“Allah memelihara kita, sehingga kita dapat tetap setia.”

Intro

Beberapa tahun terakhir dunia mengalami berbagai macam krisis yang luar biasa. Pandemi 2020 telah mengubah kehidupan ratusan juga orang di dunia..

Harga kebutuhan pokok naik. Lapangan pekerjaan semakin sulit. Usaha yang dahulu berjalan baik sekarang harus berjuang untuk bertahan.

Banyak banyak keluarga yang hidup dari gaji ke gaji. Dan mungkin ada diantara kita yang pagi ini datang ke gereja sambil bertanya dalam hati,

“Tuhan, bagaimana saya membayar sekolah anak bulan depan?” bagaimana saya membayar sewa rumah bulan ini..”

Dalam keadaan sedang sulit, ada yang berkata, “Saya ingin memberi, tetapi saya sendiri sedang kekurangan.”

Maka dalam keadaan seperti ini, berbicara tentang penatalayanan harta bisa terasa tidak nyaman. Tapi saya ingin paradigma lama kita berubah..

Suatu kali ada anggota memberi saran kepada saya. Pak pendeta, saat ini banyak keluarga yang sedang mengalami kesulitan ekonomo, jadi jangan dulu berbicara tentang penatalayanan..

Nanti tunggu, ekonomi membaik baru singgung tentang penatalayanan..

Kembali saya luruskan, pemahaman seperti ini, bahwa penatalayanan buka tentang uang. Bukan tentang kita memberi. Tetapi tentang Tuhan yang menciptakan dan menebus kita..

Tentang Tuhan yang memelihara kita dalam segala keadaan. Justru pada saat tersulit dalam hidup kita, penatalayanan menjadi urgen.

Kenapa? Karena ini bukan bicara tentang kesusahan kita, tetapi tentang Tuhan yang berdaulat atas hidup kita, atas kesusahan kita..

Jadi kalau hidup sedang susah, lalu kita jauh dari Tuhan. Sudah tidak baca Alkitab dan berdoa. Sudah jarang kegereja. Kita lebih banyak mengeluh..kita sedang meragukan kesanggupan Tuhan..

Alkitab paling banyak berbicara tentang pemeliharaan Tuhan pada masa krisis. Karena penatalayanan bukan dimulai saat lumbung kita penuh..

Saat uang kita banyak. Saat usaha kita paling baik keadaanya..

Itu dimulai ketika kita percaya bahwa Pemilik (Tuhan) tidak pernah meninggalkan para pengelola-Nya. Kita semua. Kita setia bukan karena ekonomi selalu baik. Kita setia karena Raja tetap memelihara milik-Nya. Itu mengubah seluruh perspektif.

I. Raja Tidak Pernah Kehabisan Persediaan

Mazmur 24:1 berkata, “Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya.” Dari ayat ini kita dapat lihat bahwa Tuhan memiliki persediaan yang tidak terbatas..

Ketika sebuah krisis terjadi, Kita sering melihatnya dari sisi kita sebagai manusia. Ketika Perusahaan bangkrut. Pasar melemah. Harga naik tinggi..

Tetapi Alkitab mengajak kita melihat krisis dari sisi Tuhan. Maka pertanyaannya, Apakah gudang Allah pernah kosong? Tidak.

Mazmur 50:10-12 berkata, “Sebab punya-Kulah segala binatang hutan… Jika Aku lapar, tidak usah Kukatakan kepadamu, sebab dunia beserta segala isinya adalah milik-Ku.”

Krisis mungkin mengurangi tabungan kita. Tetapi krisis tidak pernah mengurangi kepemilikan Allah.

Itulah sebabnya iman orang percaya tidak bertumpu pada keadaan ekonomi, melainkan pada karakter Allah yang setia.

II. Dalam Alkitab, Pemeliharaan Tuhan Justru Paling Nyata Saat Krisis

Lihat pola Alkitab. Mujizat terjadi, bukan ketika panen melimpah. Justru ketika persediaan habis.

Misalnya ketika Israel di Padang Gurun

Disana tidak ada sawah untuk digarap. Tidak ada pasar untuk berdagang. Tidak ada supermarket.

Tetapi setiap pagi ada manna. Turun dari sorga dari Tuhan. Untuk memberi makan anak-anak Israel.

“Sesungguhnya Aku akan menurunkan dari langit hujan roti bagimu; maka bangsa itu akan keluar dan memungut tiap-tiap hari apa yang perlu untuk sehari..” Kel 16:4

Bukan hanya setahun, bahkan empat puluh tahun.

Allah tidak membangun Gudang untuk menampung persediaan yang banyak. Allah memberikan kecukupan setiap hari.

Mengapa? Supaya Israel belajar mempercayai Sang Pemberi, bukan bergantung pada persediaan, yang mereka miliki.

Contoh lain, Janda di Sarfat

Kita tahu cerita ini dengan baik. dia hanya dimiliki segenggam tepung dan sedikit minyak. Itu makanan terakhir. Setelah itu tidak ada lagi..

Namun ketika ia beriman kepada Tuhan, percaya kepada nabi Tuhan. melakukan perintah Tuhan. menjadikan Tuhan yang pertama..

Apa yang terjadi? Tepung itu tidak habis dan minyak itu tidak berhenti mengalir (1 Raja-raja 17). Hingga musim panen tiba..

Perhatikan, Allah tidak langsung memenuhi gudang janda itu dengan persediaan yang limpah untuk setahun.. Allah memberikan pemeliharaan hari demi hari.

Kemudian contoh lainnya: Lima Roti dan Dua Ikan

Yesus tidak memulai mukjizat dengan kelimpahan. Memberi makan 5000 orang dimulai dari kekurangan. Kurang berapa kurangnya sangat banyak..

Namun, yang sedikit di tangan manusia menjadi cukup, tetapi ketika diserahkan ketangan Sang Raja. Yesus, yang sedikit itu menjadi cukup. Berlimpah.

III. Penatalayanan Adalah Tindakan Iman, Bukan Perhitungan

Pada masa krisis, hati kita berkata, “Simpan semuanya.” “Pegang erat-erat.” “Jangan lepaskan apa pun.”

Tetapi Yesus mengajarkan prinsip yang berbeda, yaitu hidup oleh percaya. Patalayanan berarti berkata,

“Tuhan, Engkau Pemilik. Aku akan mengelola dengan bijaksana, bekerja dengan rajin, hidup sederhana, dan tetap setia karena aku percaya Engkau tidak pernah meninggalkan anak-anak-Mu.”

Kesetiaan bukanlah penyangkalan terhadap kenyataan ekonomi. Kesetiaan mengakui bahwa kita terbatas dan sedang mengalami kesusahan. Tapi Tuhan tidak terbatas

Kesetiaan adalah pengakuan bahwa ekonomi bukanlah penguasa terakhir atas hidup kita. Tuhanlah yang menguasai hidup kita. Bukan ekonomi..

IV. Krisis Menguji Siapa yang Menjadi Sandaran Kita

Saat keadaan kita baik-baik saja, mudah berkata, “Tuhan adalah Pemeliharaku.”

Tetapi saat pendapatan kita menurun, usaha kita menurun, kita berhenti bekerja, baru terlihat apakah sandaran kita adalah rekening bank atau Tuhan.

Karena itu, krisis sering kali menjadi ruang di mana Allah membentuk iman kita, agar percaya kepadanya..

Suatu sekali ada seorang pemudi datang menangis kepada saya. Saya tanya, kenapa kamu menangis? Dengan terisak-isak ia berkata, “saya baru saja berhenti kerja..”

Saya sangat takut dan kuatir, takut tidak punya uang, takut tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup..? saya tahu dia menangis, bukan hanya kebutuhan hidup yang dia tangisi, tapi tuntutan gaya hidup..

Saya katakan, berhenti menangis. Tuhan sedang mengajari mu, agar bergantung kepada-nya bukan pada pekerjaan-Mu..sejak saat itu dia menjadi tekun beribadah, baca Alkitab, melayani..

Dan selama berbulan-bulan dia tidak bekerja, dia tidak lagi kuatir. Tuhan membentuk imannya, pada saat Krisis.

Tuhah tidak menjanjikan kekayaan kepada mereka yang setia. Alkitab tidak mengajarkan itu. jadi jangan katakan, saya sudah setia. Setia beribadah, berdoa, melayani. Persembahan persepuluhan, dll, tapi kenapa hidup saya Sekarang sulit..?

Banyak orang berpikir: Saya setia → maka Tuhan wajib membuat saya kaya, sehat, sukses, dan bebas masalah.”

Yang Alkitab ajarkan adalah bahwa Allah setia memelihara umat-Nya sesuai hikmat dan kehendak-Nya, sering kali melalui cara-cara yang tidak kita duga.

Pemeliharaan Tuhan tidak selalu berarti kelimpahan materi.

  • Ayub setia, tetapi kehilangan hartanya.
  • Yusuf hidup benar, tetapi masuk penjara.
  • Paulus setia, tetapi mengalami kelaparan, penderitaan, dan kekurangan.
  • Yesus sendiri hidup dalam kesederhanaan dan mengalami salib.

Jadi: Kesetiaan bukan transaksi dengan Tuhan. Kita tidak berkata: “Saya memberi, maka Tuhan harus memberi lebih banyak.”

Tetapi:

“Saya setia karena Tuhan adalah pemilik, bahkan ketika saya tidak mengerti apa yang sedang Dia izinkan terjadi.”

Inilah perbedaan antara iman dan transaksi.

Iman berkata: “Tuhan, aku percaya Engkau tetap baik.”

Transaksi berkata: “Tuhan, aku sudah setia, sekarang Engkau harus memberkatiku.”

Penatalayanan bukan cara membeli berkat Tuhan.

Penatalayanan adalah respons kita kepada Raja yang sudah lebih dahulu mengasihi dan memelihara kita.

“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” 1 Pet 5:7

Penutup

Mungkin hari ini kita sedang menghitung sisa uang di dompet kita. Ada yang sedang memikirkan biaya kuliah anak.

Ada pelaku usaha yang penjualannya semakin menurun. Ada pegawai yang khawatir akan masa depan pekerjaannya. Orang-orang muda bimbang masa depannya..

Firman Tuhan tidak mengatakan bahwa krisis itu tidak nyata. Firman Tuhan juga tidak menjanjikan bahwa semua kesulitan akan hilang seketika.

Tetapi Firman Tuhan mengingatkan satu hal yang jauh lebih besar:

Harta memang titipan Raja, tetapi hidup kita juga berada dalam pemeliharaan Raja. Kita mengelola apa yang menjadi milik-Nya.

Dan Dia tidak pernah menelantarkan orang-orang yang dipercaya-Nya mengelola milik Kerajaan.

Seringkali dia ijinkan kita mengalami krisis, agar kita terus belajar mempercayai Tuhan dan mempercayai pemeliharaanya. Hidup kita bergantung pada Tuhan bukan uang.

Karena itu, ketika kita berkata, “Tuhan, semua ini milik-Mu,”

kita juga dapat berkata dengan penuh keyakinan, “Tuhan, hidupku pun ada di tangan-Mu.”

Di situlah penatalayanan bertemu dengan pemeliharaan Tuhan.

Pada akhirnya, kesetiaan kita sebagai penatalayan milik Tuhan, bukan ditentukan oleh keadaan kita. Saat krisis tidak perlu setia. Nanti saat banyak berkat..

Kita setia, karena kita mengenal siapa Raja yang memelihara hidup kita, bahkan di tengah musim yang paling sulit.

Ilustrasi Penutup:

Ada seorang raja mengutus seorang hambanya menempuh perjalanan panjang melewati daerah yang sulit. Sebelum berangkat, raja memberikan kepadanya sebuah kantong berisi bekal.

Raja berkata:

“Gunakan ini dengan bijaksana. Ini cukup untuk perjalananmu. Jangan habiskan untuk dirimu sendiri, karena ada orang-orang yang akan kamu temui di sepanjang jalan yang juga membutuhkan pertolongan.”

Hamba itu berangkat. Beberapa hari kemudian bekalnya mulai menipis. Ia mulai takut. “Bagaimana kalau bekal ini habis?”

Namun di tengah perjalanan ia bertemu seseorang yang kelaparan. Ia berpikir: “Kalau saya memberikan sebagian, bagaimana dengan saya nanti?”

Tetapi ia teringat perkataan raja. Akhirnya ia membagikan sebagian bekalnya.

Anehnya, ketika ia melanjutkan perjalanan, ia menemukan bahwa sang raja ternyata telah menyiapkan bekal di tempat berikutnya.

Ia berjalan lagi. Bekalnya kembali menipis. Kembali ia harus memilih: menyimpan semuanya karena takut kekurangan, atau tetap menggunakan titipan itu sesuai kehendak rajanya.

Dan setiap kali ia membutuhkan, ia menemukan bahwa raja tidak pernah berhenti menyediakan apa yang diperlukan untuk perjalanan itu.

Saudara, bukankah kehidupan kita seperti perjalanan itu? Tuhan tidak memberikan segala sesuatu kepada kita supaya kita berkata, “Ini milikku.”

Tuhan berkata, “Ini Aku percayakan kepadamu.” Uang kita adalah titipan. Pekerjaan kita adalah titipan. Rumah kita adalah titipan. Kemampuan kita adalah titipan.

Bahkan kesempatan untuk hidup hari ini adalah titipan. Tetapi ada satu hal yang sering kita lupakan:

Raja yang menitipkan juga adalah Raja yang memelihara.

Karena itu penatalayanan bukan hidup dalam ketakutan: “Kalau saya memberi, nanti saya kekurangan.”

Penatalayanan adalah hidup dalam iman: “Saya akan mengelola dengan bijaksana apa yang Tuhan titipkan, karena saya percaya kepada Pemiliknya bukan pada titipan itu.”

TANTANGAN MINGGU INI: Saya ingin kita melakukan satu tindakan sederhana.

Selama tujuh hari, setiap kali menggunakan uang, waktu, makanan, kendaraan, rumah, atau kemampuan kita, berhenti sejenak dan katakan: “Ini titipan Raja.”

Kemudian setiap pagi katakan:

“Tuhan, hari ini aku akan mengelola apa yang Engkau titipkan kepadaku dengan setia. Dan untuk kebutuhanku, aku percaya kepada pemeliharaan-Mu.”

Lalu minggu ini, gunakan satu dari titipkan TUHAN kepada kita untuk menjadi berkat bagi seseorang.

Tidak harus besar. Mungkin sebuah makanan. Mungkin uang. Mungkin waktu. Mungkin tenaga. Mungkin perhatian. Karena kita sedang belajar satu kebenaran:

Raja tidak hanya memberikan titipan. Raja juga memelihara para penatalayan-Nya. Dan akhirnya:

“Kita tidak tahu seberapa banyak bekal yang akan ada di tangan kita besok. Tetapi kita tahu siapa yang menyediakan bekal itu.”

“Karena itu, jangan takut menjadi penatalayan yang setia hanya karena takut kekurangan.”

“Harta itu titipan Raja. Dan hidup kita pun berada dalam pemeliharaan Raja.”

“Tugas kita bukan memastikan kita memiliki cukup persediaan. Tugas kita adalah setia mengelola apa yang dipercayakan Tuhan hari ini.”

Itulah hidup seorang penatalayan.

1 Korintus 4:2 “Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai.”

Mazmur 37:25 “Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti.”

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *