Coronavirus Mengubah Kebiasaan, Bukan Prinsip

Sebelum virus corona datang segala sesuatu berjalan normal. Tetapi setelah virus corona datang, apa yang dulu tidak wajar menjadi wajar.

Dulu tidak wajar kalau orang duduk atau berdiri berjauhan, tersinggung kalau ada orang yang duduk berjarak dengan kita. Segera kita mencium ketek sendiri berpikir jangan-jangan bau badan kita membuat dia duduk jauh.

Sekarang kebalikan, kalau duduk berdekatan dianggap aneh dan dipelototin dengan sinis. Maka jangan coba-coba duduk berdekatan dengan orang lain kalau tidak mau dipelototin.

Dulu setiap ketemu musti jabat tangan, mau pisah jabat tangan, cium pipi kanan, pelukan dll. Jangan coba-coba mengabaikan keramahan tersebut kalau tidak mau dianggap sombong dan tidak sopan.

Sekarang, tidak jabat tangan, tidak cium pipi kanan, tidak pelukan dianggap hal yang baik.

Dulu Ibadah berjamaah itu baik, bahkan wajib hukumnya, setiap orang didorong untuk selalu hadir jangan sampai absen, tetapi sekarang ibadah berjamaah tidak baik dilakukan, bahkan dilarang karena bisa menjadi sumber penyebaran penyakit.

Dulu bekerja harus kekantor, kalau tidak masuk kantor dianggap mangkir. Sekarang budaya barunya adalah kerja dari dirumah, kalau masuk kantor dianggap mangkir.

Dulu belajar harus disekolah, kalau tidak hadir dianggap bolos, sekarang budaya baru adalah belajar dari rumah, kalau pergi kesekolah akan disuruh pulang guru piket.

Dulu kumpul-kumpul itu baik, arisan, pesta-pesta dll, yang jarang hadir kumpul-kumpul dianggap tidak gaul, sekarang sebaliknya, kumpul-kumpul tidak gaul dan dianggap tidak baik.

Kebiasaan bisa berubah

Jadi apa yang baik hari ini, besok bisa menjadi tidak baik dan apa yang tidak baik hari ini besok bisa menjadi baik tergantung keadaan.

Tetapi perubahan yang saya maksud bukan prinsipnya, tetapi adat, kebiasaan, cara atau metode yang berlaku saat itu.

Metode, cara, kebiasaan, adat bisa berubah tergantung situasi. Tetapi yang tidak boleh berubah adalah prinsip. Prinsip tidak bisa berubah karena situasi, karena dia tidak tergantung keadaan.

Contoh: sekarang ini orang-orang tidak lagi bersalaman tangan ketemu tangan, atau pipi ketemu pipi bukan karena sombong atau tidak ramah, tetapi demi memutus rantai penyebaran virus corona.

Secara prinsip tidak mengurangi keramahan dan keakraban, karena roh keramahan itu tidak pada jabat tangan atau tidak, tetapi pada hati yang mementingkan keselamatan hidup orang lain lahir dan batin.

Jikalau menjaga jarak adalah cara untuk menjaga keselamatan diri dan orang lain, maka itu bentuk keramahan sejati.

Namun jika anda tidak bisa mengikuti dan tidak terima sosial distancing sebagai bentuk keramahan terkini, anda terus saja menciptakan kerumunan, bahkan mencela mereka yang menjaga jarak sebagai penakut dan tidak sopan, anda sejatinya orang yang tidak ramah, karena anda tidak menolong memutus rantai penyebaran virus tetapi menjadi agen penyebaran penyakit.

Jadi semua kebiasaan-kebiasaan yang baik dan wajar sebelum corona, setelah corona datang menjadi tidak baik dan tidak wajar.

Coronavirus memaksa semua orang mengubah kebiasaan, cara dan metode hidup mereka.

Mengapa orang-orang mau mengubah kebiasaan dengan sukarela tanpa protes? Tentu saja karena menyangkut keselamatan hidup pribadi dan lingkungan sekitar.

Jadi, mau tidak mau, suka tidak suka, demi keselamatan pribadi dan orang sekitar banyak orang segera beradaptasi dengan budaya baru yang dihimbau pemerintah yaitu social distancing.

Jadi kebiasaan bisa berubah kapan saja tergantung keadaan..

Prinsip tidak berubah

Diatas saya katakan bahwa yang tidak bisa berubah adalah prinsip..apakah itu prinsip? Mengapa dia tidak bisa berubah?

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia prinsip adalah asas (kebenaran yang menjadi pokok dasar berpikir, bertindak, dan sebagainya); dasar;

Berikut ini beberapa contoh kata berhubungan dengan prinsip

Saya memutuskan bahwa saya akan bertahan dengan prinsip-prinsip saya. Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan. – Soe Hok Gie

Jangan pernah merasa takut akan kesendirian dan terasing karna anda mempertahankan prinsip yang benar. – Galileo Galilei

Contoh lain dalam alkitab kisah Sadrak, Mesak, Abednego dan Daniel.

“Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini.

Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.” (Daniel 3:16-18)

Sadrak, Mesak, Abednego dihadapkan pada raja Nebukadnezar karena mereka tidak mau menyembah patung emas buatan raja, akhirnya mereka dijatuhi hukuman mati dilempar ke dapur api yang menyala.

Sebelum mereka dihukum, raja menawarkan kesempatan supaya mereka mengubah prinsip mereka, tetapi mereka lebih memilih mati dari pada mengubah prinsip kebenaran yang mereka miliki.

Ketiga orang ini punya prinsip atau azas kebenaran bahwa hanya Tuhan pencipta yang harus disembah. Patung bukan Tuhan dan tidak bisa menggantikan tempat Tuhan.

Daniel, dihadapkan kepada hukuman mati karena berdoa kepada Tuhan. Peraturan baru yang diberlakukan adalah semua orang harus berdoa kepada dewa-dewa.

Azas kebenaran yang dimiliki Daniel adalah bahwa hanya Tuhan pencipta yang patut disembah dan kepada-Nya kita harus berdoa dan meminta. Maka dia lebih baik mati dari pada harus berdoa kepada dewa-dewa manusia.

Jadi, itulah prinsip azas atau dasar kebenaran yang hakiki oleh mana orang berpikir dan bertindak, lain dari dasar itu akan ditolak.

Itu sebabnya mereka yang mengingkari azas atau dasar kebenaran disebut sebagai orang yang munafik yang tidak punya prinsip.

Kembali pada prinsip

Jadi jikalau coronavirus telah mengubah kebiasaan, tradisi, cara dan metode hidup kita, tidak untuk prinsip kebenaran yang kita miliki.

Sebaliknya coronavirus yang menjangkiti seluruh dunia saat ini harus membawa orang-orang untuk kembali kepada prinsip kebenaran sejati.

Kebenaran sejati bisa dipelajari dalam kitab suci..

Boleh jadi selama ini cara kita beramah tamah sudah benar, tetapi hanya benar secara luar bukan di dalam batin. Cara tangan kita bersalaman mungkin sudah benar tetapi hati kita tidak ikut bersalaman.

Mungkin ritual ibadah kita selama ini sudah benar secara lahiriah, namun roh ibadat itu mengalami mati suri, seperti kata Paulus:

“Meskipun secara lahir, mereka taat menjalankan kewajiban agama, namun menolak inti dari agama itu sendiri. Jauhilah orang-orang yang seperti itu.” 2 Timotius 3:5 (BIS).

Inti agama ialah praktek kasih dan belas kasihan

Kebiasaan-kebiasaan yang kita lakukan memerlukan evaluasi, apakah keramahtamahan, kebersamaan, ibadah, sekolah, keluarga, pekerjaan, dll yang selama ini kita lakukan sudah benar ”nafasnya?”

Apakah cara kita beragama selama ini sudah benar nafasnya? Cara kita bergereja selama ini sudah benar rohnya?

Coronavirus sejenak memaksa kita untuk tinggal dirumah, beribadah dirumah untuk evaluasi nafas keagamaan kita.

Sejenak kita tidak bisa pamer kesalehan, tidak bisa pamer jubah agama kita, pamer kepemilikan, semua perkara lahirian yang selama ini dipertontonkan sejenak dirumahkan.

Dirumahkan untuk dibenarkan roh dan nafasnya, karena semua berawal dari rumah. Dengan kembali kerumah kita punya banyak waktu untuk merenungkan kebiasaan kita selama ini yang mungkin secara prinsip kebenaran sejati kurang tepat.

Sejenak kembali kerumah, kelak keluar rumah lagi, nafasnya sudah benar..

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Roma 12:1

Bagikan:

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *