Eksegesis atas Kisah Para Rasul 1:6-8

Pdt. BD. Nainggolan

Pendahuluan

Bagi banyak orang, teks Kisah Para Rasul 1:6-8 menarik karena merupakan landasan dari keseluruhan pemaparan Lukas dalam bukunya Kisah Para Rasul.

Namun teks ini terlebih lagi menarik karena memuat beberapa prinsip yang dapat digunakan dalam penginjilan yakni bergantung pada Roh Kudus dan menggunakan urutan dari wilayah sempit ke wilayah yang lebih luas.

Hal ini akan dibahas lebih lanjut dalam Eksegesis teks 1:6-8 yang diuraikan dalam pembahasan berikut.

Analisa Konteks Historis

Penulis baik Lukas dan Kisah Para Rasul penulisnya tidak diketahui. (D. A. Carson, Introdution to the New Testament)

Dari kata pengantar Lukas, yang mungkin ditulis sebagai pengantar untuk baik Lukas maupun Kisah Para Rasul, kita dapat menyimpulkan bahwa penulisnya berpendidikan baik, bukan salah seorang dari keduabelas rasul atau murid Yesus yang mula-mula, namun mungkin merupakan salah satu partisipan dalam peristiwa-peristiwa yang diceritakan.

Ia mengetahui Perjanjian Lama dari versi Septuaginta Yunani, memiliki pengetahuan yang bagus akan kondisi politik dan ekonomi di pertengahan abad pertama Masehi, dan menaruh perhatian besar akan rasul Paulus.

Hal-hal lain yang juga menunjukkan karakter historis penulis Kisah Para Rasul antara lain adalah: dia meneliti detil-detil, dia melakukan pekerjaannya dengan teliti (akribos), dan dia menawarkan penuturan yang berurutan (kathexes).

Hal yang lain mengenai penulis kitab Kisah Para Rasul berasal dari ayat-ayat yang menggunakan “kami” dalam kitab tersebut.

Ada empat ayat di mana penulis beralih dari menggunakan kata ganti orang ketiga yang biasa digunakannya dengan narasi kata ganti orang pertama jamak.

Inilah bukti-bukti internal sejauh yang diceritakan oleh Lukas dan Kisah Para Rasul.

Bukti-bukti eksternal menunjukkan Lukas sebagai penulis kedua kitab tersebut, dan hal ini diakui oleh para bapa gereja termasuk Irenaeus, Clement dari Aleksandria, dan Tertulianus.

Penerima

Kisah Para Rasul, seperti halnya Lukas, ditujukan kepada Teofilus (1:1), yang mungkin merupakan patron Lukas, yaitu orang yang menyediakan dana bagi penerbitan karya tulis Lukas.

Namun kita dapat menyimpulkan hampir tidak sesuatupun tentang orang ini dari karya Lukas disebutkan.

Lebih lanjut, hampir dapat dipastikan bahwa Lukas memikirkan pembaca yang lebih luas dibandingkan hanya 1 orang saja.

Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan Lukas-Kisah Para Rasul seperti tertulis dalam Lukas 1:4: “supaya engkau dapat mengetahui, bahwa segala sesuatu yang diajarkan kepadamu sungguh benar,” tampaknya merupakan dasar dari diskusi apapun mengenai tujuan penulisan Lukas.

Namun demikian, menunjukkan kepastian merupakan tujuan yang sangat luas dan mungkin tidak mencakup semua tujuan yang dipikirkan oleh Lukas.

Lebih lanjut, Lukas mungkin memiliki tujuan yang agak berbeda untuk Injilnya daripada yang Ia miliki untuk Kisah Para Rasul.

Namun demikian, untuk mengerti Kisah Para Rasul mesti setidaknya mempertimbangkan Injil Lukas.

Waktu dan tempat penulisan

Tahun penulisan yang diajukan untuk kitab Kisah Para Rasul berkisar hampir seabad, dari 62 Masehi, saat terjadinya peristiwa terakhir yang dicatat oleh kitab tersebut, hingga pertengahan abad kedua, saat rujukan terhadap kitab Kisah Para Rasul ini pertama muncul.

Kebanyakan para ahli menempatkan penulisan Kisah Para Rasul pada salah satu di antara tiga periode waktu dalam kisaran berikut: 62-70, 80-95, 115-130.

Tempat penulisan Lukas-Kisah Para Rasul adalah jauh lebih sulit untuk diperkirakan daripada tahun penulisannya, penulisnya, maupun identitas para pembaca mula-mula.

Karena penulisnya tersembunyi di balik kitab yang ditulisnya, terdapat sedikit informasi tentang penulisnya maupun di mana ia menuliskan Kisah Para Rasul.

Para ahli hanya sepakat bahwa Lukas-Kisah Para Rasul tidak ditulis di Palestina, karena tidak akuratnya penulisan letak geografis mengenai tempat tersebut.

Analisa Konteks Sastra

Konteks Dekat

Teks 1:6-8 diapit oleh perikop 1:1-5 yang berjudul Roh Kudus dijanjikan dan ayat 1:9-14 yang menceritakan bagaimana para rasul menantikan Roh Kudus.

Dari konteks ayat yang mendahului teks tersebut kita membaca bagaimana Tuhan Yesus sendiri menjanjikan bahwa Roh Kudus akan membaptis para rasul.

Dari sini kita tahu bahwa kedatangan Roh Kudus ke atas para rasul adalah atas perintah Bapa di surga.

Sementara itu dari konteks ayat yang menyusul teks tersebut, kita membaca bahwa para rasul menunggu kedatangan Roh Kudus yang dijanjikan tersebut, sebelum mereka memiliki keberanian untuk bersaksi.

Jadi jelas di sini bahwa tujuan kedatangan Roh Kudus adalah untuk mendorong dan memberanikan para murid untuk bersaksi tentang Yesus.

Konteks Jauh

Dari pasal sesudahnya (pasal 2) kita membaca bahwa Roh Kudus kemudian memang datang menggenapi janji Yesus kepada para rasul.

Dari pasal ini kita dapati bahwa setelah suatu m asa penantian sekitar 50 hari sejak kebangkitan Yesus maka turunlah Roh Kudus ke atas para rasul.

Implikasi bagi umat percaya adalah perlu suatu masa untuk berdoa dan menantikan sebelum seorang Kristen dipenuhi dan diberdayakan oleh Roh Kudus.

Eksegesis Kisah Para Rasul 1:6-8

Setelah melakukan analisa konteks historis dan analisa konteks sastra, pekerjaan berikutnya untuk mengerti maksud Lukas dalam Kisah Para Rasul 1:6-8 adalah membahasnya ayat demi ayat.

Ayat 6

“Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?””

Pertanyaan yang diajukan oleh para murid merefleksikan harapan yang terpendam dari hati mereka akan pemerintahan teokratis Israel di mana mereka akan menjadi para pemimpin.

Saat ini harapan tersebut timbul kembali karena Yesus berbicara tentang datangnya Roh Kudus (ayat 5). Dalam pengharapan Yahudi, restorasi Israel akan ditandai oleh aktivitas kembali dari Roh Allah, sebagaimana diyakini sejak nabi-nabi terakhir.

Namun meskipun perkataan-Nya mengenai kedatangan Roh Kudus memunculkan kembali harapan kuno nasionalistik dari para murid, Yesus memiliki pikiran yang berbeda.

Basileia atau kerajaan memiliki beberapa arti:

Ungkapan ‘kerajaan bagi Israel’ (basilei,an tw/| VIsrah ,l) menunjukkan suatu impian akan kerajaan yang berdaulat dan bebas dari penjajahan Romawi.

Hal ini bukan seperti yang diperintahkan oleh Yesus kepada mereka untuk dikerjakan.

Ayat 7

“Jawab-Nya: “Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya.””

Jawaban Yesus atas pertanyaan para murid yang keliru tersebut bukanlah penolakan atas tempat negara Israel dalam maksud-maksud Tuhan di masa depan.

Sebaliknya, itu menekankan kepada para murid agar mengubah pemikiran mereka mengenai program ilahi, dan menyerahkan kepada Tuhan apa yang menjadi wewenang-Nya dan mengerjakan apa yang dipercayakan pada mereka.

Penekanan Yesus bahwa “engkau tidak perlu mengetahui” menggemakan kembali ajarannya dalam Mat. 24:36 dan Mark. 13:32.

Ungkapan yang digunakan di sini adalah cro ,nouj h’ kairou .j, (kronos, kairos), yang dapat berarti waktu dan kesempatan.

“Masa” dan “waktu” merujuk pada karakter dari zaman-zaman yang mendahului babak akhir dari rencana penebusan Allah dan akan tahap-tahap kritis dari jaman-jaman ini saat mereka menuju klimaksnya.

Ini “yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya;” mereka seharusnya tidak menjadi bahan perdebatan dan spekulasi oleh umat percaya, suatu ajaran yang sayangnya kerapkali diabaikan.

Ayat 8

“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem, dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”

Kata du,naming berasal dari kata dunamis yang dapat berarti: 1) strength power, ability, 1a) inherent power, 1b) power for performing miracles, 1c) moral power and excellence of soul, 1d) the power and influence which belong to riches and wealth, 1e) power and resources arising from numbers, 1f) power consisting in or resting on armies, forces, hosts.

Jadi makna kata dunamis di sini menyiratkan kuasa untuk membuat mukjizat dan kemampuan supranatural lainnya.

Kebanyakan para ahli sependapat bahwa Kisah 1:8 adalah merupakan kerangka dari narasi

Kisah Para Rasul dengan penyebaran Injil menjadi tema utamanya. Kitab Kisah Para Rasul mengikuti kerangka tersebut saat Injil menyebar di Yerusalem dalam Kisah Para Rasul 1-7, ke Yudea dan Samaria dalam Kisah Para Rasul 8-10, dan kemudian menuju ujung-ujung bumi dalam Kisah Para Rasul 11-28.

Beberapa di antara tema-tema teologis utama lainnya dalam Kisah Para Rasul adalah konsep pemenuhan, Roh Kudus, kehidupan gereja, universalitas Injil, dan penyiksaan.

Juga menarik untuk dicatat bahwa Kisah Para Rasul ditutup dengan ujung yang terbuka, tanpa suatu kesimpulan yang jelas.

Aplikasi

Dengan kata lain, kita mesti bergantung pada pimpinan Roh Kudus dalam memberitakan Injil, sebab proses orang bertobat menjadi percaya kepada Yesus Kristus tidak akan terjadi tanpa karya Roh Kudus.

Inilah aspek pertama yang dapat dipetik dari Kisah 1:8. Aspek kedua yang penting bagi pekerjaan pekabaran Injil adalah bahwa seseorang mesti mulai dari lingkungan yang terkecil dahulu, yaitu Yerusalemnya yakni keluarga dan sahabat-sahabatnya dan teman-teman dekatnya.

Baru kemudian ia dapat terus bergerak ke lingkungan yang lebih luas, Yudea dan Samaria-nya, yakni orang-orang yang tinggal di dekatnya atau di kota-kota yang berdekatan dengan tempat tinggalnya.

Jika hal ini telah digarap, barulah ia dapat mulai memikirkan penginjilan dalam wilayah yang lebih luas bahkan hingga mencapai ujung-ujung bumi.

Kedua aspek itulah penerapan Kisah Para Rasul 1:6-8 dalam kehidupan kita, khususnya dalam konteks pekabaran Injil.

Kesimpulan

Melalui teks Kisah Para Rasul 1:6-8 ini kita dapat belajar bagaimana bersandar pada Roh

Kudus dalam melakukan pekabaran Injil, baik dalam pimpinan-Nya maupun kuasa-Nya.

Kuasa yang diberikan Bapa melalui Roh Kudus tidak ditujukan untuk bertindak sewenang-wenang, melainkan untuk menjadi saksi Yesus sampai ke ujung bumi

Bagikan:

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *