Doa ditengah penderitaan (Matius 26:37-39)
Dan Ia membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus serta-Nya. Maka mulailah Ia merasa sedih dan gentar,
lalu kata-Nya kepada mereka: “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku.”
Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” Matius 26:37-39
Yesus membawa 3 orang murid untuk menyertai Dia berdoa ditaman Getsemani. Sisanya, delapan orang murid ditinggalkan di depan pintu gerbang taman.
Ketiga orang murid tersebut adalah Petrus, Yakobus dan Yohanes. Mengapa Yesus hanya mengajak ketiga orang ini saja?
Ada beberapa pendapat tentang ini. Sebagian katakan karena mereka adalah yang paling lemah dan paling membutuhkan untuk bersama-Nya.
Mungkin pendapat itu didasarkan oleh perbuatan mereka yang kurang baik. Misalnya, Yakobus dan Yohanes, mereka dikenal anak Guntur, karena sifat mereka yang meledak-ledak dan emosional.
Petrus, dikenal dengan sifatnya yang grusa-grusu. Spontan. Tidak berpikir Panjang. Dan memang mereka melakukan kesalahan berat.
Namun fakta bahwa mereka membuat kesalahan yang lebih nyata dibandingkan yang lain tidak menunjukkan bahwa mereka adalah yang terlemah..
Itu hanya menunjukkan mereka orang yang selalu ingin terdepan dan sombong.
Faktanya, mereka adalah pemimpin yang nyata di antara Dua Belas murid, sehingga posisi ini mendapat perhatian khusus dari Yesus sepanjang pelayanan-Nya.
Maka kemungkinan yang paling tepat adalah karena sifat mereka yang selalu ingin terdepan dan sombong rohanim, maka Yesus membawa mereka bertiga bersama-Nya untuk berdoa.
Dia ingin mengajar mereka lebih jauh tentang menghadapi godaan yang kuat dengan keyakinan pada Tuhan dan bukan pada diri mereka sendiri.
Para murid perlu mempelajari kerendahan hati dan kemiskinan rohani mereka supaya mereka dapat digunakan secara efektif.
Dia ingin Petrus, Yakobus, dan Yohanes diyakinkan dan dihukum akan kebodohan mereka yang sombong dan perasaan tak terkalahkan.
Dan Dia ingin mereka, pada gilirannya, mengajarkan pelajaran itu kepada sesama murid lainnya..
Jadi, mengapa mereka bertiga yang diajak Yesus, bukan karena mereka murid yang istimewa, tetapi karena mereka suka lebih menonjolkan diri terhadap murid lainnya..
Yesus ingin mengajarkan mereka betapapun pentingnya dan bermanfaatnya persekutuan dan dukungan orang percaya lainnya..
Tetapi satu-satunya pertolongan bagi seseorang adalah persekutuan langsung dengan Allah dalam doa.
Dia ingin menunjukkan kepada mereka dengan jelas bahwa, dalam kemanusiaan-Nya, bahkan Anak Allah yang Ilahi pun memerlukan persekutuan dengan Bapa Surgawi-Nya.
Ketika Yesus menjadi manusia dan tinggal di antara manusia sebagai manusia, Dia menerima kelemahan yang umum terjadi pada seluruh umat manusia.
Dia mengalami kelemahan lapar, haus, kesakitan, dan godaan. Sekarang Dia akan mengalami kelemahan manusia yang terbesar: kematian.
Yesus mengakui kelemahan sebagai manusia. Karena itu Dia membutuhkan kehadiran serta kekuatan Bapa surgawi-Nya.
Lain halnya dengan murid-murid itu, mereka merasa tidak memerlukan hubungan dengan Bapa Sorgawi mereka.
Kita semua akan dan selalu menghadapi godaan, cobaan, sakit dan berbagai hal lainnya, yang mengancam dan menguasai kita..
Nah, di tengah ujian yang berat, bahkan sahabat kita yang paling dekat dan paling rohani pun tidak akan mampu memberikan penghiburan dan kekuatan yang kita butuhkan.
Benar, bahwa sebagai orang percaya kita harus saling mendukung dan menguatkan satu sama lain..
Namun ada kalanya, hanya persekutuan langsung dan intim dengan Tuhan dalam doa yang sungguh-sungguh yang dapat memberikan kekuatan untuk memenuhi kebutuhan kita yang sangat mendesak.
Pelayanan Yesus dimulai dan diakhiri dengan pencobaan yang tiada henti secara langsung oleh Setan.
Dipadang gurun Iblis mencobai Yesus sebanyak tiga kali. Pada akhir pelayanan-Nya di bumi ini, Iblis kembali mencobai Yesus sebanyak tiga kali..
Yesus menjawab godaan itu dengan berdoa sungguh-sungguh kepada Bapa-Nya.
Kita semua manusia biasa, rentan dengan godaan. Satu-satunya senjata yang dapat membawa kemenangan bagi kita adalah doa dan Firman Allah..
Kita harus terhubung dengan sumber kuasa tersebut, melalui berdoa dan belajar Firman Allah. Itulah senjata yang digunakan Yesus melawan godaan iblis pada awal dan akhir pelayanan-Nya..
“Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.” Lukas 21:36







