Cara Terbaik Menghancurkan Musuh

Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Matius 5:44

Pernahkan kita menjadi korban aniaya oleh seseorang? Pernahkah kita merasa tersiksa jiwa dan tubuh karena serangan secara verbal dan non verbal dari seseorang?

Bagaimana perasaan anda terhadap aniaya tersebut? Pasti sulit diterima dan sulit untuk dimaafkan.

Bahkan muncul niat untuk membalas dan melakukan serangan yang sama, baik secara verbal dan non verbal untuk siksaan yang telah diterima.

Itu sangat manusiawi..

Seorang teman saya dengan kepahitan yang sangat dalam, berikrar bahwa sampai maut memisahkan, dia tidak akan mengampuni orang yang telah menyakiti perasaannya.

Bahkan ada yang bersukacita ketika orang yang dianggap musuh itu celaka dan mati, seribuan kata syukur diucapkan dan menari-nari atas kemalangan yang menimpa mereka.

Begitukah cara kita merespon mereka yang menganiaya kita? Atau bagaimana sebaiknya tanggapan kita?

Saran saya hati-hati dalam mencari refrensi bagaimana menanggapi musuh yang menganiaya kita. Jika refrensi anda tidak tepat, maka anda bisa berada dalam kesusahan yang lain, baik dunia dan akhirat.

Refresensi terbaik adalah Yesus. Kita diminta menanggapi musuh yang menganiaya kita dengan dua perlakuan. Pertama, Dia bilang, “Kasihi musuhmu…” kedua, berdoa bagi mereka.

Secara manusiawi mungkin saran ini sukar diterima, apalagi mau dilakukan..

Mengapa? karena kita biasanya ingin ada pembalasan kepada orang itu saat itu juga. Sakit yang kita rasakan, dia juga harus terima, itu sebabnya muncul balas dendam.

Itu memang manusiawi..

Kalau kita timbang-timbang kerugian yang telah ditimbulkan kepada kita, baik jiwa dan raga, nampaknya tidak pantas mereka dikasihi apalagi didoakan.

Mereka pantasnya untuk di kutuk…

Yah, itu memang manusiawi…

Tetapi rupanya Yesus tidak ingin kita berada pada level manusiawi terus. Dia ingin kita meningkat pada level yang lebih baik dan lebih tinggi yaitu sorgawi.

Dalam istilah yang lebih sederhana manusia rohani.

Kedua jenis manusia ini berbeda level. Tertinggi adalah manusia sorgawi. Dari kata “sorgawi” kita bisa tau artinya hidup seperti Tuhan.

Sedang kata “Manusiawi” kita bisa artikan hidup seperti manusia umumnya.

Sekarang tinggal pilih saja, mau duniawi atau sorgawi? Jika kita memilih level manusia duniawi, maka pembalasan anda terhadap penganiaya anda sangat tidak sempurna.

Misalnya kita membalas dengan cara kita, cara kita pasti tidak sempurna. Cara kita membalas bisa jadi melanggar hukum dan membawa kerugian lain kepada kita.

Lagi pula mereka yang kita balas dengan dendam itu, akan membalas balik dan akhirnya saling balas-balasan yang tiada henti.

Endingnya hanya satu, anda yang akan habis atau mereka..

Kalau level surgawi, Tuhan yang membalas, Dia akan menjadi hakimnya untuk kita. Lagian kita harus ingat, bahwa pembalasan itu hak Tuhan.

Pembalasan Tuhan pasti sempurna. Walaupun tidak saat itu,

Kita juga harus ingat, hukum alam, hukum sebab akibat. Hukum tabur tuai. Jika kita menabur kejahatan, maka kita akan menerima akibatnya. Akibat itu bisa panjang dan berketurunan.

Yang menerima akibat bukan hanya sipelaku, tapi bisa juga keluarganya anak dan cucunya, dll..

Eksposisi

Yesus katakan, “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka..”

Ayat diatas dimulai dari ayat sebelumnya, “Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.”

Jauh sebelumnya, perintah mengasihi dituliskan dalam PL. Imamat 18:19, “Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN.

Kalimat tambahan “Bencilah musuhmu tidak terdapat dalam perintah di PL. Perintahnya adalah kasihilah sesamamu..

Bencilah musuhmu bukan perintah Tuhan melainkan sikap orang-orang Yahudi yang merasa diri sebagai anak Abraham (Yohanes 8:33; lihat di Mat 3: 9), mereka merasa lebih tinggi dari manusia lain dan menjadi sombong. Orang Yahudi memandang najis kepada semua orang yang bukan sebangsa dengan mereka.

Dengan demikian orang-orang diluar mereka tidak patut untuk dikasihi, tetapi harus diperangi, apalagi jika mereka telah merugikan.

Agape

Kasihi musuhmu, kata yang di gunakan adalah agapan, artinya kasih yang menghargai. Seperti kasih Tuhan kepada kita, kasih tanpa pamrih, tulus dan murni. Itu bukan kasih phileo yang digambarkan kasih emosi, kasih diantara anggota keluarga.

Perintah TUhan bukan kasih phileo, tetapi Agape. Memperlakukan orang yang berseteru dengan kita secara hormat, sopan dan baik.

Bahkan Paulus memberikan tindakan praktikal bagaimana mengasihi musuh. Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum!

Paulus pada masa dia hidup memiliki banyak lawan. Bukan karena dia suka cari musuh untuk berkelahi, bukan..!

Pekerjaannya sebagai pelayanan surga, dalam pemberitaan injil, bertemu dengan banyak orang dari kalangan biasa hingga pejabat negeri, dari aggota jemaat hingga orang luar.

Mereka mengabil posisi berseberangan dengan Paulus dan mereka merespon dengan permusuhan, dan tindakan yang kasar.

Tetapi Paulus tidak merespon mereka dengan cara yang sama. Sebagaimana yang dia telah praktekkan, dia mengatakan, beri makan jika seterumu lapar, kasih minum jika haus.

Artinya sama dengan perkataan Yesus, jangan balas kejahatan dengan kejahatan, berbuat baik kepada mereka yang berbuat jahat kepada kita.

Selain mengasihi dengan hormat dan perlakuan baik, Yesus juga mengajarkan untuk berdoa bagi mereka yang menganiaya kita.

Bagian ini sudah level surgawi. Manusiawi tidak sanggup melakukan ini. Manusiawi adalah mengutuk, memaki, mendoakan yang jelek-jelek kepada mereka.

Yesus berdoa untuk mereka yang menganiaya diri-Nya. “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Lukas 23:43

Cara terbaik membalas musuh

Jadi cara terbaik menghancurkan musuh adalah dengan cara Yesus yaitu mengasihi dan berdoa bagi mereka.

Roma 12:21 Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!

Roma 12:20 Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya.

Amsal 25:21-22 25:21 Jikalau seterumu lapar, berilah dia makan roti, dan jikalau ia dahaga, berilah dia minum air.

Lukas 6:28 mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.

Alasan mengasihi musuh

Karena kita anak-anak Allah.

1 Yohanes 3:18

Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.

Matius 5:44-45

Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.

Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.

Mengapa berdoa bagi musuh?

Kita mengasihi dan berdoa bagi musuh, untuk menerbitkan harapan kasih Tuhan dalam diri mereka. Dengan melakukan itu, mereka boleh melihat kebaikan Tuhan dan berbalik kepada Tuhan.

Sangat indah kemudian, jika akhirnya kita bisa duduk bersama dengan mereka yang menganiaya kita. Bahkan bisa bersama-sama didalam kerajaan sorga.

Semua karena kasih dan doa kita kepada mereka..

Sedangkan jiwa kita menuntut balas, bisa jadi akhirnya kita yang hilang dan mereka selamat.

Live each day as it was your last

Bagikan:

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *