Diampuni Untuk Mengampuni

Teks: Matius 18:21-35

Pendahuluan: Mari kita pelajari dalam Matius pasal 18:21-35. Perikop ini berbicara tentang pengampunan, bagaimana kita harus mengampuni?

Seberapa besar pengampunan yang harus kita miliki? Apa yang terjadi kalau kita tidak mengampuni dan bagaimana pengampunan itu menjadi berkat dalam kehidupan kita?

Perikop ini di awali dengan sebuah pertanyaan, dan yang bertanya adalah Simon Petrus salah satu murid Yesus..dan yang menjawab adalah Yesus Guru mereka..

Pertanyaanya sederhana tetapi memerlukan sebuah jawaban yang panjang, dan hasilnya sulit untuk di laksanakan..

Pertanyaanya adalah, “Sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?”

Pertanyaan ini dilatar belakangi oleh pengalaman Petrus yang terlibat perselisihan paham dengan murid-murid yang lain..( Matius 18: 1-5; Markus 9:33-37..)

Di dalam cerita ini di kisahkan bahwa murid-murid itu bertengkar di tengah perjalanan tentang siapa yang terbesar diantara mereka (Matius 18:1-5).

Dalam pertengkaran itu, mungkin ada sikap, prilaku dan kata-kata yang menyinggung perasaan petrus atau juga murid yang lain.

Sebetulnya bukan kali ini saja murid-murid ini terlibat pertengkaran satu dengan yang lain, barangkali sudah sering mereka bertengkar.

Barangkali dalam pertengkaran itu, Petrus merasa di zolimi merasa diperlakukan tidak baik, perasaannya tersakiti oleh murid-murid yang lain dan barangkali itu sudah berlangsung lebih dari 6 kali.

Petrus mulai geram dan hilang kesabaran dan dalam hatinya dia katakan, “tidak ada lagi maaf, sudah cukup.

Tetapi sebelum dia kehilangan kesabaran, dia coba tanya dulu kepada Yesus..kira-kira berapa kali batasnya saya harus mengampuni saudara saya yang berbuat dosa kepada ku..? dia tanya lalu dia jawab sendiri, 7 kali kan?

Petrus berharap bahwa Yesus akan mendukung dia, bahwa 7 kali saja sudah cukup dan itu sudah sangat banyak, krn sudah melebihi kuota pengampunan orang yahudi..

karena, dalam tradisi orang yahudi, suatu kesalahan yang sama hanya bisa diampuni sebanyak 3 kali saja. Tradisi ini berakar dari perkataan Rabi yahudi yang mengatakan:

“Jika seseorang melakukan sebuah pelanggaran hukum, untuk yang pertama kali, kedua dan ketiga, dia akan diampuni. Tetapi pelanggaran yang keempat kali ia tidak akan diampuni lagi.”

Konsep ini berakar dan berurat dalam kehidupan orang-orang yahudi..dan konsep ini juga berakar dalam kehidupan kita pada umumnya..

Jadi, dengan mengatakan 7 kali, Petrus mencoba menunjukkan bahwa dia jauh lebih baik dari para rabi orang Yahudi itu, kalau mereka 3 kali, saya 7 kali artinya saya 2 kali lebih baik dari Para rabi itu.

Dengan menggunakan angka 7 petrus berpikir bahwa pengampunan yang dia berikan sebanyak 7 kali itu sudah cukup dan sempurna…

Tetapi perhatikan apa jawaban Yesus kepada Petrus: Bukan 7 kali, tetapi sampai tujuh puluh kali tujuh kali. Mendengar itu Petrus mulai hitung-hitung dalam kepalanya total seluruhnya 490 kali

Jawaban ini sekaligus merontokkan konsep pengampunan yang selama ini berkuasa dalam kehidupan mereka (saya teringat nubuatan 70×7 atas israel).

Bahwa untuk mengampuni itu tidak perlu hitung-hitungan, 70x7x itu jangan dijumlah. Disini Yesus sedang mengajarkan kepada Petrus bahwa engkau harus panjang sabar terhadap saudaramu yang berbuat dosa kepadamu.

Bahwa setiap kali saudaramu berbuat salah, engkau harus selalu membuka pintu maaf bagi mereka. Jadi 70x7x itu adalah simbol dari panjang sabar. Seperti Tuhan panjang sabar kepada Israel.

Untuk memperluas pemahaman kita tentang konsep pengampunan 70x7x, maka Yesus menggunakan sebuat perumpamaan Matius 18:21-35.

“ Hal kerajaan sorga itu seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya.”

setelah diadakan perhitungan, dihadapkanlah seorang kepadanya seorang yang berhutang 10 ribu talenta. Tetapi orang itu tidak sanggup melunasi hutangnya,

Lalu raja itu memerintahkan supaya ia dijual berserta seluruh keluarganya dan segala miliknya untuk membayar hutangnya.

Lalu hamba itu bersujud menyembah raja itu dan memohon supaya raja bersabar, tolong kasi waktu saya akan melunasi hutangku..”

Melihat hal itu, hati raja tergerak oleh belas kasihan, lalu ia memutuskan membebaskan hamba itu dari utangnya bahkan hutangnya dihapuskan, menjadi nol.

Lalu setelah hutangnya dihapuskan oleh sang raja, orang itu sangat bersuka cita dan pulang kerumah..tetapi ditengah perjalanan dia bertemu dengan orang yang berhutang kepadannya 100 dinar.

Lalu dia menagih orang itu dengan kekerasan mencekik lehernya, dan mengatakan” bayar hutangmu…”

Lalu kawannya itu memohon dengan sangat supaya bersabar, tolong kasih saya waktu..hutangku akan ku lunasi..tetapi orang itu menolak bahkan memenjarakan kawannya itu sampai hutangnya dilunasi..

Melihat kekejaman orang ini, maka kawan-kawannya sedih dan melaporkan peristiwa itu kepada raja. Lalu raja memanggil orang itu dan berkata kepadanya:

“ Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya, bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?

Maka marahlah raja itu dan menyerahkan dia kepada algojo-algojo sampai ia melunasi seluruh hutangnya.

Raja yang mengadakan perhitungan itu ialah Yesus, dan hamba-hamba itu adalah kita umat-umatNya. Ingat hubungan kita kepada Kristus adalah vertikal, Kristus adalah Tuhan, Raja sorga, pencipta alam semesta, sementara kita adalah ciptaan.

Dengan demikian posisi kita ada dibawah, Tuhan diatas. Itu sebabnya kita berdoa bapa kami yang di sorga.

Sebagai ciptaan, kita berada dibawah hukum Tuhan, ada 10 hukum sebagai hukum moral yang mengatur kehidupan kita, dimana 10 hukum ini di dasarkan atas kasih, hukum 1-4 adalah kasih kepada Tuhan dan hukum 5-10 adalah kasih kepada sesama. Jadi inti dari 10 hukum adalah kasih.

Kalau saya melanggar hukum 1-4 saya berdosa kepada Tuhan, kalau saya melanggar hukum 5-10 saya berdosa kepada Tuhan dan kepada sesama manusia.

Di dalam perumpamaan ini, hutang itu sama dengan dosa/pelanggaran/kesalahan. Kemudian hutang /dosa itu dibagi 2 bagian.

1. Seorang hamba yang berhutang kepada raja sebesar 10 ribu talenta. Ini adalah gambaran hutang dosa kita yang maha besar kepada Tuhan.

2. Seorang kawan yang berhutang kepada hamba ini sebesar 100 dinar. Ini adalah gambaran hutang dosa kita kepada sesama kita manusia.

Kalau kita perhatikan, ada perbedaan besar antara hutang kepada raja dengan hutang kepada sesama yaitu 10 ribu talenta berbanding 100 dinar. Supaya jelas mari lihat ini..

1 talenta = 6000 dinar. 1 dinar adalah upah kerja 1 hari. Untuk mendapat 6000 dinar atau 1 talenta, seseorang harus bekerja selama 6000 hari atau kurang lebih 17 tahun baru dapat 6000 dinar.

Kalau 1 talenta = 6000 dinar, maka 10.000 talenta = 60 juta dinar, dan untuk mendapatkan 60 juta dinar maka seseorang harus bekerja selama 60 juta hari, baru dapat 60 juta dinar.

Kalau kita konversi ke dalam rupiah: rata-rata upah 1 hari kerja 50 ribu rupiah, kalau kita kalikan 60 juta x 50 ribu = 3 triliun rupiah. Mungkin sampai kita pensiunpun tidak akan dapat angka itu.

sementara 100 dinar kalau di konversi sekitar 5 jt rupiah, dan uang 100 dinar bisa dicari dalam tempo 100 hari atau sekitar 3 bulan.

Apa artinya ini? 10 ribu talenta adalah gambaran betapa MAHA BESARNYA dosa kita kepada Tuhan. Bahwa dosa kita kepada Tuhan selalu jauh lebih besar dibanding dosa kita kepada sesama yang digambarkan dengan hutang 100 dinar.

Kepada Tuhan, setiap kali kita berdosa, 24 jam sehari, 7 hari dalam seminggu, 30 hari sebulan, 365 hari setahun, bahkan sampai kita lupa betapa banyaknya dosa-dosa kita, karena sudah bertumpuk-tumpuk dari tahun ketahun dan kita tidak mampu untuk membayarnya dosa-dosa itu.

Kepada sesama, tidak selalu kita berbuat dosa setiap saat..kalaupun kita bersalah kepada kawan kita paling juga ada 1,2,3 kesalahan..kita saja yg membesar-besarkan kesalahan itu..baru di cubit sediki saja sikap kita sudah berlebihan..

Dan perumpamaan ini mengajar kita supaya tidak menghitung2 berapa kesalahan orang lain kepada kita, tujuannya adalah menolong kita untuk bisa mengampuni sebagai mana Tuhan mengampuni tidak menjadi soal berapa besar dosa orang lain kepada kita.

Kalau Tuhan sudah mengampuni dosa kita yang maha besar itu, masakan kita tidak mau mengampuni orang lain yang bersalah kepada kita!!!

Di dalam Mazmur 86:15, “Tetapi Engkau, ya Tuhan, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih dan setia.”

Tuhan menyediakan pengampunan yang amat sangat besar dan luas, sampai manusia itu membuat pilihan sendiri untuk kembali atau tidak kepada Tuhan..

Dan inilah konsep yang ditawarkan oleh Yesus kepada petrus dan kita semua,…kalau ada saudaraku yang berbuat dosa/salah terhadap aku, sediakanlah pengampunan yang besar dan luas hingga mereka memilih bertobat atau tidak…dan kalau mereka bertobat, engkau mendapatkan mereka kembali..

Di ayat 27 , dikatakan bahwa hutang hamba yang 10 ribu talenta itu sudah lunas. Siapa yang melunasi? Dan bagaimana caranya dilunasi?

Hutang itu dilunasi oleh raja itu sendiri, karena hamba itu tidak sanggup membayarnya, walaupun dia, istri dan anak-anaknya dijual tidak akan cukup..maka hati raja itu tergerak oleh belas kasihan..

Ini adalah gambaran bahwa tidak ada yang dapat kita lakukan untuk menghapuskan hutang dosa kita kepada Tuhan, semuanya hanyalah..KASIH KARUNIA TUHAN

Itulah sebabnya 1Pe 1:18 mengatakan,

“Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.”

Seperti syair lagu kita, “Yesus tlah bayar hutang dosaku, meski dosamu besar Tuhan tlah membasuh.”

Mika 7:19 “Biarlah Ia kembali menyayangi kita, menghapuskan kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut.”

Tubir laut adalah tempat yang sangat dalam atau jurang didasar lautan..apa pun yang sudah masuk kesana tidak akan kembali lagi.

Kesalahan kita digambarkan seperti tubir laut, tidak akan muncul lagi, bahkan Tuhan katakan, dosa itu tidak akan diingat lagi. Lagu mengatakan, “Dosamu dihapuskan tak diingatnya lagi…”

Betapa kontrasnya dengan kita, dosa-dosa teman yang hanya 100 dinar, kita terus ingat dan hitung-hitung..bahkan kita tidak bersedia mengampuni orang-orang yang bersalah kepada kita…

Tidak mengampuni adalah kejahatan

Untuk orang-orang yang tidak mau mengampuni sesamanya Yesus MENYEBUT MEREKA SEBAGAI HAMBA YANG JAHAT..(kita bisa melihat di cerita yang kedua – Horizontal)

Tahukah sdr mengapa Yesus menyebut dia sebagai hamba yang jahat..?

1. Karena dia tidak melakukan kepada orang lain seperti yang telah dilakukan raja itu kepada dirinya. Apa itu? KASIH DAN BELAS KASIHAN yaitu diampuni untuk mengampuni.

2. Hutangnya yang 10 ribu talenta dihapuskan raja, tetapi hutang temannya yang hanya 100 dinar dia tidak mau menghapuskannya, dia lupa bahwa hutangnya jauh lebih besar dari pada hutang temanya tersebut.

3. Bahkan dia bertindak kasar mencekik leher temannya itu dan memaksa utuk membayar hutangnya, bahkan menyeretnya ke penjara.

Ini adalah gambaran orang yang sangat mementingkan diri, egois, mau dilunasi tapi tidak mau melunasi orang lain, mau ditolong tapi tidak mau menolong orang lain..

MAU DIAMPUNI TAPI TIDAK MAU MENGAMPUNI. Dia hanya mau diuntungkan tapi tidak mau menguntungkan orang lain, dia mau selamat tapi tidak ingin orang lain selamat.

Tidak ada yang lebih jahat dari pada orang seperti ini..itu sebabnya Yesus menyebut hamba yang jahat..

Tidak mengampuni adalah kejahatan, dan orang jahat tidak masuk dalam kerajaan sorga.

2. Kalau tidak mengampuni, kita hanya melanggengkan dosa itu terus menerus, dan itu berlawanan dengan semangat Kristus yang datang untuk mengakhiri dosa itu..

Dan kalau itu yang terjadi, maka kita sedang bertumbuh kearah setan, menyerupai setan, bukan menyerupai Kristus.

Karena menyimpan kesalahan orang itu adalah tabiat setan dan kita menjadi kesetanan, bahkan bisa lebih setan dari pada setan itu sendiri.

Itulah sebabnya mengapa Yesus katakan hamba yang tidak mau mengampuni adalah hamba yang jahat.

Sdr2, kita mengampuni karena kita sudah lebih dahulu diampuni, maka, kasih dan pengampunan itu harus kita alirkan kepada sesama kita..

Ohh, mungkin sdr katakan, tapi pak terlalu sakit hati saya, saya telah dipukul, dirugikan, dimaki-maki, digosipi dll.

Sdr2, itu belum seberapa dibanding penderitaan yang Yesus alami. Ketika dia disiksa, dianiaya, disalibkan, dia katakan “ Bapa ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat..”

Dan ayat. 34, bahwa Tuhan marah kalau kita tidak mengampuni, “Raja itu marah kepada hamba yang jahat yang tidak mau mengampuni itu dan dia diserahkah ke algojo-algojo, dan hutangnya tetap..”

Matius 6:14-15, “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.”

Kalau begitu tidak ada gunannya tiap hari berdoa meminta pengampunan kepada Tuhan, mengapa?

Percuma, karena dosa kita tidak akan pernah diampuni dan selamanya kita akan tetap jadi orang berdosa dan orang jahat dimata Tuhan, dan orang jahat tidak masuk kedalam kerajaan Sorga..

Penutup
Untuk mengakhiri renungan ini saya akan menceritakan tentang kekuatan sebuah pengampunan.

Seorang wanita berkulit hitam yang telah renta dengan pelahan bangkit berdiri di suatu ruang pengadilan di Afrika Selatan. Umurnya kira-kira 70, di wajahnya tergores penderitaan yang dialaminya bertahun-tahun.

Di depan, di kursi terdakwa, duduk Mr. Van der Broek, ia telah dinyatakan bersalah telah membunuh anak laki-laki dan suami wanita itu.

Beberapa tahun yang lalu laki-laki itu datang ke rumah wanita itu. Ia mengambil anaknya, menembaknya dan membakar tubuhnya.

Beberapa tahun kemudian, ia kembali lagi. Ia mengambil suaminya. Dua tahun wanita itu tidak tahu apa yang terjadi dengan suaminya.

Kemudian, van der Broek kembali lagi dan mengajak wanita itu ke suatu tempat di tepi sungai. Ia melihat suaminya diikat dan disiksa.

Mereka memaksa suaminya berdiri di tumpukan kayu kering dan menyiramnya dengan bensin. Kata-kata terakhir yang didengarnya ketika ia disiram bensin adalah, “Bapa, ampunilah mereka.”

Belum lama berselang, Mr. Van den Broek ditangkap dan diadili. Ia dinyatakan bersalah, dan sekarang adalah saatnya untuk menentukan hukumannya.

Ketika wanita itu berdiri, hakim bertanya, “Jadi, apa yang Anda inginkan? Apa yang harus dilakukan pengadilan terhadap orang ini yang secara brutal telah menghabisi keluarga Anda?”

Wanita itu menjawab, Saya menginginkan tiga hal.

Pertama, saya ingin dibawa ke tempat suami saya dibunuh dan saya akan mengumpulkan debunya untuk menguburkannya secara terhormat.” Setelah berhenti sejenak, ia melanjutkan, “Suami dan anak saya adalah satu-satunya keluarga saya.”

Oleh karena itu permintaan saya kedua adalah, saya ingin Mr. Van den Broek menjadi anak saya. Saya ingin dia datang dua kali sebulan ke ghetto (perumahan orang kulit hitam) dan melewatkan waktu sehari bersama saya hingga saya dapat mencurahkan padanya kasih yang masih ada dalam diri saya.”

“Dan, akhirnya,” ia berkata, “permintaan saya yang ketiga. Saya ingin Mr. Van den Broek tahu bahwa saya memberikan maaf bagi dia karena Yesus Kristus mati untuk mengampuni.

Begitu juga dengan permintaan terakhir suami saya. Oleh karena itu, bolehkah saya meminta seseorang membantu saya ke depan hingga saya dapat membawa Mr. Van den Broek ke dalam pelukan saya dan menunjukkan padanya bahwa dia benar-benar telah saya maafkan.”

Ketika petugas pengadilan membawa wanita tua itu ke depan, Mr. Van den Broek sangat terharu dengan apa yang didengarnya hingga pingsan.

Kemudian, mereka yang berada di gedung pengadilan – teman, keluarga, dan tetangga – korban penindasan dan ketidakadilan serupa – berdiri dan bernyanyi “Amazing grace, how sweet the sound that saved a wretch like me. I once was lost, but now I’m found. ‘Twas blind, but now I see.

(Anugerah yang ajaib, sungguh merdu suara yang telah menyelamatkan orang yang malang seperti saya. Saya pernah hilang, tetapi sekarang saya ditemukan. Saya pernah buta, tetapi sekarang saya melihat).“

Kembali kepada pertanyaan petrus sampai berapa kali harus mengampuni? Ampunilah tanpa batas, curahkanlah kasihmu kepada setiap orang dengan limpah, ubahlah setiap orang dengan pengampunan yang kita miliki.

Koloese 3:13 “Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian”

Bagikan:

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.