“Ia Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.” — Ibrani 13:8

Antara menaikkan harga atau tahu-tempenya diperkecil? Pilihan yang sulit bagi pedagang kecil. Sebagian menaikkan harga. Sebagian lagi memperkecil ukuran tahu-tempe mereka.

Lantaran harga dollar naik. Rupiah melemah. Membuat harga kedelai sebagai bahan baku tahu tempe ikut naik.

Dollar naik. Harga-harga naik. Itu terasa disemua lini. Bukan hanya orang kota. Tapi juga orang di desa merasakan kenaikan tersebut.

Ketika saya ganti oli motor, pemilik bengkel meminta maaf lebih dahulu kalau harga olinya naik 30 persen.

Saya katakan, bapak tidak salah tidak perlu minta maaf. Donald Trump yang harus minta maaf..

Pun bengkel mobil minta maaf kalau harga oli mobil naik tinggi.

Dollar naik membawa kepanikan. Orang-orang didesa dan dikota mengeluh. Dagangan sepi. Cari uang sulit. Tapi anehnya dimusim liburan tempat wisata penuh.

Mungkin untuk melegakan pikiran dari situasi ekonomi sulit saat ini..

Dunia berubah cepat

Saat ini ekonomi dunia terus berubah. Mungkin menuju krisis. Itu ditandai dengan harga-harga yang naik. Namun penghasilan dan gaji tidak naik.

Kebutuhan meningkat, tapi penghasilan tetap sama. Bahkan cenderung turun. Akibatnya daya beli menurun. Orang-orang berupaya menahan diri untuk belanja.

Pedagang menjerit. Petani apalagi. Harga pupuk naik. Presiden berupaya menenangkan rakyat untuk tidak takut dan panik. Semua aman. Negara banyak uang..

Ketika dollar naik dan keadaan ekonomi menekan, hati manusia mudah dipenuhi ketakutan. Terbayang usaha mereka akan menderita kerugian. Bahkan bisa tutup.

Tuhan tetap sama ditengah ketidakpastian

Tetapi di tengah dunia yang tidak stabil, ada satu Pribadi yang tidak pernah berubah: Tuhan.

Ayat Alkitab hari mengingatkan kita bahwa, “Ia Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.” — Ibrani 13:8

Artinya Yesus tidak berubah sekali pun dunia berubah.

Segala sesuatu di sekitar kita berubah—pemimpin naik dan turun, ekonomi naik turu, musim berakhir, tubuh melemah, budaya bergeser—tetapi Yesus Kristus tetap sama dengan mulia dan sempurna.

Di dunia yang terus berubah, Dia adalah jangkar jiwa kita yang menahan kita dengan teguh ( Ibrani 6:18 ) ketika segala sesuatu di sekitar kita berubah.

Di dunia yang penuh dengan pemimpin yang berubah-ubah, budaya yang berubah, dan masa depan yang tidak pasti, kita ditopang oleh Dia yang selamanya sama.

Ekonomi dunia hari ini seperti rumah kaca di tengah badai besar. Dari luar terlihat megah, modern, dan kuat, tetapi sebenarnya penuh retakan kecil yang bisa pecah kapan saja.

Nilai mata uang naik turun hanya karena satu pidato pemimpin dunia. Harga minyak melonjak karena perang di satu wilayah.

Pasar saham jatuh karena ketakutan. Negara-negara besar saling menekan dengan tarif, sanksi, dan kepentingan politik. Sementara itu, rakyat kecil yang paling merasakan dampaknya:

Harga kebutuhan naik, pekerjaan semakin sulit, biaya hidup makin berat, masa depan terasa tidak pasti.

Dunia pernah berkata: teknologi akan membuat hidup aman, ekonomi global akan membawa stabilitas, kekuatan finansial akan memberi rasa tenang.

Tetapi kenyataannya: pandemi bisa menghentikan dunia, perang bisa mengguncang pasar, inflasi bisa mengikis penghasilan, dan satu krisis bisa membuat banyak orang kehilangan rasa aman.

Alkitab sudah lama menggambarkan rapuhnya dunia:

“Janganlah percaya kepada para bangsawan, kepada anak manusia yang tidak dapat memberi keselamatan.” — Mazmur 146:3

Manusia membangun sistem ekonomi besar, tetapi semuanya tetap terbatas dan mudah terguncang. Sebab dunia ini memang bukan fondasi yang kekal.

Karena itu, orang percaya dipanggil bukan untuk hidup dalam ketakutan, tetapi dalam iman. Saat ekonomi dunia rapuh, Tuhan tetap teguh.

Saat nilai uang berubah, kasih Tuhan tidak berubah. Saat dunia kehilangan kepastian, Tuhan tetap memegang kendali.

Apa yang hari ini terlihat aman bisa berubah dalam waktu singkat. Ekonomi yang kuat dapat terguncang, pekerjaan yang stabil bisa hilang, kesehatan dapat menurun, dan situasi dunia dapat berubah hanya dalam semalam.

Manusia sering merasa tenang karena apa yang dimiliki, tetapi kehidupan mengajarkan bahwa tidak ada yang benar-benar pasti di dunia ini.

Karena itu, Tuhan mengingatkan kita untuk tidak membangun hidup di atas hal-hal sementara, melainkan di atas iman kepada-Nya yang tidak pernah berubah.

Ketika manusia menaruh rasa aman pada uang dan stabilitas dunia, hidupnya menjadi mudah goyah saat semuanya berubah.

Selama keadaan baik, ia merasa tenang dan percaya diri. Tetapi ketika ekonomi terguncang, usaha menurun, harga naik, atau kehilangan terjadi, ketakutan dan kekhawatiran mulai menguasai hati.

Uang memang penting, tetapi uang tidak dapat menjamin damai sejahtera. Stabilitas dunia juga tidak pernah benar-benar tetap.

Jika hati hanya bergantung pada hal-hal duniawi, maka iman akan ikut naik turun mengikuti keadaan.

Alkitab mengajarkan bahwa rasa aman sejati bukan berasal dari kekayaan, melainkan dari Tuhan. Sebab harta bisa habis, dunia bisa berubah, tetapi Tuhan tetap setia.

Orang yang berharap kepada Tuhan memiliki kekuatan untuk tetap berdiri sekalipun keadaan hidup tidak menentu.

Karena itu jangan jadikan materi dan stabilitas dunia sebagai sumber pengharapan utama.

Kondisi dunia dapat berubah setiap saat. Nilai mata uang naik turun, harga kebutuhan semakin tinggi, dan masa depan sering terasa tidak menentu.

Namun di tengah semua perubahan itu, ada satu hal yang tetap sama: kasih, pemeliharaan, dan janji Tuhan tidak pernah berubah.

Saat dunia kehilangan kepastian, Tuhan tetap menjadi tempat pengharapan yang teguh bagi umat-Nya.

Belajar percaya kepada Tuhan lebih daripada keadaan ekonomi.

Kekhawatiran Tidak Menambah Jawaban

Kekhawatiran sering memenuhi pikiran manusia ketika menghadapi kebutuhan hidup dan masa depan yang tidak pasti.

Namun Yesus mengajarkan dalam Injil Matius 6:31-34 bahwa kekhawatiran tidak menambah solusi ataupun memperpanjang hidup.

Tuhan mengetahui apa yang dibutuhkan anak-anak-Nya. Karena itu, orang percaya dipanggil untuk lebih mengutamakan Tuhan dan belajar percaya bahwa Dia sanggup memelihara kehidupan setiap hari.

Karena itu, fokus pada kesetiaan Tuhan, bukan hanya berita ekonomi.

Masa Sulit Mengajarkan Ketergantungan kepada Tuhan

Masa sulit sering kali membuat manusia sadar bahwa kekuatan sendiri tidak selalu cukup.

Dalam dalam Filipi 4:11-13, Paulus belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan karena kekuatannya berasal dari Kristus.

Tekanan hidup, kekurangan, dan ketidakpastian dapat menjadi cara Tuhan mengajar umat-Nya untuk lebih bergantung kepada-Nya, bukan kepada kemampuan atau keadaan dunia.

Paulus belajar bahwa damai sejahtera tidak bergantung pada banyak atau sedikitnya yang dimiliki, tetapi pada hubungan dengan Tuhan.

Krisis dan masa sulit sering dipakai Tuhan untuk membentuk iman, kerendahan hati, dan sikap mencukupkan diri.

Tuhan mungkin tidak langsung mengubah keadaan, tetapi Dia memberi kekuatan baru agar hati tetap teguh menjalani setiap proses kehidupan.

Karena itu, tetap bersyukur dan hidup bijaksana di tengah tekanan ekonomi.

Kesimpulan

Abraham Lincoln pernah bercerita tentang seorang petani yang mencoba mengajari anaknya bagaimana cara membajak dengan lurus.

Sesuai tradisi lama, ia menyuruh anak laki-laki itu untuk mengarahkan pandangannya pada titik objek di ujung ladang dan membajak lurus ke arahnya.

Anak laki-laki itu mulai membajak dan petani itu melanjutkan pekerjaannya. Ketika ia kembali setelah beberapa jam untuk memeriksa kemajuan anak laki-laki itu, ia terkejut menemukan..

Alih-alih alur lurus, justru alurnya berbelok seperti membentuk tanda tanya. Anak laki-laki itu telah menaati instruksi ayahnya.

Ia telah mengarahkan pandangannya pada sesuatu di sisi lain ladang—seekor sapi. Sayangnya, sapi itu telah berpindah tempat!

Jelas sekali, sang ayah lupa memberitahu anaknya untuk mencari benda yang stabil, benda yang tidak akan bergeser atau bergerak.

Itu adalah kesalahan yang tidak perlu kita lakukan. Kita dapat memfokuskan pandangan kita pada Yesus yang tidak pernah berubah.

Perubahan ekonomi dunia mengingatkan bahwa segala sesuatu di dunia ini bersifat sementara dan tidak pasti.

Kekayaan, nilai uang, dan keadaan hidup dapat berubah kapan saja. Namun di tengah semua perubahan itu, Tuhan tetap setia, tetap memelihara, dan tidak pernah berubah.

Karena itu, pengharapan orang percaya seharusnya dibangun bukan pada keadaan dunia, melainkan pada Tuhan yang kekal.

Pertanyaan Refleksi:

Apakah rasa aman saya ada pada uang atau pada Tuhan?

Apakah saya lebih banyak dipenuhi kekhawatiran atau iman?

“Ketika dunia tidak stabil, iman kepada Tuhan menjadi jangkar yang teguh.”

Ayat Penutup:

Mazmur 37:25

“Aku dahulu muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti.”

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *