Bahasa, Alfabet, Bahan Tulis, dan Dunia Para Juru Tulis

Ketika kita membaca Alkitab hari ini, kita melihat sebuah buku dengan halaman yang rapi. Tetapi Alkitab tidak lahir dalam bentuk seperti itu.

Para penulis Alkitab hidup di dunia yang belum mengenal kertas, mesin cetak, komputer, atau buku seperti yang kita kenal sekarang.

Maka muncul pertanyaan: Dengan apa orang Israel kuno menulis? Untuk menjawabnya, kita perlu melihat tiga hal:

bahasa → tulisan/alfabet → bahan yang digunakan untuk menulis.

Alkitab tidak ditulis dengan “kertas” seperti sekarang

Ketika kita mengatakan “menulis Alkitab”, kita sering membayangkan seseorang mengambil selembar kertas kemudian menulis di atasnya.

Itu bukan gambaran dunia Alkitab.

Pada zaman kuno terdapat berbagai macam media tulisan dan berbagai sistem penulisan.

Di dunia Timur Dekat kuno, telah mengenal berbagai bentuk tulisan dan bahan. Tulisan digunakan untuk surat, administrasi, ekonomi, hukum, agama, dan berbagai kebutuhan masyarakat.

Jadi pertanyaan “dengan apa Alkitab ditulis?” sebenarnya pertanyaanya harus diperluas menjadi:

Bagaimana manusia pada zaman Alkitab membuat dan menyimpan tulisan?

Ada banyak bahan untuk menulis

Dunia kuno tidak hanya mengenal satu media tulisan. Tulisan dapat ditemukan pada berbagai bahan, tergantung kebutuhan dan lingkungan.

Di Timur Dekat kuno kita menemukan tulisan pada: batu, tanah liat, logam, kayu, papirus, kulit, dan bahan lainnya.

Tidak semua bahan tersebut digunakan untuk kitab Alkitab, tetapi keberagaman ini menunjukkan bahwa tulisan kuno sangat berbeda dari dunia kita.

Jadi kita dapat melihat keberadaan berbagai dokumen kuno yang ditulis pada berbagai bahan dan berasal dari periode Persia.

Karena itu kita tidak boleh membayangkan bahwa semua tulisan kuno selalu berupa gulungan kulit.

Batu: tulisan yang ingin bertahan lama

Batu merupakan salah satu media tulisan yang sangat kuat.

Jika seorang penguasa ingin meninggalkan sebuah pernyataan yang bertahan lama, batu menjadi media yang sangat berguna.

Kita mengenal banyak prasasti dari dunia kuno.

Tulisan semacam ini biasanya tidak dimaksudkan sebagai “buku” untuk dibaca dari halaman pertama sampai terakhir.

Fungsinya bisa berupa: peringatan → catatan → hukum → identitas → kemenangan → dedikasi.

Ini membantu kita memahami bahwa pada zaman Alkitab, tulisan memiliki banyak fungsi.

Tanah liat dan tulisan paku

Di Mesopotamia, salah satu media yang sangat penting adalah tablet tanah liat. Tulisan dibuat dengan menekan alat tertentu ke permukaan tanah liat.

Sistem ini dikenal sebagai cuneiform atau tulisan paku. Namun perlu diperhatikan: Tulisan paku bukan berarti bahasa Alkitab ditulis dengan tulisan paku.

Ini adalah bagian dari dunia tulisan yang lebih luas di Timur Dekat kuno.

Papirus

Bahan lain yang sangat penting dalam dunia kuno adalah papirus. Papirus dibuat dari tanaman Cyperus papyrus, terutama dikenal dari Mesir.

Papirus dapat dibuat menjadi lembaran yang kemudian disambungkan menjadi bentuk yang panjang.

Inilah salah satu alasan gulungan menjadi bentuk penting dalam dunia kuno.

Namun kita perlu membedakan: bahan untuk menulis dan bentuk dokumen.

Papirus adalah bahan. Gulungan adalah salah satu bentuknya.

Kulit dan perkamen

Bahan lain yang digunakan dalam dunia kuno adalah kulit binatang yang diproses untuk menjadi media tulis.

Dalam sejarah manuskrip Yahudi, kulit menjadi salah satu bahan penting untuk penyalinan teks.

Karena lebih tahan dibandingkan beberapa bahan lainnya, kulit sangat cocok untuk dokumen yang ingin dipelihara dalam waktu lama.

Ini membantu menjelaskan mengapa bentuk gulungan sangat penting dalam tradisi Yahudi.

Tetapi sekali lagi: Alkitab pada awalnya bukan satu buku.

Banyak teks berada dalam bentuk gulungan atau dokumen yang terpisah.

Maka ketika kita berbicara mengenai Alkitab pada masa awal, kita sebenarnya sedang berbicara mengenai kumpulan gulungan dan teks, bukan buku modern.

Tetapi bahan saja tidak cukup

Ada sesuatu yang jauh lebih penting daripada bahan, yaitu Tulisan.

Bagaimana manusia mengubah suara menjadi simbol yang dapat dibaca kembali? Di sinilah kita masuk ke dunia alfabet.

Dari gambar menuju alfabet

Salah satu perkembangan besar dalam sejarah tulisan adalah munculnya sistem alfabet.

Alfabet memungkinkan manusia menggunakan sejumlah simbol yang relatif terbatas untuk merepresentasikan bunyi bahasa.

Ini sangat penting bagi perkembangan tulisan Israel.

Dengan sistem alfabet, tulisan menjadi lebih praktis dibandingkan sistem yang membutuhkan banyak simbol.

Bahasa Ibrani dan alfabet

Bahasa utama Perjanjian Lama adalah bahasa Ibrani. Tetapi kita perlu membedakan: bahasa dan aksara.

Bahasa adalah sistem bahasa yang digunakan manusia. Aksara adalah sistem tanda yang digunakan untuk menuliskan bahasa tersebut.

Ini dua hal yang berbeda.

Apa yang sekarang sering disebut “alfabet Ibrani” dalam periode kemudian sebenarnya berkaitan erat dengan aksara Aram yang diadopsi oleh orang Yahudi.

Paleo-Ibrani dan aksara Aram

Ini bagian yang menarik. Pada periode awal, orang Israel menggunakan bentuk aksara yang sekarang biasa disebut: Paleo-Ibrani

Namun kemudian terjadi perubahan. Pada periode Persia, orang Yahudi mengadopsi aksara Aram.

Para ahli paleografi menyebut bentuk awal sebagai paleo-Ibrani, sementara aksara yang kemudian digunakan orang Yahudi berasal dari tradisi aksara Aram.

Jadi kita perlu membedakan: bahasa Ibrani ≠ aksara Ibrani kuno.

Bahasanya dapat tetap Ibrani, sementara bentuk huruf yang digunakan untuk menuliskannya mengalami perubahan.

Bahkan Gulungan Laut Mati menunjukkan perubahan ini

Salah satu bukti yang menarik berasal dari Gulungan Laut Mati.

Manuskrip-manuskrip awal Alkitab yang ditemukan di antara Gulungan Laut Mati ditulis dalam aksara Aram, bukan aksara Ibrani kuno.

Ini menunjukkan bahwa: cara menulis Alkitab mengalami perkembangan sepanjang sejarah.

Jadi ketika kita mengatakan “bahasa Alkitab”, kita tidak boleh langsung menganggap bahwa bentuk hurufnya selalu sama sepanjang sejarah.

Bagaimana tinta digunakan?

Tulisan membutuhkan lebih dari sekadar media. Dibutuhkan juga alat untuk membuat tanda.

Dalam dunia kuno, tinta digunakan untuk menulis pada berbagai media yang sesuai.

Juru tulis membutuhkan: media + tinta + alat tulis + keterampilan. Dengan demikian pekerjaan menulis bukan pekerjaan sederhana.

Menulis membutuhkan pendidikan. Membaca juga membutuhkan pendidikan. Menyalin teks membutuhkan ketelitian.

Dan inilah sebabnya juru tulis mempunyai peranan penting.

Dunia para juru tulis

Kita kembali kepada pembahasan pelajaran sebelumnya. Siapa yang mengerjakan pekerjaan menulis? Juru tulis.

Juru tulis merupakan bagian penting dalam pemerintahan Timur Dekat kuno. Bahkan negara-negara kota yang kecil memiliki juru tulis kerajaan.

Mereka membuat surat dan menyimpan catatan administratif. Juru tulis juga bekerja dalam lingkungan bait suci.

Jadi kemampuan membaca dan menulis adalah sebuah keahlian.

Menjadi juru tulis membutuhkan pendidikan

Seorang juru tulis tidak sekadar mengetahui huruf. Ia harus belajar: bentuk huruf, bahasa, kosakata, cara membuat dokumen, tradisi penulisan, dan berbagai bentuk administrasi.

Karena itu dalam dunia kuno terdapat sekolah-sekolah juru tulis.

Dengan demikian, ketika sebuah teks ditulis, kita tidak hanya berbicara tentang seorang individu yang memegang alat tulis. Kita berbicara tentang sebuah budaya penulisan.

Dari tulisan menuju gulungan

Sekarang kita dapat memahami mengapa gulungan menjadi bentuk penting. Bayangkan sebuah teks yang cukup panjang.

Daripada menggunakan satu batu besar, tulisan dapat dibuat pada lembaran bahan yang kemudian disatukan menjadi bentuk panjang.

Kemudian digulung. Itulah sebabnya banyak teks kuno hadir dalam bentuk: Scroll — gulungan Bukan: Book — buku modern.

Lalu kapan muncul buku seperti yang kita kenal?

Di sinilah ada perkembangan teknologi yang penting: Codex — kodeks

Kodeks menggunakan lembaran yang ditumpuk dan disatukan, dengan tulisan pada kedua sisinya. Ini lebih dekat dengan bentuk buku modern.

Kodeks muncul pada abad pertama Masehi dan menjadi umum pada abad keempat Masehi. Kodeks memungkinkan banyak teks dikumpulkan dalam satu bentuk yang lebih praktis.

Jadi ada perkembangan: prasasti → dokumen → gulungan → kodeks → buku.

Tentu ini bukan garis lurus yang sederhana, tetapi memberikan gambaran perkembangan teknologi tulisan.

Mengapa ini penting bagi kita?

Karena ketika kita membuka Alkitab sekarang, kita melihat sesuatu yang tampak sederhana: satu buku. Tetapi di baliknya terdapat sejarah panjang:

bahasa → alfabet → juru tulis → bahan tulisan → gulungan → penyalinan → komunitas → kodeks → buku.

Dan semuanya berlangsung dalam sejarah yang panjang.

Jadi, dengan apa Alkitab ditulis?

Jawabannya tidak cukup hanya: “Dengan tinta di atas kertas.” Itu terlalu sederhana dan secara historis tidak tepat.

Kita dapat mengatakan:

Teks-teks Alkitab mula-mula ditulis menggunakan berbagai media dan teknologi tulisan dunia kuno. Tulisan dapat dibuat pada bahan seperti batu, tanah liat, papirus, dan kulit, sementara teks-teks yang lebih panjang dapat dipelihara dalam bentuk gulungan.

Penulisan berlangsung dalam berbagai sistem aksara, termasuk perkembangan aksara Semitik dan kemudian aksara Aram yang digunakan untuk menulis bahasa Ibrani pada periode-periode tertentu.

Yang paling penting, kita memahami bahwa Alkitab lahir dalam budaya tulisan yang berkembang secara bertahap.

Gambaran Besarnya

Kita sekarang sudah melewati tiga pertanyaan:

  1. Apa itu Alkitab? Firman Allah yang diberikan kepada manusia.
  2. Siapa yang menulis Alkitab? Banyak penulis manusia yang digunakan dalam penyampaian Firman Allah.
  3. Bagaimana Alkitab ditulis? Melalui proses panjang dari tradisi lisan menuju teks tertulis dan tekstualisasi Israel.

Sekarang kita mengetahui: Dengan apa Alkitab ditulis?

    Dengan teknologi tulisan dunia kuno: berbagai media, alfabet, tinta, alat tulis, dan terutama melalui budaya juru tulis serta gulungan.

    Dan sekarang muncul pertanyaan yang sangat menarik: Kalau Alkitab ditulis dalam bahasa kuno, bagaimana kita bisa membaca Alkitab hari ini?

    Bahasa Ibrani berubah. Bahasa Aram digunakan pada bagian tertentu. Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani. Lalu Alkitab diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Itu sebabnya kita bisa membaca Alkitab..

    Referensi utama

    William M. Schniedewind, How the Bible Became a Book: The Textualization of Ancient Israel. Cambridge: Cambridge University Press, 2004.

    Bagikan:

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *