
Matius 27:57-60
“Menjelang malam datanglah seorang kaya, orang Arimatea, yang bernama Yusuf dan yang telah menjadi murid Yesus juga. Ia pergi menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus. Pilatus memerintahkan untuk menyerahkannya kepadanya.
Dan Yusuf pun mengambil mayat itu, mengapaninya dengan kain lenan yang putih bersih, lalu membaringkannya di dalam kuburnya yang baru, yang digalinya di dalam bukit batu, dan sesudah menggulingkan sebuah batu besar ke pintu kubur itu, pergilah ia.” Matius 27:57-60
PUKUL 3 sore Yesus mati. Jam 15.00-18.00 adalah periode jam terakhir sebelum malam. Itu hari jumat. Sabat akan tiba.
Karena Sabat adalah hari yang dikuduskan, maka Dia harus diturunkan dari salib sebelum sabat tiba dan bersiap untuk dikuburkan agar tidak mencemarkan hari Sabat.
Sebelumnya Yesus beberapa kali menyinggung tentang kematiannya, seperti Yunus tiga hari diperut ikan, maka Dia juga akan berada diperut bumi selama tiga hari..
Maka untuk menggenapi itu, Dia dikuburkan hari jumat dan bangkit hari minggu.
Yohanes menjelaskan bahwa.
Karena hari itu hari persiapan dan supaya pada hari Sabat mayat-mayat itu tidak tinggal tergantung pada kayu salib — sebab Sabat itu adalah hari yang besar — maka datanglah orang-orang Yahudi kepada Pilatus dan meminta kepadanya supaya kaki orang-orang itu dipatahkan dan mayat-mayatnya diturunkan.” Yohanes 19:31
Fakta bahwa hari itu adalah hari sebelum Sabat membuktikan secara meyakinkan bahwa Yesus disalib pada hari Jumat, yang biasa disebut oleh orang Yahudi sebagai “hari persiapan.”
Dalam aturan hukuman salib Romawi, orang yang disalib harus mati lebih dahulu baru diturunkan. Selama mereka masih hidup harus tetap disana sampai mati.
Namun karena hari sabat akan tiba, sementara para terhukum belum mati, maka orang-orang Yahudi meminta Pilatus untuk mematahkan kaki mereka supaya lebih cepat mati..
Biasanya mereka akan menggunakan palu kayu besar untuk menghancurkan kaki-kaki terhukum. Sehingga mereka tidak dapat lagi berdiri dan bernafas, sehingga akan mati lecih cepat..
Selain itu, para prajurit kemudian akan melakukan apa yang disebut pukulan mematikan, yaitu terdiri dari menusukkan tombak ke jantung korban.
Semua itu mereka lakukan untuk memastikan bahwa mereka benar-benar telah mati.
Kemudian, para prajurit mematahkan kaki kedua penjahat disisi kanan dan kiri Yesus. dan Ketika mereka hendak mematahkan kaki Yesus, para prajurit melihat bahwa Dia sudah mati.
Mereka tidak jadi mematahkan kaki-Nya. Namun seorang prajurit menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air. (Yoh 19:34)
Sekali lagi Kitab Suci digenapi. Sebagaimana dijelaskan lebih lanjut oleh Yohanes (ay.36), pemazmur telah menyatakan tentang Mesias berabad-abad sebelumnya bahwa,
“Tidak ada tulang-Nya yang akan dipatahkan.”
“Ia melindungi segala tulangnya, tidak satu pun yang patah.” Mazmur 34:20
Para prajurit tidak mengetahui Mazmur tersebut, tetapi mereka menggenapinya dengan sengaja. Allah mengarahkan mereka untuk tidak mematahkan kakinya.
Yohanes juga menjelaskan mengenai nubuatan, “”Mereka akan memandang kepada Dia yang telah mereka tikam.”
Nubuatan tersebut penggenapan dari Zakharia 12:10, “dan mereka akan memandang kepada dia yang telah mereka tikam,.”
Para prajurit sudah mengetahui bahwa Yesus telah mati. Maka seharusnya pukulan dengan tombak tidak diperlukan.
Namun tanpa disadari dia melakukan hal tersebut sebagai penggenapan Firman Tuhan. Dan luka yang diakibatkan tusukan tombak itu akan menjadi bukti bagi Ketika dia tidak percaya Yesus telah bangkit. (Yohanes 20:27)
Jadi, nubuatan sangat tepat, tidak ada tulang di tubuh Yesus yang dipatahkan, dan lambung-Nya ditusuk.
Dalam kasus orang yang mati disalib, mayatnya akan diturunkan dari salib dan biasanya dibuang ke kuburan umum para penjahat..
Dan mereka telah merencanakan untuk membuang tubuh Yesus kesana, eperti yang telah dinubuatkan Yesaya (Yesaya 53:9).
Bangsa Romawi sama sekali tidak menghormati mayat. Mereka sering kali membuang mayat ke kuburan yang dibiarkan terbuka untuk menjadi santapan hewan pemakan bangkai dan burung.
Kadang-kadang jenazah dibuang begitu saja ke tempat pembuangan sampah yang terbakar, misalnya ke lembah Hinom (Gehenna) diselatan Yerusalem.
Mengapa orang Romawi tidak menghargai mayat para terhukum salib? Karena dianggap tidak berharga. Sampah. Sehingga layak dibuang begitu saja seperti sampah..
Pada saat Yesus mati, kemungkinan Yohanes sudah meninggalkan Golgota. Tinggal beberapa wanita yang masih tinggal disana.
Mereka tidak akan mampu menurunkan dan merawat jenazah Yesus, apalagi waktu tinggal sedikit, karena sabat akan tiba..
Selain itu merekat tidak mempunyai tempat untuk memakamkan Yesus. Mungkin mereka hampir pasrah jika mayat Yesus dibuang begitu saja oleh tentara Roma..
Namun pada saat yang tepat, Tuhan menggerakkan hati seorang saleh. Namanya Yusuf dari Arimatea. Dia orang kaya. Dia juga telah menjadi murid Yesus.
“Menjelang malam datanglah seorang kaya, orang Arimatea, yang bernama Yusuf dan yang telah menjadi murid Yesus juga.”
Dia pergi menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus. dan Pilatus memberikan kepada Yusuf.
Yusuf bukan hanya orang kaya, yang menggenapi nubuatan Yesaya (Yes. 53:9), namun juga anggota Sanhedrin. Dia seorang yang, “menanti-nantikan Kerajaan Allah..” Markus 15:43
Lukas juga melaporkan tentang Yusuf, “Adalah seorang yang bernama Yusuf. Ia anggota Majelis Besar, dan seorang yang baik lagi benar.
Ia tidak setuju dengan putusan dan tindakan Majelis itu. Ia berasal dari Arimatea, sebuah kota Yahudi dan ia menanti-nantikan Kerajaan Allah.”
Satu-satunya hal yang diketahui tentang Arimatea adalah bahwa Arimatea adalah “kota orang Yahudi” (Lukas 23:51), yaitu di Yudea.
Meskipun Galilea berada di jantung Israel kuno, namun wilayah ini banyak dihuni oleh orang non-Yahudi dan sering dikaitkan dengan wilayah di sebelah timur yang sering disebut sebagai Galilea milik bangsa-bangsa lain (lihat Mat 4:15; lih. Yes 9:1).
Namun, Yudea sejauh ini merupakan wilayah Yahudi yang paling menonjol di Palestina dan dianggap sebagai tanah orang Yahudi.
Karena lokasi pemakaman Yusuf mungkin dekat dengan tempat tinggalnya, secara umum diasumsikan bahwa Arimatea berada di dekat Yerusalem.
Banyak ahli percaya bahwa Arimatea adalah bentuk dari Rama kuno, kota beberapa mil di utara Yerusalem tempat Samuel berasal.
Tiga tahun terakhir Yesuf telah menjadi murid Yesus yang diam-diam. Sebabnya dia takut kepada orang Yahudi. (Yohanes 19:38)
Diam-diam dia mendengar Yesus mengajar dan berkotbah. Dia melihat setiap mujizat yang dilakukan. Dalam hati dia mengakui Yesus sebagai Mesias.
Namun seteleh Yesus mati, dia tidak dapat lagi menyembunyikan imannya. Kepada orang banyak dia menunjukkan secara terang-terangan.
Poinnya, kematian Yesus semakin menguatkan keyakinan orang-orang yang ragu, Yesus adalah Mesias. Mereka diubahkan oleh kematian-Nya..
Yusuf telah menggunakan kekayaan dan pengaruhnya untuk menghormati Yesus. Dia memakamkan Yesus dipemakaman pribadinya sendiri..
Mari kita gunakan kekayaan kita dan pengaruh kita untuk melayani Tuhan. Kiranya kisah kematian-Nya semakin meneguhkan iman kita untuk setia kepada-Nya..








