Cara Menciptakan Pernikahan Yang Sehat

Oleh: Pdt Benny Tambunan

Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.

Matius 19:5,6

Dalam kehidupan seseorang yang ingin berumah tangga tentunya melewati beberapa tahapan.

Tahapan demi tahapan tentunya dilewati dengan berbagai keindahan, keceriaan, kebaikan tapi juga tentu ada saat-saat sulit dan galau.

Mulai dari perkenalan, pendekatan, lanjut ke pacaran, terus ke lamaran , terus ke pertunangan kemudian pernikahan.

Ada yang melewati tahapan di atas dengan lama bahkan lama sekali mungkin, tapi ada juga yang melewati tahapan di atas dengan cepat bahkan mungkin cepat sekali.

Tentunya semua itu tergantung hubungan komunikasi yang dibangun bersama.

Upacara pernikahan adalah acara umum/publik dimana keluarga, teman, dan komunitas dipanggil bersama untuk menyaksikan dan mengesahkan penyatuan dan memberi restu bagi pasangan yang baru menikah.

Upacara pernikahan bukan hanya acara budaya atau sosial tetapi menampilkan kepada masyarakat pasangan yang membuat perjanjian di hadapan Allah dan saksi lainnya.

Pernikahan itu suci dan kudus dan harus selalu mencerminkan kemuliaan Allah.(1)

Saat pernikahan tentu saat yang sangat dinantikan oleh semua pihak, baik calon pengantin, keluarga kedua belah pihak maupun oleh anggota-anggota gereja.

Ini menjadi saat terindah tentunya. Apalagi saat janji pernikahan diucapkan.

Saya ingin mengajak kita kembali baca janji pernikahan saat ini

“ Kami mohon kepada hadirin yang sekarang hadir menyaksikan bahwa saya ………. Telah mengambil engkau ……. Menjadi isteri/suami saya yang sah ; untuk memiliki serta mempertahankannya sejak hari ini sampai seterusnya, apakah dalam keadaan baik ,ataupun tidak, dalam kemakmuran ataupun tidak, waktu sakit ataupun sehat, untuk mengasihi dan memelihara hingga kematian memisahkan kita , sesuai dengan peraturan kudus ALLAH , dan dengan ini saya berjanji setia kepadamu.”

Jika mengingat janji pernikahan ini kembali, tentunya akan membuat masing-masing kita (suami – isteri) akan mengenang saat-saat indah tersebut.

Bahkan mungkin akan mengingat kejadian-kejadian saat itu ataupun setelahnya.

Bagian akhir janji pernikahan adalah kalimat “ dan dengan ini saya berjanji setia kepadamu”.

Kesetiaan adalah hal yang penting dalam keluarga

Adam dan Hawa adalah pasangan pertama dan mereka membentuk keluarga pertama.

Kita semua pertama-tama belajar tentang hubungan dari keluarga kita, apakah keluarga itu bersifat biologis, adopsi, atau asuh.

Beberapa dari hubungan ini baik dan beberapa tidak baik.

Tetapi intinya adalah semua hubungan dimulai dalam keluarga. Keluarga bukan hanya landasan masyarakat, itu adalah fondasi masyarakat.

Merupakan bagian dari fondasi masyarakat sehingga undang-undang sipil yang dirancang untuk melindungi pernikahan dan keluarga telah diberlakukan.

Sejarah telah mengungkapkan bahwa negara-negara yang kuat dibangun di atas pernikahan dan keluarga yang kuat dan stabil.

“ Masyarakat terbentuk dari keluarga-keluarga, dan kepala-kepala keluarga, itulah yang membentuknya. Dari dalam hati “terpancarlah kehidupan”, dan jantung masyarakat, jantung jemaat dan jantung suatu bangsa ialah rumah tangga, kemakmuaran bangsa, ketergantungan atas pengaruh-pengaruh rumah tangga.”

RTA, 15

Kutipan ini dengan jelas menunjukkan bahwa pernikahan adalah hubungan yang berlangsung selamanya.

Dan merupakan hal yang umum bagi kebanyakan pasangan untuk mengucapkan pengakuan ini dalam janji mereka, “dan dengan ini saya berjanji setia kepadamu”.

Membangun fondasi yang kuat

Ketika hubungan pernikahan dibangun di atas fondasi yang kuat, kesetiaan dari komitmen yang langgeng dan permanen, ada stabilitas dalam hubungan tersebut.

Pada pernikahan, masing-masing pasangan berjanji untuk memberikan dirinya bagi yang lain.

Pemberian diri ini seharusnya tidak dipahami, diartikan sebagai hak mutlak kepemilikan tetapi sebagai pemelihara milik Allah.

Pernikahan seharusnya bukan menjadi tempat perbudakan, kekerasan bahkan ketidakadilan.

Kejadian 1:26-28 

1:26 Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.”

1:27 Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.

1:28 Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.

Pemberkatan pernikahan Adam dan Hawa singkat. Namun, ada unsur-unsur berkat pernikahan pertama yang kemudian ditemukan dalam pernikahan.


Rumah tangga leluhur kita yang pertama di Taman Eden telah disediakan oleh Allah sendiri. Setelah diperlengkapi dengan segala sesuatu yang dapat diinginkan oleh manusia, Allah berfirman: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita.

RTA, 25

Tuhan kita berkenan dengan makhluk-Nya yang terakhir dan yang termulia ini dan bermaksud supaya ia harus menjadi penduduk yang sempurna dari dunia yang sempurna.

Seorang penolong

Tetapi bukanlah maksud-Nya supaya manusia itu kesunyian. Tuhan berfirman;

“Tidak baik kalau manusia seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”

Allah sedirilah yang memberikan seorang teman kepada Adam.

Allah menciptakan “seorang penolong yang sepadan dengan dia”_ seorang penolong yang sama dengan dia-seorang yang pantas menjadi temannya, dan yang akan menjadi satu dengan dia dalam cinta dan kasih sayang.

Hawa dijadikan dari tulang rusuk yang diambil dari Adam, mengartikan bahwa ia seharusnya tidak memerintahkan Adam sebagai kepala.

Ataupun tidak akan diinjak-injak di bawah kaki Adam sebagai bawahannya.

Melainkan berdampingan sebagai sesama-Nya, untuk dikasihi dan dilindungi oleh dia.

Bahagian dari seorang manusia, tulang dari tulangnya, dan daging dari dagingnya, Hawa itulah dirinya yang kedua;

Menunjukkan persatuan yang erat dan perhubungan kasih sayang yang harus ada dalam perhubungan ini.

“Karena tidak pernah barang seorang jua pun membenci akan dirinya sendiri, melainkan dikenyangkan dan dipeliharanya.”

“Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.”

Perayaan pernikahan

Allah merayakan pernikahan yang pertama. Demikian peraturan itu berasal dari Khalik serwa sekalian alam.

Pernikahan itu mulia adanya”; itulah salah satu karunia pertama dari Allah kepada manusia, dan itulah salah satu dari dua peraturan, yang setelah Adam berdosa membawa sertanya ke seberang pintu gerbang Firdaus.

Apabila prinsip-prinsip Ilahi itu diakui dan diturut, maka pernikahan itu adalah suatu berkat.

Pernikahan itu dijaga kesuciannya demi kebahagiaan bangsa manusia.

Pernikahan itu menyediakan segala keperluan hidup sosial manusia, meninggikan sifat badani, kecerdasan dan moral manusia.

Dia yang memberikan Hawa kepada Adam sebagai penolong, telah melakukan mukjizat-Nya yang pertama pada suatu perjamuan nikah.

Dalam pesta pernikahan di mana sahabat-sahabat, sanak keluarga bersukaria bersama-sama, Kristus memulai pekerjaan pelayanan-Nya.

Demikianlah Ia mensahkan pernikahan mengakuinya sebagai peraturan yang Dia sendiri telah menetapkan ….

Kristus menghormati hubungan pernikahan oleh menjadikannya juga suatu lambang persekutuan di antara Dia dengan tebusan-Nya.

Ia sendirilah mempelai laki-laki; mempelai wanita ialah jemaat, kepada dia yang telah dipilih-Nya, Ia berkata, “Bahwasanya amat eloklah engkau, hai adinda; amat eloklah engkau.”

Apa yang bisa kita dapatkan sekarang ?

1. Penikahan dijadikan Allah dengan sempurna. Pernikahan juga adalah inisiatif Allah dan Allah sangat menghormatinya.

2. Hawa/isteri itu adalah penolong, diri Adam yang sendiri, belahan jiwanya (“Hawa itulah dirinya yang kedua”),dengan kata lain jangan membenci pasangan kita tapi tetap mengasihi.

Harus ada sikap tidak mementingkan diri yang besar, melupakan diri sendiri.

Dan mengarahkan semua kehidupan keluarga serta segala sesuatu yang berkaitan dengannya demi kebaikan keluarga, dengan menundukkan diri sendiri.

Dikasihi, dicintai dan tetap setia dengan memelihara cinta kasih.

3. Allah menyediakan segalanya untuk pernikahan yang dibangun dengan berlandaskan kepada-Nya.

Allah yang pertama, yang terutama dalam kehidupan suami, isteri dan anak-anak, dalam kehidupan rumah tangga.

Jawab Yesus: “Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.

Matius 19:5-6

Pdt Benny Tambunan adalah Direktur Pelayanan Rumah Tangga Konfrens DKI dan sekitarnya

Bagikan:

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.