Imam-imam kepala mengambil uang perak itu dan berkata: “Tidak diperbolehkan memasukkan uang ini ke dalam peti persembahan, sebab ini uang darah.

Sesudah berunding mereka membeli dengan uang itu tanah yang disebut Tanah Tukang Periuk untuk dijadikan tempat pekuburan orang asing. (Matius 27:6-7)

YUDAS sudah mati mengenaskan. Sekarang para imam sedang berpikir mau dikemanakan uang darah Yudas. Uang itu masih berserakan dilantai..

Mereka memungutnya. Tidak mungkin memasukkannya ke peti persembahan. Uang itu memang diambil dari peti persembahan untuk membayar Yudas.

Uang darah adalah uang yang dibayarkan dan diterima secara tidak sah untuk memvonis bersalah seseorang atas kejahatan yang berujung pada eksekusi.

Akhirnya mereka sepakat untuk menggunakan uang itu membeli tanah yang disebut Tanah Tukang Periuk untuk dijadikan tempat pekuburan orang asing.

“Imam-imam kepala mengambil uang perak itu dan berkata: “Tidak diperbolehkan memasukkan uang ini ke dalam peti persembahan, sebab ini uang darah.” Sesudah berunding mereka membeli dengan uang itu tanah yang disebut Tanah Tukang Periuk untuk dijadikan tempat pekuburan orang asing.” Matius 27:6-7

Kelihatannya niat mereka baik, tetapi mereka hanya ingin memenangkan hati nurani mereka.

Matius menulis tanah yang dibeli itu disebut tanah darah. Disebut demikian karena semua orang tahu, uang itu dibeli dengan uang darah Yudas.

“Itulah sebabnya tanah itu sampai pada hari ini disebut Tanah Darah.” Matius 27:8

Dan dengan nama itu, seluruh kota bersaksi bahwa Yesus tidak bersalah, mengakui bahwa Dia telah dituduh secara salah, dihukum secara salah, dan dieksekusi secara salah.

Penamaan tanah itu ternyata sudah dinubuatkan jauh hari sebelumnya oleh Yeremia.

“Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia: “Mereka menerima tiga puluh uang perak, yaitu harga yang ditetapkan untuk seorang menurut penilaian yang berlaku di antara orang Israel, dan mereka memberikan uang itu untuk tanah tukang periuk, seperti yang dipesankan Tuhan kepadaku.” Matius 27:9-10.

Cerita Yudas selesai. Akhir hidup yang mengerikan tanpa harapan..

Pengadilan Yesus berlanjut. Dia dibawa ke Pilatus. Jumat pagi. Sekitar jam 5 pagi. Yohanes melaporkan bahwa,

“..mereka membawa Yesus dari Kayafas ke gedung pengadilan. Ketika itu hari masih pagi. Mereka sendiri tidak masuk ke gedung pengadilan itu, supaya jangan menajiskan diri, sebab mereka hendak makan Paskah.” Yoh 18:28

Gedung itu adalah kediaman gubernur di Yerusalem. Berfungsi sebagai ruang penghakiman, tempat gubernur mengadili masalah yang dibawa ke hadapannya..

Dalam perayaan paskah, orang Yahudi diwilayaha utara termasuk orang-orang Yahudi dari Galilea seperti Yesus dan para murid, telah merayakan Paskah pada hari sebelumnya..

Sementara orang-orang Yahudi di bagian selatan, termasuk sebagian besar pemimpin agama, merayakannya sehari kemudian, yang pada tahun itu adalah hari Jumat.

Oleh karena itu, para anggota Sanhedrin belum mempersembahkan korban atau makan perjamuan Paskah..

Karena tradisi kerabian mengajarkan bahwa memasuki rumah atau bangunan non-Yahudi merupakan suatu pencemaran, itu sebabnya mereka menolak masuk Gedung Pilatus..

Ini lah kemunafikan dari segala kemunafikan. Mereka membunuh orang yang tidak bersalah dan mereka merasa tidak bersalah..

Tetapi mereka merasa bersalah memasuki Gedung yang bukan Yahudi, padahal jauh lebih melanggar hukum Ketika mereka memperlakukan Yesus secara tidak adil..

Pilatus kaget dibangunkan pagi-pagi. Dia melihat para pemimpin agama Yahudi membawa Yesus. Dia merasa takut kepada pemimpin Yahudi..

Terutama di tengah-tengah perayaan besar keagamaan mereka, ketika Yerusalem sedang ramai.

Dan karena mereka tidak mau masuk, maka Pilatus keluar mendapatkan mereka dan berkata: “Apakah tuduhan kamu terhadap orang ini?” Yoh 18:29

Pertanyaan itu merupakan tindakan hukum pertama dan satu-satunya dalam persidangan Yesus. Pilatus mendesak mereka agar mengajukan surat dakwaan resmi..

Mereka tahu bahwa Pilaus sangat menjaga posisi politiknya. Dia bukan orang yang mau mengambil resiko. Karena itu mereka memanfaatkan kelemahan Pilatus..

“Jikalau Ia bukan seorang penjahat, kami tidak menyerahkan-Nya kepadamu!” kata mereka..perkataan tersebut sebagai teguran kepada Pilatus untuk tidak usah berlama-lama..

Mereka hanya ingin Pilatus menyetujui putusan mati yang mereka telah buat..Pilatus sudah mengetahui siapa Yesus dan kebencian para pemimpin Yahudi terhadap Dia.

Karena itu persoalan agama mereka, maka Pilatus tidak ingin terlibat lebih jauh. Karena itu dia katakan, “Ambillah Dia dan hakimilah Dia menurut hukum Tauratmu.” Yoh 18:31

Dengan mengatakan hal itu, Pilatus memberikan izin diam-diam, atau bahkan secara eksplisit, untuk mengeksekusi Yesus, karena dia tahu bahwa, menurut hukum mereka, pelanggaran agama yang paling serius dapat dihukum mati.

Jawab mereka, “Kami tidak diperbolehkan membunuh seseorang.” Mengapa mereka menjawab seperti itu? inilah kelicikan mereka..

Mereka ingin membunuh Yesus dengan meminjam tangan Romawi. Tujuannya untuk menghindari tanggung jawab.

Karena kemungkinan ada pembalasan dari bangsa mereka sendiri terhadap pembunuhan Yesus.

Maka dengan meminta orang-orang Romawi mengeksekusi, orang-orang akan menganggap ini berkaitan dengan politik..

Mereka bisa bebas dari tuduhan dan tanggung jawab..

Tetapi semua narasi dari kejadian ini berawa dibawah kendali Tuhan, untuk menggenapi tujuan penebusan-Nya sendiri.

Dengan menuntut supaya Romawi mengeksekuti, tanpa mereka sadari itu adalah penggenapan Firman Allah..

“Demikian hendaknya supaya genaplah firman Yesus, yang dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana caranya Ia akan mati.” Yoh 18:32.

Untuk memenuhi permintaan Pilatus tentang surat dakwaan, para imam kepala dan pemimpin lainnya mengarang tuduhan..

Tuduhan yang mereka sampaikan ke Pilatus berbeda dengan yang mereka putuskan. Putusan mereka Yesus dihukum karena menghujat Allah..

Mereka tahu, tuduhan seperti ini tidak akan diterima dalam pengadilan Romawi. Karena itu mereka membuat tuduhan yang mengadaada..

“Telah kedapatan oleh kami, bahwa orang ini menyesatkan bangsa kami, dan melarang membayar pajak kepada Kaisar, dan tentang diri-Nya Ia mengatakan, bahwa Ia adalah Kristus, yaitu Raja.” Lukas 23:2..

Mereka menuduh Yesus sebagai pemberontak dan melarang membayar pajak kepada Kaisar dan mengaku sebagai raja..

Bagi Romawi, tuduhan seperti ini sangat serius. Dan hukuamannya adalah mati..

Tuduhan terhadap Yesus jelas-jelas merupakan kebohongan sehingga kita bertanya-tanya betapa bodohnya Pilatus menurut para pemimpin Yahudi.

Poinnya, Para pemimpin agama terus nekad dengan peradilan sesat mereka bahkan sampai kepada Pilatus. Kebencian mereka kepada Yesus membuat mereka gelap mata.

Menabrak semua aturan hukum. Keadilan dan kebenaran. Para pemimpin agama dan penegak hukum menginjak-injak sumpah jabatan mereka..

Namun dalam hikmat dan kebijaksaan Allah yang tidak terselami, dia membawa rencana jahat manusia menuju penggenapan rencana Tuhan, yaitu keselamatan dan pengampunan melalui kematian Yesus..

Jika kita harus menderita dalam ketidakadilan, jangan kecewa, Tuhan akan mengarahkannya kepada penggenapan rencana Tuhan. Rencana damai dan sejahtera..

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *