Dorkas

ilustrasi

Teks: Kisah 9:36-42

[pastordepan.com] Cerita tentang Dorkas ada di Kisah Para Rasul 9:36-42. Ceritanya tidak panjang, dan hanya kita temukan di pasal ini saja, tetapi kalau diterangkan cukup untuk membuat satu buku yang tebal.

Mari kita buka Alkitab kita, saya rindu kita membaca cerita ini dengan baik.

Pertanyaanya adalah, kenapa cerita tentang Dorkas di tulis di Alkitab? Jawabannya karena kisah Dorkas bukan cerita biasa, kisah Dorkas adalah kisah hidup yang luar biasa, tetapi karena terlalu sering kita dengar, cerita ini menjadi cerita biasa.

Itu sebabnya penulis merasa perlu mencatat kisah ini di Alkitab supaya kisahnya abadi dan kita dapat meneladani hidup dan pelayanannya.

Di dalam Alkitab Dorkas diperkenalkan sebagai seorang murid perempuan yang bernama Tabita yang artinya dalam bahasa Yunani adalah Dorkas. Perbuatan hidupnya di terangkan sebagai orang yang banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah.

Tetapi kemudian dia jatuh sakit dan meninggal. Tidak diterangkan sakit apa dia, berapa lama dia sakit, tetapi kematian Dorkas membuat banyak orang kehilangan dirinya, dan banyak orang menangisinya. Para janda-janda datang melayat, mereka membawa baju, pakaian yang pernah dijahit dorkas untuk mereka..

Dan Sebelum kita lanjutkan, kita perlu mengetahui latar belakang, waktu peristiwa kisah Dorkas. Kisah Dorkas terjadi pada awal Gereja mula-mula, dimana para rasul atau ke 12 murid Yesus masih hidup.

Jadi besar kemungkinan Dorkas sudah lahir ketika hari pentakosta di kisah pasal 2.

Pada hari pentakosta, para rasul dan murid-murid Yesus berkotbah, memberitakan injil di Yerusalem dan banyak orang bertobat. Lalu di kisah pasal 8 di Yerusalem terjadi penganiayaan yang hebat, maka mereka tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria.

Di kisah 8:4 “ Mereka tersebar menjelajah seluruh negeri sambil memberitakan injil…”

Ada kemungkinan dari murid-murid yang berpencar ini kemudian injil sampai di Yope, kota dimana Dorkas Tinggal dan ketika Dorkas mendegar injil tentang Yesus kemudian dia bertobat dan menjadi murid Yesus.

Itu sebabnya kisah 9:36 dia diperkenalkan sebagai seorang murid. Penulis kisah ini tentu tidak sembarangan memperkenalkan Dorkas sebagai Murid.

Dalam bahasa Yunani dia sebut sebagai ‘Mathetria’ yaitu murid perempuan. Kata murid sendiri berasal dari bahasa Yunani yaitu Mathetes artinya pelajar, disciple atau pupil.

Maka kata murid artinya adalah orang yang sedang belajar, ini penekanannya lebih kepada proses pemuridan. Kata Murid juga adalah menggambarkan hubungan antara guru dan muridnya.

Maka di dalam kata murid, pemuridan itu adalah proses belajar, belajar tentang ilmu keselamatan, belajar untuk menjadi seperti Yesus, Belajar mengikuti jejak hidup Yesus sang guru sejati itu.

Maka ketika dorkas disebut sebagai seorang murid, itu karena dia sudah mengalami proses belajar menjadi seperti Yesus. Dari mana kita tau? Dari kisah 9:36 “…..Perempuan itu banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah..”

Perhatikan kata “Banyak sekali berbuat baik” dalam terjemahan lama “Limpah dengan perbuatan baik” kata ini menunjukkan bahwa berbuat baik dan memberi adalah gaya hidup Dorkas. Itu menjadi kebiasaan hidupnya setiap hari. Maka pertanyaanya, dari mana dia belajar tentang hal itu? Dari Yesus..

Dia belajar bagaimana Yesus memberikan seluruh hidupnya untuk dirinya, bagaimana dia mati untuk menyelamatkan orang berdosa seperti dirinya..! Maka dari hasil belajar itu, dia diubahkan dan dia ingin memberikan hidupnya untuk menjadi berkat bagi orang lain, terutama kepada orang-orang miskin dan menderita.

(maka kalau kita belajar dan merenungkan bagaimana Yesus memberikan dirinya untuk kita secara pribadi, maka tabiat kita akan diubahkan)

Sebagai seorang perempuan, Dorkas memiliki ketrampilan menjahit baju, tidak diceritakan apakah penjahit baju adalah pekerjaan utamanya..! Apapun itu dia telah menggunakan talentanya untuk menjadi berkat bagi orang lain. Talenta yang dia miliki tidak semata untuk dirinya sendiri.

Pada waktu itu ada banyak orang-orang yang susah, mereka tidak punya pakaian yang layak, maka Dorkas melihat keperluan mereka akan pakaian, lalu kemudian dia menjahitkan pakaian untuk mereka.

Dia menjahit pakaian bukan untuk satu dua perempuan janda. Kalimat di ayat 39 “Semua janda datang berdiri dan menangis..”

Menunjukkan jumlah yang banyak dan pakaian yang dia jahit untuk mereka bukan hanya satu dua pakaian, tetapi banyak..dan dia tidak minta tarif, tetapi dia jahitkan secara gratis untuk mereka yang tidak mampu.

Maka kalau mau hitung-hitungan, Dorkas rugi menjadi tukang jahit. Kenapa? Karena pengeluarannya lebih besar dibanding apa yang dia dapatkan sebagai tukang jahit. Dia harus beli kain dengan uang sendiri, beli benang sediri, dia rugi waktu dan ongkos jahit juga gratis.

Mungkin dia banyak menolak order jahit demi menjahit baju untuk para janda-janda miskin..maka kalau mau dihitung dia rugi, rugi uang dan rugi waktu.

Tetapi dalam kisah ini Dorkas berdiri dihadapan para janda miskin itu bukan dalam hubungan bisnis, dia berdiri sebagai pelayan yang akan memenuhi keperluan hidup mereka.

Itu sebabnya tidak ada karkulator untuk menghitung berapa yang harus mereka bayar untuk satu baju. Tetapi semua dia berikan untuk mereka dengan Cuma-Cuma supaya mereka bisa mengenakan pakaian yang bagus.

Itu sebabnya ketika Dorkas sakit dan akhirnya meninggal, semua orang sangat kehilangan dirinya. Semua orang yang pernah dia jahitkan pakaian, mereka datang dan menangisi kematian Dorkas, dengan baju ditangan, mereka menunjukkan kepada Petrus betapa baiknya orang ini. Tetapi mengapa dia begitu cepat meninggal..! kita tidak tau..

Tetapi yang luar biasa dari kematian Dorkas adalah semua orang tidak rela Dorkas mati, mereka berharap Dorkas panjang umur tetapi kematian tidak bisa ditahan. Dan ketika Dorkas sudah mati, jenazahnya sudah di mandikan, dan mungkin tidak lama lagi akan dikuburkan.

Pada masa gereja mula-mula, Tuhan memberikan kuasa untuk menyembukan penyakit, mengusir setan, membangkitan orang mati kepada Murid Yesus. Dan mereka tau bahwa Petrus mempunyai karunia itu dari Tuhan. Maka ketika posisi petrus dekat dengan Yope yaitu di kota Lida, mereka mengutus orang untuk memanggil Petrus ke Yope. Dan Petrus pun ikut datang ke Yope.

Maka pertanyaannya adalah mengapa Petrus mau datang ke Yope? Itu karena petrus sudah mendengar dari utusan itu bagaiamana hidup dan pelayanan Dorkas di Yope, dan ketika Petrus mendengar cerita pelayanan dorkas yang luar biasa, Petrus tidak tahan mendengarnya itu sebabnya dia pergi ke Yope untuk mendoakannya..

Pertanyaan kedua adalah apakah semua orang yang mati pada masa itu di jemaat-jemaat harus dibangkitkan? Jawabanya tidak. Lalu kenapa Dorkas dibangkitkan dari kematian?

Komentar dalam buku Kisah para rasul, hal 112, Mengatakan:

“Dorkas telah memberikan pelayanan yang besar ke-pada sidang, dan Allah melihat cocok untuk membawa dia pulang dari tanah musuh, supaya kesanggupan dan tenaganya dapat menjadi berkat kepada orang lain, juga oleh pernyataan kuasa-Nya pekerjaan Kristus dapat dikuatkan.”

Jadi Dorkas dibangkitkan ada dua alasan:

Pertama, karena dia telah memberikan pelayanan besar kepada gereja masa itu.

Kedua, supaya kesanggupan dan tenaganya bisa lebih lama dirasakan orang lain..

Maka kehadiran Dorkas di gereja mula-mula telah membawa kemajuan dalam pekerjaan Tuhan. Melalui pelayanan kasihnya kepada semua orang, gereja telah bertumbuh dengan pesat.

Maka hal ini membuktikan bahwa kaum perempuan yang mau memberikan kesanggupannya dan tenaganya untuk melayani maka gereja akan maju.

Itu sebabnya untuk membawa semangat Dorkas kepada Gereja masa kini, maka gereja kita membentuk departemen Dorkas. Kenapa departemen Dorkas? Kenapa bukan departemen Abraham? departemen Henok? Departemen Musa, Departemen Daud, atau departemen Paulus? Karena di gereja sudah banyak orang yang seperti Abraham, seperti Paulus, seperti Musa, tetapi tidak banyak orang seperti Dorkas.

Itu sebabnya kita memerlukan perempuan-perempuan seperti Dorkas pada masa kini yang mau melayani dengan kasih.

Dalam buku kisah para rasul hal. 112 dikatakan:
Di Yope hiduplah seorang perempuan yang bernama Dorkas, yang perbuatan baiknya telah menjadikan dia sangat dikasihi. Ia adalah murid Yesus yang layak, dan hidupnya dipenuhi dengan kebaikan.

Ia mengetahui siapa yang memerlukan pakaian yang menyenangkan dan siapa yang memerlukan simpati dan dengan bebas ia melayani yang miskin dan yang berdukacita. JARINYA YANG CEKATAN LEBIH AKTIF DARI PADA LIDAHNYA

Kutipan ini cukup menggambarkan seluruh hidup Dorkas dari awal sampai akhir. Dia sangat dikasihi karena perbuatanya yang baik. Dia sangat sensitife terhadap kebutuhan orang-orang yang menderita.
DIa adalah wanita yang terampil dan rajin.

Dan kalimat “ Jarinya yang cekatan lebih aktif dari pada lidahnya..” menggambarkan jati diri Dorkas sebagai perempuan sejati. Artinya dia tidak banyak teori dalam hidup, dia lebih senang menggunakan jarinya yang terampil untuk melakukan pelayanan kasih dari pada menggunakan lidahnya untuk membicarakan hal-hal yang tidak berguna..

Dan hal ini patut diteladani oleh setiap perempuan masa kini. Dari pada banyak menggunakan mulut untuk membicarakan hal hal yang tidak penting, adalah jauh lebih baik mengasah ketrampilan kita untuk digunakan bagi kebaikan.

Maka sebagai perempuan yang hidup di jemaat yang terakhir pada masa kini, Tuhan mempunyai satu pekerjaan untuk kita para wanita: Dalam buku Testimonies for the Church, Jilid 6, hlm. 117

Tuhan mempunyai suatu pekerjaan untuk kaum wanita untuk dilakukan sebagaimana dengan kaum pria. Mereka dapat menyelesaikan suatu pekerjaan yang baik bagi Allah jikalau mereka mau pertama-tama belajar dalam sekolah Kristus pelajaran kelemahlembutan yang indah dan amat penting. Mereka tidak hanya harus membawa nama Kristus, tetapi juga memiliki Roh-Nya.

Mereka harus berjalan sebagaimana Ia berjalan, menyucikan jiwa mereka dari segala sesuatu yang menodai. Barulah mereka sanggup memberi keuntungan kepada orang lain dengan menyajikan semua kepuasan terhadap Yesus.

Jadi pekerjaan yang Tuhan mau berikan kepada kaum wanita sekarang ini adalah: (1)Belajar kelemahlembutan. (2) Menyucikan jiwa dari segala yang menodai. Kalau kedua hal ini sudah dipelajari disekolah Kristus maka Barulah mereka sanggup memberi keuntungan kepada orang lain.

lebih lanjut dikatakan dalam buku Membina keluarga bahagia hal. 318

Saudara-saudara kita kaum wanita yang sejati seharusnya didorong agar mempunyai sikap yang lemah lembut; mereka tidak boleh terlalu lancang, banyak bicara, melainkan hendaklah mereka tulus dan ikhlas, dan berhati-hati dalam berbicara. Sebaiknyalah mereka membina kesopanan.

Menjadi penyayang, lemah lembut, berpengasihan, mau memaaf-kan dan rendah hati, inilah yang patut dan baik bagi Allah. Itu lah tabiat yang harus dimiliki para perempuan.

Kutipan selanjutnya:

Adalah satu tugas keagamaan bagi setiap perempuan Kristen untuk segera belajar membuat roti manis yang enak, terbuat dari tepung gandum pecah kulit. Kaum ibu harus membawa anak-anak perempuan ke dapur waktu mereka masih kecil.

Ajarlah mereka seni memasak. Si ibu tak dapat mengharapkan anak perempuannya memahami rahasia perawatan rumah tanpa pendidikan. Dia harus mengajar mereka dengan sabar dan penuh kasih sayang, dan membuat pekerjaan itu seringan mungkin dengan wajah yang bersinar dan kata-kata pujian yang membangkitkan semangat.

Kutipan ini menekankan bahwa perempuan harus terampil terutama dalam hal yang sifatnya mendasar yaitu dalam urusan dapur dan rumah tangga.

Sekarang ini banyak perempuan mereka bekerja dan punya karir yang bagus dalam pekerjaan, mereka punya talenta yang luar biasa, tetapi mereka tidak tau bagaimana menyajikan makanan yang sehat di rumah tangga..

Untuk perempuan seperti ini ada nasehat: dalam buku Membina pola makan dan diet, hal 244. “Saudara-saudara perempuan kita sering tidak mengetahui bagaimana caranya memasak. “

Kepada mereka saya ingin mengatakan begini:
Saya mau pergi menemui juru masak yang terampil di negeri ini, dan tinggal di sana, jika perlu sampai berminggu-minggu, sampai saya menjadi ahli di bidang itu, menjadi seorang juru masak yang terampil dan cakap.

Saya akan menuntut ilmu ini sekalipun saya sudah berusia empat puluh tahun. Adalah tugasmu untuk mengetahui bagaimana caranya memasak. Adalah tugasmu pula untuk mendidik anak-anakmu perempuan bagaimana caranya memasak.

Pada waktu kamu mengajar mereka seni masak memasak, kamu membangun di sekitar mereka satu benteng yang akan melindungi mereka dari kebodohan dan kejahatan yang kalau tidak akan menggoda mereka.

Maka sebagai penutup:

Sebagaimana Tuhan memerlukan Dorkas pada masa Gereja mula-mula, maka Tuhan juga memerlukan Dorkas pada masa gereja terakhir masa kini.

Untuk menjadi Dorkas masa kini, prinsipnya sama dengan Dorkas masa dulu yaitu kita harus menjadi murid Yesus, belajar kepada Yesus, mengikuti jejak Yesus..

Gunakan talenta dan ketrampilanmu untuk menjadi berkat bagi orang lain, kita tidak harus menjahit pakaian seperti Dorkas, kita bisa melakukan pelayanan kasih yang sama dengan talenta yang berbeda-beda yang kita miliki saat ini.

Sebagai perempuan, biarlah kita akan dikenal dan dikenang karena pelayanan kasih kita kepada sesama.

Dan kalau kita bertumbuh dalam hal ini, maka tabiat kita akan menjadi serupa dengan Kristus dan kalaupun kita mati, Yesus akan membangkitkan kita kelak pada saat kedatangan-Nya yang kedua kali.

Filipi 4:5 “Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat”

Tuhan memberkati.

Bagikan:

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.