Cara Bijaksana Menangani Utang

AYAT INTI: “Orang kaya menguasai orang miskin, yang berutang menjadi budak dari yang mengutangi” (Amsal 22: 7).

Pendahuluan

Orang kaya menguasai orang miskin dan yang berutang menjadi budak dari yang mengutangi.

Berutang berarti hidup hari ini atas apa yang diharapkan dapat diperoleh di masa depan. Utang nampaknya sudah menjadi gaya hidup.

Kitab Suci tidak mendorong berutang. Kitab Suci tidak menyatakan bahwa adalah dosa meminjam uang, tetapi Kitab Suci berbicara tentang akibat-akibat buruk dari berutang.

Banyak referensi ayat dalam Kitab Suci tentang utang dan semuanya bernada negatif.

Umat TUHAN harus membayar kepada siapa mereka wajib membayar termasuk membayar utang.

Utang menjadi momok bagi semua orang, perusahaan bahkan negara sekalipun. Utang hampir tidak pernah menguntungkan.

Masalah-masalah Utang.

Baca Ulangan 28:1,2,12.

Tuhan akan memberkati umat-Nya dan mengangkat ke atas ketika umat-Nya setia menuruti perintah-Nya.

Ada tiga alasan mengapa manusia terlibat ke dalam kesulitan keuangan.

Pertama, kelalaian. Banyak orang tidak pernah terekspos pada prinsip-prinsip pengaturan keuangan secara alkitabiah.

Banyak yang buta dalam mengelola keuangan. Solusinya adalah menyediakan haris besar singkat tentang prinsip-prinsip keuangan.

Kedua, ketamakan atau cinta diri. Beberapa orang hidup di luar kebutuhan. Manusia tidak rela untuk hidup atau menggunakan apa yang mereka benar-benar mampu.

Akhirnya orang-orang dalam keadaan ini merasa terlalu miskin untuk mengembalikan persepuluhan.

Ada harapan bagi mereka yang berada dalam keadaan ini namun menunutut satu perubahan hati dan satu roh kepuasan.

Ketiga, kemalangan. Mungkin karena mengalami kemalangan, putus hubungan kerja, sakit, bencana alam, atau bahkan perceraian.

Ada harapan untuk keadaan seperti ini. Perubahan dapat datang melalui dukungan dari sahabat-sahabat Kristen; nasihat dan bantuan dari penasihat-penasihat yang saleh; kerja keras yang dipadukan dengan Pendidikan yang baik dan berkat serta pemeliharaan TUHAN.

Apa pun alasannya, utang bisa dikurangi. Mereka yang terlibat dalam utang perlu membuat perubahan dalam kehidupan mereka, pengeluaran mereka dan prioritas-prioritas keuangan.

Mengikuti Nasihat yang Saleh.

Baca Matius 6:24; 1 Yohanes 2:15; Mazmur 50:14,15.

Sebagai manusia yang terbuat dari materi, tanah, dan hidup di dunia materi, banyak hal-hal yang bisa memikat manusia.

Mungkin berbeda jika manusia itu terbuat dari baja atau minyak sintesis, bukan dari daging dan darah yang tidak akan merasa godaan kepemilikan materi dan keinginan pada kekayaan.

Siapakah yang tidak pernah berfantasi menjadi orang kaya?

Tidak ada yang salah dalam bekerja keras untuk mencari nafkah yang baik atau bahkan menjadi kaya.

Namun tidak seorang pun yang harus menyerah pada perangkap menjadikan berhala untuk uang, kekayaan dan harta benda. TUHAN menjanjikan kuasa Ilahi untuk tetap setia pada apa yang kita tahu benar.

Pencobaan dari kekayaan dan harta benda telah membawa banyak jiwa kepada kebinasaan.

Manusia tidak bisa mengabdi kepada dua tuan: TUHAN atau Mamon. Jangan mengasihi dunia ini dengan segala kesenangannya.

Cinta akan dunia dapat menjadi begitu kuat sehingga orang akan berutang untuk memuaskan cinta tersebut. Utang adalah satu dari kerat Iblis yang dia letakkan untuk jiwa-jiwa.

Itu sebabnya TUHAN ingin melihat anak-anak-Nya bebas dari utang. Manusia harus membayar utangnya sesegera mungkin.

Umat TUHAN harus mengembalikan apa yang menjadi milik TUHAN, jangan menahan bahkan menggunakannya.

Bagaimanakah Keluar dari Utang?

Baca Amsal 22:7.

Orang yang berhutang akan menjadi budak dari orang yang memberi hutang. Itu sebabnya orang Kristen khususnya harus keluar dari jerat utang seandainya mereka sekarang sedang terlilit hutang.

Landasan yang terutama agar lepas dari hutang adalah adanya satu komitmen untuk menjadi setia kepada TUHAN dalam mengembalikan persepuluhan-Nya yang suci agar dapat mengakses hikmat dan berkat-Nya.

Ada beberapa cara untuk lepas dari jerat hutang:

1. Membuat deklarasi untuk tidak menambah hutang baru, tidak ada lagi pengeluaran kredit. Jika tidak meminjam uang, utang tidak akan ada atau tidak akan bertambah.

2. Membuat perjanjian dengan TUHAN bahwa sejak komitmen dibuat untuk lepas dari jerat hutang dan seterusnya, ketika TUHAN memberkati dirinya, dia akan membayar semua utang secepat mungkin.

Maksimalkan berkat TUHAN yang diterima untuk membayar hutang, bukan membeli lebih banyak barang.

Jangan berkat TUHAN yang diterima justru dipakai untuk membeli hal-hal yang tidak dibutuhkan atau bermanfaat.

3. Buat daftar hutang dari yang terbesar hingga terkecil. Lakukan pembayaran kepada hutang yang jatuh tempo atau yang harus dibayar karena sudah tiba waktunya untuk dibayar.

Jika ditunda maka bunga akan muncul sehingga hutang akan bertambah.

Selanjutnya usahakan membayar hutang-hutang yang dalam urutan terbawah (yang paling kecil).

Sebuah kejutan akan terjadi ketika daftar hutang akan cepat berkurang paling tidak dari urutan yang paling bawah.

Selanjutnya dahulukan membayar hutang yang bunganya besar. Jelas TUHAN tidak menginginkan umat-Nya berhutang.

Sekali perjanjian itu dibuat, banyak keluarga mendapati bahwa TUHAn memberkati mereka dalam cara-cara yang tidak terduga dan utang dikurangi lebih cepat daripada yang diharapkan.

Dengan menjadikan TUHAN yang pertama, seseorang akan menerima hikmat dan berkat-Nya untuk mengatur apa yang telah dipercayakan-Nya kepadanya.

Skema Jaminan dan Cepat Menjadi Kaya.

Baca Amsal 6:1-5; 17:18; 22:26; 28:20; 1 Timotius 6:9,10.

Tuhan tidak menginginkan anak-anak-Nya bertanggungjawab atas kewajiban-kewajiban utang orang lain.

Jangan pernah menjadi penjamin utang orang lain atau penanggung sesama. Jika terjadi, mintalah bantuan dan mohon maaf kepada yang memberi hutang karena jika utang itu tidak dibayar oleh yang meminjam, maka sang penjamin yang akan membayarnya padahal sang penjamin tidak menerima uangnya.

Seseorang harus tegas, meskipun itu terhadap rekan satu gereja, bahwa dia tidak akan bersedia menjadi penjamin utang.

Orang Kristen harus menolong orang lain namun tidak menjadi penjamin utang orang lain. Bahkan orang tua sekali pun harus menghindarkan diri menjadi penjamin utang anaknya sendiri.

Penelitian menunjukkan bahwa 75 persen mereka yang menjamin berakhir dengan mereka yang membayar.

Skema keinginan untuk cepat kaya adalah perangkap keuangan yang lain. Orang Kristen juga tidak boleh berpikir ingin cepat menjadi kaya tanpa bekerja dan dalam waktu singkat.

Cinta akan uang adalah akar dari segala kejahatan. Orang yang ingin cepat kaya akan mendapatkan hukuman.

Ketika sesuatu kedengaran lebih baik untuk menjadi kenyataan, itulah perangkapnya.

Banyak kehidupan dan keluarga telah dihancurkan oleh skema cepat menjadi kaya yang berakhir dengan hanya memperkaya para penipu yang merancang hal tersebut.

Ketika ada seorang sahabat, keluarga atau bahkan anggota jemaat yang menawarkan system seperti ini, janganlah berdiam diri, larilah secepatnya.

Batas Waktu dan Persentasi Pinjaman.

Baca Ulangan 15:1-5.

TUHAN meminta bangsa Israel untuk menghapuskan hutang sesama Israel pada tahun ketujuh.

Pembebasan hutang ini selaras dengan pembebasan budak atau hamba atau tanah.

Ini menunjukkan bahwa TUHAN memperhatikan masalah-masalah keuangan terutama berhubungan dengan sesama Israel.

TUHAN mengetahui adanya utang, utang harus dihindarkan. Berhati-hatilah dalam meminjam baik untuk jangka yang pendek maupun Panjang termasuk bunga yang ditawarkan.

Pinjaman untuk membeli rumah yang bisa belasan bahkan puluhan tahun atau pinjaman Pendidikan. Mungkin perlu dihindari untuk mendapatkan pinjaman dalam bidang Pendidikan.

Adalah lebih baik jika berusaha mendapatkan beasiswa, bekerja sambal menabung atau meminta pertologan orang tua karena Pendidikan merupakan warisan yang orang tua bisa berikan kepada anak-anaknya.

Sebelum berhutang, pastikan kesepakatan pinjam meinjam sudah ideal dan tingkat bunga yang dapat dijangkau.

Pinjamlah yang terendah yang memang dibutuhkan. Namun yang terbaik adalah menghindari hutang dan ikuti prinsip keuangan alkitabiah.

Yang memberi pinjaman harus memperlakukan mereka yang meminjam dengan baik, jujur dan adil. Jangan membebankan beban bunga yang tinggi atau bahkan sampai sita-menyita terlebih kepada saudara seiman.

Kesimpulan.

Bertekadlah untuk tidak pernah terlibat pada utang atau utang yang baru. Sangkal diri dan memenuhi keinginan. Terlibat utang adalah kutukan dalam kehidupan.

Buatlah satu perjanjian kudus dengan TUHAN bahwa dengan berkat-Nya kita akan membayar semua utang dan tidak berutang kepada siapa pun. Sangkal selera makan, simpan setia rupiah dan bayarlah hutang-hutang hasil menahan selera makan.

Hapuskan hutang secepan mungkin dari yang terkecil hingga terbesar. Bayarlah hutang-hutang yang sudah jatuh tempo dan menuntut bunga yang tinggi. Jangan berutang lagi jika sudah lunas semua hutang.

Buatlah anggaran dalam kehidupan dengan teratur. Akan banyak kejutan yang terjadi ketika didapati banyak uang yang bisa disimpan karena hidup sesuai dengan anggaran yang sudah dibuat.

Buang semua kartu kredit yang justru menjadi penggoda untuk menggunakannya sementara tidak ada sumber keuangan untuk membayar cicilan kartu kredit.

Mulaikanlah langkah-langkah ekonomis dalam. Belilah hal-hal yang dibutuhkan bukan yang menyenangkan. Belilah hal-hal yang dibutuhkan di tempat-tempat yang menawarkan produk lebih murah ketimbang belanja di super market yang jelas harganya lebih mahal.

Berusahalah selalu menabung meskipun hanya sedikit. Sedikit demi sedikit lama-lama akan menjadi bukit. Tunda keinginan jika uang belum cukup.

Dari pada terlibat meminjamkan uang kepada saudara seiman yang kemungkinan besar akan sulit untuk ditagih, lebih baik mengusahakan yang lain untuk memberikan bantuan yang mungkin tidak akan mempersulit hubungan antara pemberi pinjaman dan si peminjam.

Bagikan:

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *