Pastordepan Media Ministry
Beranda Renungan Dibangun Menjadi Bait Allah yang Kudus

Dibangun Menjadi Bait Allah yang Kudus

“Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh.” Efesus 2:21-22.

Ada cerita terkenal dari Sparta. Seorang raja Sparta membual kepada raja yang berkunjung tentang tembok Sparta.

Raja yang berkunjung melihat sekeliling dan tidak melihat adanya tembok. Dia berkata kepada raja Sparta, “Di manakah tembok yang begitu kamu banggakan ini?”

Lalu Raja Sparta menunjuk pengawalnya yang terdiri dari pasukan yang luar biasa. “Ini,” katanya, “adalah tembok Sparta, setiap orang adalah batu batanya.”

Intinya jelas. Selama sebuah batu bata terletak sendirian, maka tidak ada gunanya; itu menjadi berguna hanya ketika dimasukkan ke dalam sebuah bangunan.

Demikian pula halnya dengan setiap orang Kristen. Untuk berfungsi ia tidak boleh tinggal sendirian, namun harus dibangun dalam struktur Gereja.

Paulus katakan, dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi. Dia sedang menggambarkan masa PB, abad pertama Masehi. Tetapi Yesus adalah batu penjurunya.

Batu penjuru sebuah bangunan harus kuat untuk menopang apa yang dibangun di atasnya, dan harus dipasang dengan tepat, karena setiap bagian struktur lainnya berorientasi padanya.

Batu penjuru berfungsi sebagai batu penopang, batu yang mengarahkan semua batu lainnya, dan batu yang menyatukan keseluruhan bangunan.

Yesus Kristus dengan sempurna menggenapi masing-masing peran ini dalam pembangunan Allah, yaitu tubuh Kristus atau Gereja.

“Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh.”

Ayat ini menerangkan bahwa Kristus bukan hanya prinsip stabilitas dan arah gereja, namun juga pertumbuhannya. Tuhan menyatukan kita semua dan membangun kita di dalam Dia.

Rasul mengibaratkan hubungan baru kita dengan sebuah rumah, sebuah bangunan. Meskipun kita dibangun di atas landasan para rasul dan nabi, Kristus sendirilah yang menjadi batu penjuru.

Di dalam Kristus, kita diberikan pandangan baru, hubungan baru, harapan baru. Di surat kabar gereja Florida, seorang wanita menulis catatan ini setelah kematian suaminya:

“Terima kasih karena telah berduka atas George bersama kami. Saya mendorong Anda untuk tidak berduka lebih besar atas Dia dibandingkan dengan yang Anda rasakan atas Putra Allah, yang kematiannya memungkinkan kehidupan kekal bagi kita.”

Kita adalah tempat tinggal di mana Allah hidup melalui Roh-Nya. Yesus telah mempertemukan kita.

Jika kita adalah batu hidup dan saat ini kita sedang mengalami sesuatu yang tidak kita mengerti, tenang saja.

Istirahatlah sebentar. Batu penjuru (Yesus) sedang sibuk memasukkan kita ke dalam Bait Suci, yaitu Bait Allah yang kudus, rohani, kekal.

Renungan: Apa yang dikatakan ayat ini kepada saya? Mengapa kita digambarkan seperti potongan batu-batu dalam struktur bangunan? Didalam siapa kita dibangun menjadi tempat kediaman Allah?

Aplikasi: Apa kebenaran yang saya temukan dalam Ayat ini? Setiap batu yang menjadi bagian dari satu bangunan, akan mengalami proses, bahkan menyakitkan. Tuhan sedang proses kita masing-masing, supaya sesuai dengan struktur bangunan Allah, yaitu gereja.

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan