menyatakan kembali dasar dari penegasan kembali Perjanjian Abraham ini: karena engkau telah mendengarkan suara-Ku.
Allah memberkati Abraham karena Abraham taat.
Allah bermaksud memberkati kita seperti Abraham. Ia berkomitmen untuk melakukannya. Namun, hanya tindakan yang taat yang memungkinkan kita untuk memperoleh berkat itu.
Seperti hujan turun tepat di atas bukit. Kita mencium kesegarannya, ingin merasakan tetesan yang memperbarui.
Dan ada jalan yang bertuliskan “Ketaatan” yang mengarah langsung ke sana. Berkat Allah memang turun dalam bentuk hujan yang menyegarkan.
Namun, hanya mereka yang mengambil jalan yang bertuliskan “Ketaatan” yang mengalaminya.
Jika ada sesuatu yang Allah ingin kita lakukan yang selama ini kita ragu untuk lakukan, biarkan pengalaman Abraham mendorong kita untuk memulainya sekarang.
Lakukanlah hal-hal kecil seolah-olah itu hal yang besar, karena keagungan Tuhan Yesus Kristus, yang tinggal di dalam dirimu; dan lakukanlah hal-hal besar seolah-olah itu hal kecil, karena kemahakuasaan-Nya.


