Daya tahan menghadapi penderitaan ( Ayub 6:11-13)
MEMILIKI daya tahan itu penting. Terutama daya tahan menghadapi kesulitan. Agar terus dapat bertahan menghadapi tantangan.
Ayub dalam penderitaannya, mempertanyakan daya tahan dirinya dalam menjalani penderitaannya. Dia katakan,
“Apakah kekuatanku, sehingga aku sanggup bertahan, dan apakah masa depanku, sehingga aku harus bersabar? Apakah kekuatanku seperti kekuatan batu? Apakah tubuhku dari tembaga?” Bukankah tidak ada lagi pertolongan bagiku, dan keselamatan jauh dari padaku? (Ayub 6:11-12)
Disini Ayub menyesali kelemahan fisiknya dan hilangnya ketabahan. Kekuatannya tidak cukup untuk terus menunggu jawaban Tuhan. Karena takut akan ajalnya, ia tidak punya alasan untuk bersabar
Dia mengungkapkan ketidakberdayaannya dalam bentuk pertanyaan retoris.
Pertama, ia merasa tidak memiliki kekuatan untuk bertahan lebih lama dengan harapan pemulihan dan penyembuhan.
Kedua, ia merasa tidak memiliki masa depan dimana dia dapat membuat rencana untuk hidupnya.
Ketiga, dia merasa kekuatannya bukanlah kekuatan batu, yang mampu bertahan terhadap apa pun.
Keempat, tubuhnya bukanlah perunggu, yang mampu menahan pukulan.
Terkadang kita pun demikian, sering mempertanyakan apakah kita mempunyai cukup kekuatan untuk menahan beban hidup yang berat?
Hal itu normal, mengingat punya keterbatasan. Daya tahan kita pun terbatas. Bahkan ketika itu sudah mencapai batas kekuatan kita, kita akan berkata dan berpikir seperti Ayub.
Dan kita dapat melihat jawaban terhadap pertanyaan Ayub. Jelas Ayub tidak mampu melewati cobaan ini seorang diri.
Uniknya, ketika Ayub terus bertanya, Tuhan diam. Tidak muncul untuk menjawab dan menenangkan hati Ayub.
Sangat berbeda dengan pengalaman Yeremia. Ketika Yeremia mengalami kesusahan, Tuhan datang dan memberikan janji kepadanya..
Dalam Yeremia 1:18, Tuhan katakan kepadanya,
“Aku membuat engkau menjadi kota yang berkubu, menjadi tiang besi dan menjadi tembok tembaga melawan seluruh negeri ini, menentang raja-raja Yehuda dan pemuka-pemukanya, menentang para imamnya dan rakyat negeri ini.”
Tetapi Ayub belum menerima janji seperti itu untuk menopangnya dalam menghadapi cobaan. Pun dari tema-temannya, tidak ada kata-kata penghiburan.
Mereka semua menyalahkan Ayub dan menuduh dia telah berbuat dosa.
Penderitaannya telah melemahkan kekuatannya. Itu sebabnya dia bertanya, “..apakah kekuatanku sehingga aku dapat bertahan?”
Terkadang Tuhan diam saat kita menderita. Diam tidak berarti tidak peduli. Kita tidak mengerti tentang diamnya Tuhan.
Dalam kebijaksanaannya, Tuhan tahun apa yang akan Dia lakukan. Kita hanya perlu percaya dan menyerahkan hidup kita untuk diatur oleh-Nya.
Ketika kita menderita, kita jauh lebih beruntung dibanding Ayub. Pada masa kini, kita memiliki Alkitab dan dapat membaca ratusan janji Tuhan.
Terang yang kita miliki tentang Tuhan jauh lebih jelas. Kita hanya perlu datang kepada Alkitab dan tekun membacanya. Disana kita menemukan Tuhan berbicara kepada kita pada masa sulit.
Jadi, daya tahan kita dalam menghadapi penderitaan terletak pada janji Tuhan.
Rasul Paulus mengatakan,
“Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!” Roma 12:12




