Pastordepan Media Ministry
Beranda Khotbah Hati yang Dikenal Tuhan

Hati yang Dikenal Tuhan

Teks: Kitab Yeremia 17:1–10

Pendahuluan

Nabi Yeremia hidup pada masa bangsa Yehuda sedang mengalami kemerosotan rohani. Mereka masih melakukan ibadah, tetapi hati mereka jauh dari Tuhan. Dosa sudah begitu melekat dalam kehidupan mereka.

Dalam ayat 1 dikatakan bahwa dosa Yehuda ditulis dengan pena besi dan dengan mata intan, artinya dosa itu sudah sangat mendalam dan sulit dihapus.

Melalui perikop ini, Tuhan ingin menunjukkan bahwa masalah utama manusia bukan hanya perbuatannya, tetapi hati manusia itu sendiri. Tuhan membandingkan dua jenis kehidupan:

orang yang mengandalkan manusia

orang yang mengandalkan Tuhan.


Isi

A. Dosa yang Terukir di Hati (ayat 1–4)

Bangsa Yehuda tidak hanya melakukan dosa, tetapi dosa itu sudah tertanam dalam hati mereka.

Mereka menyembah berhala di bukit-bukit dan di bawah pohon-pohon rindang.

Artinya:

dosa sudah menjadi kebiasaan

dosa sudah menjadi budaya

Akibatnya Tuhan berkata mereka akan kehilangan tanah dan mengalami pembuangan.

Pelajaran:

Dosa yang terus dibiarkan akan menguasai hati manusia.


B. Kutuk bagi yang Mengandalkan Manusia (ayat 5–6)

Tuhan berkata:

“Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia.”

Orang yang hanya mengandalkan kekuatan manusia digambarkan seperti semak di padang gurun.

Ciri-cirinya:

hidupnya kering

tidak melihat datangnya kebaikan

hidup di tempat tandus

Ini menggambarkan hidup yang tanpa pengharapan rohani.


C. Berkat bagi yang Mengandalkan Tuhan (ayat 7–8)

Sebaliknya Tuhan berkata:

“Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan.”

Orang seperti ini digambarkan seperti pohon yang ditanam di tepi air.

Ciri-cirinya:

akarnya menjalar ke sungai

tidak takut panas

tetap berbuah

Artinya:

hidupnya kuat

tidak mudah goyah

tetap menghasilkan kebaikan walau keadaan sulit


D. Hati Manusia yang Licik (ayat 9)

Ayat yang sangat terkenal:

“Hati itu licik melebihi segala sesuatu.”

Manusia sering merasa dirinya benar, tetapi sebenarnya hatinya bisa menipu dirinya sendiri.

Contohnya:

merasa sudah baik padahal penuh kesombongan

merasa benar padahal masih menyimpan dosa


E. Tuhan yang Menyelidiki Hati (ayat 10)

Tuhan berkata:

“Aku, Tuhan, yang menyelidiki hati.”

Manusia bisa menipu orang lain, tetapi tidak bisa menipu Tuhan.

Tuhan:

mengetahui motivasi kita

mengetahui pikiran kita

mengetahui hati kita yang sebenarnya

Ilustrasi

Ada dua pohon yang ditanam.

Satu pohon ditanam di tanah yang kering jauh dari air. Ketika musim kemarau datang, pohon itu layu dan mati.

Pohon yang lain ditanam dekat sungai. Walaupun matahari sangat panas, pohon itu tetap hijau dan berbuah.

Perbedaannya bukan pada panas matahari, tetapi di mana akar pohon itu berada.

Begitu juga kehidupan manusia:

yang menentukan kekuatan hidup kita adalah di mana kita menaruh kepercayaan kita.


Penerapan

  1. Periksa hati kita di hadapan Tuhan

Jangan hanya melihat perbuatan luar, tetapi lihatlah hati kita.

  1. Jangan mengandalkan kekuatan manusia

Uang, jabatan, dan kemampuan tidak dapat menyelamatkan hidup kita.

  1. Belajar mengandalkan Tuhan

Orang yang berharap kepada Tuhan akan tetap kuat walaupun hidup menghadapi kesulitan.

  1. Hidup dengan hati yang jujur di hadapan Tuhan

Karena Tuhan menyelidiki hati dan memberikan balasan sesuai dengan kehidupan kita.


Kesimpulan

Perikop Kitab Yeremia 17:1–10 mengajarkan bahwa masalah utama manusia adalah hati.

Ada dua pilihan hidup:

1. Mengandalkan manusia → hidup kering seperti semak di padang gurun

2. Mengandalkan Tuhan → hidup seperti pohon di tepi air

Tuhan melihat bukan hanya apa yang kita lakukan, tetapi bagaimana hati kita di hadapan-Nya.

Karena itu marilah kita datang kepada Tuhan dengan hati yang jujur, mengandalkan Dia, supaya hidup kita tetap kuat dan berbuah.

Kotbah: Pdtm. Leon Situmorang

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan