Etika Bercanda

[pastordepan.com] Berkaca dari pengalaman salah seorang Capres yang berkelakar ketika sedang orasi kampanye di Boyolali yang akhirnya menuai kontroversi dan membuat heboh orang-orang yang berasal dari Boyolali karena Guyon sang capres dirasa menyinggung perasaan warga setempat.

Orasi yang penuh semangat yang dibawakan sang capres konteksnya adalah bagaimana meningkatkan taraf hidup masyarakat kalau nanti terpilih jadi presiden.

Sebagai seorang orator atau pembicara, tentu ingin pendengar nya tidak ngantuk tetapi terus fokus kepada pembicara. Biasanya seorang pembicara akan menyelipkan ilustrasi yang menarik atau humor untuk membangkitkan perhatian pendengar supaya tetap fokus dan mudah mengerti isi orasi atau pidato tersebut.

Dan ketika sang capres memasukkan humor dalam orasinya itu adalah baik dalam ilmu orasi atau pidato. Hanya isi humor tersebut bagi sebagian orang tidak berkenan,sekalipun ada orang yang tertawa ketika mendengar nya.

Isi guyon sang Capres, ketika dia menyebut nama salah satu hotel termewah dunia yang juga ada di Jakarta.

“Kalau kalian masuk, kalian mungkin akan diusir, karena tampang-tampang kalian bukan tampang orang kaya. Tampang kalian ya tampang Boyolali ini,”

Guyon yang hanya beberapa kalimat ini menuai polemik, bahkan sampai dilaporkan ke polisi dan di demo ribuan warga Boyolali.

Boleh jadi sang Capres tidak bermaksud meremehkan martabat tampang Boyolali, sebab dia punya kepentingan merebut suara warga Boyolali. Mungkin tujuannya adalah menghibur dengan menggunakan majas.

Sebenarnya bukan hanya tokoh terkenal yang sering menggunakan bahasa guyon sindiran seperti itu. Dalam keseharian, kita masyarakat biasa mungkin juga sering berguyon dengan pola yang sama, baik kepada teman, keluarga, anak-anak kita atau orang lain.

Suatu kali beberapa tahun yang lalu, ketika saya menyampaikan sebuah informasi dari mimbar kepada jemaah supaya setelah makan siang tidak pulang karena ada kegiatan yang perlu diikuti. Dalam penyampaian informasi tersebut saya menggunakan guyon yang menyebutkan satu kelompok asal jemaah, dan dari hati yang paling murni tidak ada niat untuk menyindir mereka.

Tetapi apa yang terjadi setelah acara selesai ketika semua orang sudah pulang, saya mendapat komplain keras dan diprotes. Mendapatkan hal yang demikian saya sedih sekali karena guyon saya telah menyakiti perasaan orang lain dan saya meminta maaf atas hal tersebut.

Memang mayoritas jemaah tidak merasa bahwa guyon saya salah, tetapi satu orang saja tersinggung itu sudah cukup untuk mengoreksi guyonan supaya dikemudian hari berhati hati dalam berkata-kata.

Barangkali demikian yang dialami sang Capres.

Walau dari hati paling dalam tidak ada niat menyindir perasaan orang lain, kita harus ingat bahwa apa yang sudah kita keluarkan Lewat kata-kata dan sudah didengar orang lain, itulah yang mereka pegang.

Sekali pun kita berupaya merevisi kata kata kita, dan berusaha klarifikasi, hal itu sudah kurang nilainya, sebab penyampaian yang pertama itulah yang diingat.

Kita mungkin ikut membully sang capres karena kelalaiannya, tetapi pertanyaannya, apakah kita juga tidak pernah melakukan hal yang sama? Jika iya mari kita belajar dari pengalaman ini.

Bahwa menjadi orang yang humoris tidak salah, memasukkan humor dalam pembicaraan tidak ada larangan. Tetapi sebelum berguyon kita harus berpikir 7 kali terhadap 2 hal berikut ini:

Pertama: Apakah guyon yang akan kita sampaikan mengandung SARA atau tidak?
Apakah guyonan ini mengarah kepada melecehkan orang secara fisik atau tidak? Apakah mengarah kepada merendahkan orang dari segi status sosial, ekonomi, budaya mereka atau tidak? Dan hal yang lain yang perlu dipertimbangkan.

Kedua adalah lingkungan dan orang-orang kepada siapa kita sedang menyampaikan humor atau guyon.

Tetapi yang pasti setiap guyon atau humor yang kita sampaikan hendaknya mengandung nilai-nilai kebaikan, tidak rasis, sarkastik, porno dll. Janganlah kita tertawa diatas ketersinggungan orang lain.

Seorang pendidik berkata, “Baik kaum pria maupun kaum wanita terlalu banyak memanjakan diri dalam kelakar yang menggiurkan bilamana mereka bertemu dalam pergaulan. Para wanita yang menyebut dirinya beribadat memanjakan diri dalam banyak senda gurau, kelakar dan tawa.”1

Malaikat pencatat itu menuliskan setiap kata yang diucapkan di hadapan mereka dengan marah dan dalam cara yang tidak hati-hati atau dalam senda gurau; setiap kata yang tidak suci dan tidak agung, ia catat sebagai satu noda dalam tabiatmu.2

Senda gurau yang kasar akan dipertanggungjawabkan suatu hari nanti.

Kitab suci mengatakan menjaga lidah, jaga hati sebagai kunci kepada guyonan yang sehat.

Jagalah lidahmu terhadap yang jahat dan bibirmu terhadap ucapan-ucapan yang menipu; 3

Guyonanmu adalah harimaumu, bisa menerkam diri sendiri kalau tidak dijaga, seperti kata kitab Zabur..

“Seperti orang gila menembakkan panah api, panah dan maut, demikianlah orang yang memperdayakan sesamanya dan berkata: ‘Aku hanya bersenda gurau’” 4

“Ada orang yang lancang mulutnya seperti tikaman pedang, tetapi lidah orang bijak mendatangkan kesembuhan.” 5

Maka siapapun kita, sebelum berbicara, sebelum Guyon dll, berdoalah seperti Daud berdoa.

Awasilah mulutku, ya TUHAN, berjagalah pada pintu bibirku! 6

Ref
1. Membina keluarga bahagia 493
2. Ibid
3.Mazmur 34:13
4. Amsal 26:18,19
5. Amsal 12:18
6. Mazmur 141:3

Bagikan:

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.