Cara Ayub menjawab teman-temannya (Ayub 6:22-34)
DARI cerita Ayub, kita menjadi tahu apa artinya sahabat sejati dan siapa itu sahabat sejati. Mereka yang memberikan dukungan lahir dan batin ketika kita dalam keadaan susah.
Beberapa kutipan tentang siapa teman sejati itu,
“Teman menunjukkan kasih sayang mereka di saat susah, bukan di saat senang.”
“Dalam kemakmuran, teman-teman kita mengenal kita; dalam kesulitan, kita mengenal teman-teman kita.”
“Sahabat sejati adalah orang yang datang saat seluruh dunia pergi.” — Walter Winchell
“Teman sejati tidak hanya merayakan kemenanganmu—mereka juga mendukungmu saat kamu mengalami kekalahan.” — Tidak diketahui
“Masa-masa sulit tidak menciptakan teman sejati, tetapi mengungkapkannya.” — Tidak Diketahui
“Banyak orang ingin ikut naik limusin bersamamu, tetapi yang kau butuhkan adalah seseorang yang mau naik bus bersamamu saat limusin mogok.” — Oprah Winfrey
Ayub memiliki banyak teman dikala senang. Mereka selalu ada disampingnya. Mereka banyak mendapat keuntungan.
Ketika Ayub susah. Tinggal tulang. Tidak lagi berguna. Sebentar lagi akan mati. Mereka semua pergi. Memang ada tiga sahabatnya yang masih tersisa.
Namun kehadiran mereka menambah kesusahan Ayub. Gantinya menghibur, justru sebaliknya mereka menghakimi Ayub. Gantinya mengangkat jiwanya, sebaliknya menjatuhkan semangatnya..
Itu sebabnya Ayub mengeluhkan mereka. Dia sebut mereka seperti sungai yang kering. Tidak berguna.
Dan di ayat 22-23Ayub bertanya kepada mereka, “Pernahkah aku berkata: Berilah aku sesuatu, atau: Berilah aku uang suap dari hartamu, atau: Luputkan aku dari tangan musuh, atau: Tebuslah aku dari tangan orang lalim?”(Ayub 6:22-23)
Dia ingin tegaskan bahwa dia tidak pernah meminta apa-apa dari mereka. Dan tidak ingin menjadi beban bagi mereka.
Sejatinya seorang sahabat perjanjian berkewajiban untuk menyelamatkan rekannya dari segala kesulitan. Tetapi Ayub tidak menuntut itu dari mereka.
Dia tidak meminta kekayaan mereka atau campur tangan aktif apa pun dengan musuh.
Intinya Ayub tidak ingin menjadi beban bagi mereka, jika mereka tidak tulus dan moticvasinya hanya untuk mempersalahkan dirinya.
Mungkin kita pernah berada dalam posisi itu. Gantinya kita mendapat pertolongan, justru sumpah serapah yang kita dapatkan dari orang-orang yang mengaku sahabat..
Ayub sebetulnya tahu bahwa tidak ada campur tangan manusia yang dapat membantu masalahnya saat ini, yang menurutnya berasal dari Tuhan sendiri.
Walau demikian, harapannya kepada teman-temannya, jangan lah menjadi batu sandungan bagi dirinya. Berdiam diri jauh lebih baik dari pada mereka bicara.
Nah sekarang Ayub memberitahu teman-temannya, bagaimana cara terbaik membantunya yaitu dengan mengajari dibagianmana dia salah..
Dia mengatakan di ayat 24, “Ajarilah aku, maka aku akan diam; dan tunjukkan kepadaku dalam hal apa aku tersesat.”
Mereka dapat menjadi gurunya dan membantunya memahami apa yang salah.
Nah ketiga temannya merasa bahwa mereka telah mengajari Ayub tentang letak salahnya.
Mereka merasa telah membantunya memahami bahwa dia adalah seorang berdosa dan bahwa dia perlu bertobat.
Disinilah letak persoalannya…
Mereka menuduh Ayub sebagai pendosa tanpa bukti. Kita para pembaca, tahu bahwa dia bukanlah seorang pendosa yang pantas mendapatkan perlakuan seperti ini..
Itulah sebabnya mengapa kehadiran mereka tidak memberikan pertolongan nyata kepadanya; mereka memberikan informasi yang salah.
Ayub telah menelusuri semua perbuatan hidupnya. Meneliti nuraninya. Dia tidak melakukan kesalahan apa pun. Baik kepada Tuhan dan sesama manusia.
Dari sini kita belajar bahwa, penderitaan tidak selalu disebabkan karena dosa dan kesalahan kita.
Sebaliknya, orang yang hidupnya benar, seringkali tertimpa oleh kesusahan yang sulit untuk dijelaskan apa penyebabnya.
Seperti Ayub kita juga perlu meneliti nurani kita. Jika ada kesalahan yang harus diakui dan ditinggalkan, kita harus lakukan.
Dalam 6:25–27 Ayub menegaskan bahwa kata-kata teman-temannya menyakitkan. Itu sebabnya dia mengajukan serangkaian pertanyaan menantang kepada mereka..
Alangkah kokohnya kata-kata yang jujur!
Dia menyebut kata-kata mereka jujur. Tapi ini nadanya sarkastik. Ayub tidak sedang mengakui kejujuran kata-kata mereka..
Kata-kata sarkas disini artinya dia sedang mengatakan kata yang berlawanan dengan makna sebenarnya..
Kita mungkin sering menggunakan kata dengan nada sarkastik. Misalnya “Oh, kamu sangat membantu. Terima kasih banyak,” (padahal orang itu tidak membantu sama sekali).
Mereka tampak jujur dalam kata-kata dan berbudi luhur karena seolah-olah membela Tuhan, tetapi mereka tidak mewakili Tuhan..
Mereka mencoba menegur Ayub, meyakinkannya bahwa ia adalah seorang berdosa yang perlu bertobat. Tetapi tidak ada yang perlu ditegur..
Itu sebabnya dia menanyakan, “Tetapi apakah maksud celaan dari pihakmu itu?”
Poinnya bagi Ayub, mereka tidak mau mendengarkan penjelasannya, karena percaya bahwa kata-kata orang yang putus asa itu kosong.
Kata-katanya dianggap seperti angin, tidak mengandung apa pun yang dapat dipegang.
Mereka berpikir bahwa ia “mengejar angin” dengan ucapannya (Pengkhotbah 1:14; 2:11, 17; 4:4, 6; 6:9).
Ayub juga menuduh mereka memanfaatkan orang yang rentan. Mereka menyerangnya dalam kelemahan dan penderitaannya.
Mereka adalah tipe orang yang bahkan akan memanfaatkan seorang yatim piatu. Mereka adalah pengkhianat.
Mereka mencari keuntungan sendiri dan bahkan akan mengambil keuntungan dari kerugian seorang teman.
Namun, terlepas dari apa yang telah mereka lakukan kepadanya, Ayub bersedia memberi mereka kesempatan untuk berubah..
Dia mengajak mereka untuk berpaling, karena dia tidak berdusta(Ayat 28). Berpaling dari anggapan bahwa dia telah bersalah. Dia ingin mereka bertobat atas sikap mereka terhadapnya.
Dia kembali mengulangi agar mereka berbalik dan jangan curang. “Aku pasti benar..” katanya (Ayat29).
Artinya, meskipun mereka menerima kesaksian palsu tentang dirinya, mereka perlu menyadari bahwa perkaranya adil dan karenanya mengabaikan kesaksian palsu tersebut.
Ayub mendukung posisinya dengan pertanyaan retoris ganda yang menyangkal bahwa ia telah berbohong dengan cara apa pun. Tidak ada kesaksian palsu di lidahnya (Ayat 30).
Inti argumen Ayub adalah bahwa tidak ada niat jahat atau tipu daya di pihaknya, karena itu teman-temannya perlu menaruh kepercayaan pada apa yang ia katakan.
Poinnya, jika kita disalahpahami seperti Ayub, kita tidak perlu bereaksi berlebihan. Apalagi sakit hati. Jika kita hidup benar dihadapan Tuhan dan kita telah menyelidiki nurani kita, tenang saja..
Kita pun perlu memberi mereka kesempatan untuk berbalik dan bertobat..
Jika pun kita dituduh dan dikata-katai dengan informasi yang salah, dan penjelasan kita tidak berterima pada orang lain, biarlah waktu yang menjawab dan menceritakan dikemudian hari, bahwa kita benar dan jujur dihadapan Tuhan..
Kita tidak harus mati-matian memberi penjelasan. Bila mereka percaya, syukuri. Jika mereka tidak percaya, biarkan saja..
Karena Yesus pun tidak dipercaya ketika mengatakan kebenaran. “Tetapi karena Aku mengatakan kebenaran kepadamu, kamu tidak percaya kepada-Ku..” (Yoh 8:45).
Siapa kita dihadapan Tuhan, jauh lebih penting..



