Ishak lahir, Abraham dan Sarai tertawa kembali (Kejadian 21:2-6)
TIDAK tahu hari apa dan jam berapa tangisan seorang bayi baru lahir terdengar kencang dirumah Abraham.
Siapa yang melahirkan? Itu pasti Sara. Tetangga yang sudah mengetahui Sara hamil diusia tua telah melahirkan seorang anak.
Siapa yang menolong persalinan Sara? Bisa jadi bidan atau hamba-hamba perempuan Sara.
Saat bayi itu lahir, hal pertama yang diperiksa Abraham adalah jenis kelaminnya. Benar seperti kata Tuhan, Sara akan melahirkan anak laki-laki.
Pada saat kelahiran tersebut, Abraham dan seisi rumahnya kembali tertawa. Sara juga tertawa melihat wajah bayi yang baru dia lahirkan..
Kembali teks Alkitab menuliskan, Sara melahirkan anak bagi Abraham di usia Tua..
lalu ia melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abraham dalam masa tuanya, pada waktu yang telah ditetapkan, sesuai dengan firman Allah kepadanya. (Kejadian 21:2)
Penyebutan kembali ‘masa tua’ mengingatkan pembaca bahwa tidak ada masalah bagi Tuhan untuk memberikan anak di hari tua seseorang..
Rencana Tuhan tidak dapat dihalangai oleh faktor usia. Seberapa tua pun seorang perempuan, bila Tuhan memiliki rencana baginya, maka tidak ada yang mustahil..
Terkadang kita sering menggunakan alasan umur sudah tua untuk tidak melakukan kehendak Tuhan.
Atau kita menggunakan faktor usia seseorang untuk tidak memberi mereka kepercayaan melayani.
Orang tua sering memarkirkan diri atau diparkirkan dari pekerjaan pelayanan yang menjadi rencana Tuhan bagi mereka..
Sara dihari tua. 90 tahun. Memberikan diri melayani pekerjaan Tuhan sebagai ibu bagi bangsa-bangsa, yang melaluinya Juruslamat akan datang..
Bisa saja Sara menolak dan menggagalkan rencana Tuhan untuk melahirkan anak karena faktor usia. Tapi Tuhan tidak memandang usia.
Maria Tuhan gunakan untuk mengandung benih Yesus dan melahirkan-Nya diusia muda tanpa peran laki-laki.
Sara perempuan tua. Mandul. Mengandung Ishak dan melahirkannya diusia yang tidak produktif.
Keduanya mengandung dengan cara yang unik. Diluar kelaziman. Karena bagi Tuhan tidak ada yang mustahil..
Abraham menamai anaknya yang baru lahir itu Ishak, yang dilahirkan Sara baginya. (Kejadian 21:3)
Saat dia kasih nama Ishak, Abraham sambil tertawa. Dia mengumumkan kepada seisi rumahnya, bahwa nama anak ini Ishak.
Dan waktu mereka mendengar nama anak itu Ishak, semua orang tertawa terpingkal-pingkal, termasuk Sara, tertawa lepas, sehingga gigi ompongnya terlihat jelas..
Sebenarnya bukan Abraham yang kasih nama, tapi Tuhan. Abraham hanya menaati perintah Tuhan bahwa “engkau harus menamainya Ishak.” ( Kej 17:19 , 21 ).
Nama Ishak akan terus-menerus mengingatkan Sarah akan tawanya yang tidak setia ( Kej 18:12 ),
Tetapi lebih dari itu, nama itu akan mengingatkan Sarah akan tawanya yang penuh sukacita atas kesetiaan Tuhan ( Kej 21:6 ).
Namanya berasal dari tsāchaq, kata kerja yang berarti “tertawa” dan dijelaskan sebagai permainan kata-kata.
Ketika Allah mengumumkan bahwa Sarah akan hamil dan memiliki anak pada usia sembilan puluh tahun, baik dia ( Kej 18:12f ) dan Abraham ( Kej 17:17 ) menanggapi dengan tertawa.
Namun ketika janji itu terpenuhi, Sara berseru, “Allah telah membuat aku tertawa; setiap orang yang mendengarnya akan tertawa karena aku.” ( Kej 21:6 ).
Jadi, siapa yang membuat Sara tertawa? Tuhan.
Secara harfiah bahasa Ibrani berbunyi “Tawa telah dibuat Allah bagiku.” Karena sekarang tawa Sarah terbuka dan tulus, tidak tersembunyi dan skeptis ( Kej 18:12 ).
Nama Ishak berarti “tawa,” dan anak laki-laki itu membawa banyak sukacita bagi pasangan lanjut usia itu.
Melalui Ishak, Mesias akan datang dan membawa tawa sukacita bagi dunia ( lihat di atas ). Sekali lagi kita melihat bahwa Allah membuat “segala sesuatu indah pada waktunya” ( Pkh 3:11 ).
Jadi Abraham dan Sara produktif justru di usia tua. 90 tahun dan 100 tahun. Usia seperti itu biasanya telah hilang produktifitasnya..
Berapa pun usia kita, Tuhan masih punya rencana untuk hidup kita. Dia masih bisa menggunakan kita untuk kemuliaan-Nya, untuk kerajaan-Nya.
Tanyakan kepada-Nya apa yang bisa Anda lakukan untuk-Nya hari ini.
Komedian John Branyan berkata, “Kami tidak menciptakan tawa; itu bukan ide kami. Itu diberikan kepada kami oleh [Tuhan] yang tahu bahwa kami akan membutuhkannya untuk menjalani hidup.
[Karena] Dia tahu kami akan mengalami kesulitan, Dia tahu kami akan mengalami pergumulan, Dia tahu . . . banyak hal akan terjadi . . . . Tertawa adalah anugerah.”
Jadi kita berterimakasih kepada Tuhan atas karunia tawa!
Kapan tertawa menjadi “obat mujarab”? Bagaimana menemukan humor dalam hidup Anda dapat membantu bahkan di saat-saat yang paling sulit?
Tuhan, terima kasih telah memberiku anugerah tawa.
Filipi 4:4 “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!”





