Hanya 10 persen dari dua puluh Kristen yang memiliki iman yang kuat

Riset ini diliris dalam Faith and Christianity, 24 September 2019

Selama lebih dari satu dekade mewawancarai remaja dan dewasa muda, para peneliti Barna terus menghadapi sejumlah kecil orang Kristen muda yang kecenderungannya secara keseluruhan hilang dari gereja.

Menggunakan parameter penelitian yang sama seperti dalam bukunya 2011 You Lost Me (usia 18-29 tahun dengan latar belakang Kristen), presiden Barna David Kinnaman dan tim mendedikasikan penelitian baru untuk mempelajari lebih lanjut tentang kecenderungan ini.

Dalam Faith for Exiles: 5 Cara untuk Generasi Baru Mengikuti Yesus di Digital Babylon, Kinnaman dan rekan penulisnya, Mark Matlock, mengenal satu dari 10 orang Kristen muda yang mereka sebut “ resilient disciples (murid-murid yang tangguh) .”

Tetapi mereka juga memperhatikan tiga jalur lain yang dipilih oleh orang dewasa muda dengan latar belakang Kristen.

Secara bersama-sama, ada empat jenis dari duapuluhan “Exiles (buangan)” membuat jalan mereka di zaman kita saat ini, yang oleh Kinnaman disebut sebagai “Babel digital.”

1. Anak yang hilang, atau mantan orang Kristen (Prodigals, or ex-Christians)

Mereka tidak mengidentifikasi diri mereka sebagai orang Kristen walaupun telah menghadiri gereja Protestan atau Katolik ketika anak-anak atau remaja, atau pernah menganggap diri mereka sebagai orang Kristen pada suatu waktu.

2. Pengembara, atau orang Kristen yang hilang (Nomads, or lapsed Christians)

Mereka mengidentifikasi diri sebagai orang Kristen tetapi belum menghadiri gereja selama sebulan terakhir. Sebagian besar Kristen pengembara belum terlibat dengan komunitas agama selama enam bulan atau lebih.

3. Pengunjung gereja karena kebiasaan (Habitual churchgoers)

Mereka yang telah menghadiri gereja setidaknya sekali dalam sebulan terakhir, namun tidak memiliki keyakinan inti dasar atau perilaku yang terikat sebagai murid atau terlibat.

4. Murid yang tangguh/tabah/ulet (Resilient disciples)

Mereka adalah orang Kristen yang (1) menghadiri gereja setidaknya setiap bulan dan terlibat dalam gereja mereka lebih dari sekedar menghadiri kebaktian;

(2) memiliki kepercayaan yang kuat akan otoritas Alkitab;

(3) berkomitmen kepada Yesus secara pribadi dan percaya bahwa Ia disalibkan dan dibangkitkan dari antara orang mati untuk mengalahkan dosa dan maut; dan

(4) menyatakan keinginan untuk mengubah masyarakat yang lebih luas sebagai hasil dari iman mereka.

Keempat kelompok ini, semuanya dengan latar belakang gereja yang serupa, melaporkan pengalaman dan persepsi yang berbeda tentang kehidupan, iman dan hubungan.

Faith for Exiles mengeksplorasi perbedaan-perbedaan ini secara mendalam untuk memahami bagaimana orang-orang muda Kristen, bersama dengan orang tua dan gereja-gereja mereka, dapat menumbuhkan iman yang kekal dan abadi.

Pentingnya pertemuan pribadi

Satu jawaban yang muncul dari data adalah pentingnya pertemuan pribadi dan pengalaman dengan Yesus.

Seperti yang ditunjukkan bagan, ada perbedaan yang signifikan antara keempat kelompok pengasingan dalam hal kerohanian yang berpusat pada Yesus.

Kinnaman berkata, “Murid-murid yang tanggauh/ulet (resilient disciples) mengungkapkan perasaan keintiman dengan Allah, kedekatan yang sering kali tidak nampak dalam pengalaman kerohanian dari kelompok yang hanya karena kebiasaan, pengembara, dan anak yang hilang.

Pernyataan seperti ‘Yesus memahami seperti apa hidup saya hari ini’ dan ‘Membaca Alkitab membuat saya merasa lebih dekat dengan Allah’ menangkap perasaan ini.

Kelompok Kristen Resilient disciples atau tangguh/ulet merasakan tingkat emosional yang dalam.

“Mereka juga mengalami keintiman percakapan dengan Yesus,” lanjut Kinnaman. “

Dari lima orang empat diantaranya sangat setuju bahwa ‘Yesus berbicara kepada saya dengan cara yang relevan dengan hidup saya.’

Dalam kelompok Kristen Habitual churchgoers atau karena kebiasaan, tidak sampai setengah dari mereka yang merasakan hubungan semacam ini.

Dan persentasenya, seperti yang diharapkan, jauh lebih rendah di antara Kristen pengembara dan Kristen anak yang hilang.

Doa adalah ‘bagian hidup’ dari kehidupan para murid yang tangguh/Ulet (Resilient disciples), dan itu termasuk ‘mendengarkan Tuhan.’

Baca juga: 5 Level komitmen, level yang manakah anda?
10 Alasan untuk pergi ke gereja, bahkan ketika anda tidak menyukainya

Kunci mengembangkan iman yang kuat

“Data ini menunjukkan bahwa salah satu kunci untuk mengembangkan iman kuat/tangguh/ulet (Resilient disciples) dan mengalami Yesus yaitu:

Dengan menumbuhkan kepercayaan dalam diri orang muda bahwa Allah yang sejati benar-benar berbicara kepada kita,” tambah Kinnaman.

“Bahwa dia memiliki sesuatu yang unik untuk dikatakan kepada hati kita dan nasib kita.

Ini adalah tema yang membentang sepanjang penelitian kami di antara kaum Millenial dekade terakhir, dan tentu saja itu adalah tema yang bergema dalam tulisan suci.

Kinnaman menyimpulkan, “Kita harus membantu generasi yang baru muncul ini mendengar dan menanggapi suara Yesus dalam hidup mereka!

Mari kita berkomitmen untuk membantu kaum muda mengembangkan teologi dan praktik mendengar, mendengarkan, dan berbicara dengan Tuhan. “

Mengenai penelitian ini:

Pemeriksaan penelitian utama untuk buku Faith for Exiles dilakukan kepada anak berusia delapan belas hingga dua puluh sembilan tahun yang tumbuh sebagai orang Kristen.

Grafik dan data yang ditampilkan dalam artikel ini menggunakan data dari wawancara kualitatif. Yang pertama termasuk data dari total 1.296 orang dewasa AS 18-29 yang adalah Kristen saat ini / atau mantan kristen.

Data ini dikumpulkan secara online selama Januari 2011 dan kesalahan margin untuk responden ini adalah +/- 2,7% pada tingkat kepercayaan 95%.

Bagan pertama dan kedua keduanya termasuk data dari total 1.514 orang dewasa AS 18-29 yang saat ini / mantan Kristen yang dikumpulkan secara online selama 16-28 Februari 2018.

Kesalahan margin untuk responden ini adalah +/- 2,3% di Tingkat kepercayaan 95%.

Sumber: Barna research, Barna.com
https://www.barna.com/research/of-the-four-exile-groups-only-10-are-resilient-disciples/

Baca juga: 5 Prinsip pertumbuhan rohani

Bagikan:

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.