Hukum Manakah yang Pertama dan Terutama dalam Alkitab?

Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka

dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia: “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?”

Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.” Matius 22:34-38

Persaingan di antara para pemimpin agama untuk mengalahkan Yesus dalam perdebatan sedang memanas.

Selesai dengan orang Saduki, muncul orang Farisi. Mereka tau para Saduki kalah debat dengan Yesus. mereka maju.. Kini giliran mereka yang mencoba menjegal Yesus secara teologis.

Motif mereka tetap sama yaitu menjatuhkan Yesus. Topik yang mereka angkat tentang hukum. Karena itu yang maju adalah seorang farisi yang ahli taurat.

Mungkin dia adalah orang terbaik mereka dalam soal hukum. Ahli dan fasih tentang hukum Musa. Mungkin juga dia orang yang terkenal dalam mengadili perselisihan agama dan sosial..

Dia mungkin adalah ahli hukum kitab dan kerabian yang paling terpelajar dan cerdik di antara mereka. Jadi dia adalah ahlinya ahli hukum..

Ahli taurat ini mengawali percakapan dengan pertanyaan yang tajam: “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?”

Menarik, dia memanggil Yesus dengan sebutan guru. Sebetulnya itu sindiran. Dia tidak pernah menganggap Yesus sebagai guru mereka..sebutan meremehkan. Orang bilang ‘ngece’..

Kata hukum disni mengacu kepada kepada seluruh perjanjian lama. Dikalangan para rabi sering terjadi perdebatan untuk menentukan mana perintah yang berat dan ringan..

Jadi ahli taurat ini sangat mengerti tentang topik tersebut..

Tanpa basa-basi Yesus menjawab mereka dengan mengutip Ulangan 6:5.

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.”

Perintah ini bagian dari Shema Israel. (Bahasa Ibrani dengar). Disebut shema karena dimulai dari kata “Dengarlah hai Israel..!

Ini merupakan bagian kitab suci yang paling terkenal, paling banyak dikutip dan paling banyak disalin dalam Yudaisme.

Pada zaman Yesus, setiap orang Yahudi yang setia melafalkan Shema dua kali sehari.

Ulangan 6:4-9 dan Ulangan 11:13-21 adalah dua dari empat teks Kitab Suci (dengan Kel. 13:1-10 dan 13:11-16) yang disalin pada potongan-potongan kecil perkamen dan ditempatkan di filakteri yang dikenakan di dahi dan lengan kiri pria Yahudi saat berdoa.

Praktek ini didasarkan pada Ulangan 6:8, “Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu,”

Jadi Yesus mau menegaskan bahwa mereka sangat tahu perintah utama, yang mereka ucapkan setiap hari dan yang diikat dilengan dan di dahi.

Kata kasih yang digunakan di ulangan 6:5 ini adalah Aheb. Kata ini merujuk terutama pada tindakan pikiran dan kemauan, tekad untuk memperhatikan kesejahteraan sesuatu atau seseorang.

Disini mencakup emosi yang kuat, ada dedikasi dan komitmen terhadap pilihan.

Ini adalah Kasih yang mengakui dan memilih untuk mengikuti apa yang benar, mulia, dan baik, terlepas dari apa perasaan seseorang dalam suatu hal.

Kata Aheb ini sama dengan kata Agape dalam bahasa Yunani di PB.

Dengan demikian, Kasih kepada Tuhan bukan hanya segi emosional, tetapi juga memberikan diri kepadanya dengan seluruh pribadinya.

Kata segenap hati, jiwa, akal budi, bukanlah bagian yang terpisah secara kaku dari keberadaan manusia, namun mencerminkan bahwa keseluruhan pribadi diberikan kepada Tuhan.

Kita harus mengasihi Tuhan Allah kita dengan seluruh keberadaan kita.

Bagi orang Ibrani kuno, hati mengacu pada inti keberadaan pribadi seseorang. Jiwa paling dekat dengan apa yang kita sebut emosi.

Pikiran berhubungan dengan apa yang biasanya diterjemahkan “kekuatan” dalam Ulangan 6:5. Maknanya luas, gagasan umum untuk bergerak maju dengan energi dan kekuatan.

Pikiran digunakan di sini dalam arti intelektual, semangat dan tekad yang disengaja, membawa arti usaha mental dan kekuatan.

Jadi mengasihi Tuhan dengan cerdas, penuh perasaan, rela, dan melayani. Ini melibatkan pemikiran, kepekaan, niat, dan bahkan tindakan..

Tuhan tidak pernah mencari kata-kata kosong atau ritual kosong. Tuhan ingin semua keberadaan kita sebagai manusia.

Hukum yang pertama dan terutama ini mencakup 4 hukum pertama dari 10 hukum dalam keluargan 20:3-17.

Mengasihi Tuhan berarti bagi kita hanya ada satu Tuhan. Tidak ada Allah selain Dia yang kita puji dan sembah.

Tidak menjadikan objek ciptaan, benda atau sesuatu yang lain untuk disembah.. Tidak menyebut nama Tuhan dengan sia-sia. Dan menguduskan hari sabat..

Kasih kepada Allah dibuktikan bukan dengan kata-kata tetapi dengan penurutan. Yesus berkata, “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” Yoh 14:15.

Orang yang benar-benar mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan pikirannya adalah orang yang percaya dan taat kepada-Nya.

Orang tersebut menunjukkan kasihnya dengan merenungkan kemuliaan Tuhan..percaya kepada kuasa-Nya. Membangun hubungan dengan Tuhan.

Di atas segalanya, orang yang benar-benar mengasihi Tuhan adalah orang yang benar-benar menaati Tuhan..

Marilah kita mengasihi Tuhan dengan seluruh keberadaan kita sebagai manusia.

Bagikan:

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *