Pendahuluan

Salah satu ajaran yang cukup populer di kalangan orang Kristen adalah doktrin “sekali selamat, tetap selamat” (once saved, always saved).

Ajaran ini mengatakan bahwa jika seseorang sudah menerima Yesus sebagai Juruselamat, maka ia tidak mungkin kehilangan keselamatannya, apa pun yang terjadi dalam hidupnya.

Entah pun dia jatuh dalam dosa, melanggar hukum Allah dan menjauhkan diri dari Tuhan..

Bagi sebagian orang, ajaran ini memberikan rasa aman. Mereka yakin bahwa keselamatan sudah dijamin untuk selamanya sehingga tidak perlu lagi khawatir akan kehilangan hidup yang kekal.

Namun, benarkah Alkitab mengajarkan demikian?

Pertanyaan pentingnya adalah: Apakah seseorang yang sudah percaya kepada Kristus masih bisa meninggalkan imannya dan akhirnya kehilangan keselamatan?

Banyak gereja yang dipengaruhi oleh ajaran Calvin menjawab, “Tidak.” Mereka percaya bahwa Allah sudah memilih siapa yang akan diselamatkan. Karena itu, orang yang benar-benar dipilih pasti akan bertahan sampai akhir.

Sebaliknya, Alkitab menunjukkan bahwa keselamatan memang merupakan anugerah Allah, tetapi manusia tetap memiliki kebebasan untuk menerima atau menolak-Nya. Allah tidak memaksa siapa pun untuk tetap tinggal bersama-Nya.

Dalam pelajaran ini kita akan mempelajari apa yang sebenarnya diajarkan Alkitab mengenai jaminan keselamatan.

Tujuan Pelajaran

Pelajaran ini akan membahas beberapa pertanyaan penting:

• Apa yang dimaksud dengan doktrin “sekali selamat, tetap selamat”?

• Dari mana ajaran ini berasal?

• Apa dasar ayat-ayat yang digunakan untuk mendukungnya?

• Apakah Alkitab mengajarkan bahwa keselamatan tidak dapat hilang?

• Bagaimana seharusnya orang percaya memahami jaminan keselamatan menurut Firman Tuhan?

Kiranya melalui pelajaran ini kita semakin memahami bahwa keselamatan adalah anugerah Allah yang harus diterima dengan iman dan dipelihara melalui hubungan yang terus hidup dengan Kristus setiap hari.

Dua pandangan tentang jaminan keselamatan kekal

Doktrin “sekali selamat, tetap selamat” mengajarkan bahwa orang yang benar-benar telah diselamatkan tidak mungkin kehilangan keselamatannya.

Secara umum, pandangan ini muncul dalam dua bentuk. Yang pertama didasarkan pada predestinasi menurut teologi Calvin, dan yang kedua pada keyakinan bahwa orang percaya memiliki jaminan keselamatan kekal setelah menerima Kristus.

Predestinasi dan Ketekunan Orang-Orang Kudus

Untuk memahami doktrin ini, kita perlu melihat ajaran John Calvin. Dalam bukunya The Institutes of the Christian Religion (1536), Calvin mengembangkan ajaran predestinasi, yaitu bahwa sebelum dunia diciptakan Allah telah menetapkan siapa yang akan diselamatkan dan siapa yang akan binasa.

Dengan demikian, keselamatan bergantung sepenuhnya pada kehendak Allah, bukan pada pilihan manusia.

Ajaran Calvin kemudian diringkas dalam lima pokok utama yang dikenal dengan akronim TULIP:

  1. Total Depravity (Kerusakan Total) – Manusia telah rusak oleh dosa sehingga tidak mampu mencari Allah dengan kekuatannya sendiri.
  2. Unconditional Election (Pemilihan Tanpa Syarat) – Allah memilih siapa yang akan diselamatkan tanpa bergantung pada keputusan manusia.
  3. Limited Atonement (Penebusan Terbatas) – Kristus mati hanya untuk orang-orang pilihan.
  4. Irresistible Grace (Anugerah yang Tak Tertolak) – Orang yang dipilih Allah pasti akan menerima anugerah-Nya.
  5. Perseverance of the Saints (Ketekunan Orang-Orang Kudus) – Orang pilihan akan tetap bertahan dalam iman sampai akhir dan tidak akan kehilangan keselamatannya.

Dari sistem ini muncul kesimpulan bahwa orang yang telah dipilih Allah tidak mungkin kehilangan keselamatan, karena semuanya ditentukan oleh predestinasi dan bukan oleh kehendak bebas manusia.

Namun, pandangan ini berbeda dengan ajaran Alkitab yang menunjukkan bahwa Allah mengasihi semua manusia dan memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk menerima atau menolak keselamatan.

Keselamatan memang berasal dari anugerah Allah, tetapi diterima melalui iman dan harus dipelihara dalam hubungan yang terus hidup dengan Kristus.

Akar Historis Doktrin Ini

Beberapa peneliti juga melihat adanya kemiripan antara doktrin jaminan keselamatan kekal dengan ajaran Gnostisisme, sebuah gerakan yang berkembang pada abad kedua dan ketiga.

Kaum Gnostik mengajarkan bahwa sebagian orang memiliki “benih ilahi” sehingga pada akhirnya pasti diselamatkan, apa pun yang mereka lakukan. Keselamatan mereka dianggap tidak dapat hilang karena ditentukan oleh status rohani mereka, bukan oleh pilihan hidup mereka.

Walaupun Calvinisme dan Gnostisisme berbeda dalam banyak hal, keduanya memiliki beberapa kesamaan, yaitu:

• keselamatan ditentukan oleh pemilihan, bukan oleh respons manusia;

• orang yang telah dipilih tidak dapat kehilangan keselamatannya;

• dosa setelah diselamatkan tidak mengubah status keselamatan mereka.

Perbedaannya, kaum Gnostik cenderung hidup tanpa batasan moral, sedangkan Calvinisme tetap menekankan pentingnya pertumbuhan dalam pengudusan.

Namun, keduanya sama-sama meyakini bahwa orang yang telah dipilih tidak akan kehilangan keselamatan.

Kesimpulan

Doktrin “sekali selamat, tetap selamat” berakar pada konsep predestinasi dalam teologi Calvin dan didukung oleh lima pokok TULIP. Sebagian sarjana juga melihat adanya kemiripan dengan ajaran Gnostisisme.

Namun, Alkitab menyatakan bahwa Kristus mati bagi semua manusia, keselamatan ditawarkan kepada semua orang, dan setiap orang tetap memiliki kebebasan untuk menerima atau menolak anugerah Allah.

Karena itu, jaminan keselamatan tidak didasarkan pada predestinasi mutlak, melainkan pada hubungan iman yang terus bertahan di dalam Kristus.

Evaluasi Alkitabiah tentang Predestinasi Orang Pilihan

Allah Menghendaki Semua Orang Diselamatkan

Ajaran bahwa Allah sejak semula telah menentukan sebagian orang untuk diselamatkan dan sebagian lainnya untuk binasa tidak sejalan dengan kesaksian Alkitab.

Firman Tuhan menyatakan bahwa Allah mengasihi semua manusia dan menyediakan keselamatan bagi siapa saja yang mau percaya kepada Kristus.

Yesus berkata,

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16)

Keselamatan tidak ditentukan oleh pemilihan ilahi yang sewenang-wenang, tetapi oleh respons iman kepada Kristus.

Hal ini ditegaskan kembali dalam Yohanes 3:18, bahwa yang diselamatkan adalah mereka yang percaya, sedangkan yang menolak Kristus tetap berada di bawah hukuman.


Predestinasi dalam Roma 8:28-30

Pendukung predestinasi mutlak sering menggunakan Roma 8:28-30 dan Efesus 1:3-14 sebagai dasar ajaran mereka. Namun, bagian ini perlu dipahami sesuai dengan keseluruhan ajaran Alkitab.

Dalam Roma 8:28-30, Paulus berbicara tentang rencana Allah bagi orang percaya: mereka yang dikenal sebelumnya (foreknew), ditentukan sebelumnya (predestined), dipanggil (called), dibenarkan (justified), dan dimuliakan (glorified).

Predestinasi dalam bagian ini bukan berarti Allah memilih beberapa orang untuk selamat dan yang lain untuk binasa.

Sebaliknya, Allah telah menetapkan bahwa semua orang yang percaya kepada Kristus akan dibentuk menjadi serupa dengan Anak-Nya.

Robert Shank, dalam bukunya Elect in the Son, menjelaskan bahwa panggilan Allah bersifat universal, tetapi hanya mereka yang menanggapi dengan iman yang disebut “orang-orang yang dipanggil sesuai dengan tujuan-Nya.”

Paulus juga menegaskan bahwa pembenaran diberikan kepada “dia yang memiliki iman kepada Yesus” (Roma 3:26), bukan kepada orang yang dipilih tanpa syarat.

Tujuan Roma 8 bukanlah mengajarkan predestinasi mutlak, melainkan memberikan kepastian kepada orang percaya bahwa tidak ada sesuatu pun yang dapat memisahkan mereka dari kasih Kristus (Roma 8:31-39).


Predestinasi dalam Efesus 1:3-14

Dalam Efesus 1:3-14, Paulus memuji Allah karena telah memilih umat-Nya “sebelum dunia dijadikan.”

Namun, yang dipilih bukanlah individu tertentu tanpa syarat, melainkan mereka yang ada di dalam Kristus.

Allah telah menetapkan bahwa setiap orang yang hidup dalam Kristus akan menjadi kudus dan tidak bercacat (Efesus 1:4), serta diangkat menjadi anak-anak-Nya (Efesus 1:5).

Dengan demikian, predestinasi berbicara tentang rencana Allah bagi orang percaya, bukan tentang penetapan sebagian orang untuk selamat dan sebagian lainnya untuk binasa.


Iman Tetap Menjadi Respons Manusia

Di seluruh Alkitab, keselamatan selalu dihubungkan dengan iman.

Allah mengambil inisiatif melalui kasih karunia-Nya, tetapi manusia tetap memiliki kebebasan untuk menerima atau menolak anugerah itu.

Jika keselamatan ditentukan sepenuhnya oleh predestinasi mutlak dan anugerah yang tidak dapat ditolak (Irresistible Grace), maka panggilan untuk percaya, bertobat, dan tetap setia menjadi tidak lagi bermakna.

Karena itu, Alkitab memandang predestinasi selaras dengan tanggapan iman manusia, bukan menggantikannya.


Kesimpulan

Alkitab mengajarkan bahwa Allah menghendaki semua orang diselamatkan, dan Kristus mati bagi semua manusia, bukan hanya bagi orang-orang tertentu.

Ayat-ayat tentang predestinasi dalam Roma 8:28-30 dan Efesus 1:3-14 harus dipahami dalam terang keseluruhan ajaran Alkitab.

Allah telah menetapkan bahwa setiap orang yang hidup oleh iman di dalam Kristus akan dipanggil, dibenarkan, dikuduskan, dan akhirnya dimuliakan.

Dengan demikian, predestinasi menurut Alkitab adalah rencana Allah bagi semua orang yang percaya, bukan penetapan mutlak bahwa sebagian orang pasti selamat dan sebagian lainnya pasti binasa.

Dua Pandangan tentang Keselamatan

Pendukung doktrin “sekali selamat, tetap selamat” percaya bahwa orang yang telah diselamatkan tidak mungkin kehilangan keselamatannya.

Pandangan ini biasanya didasarkan pada doktrin predestinasi, yaitu keyakinan bahwa Allah telah menentukan sejak semula siapa yang akan diselamatkan.

Sebaliknya, Alkitab mengajarkan bahwa keselamatan adalah anugerah Allah yang diterima melalui iman, tetapi manusia tetap memiliki kebebasan untuk menerima atau menolak anugerah tersebut.


Janji Allah Bersifat Bersyarat

Dalam Alkitab, berkat dan keselamatan selalu terkait dengan hubungan manusia dengan Allah.

Allah berkata kepada Israel:

“Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN…” (Ulangan 28:1)

Tetapi juga:

“Jika engkau tidak mendengarkan suara TUHAN…” (Ulangan 28:15)

Bangsa Israel adalah umat pilihan, tetapi ketika mereka terus-menerus tidak setia, mereka kehilangan hak istimewa tersebut. Hal yang sama diperingatkan Paulus kepada orang percaya:

“Kalau Allah tidak menyayangkan cabang-cabang asli, Ia juga tidak akan menyayangkan kamu.” (Roma 11:20-21)


Peringatan terhadap Rasa Puas Diri

Alkitab berulang kali menggunakan kata “jika”, yang menunjukkan bahwa keselamatan menuntut respons iman yang terus-menerus.

Yesus berkata:

“Jika kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku.” (Yohanes 15:10)

“Jika seseorang tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar.” (Yohanes 15:6)

Penulis Ibrani menambahkan:

“Kita beroleh bagian dalam Kristus, asal saja kita teguh berpegang sampai kepada akhirnya.” (Ibrani 3:14)

Paulus juga berkata:

“Asal saja kamu tetap teguh dalam iman.” (Kolose 1:23)

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa keselamatan bukan alasan untuk berpuas diri.


Peringatan terhadap Kemurtadan

Alkitab mengajarkan bahwa seorang percaya dapat jatuh dari kasih karunia.

Paulus memperingatkan:

“Kamu lepas dari Kristus… kamu hidup di luar kasih karunia.” (Galatia 5:4)

Demikian juga:

“Siapa yang menyangka bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh.” (1 Korintus 10:12)

“Jagalah supaya jangan ada di antara kamu hati yang jahat dan yang tidak percaya yang murtad dari Allah yang hidup.” (Ibrani 3:12)

Jika seseorang yang telah percaya tidak mungkin jatuh, maka peringatan-peringatan ini menjadi tidak berarti.


Hanya yang Bertahan Sampai Akhir Akan Diselamatkan

Yesus dengan jelas berkata: “Orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.” (Matius 10:22)

“Orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.” (Markus 13:13)

Keselamatan bukan hanya soal memulai perjalanan iman, tetapi juga tetap setia sampai akhir.


Tidak Ada Ruang untuk Kesombongan Rohani

Bahkan Paulus tidak menganggap dirinya aman secara otomatis:

“Supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” (1 Korintus 9:27)

Karena itu, orang percaya harus terus bergantung kepada Kristus dan bukan kepada pengalaman masa lalu.


Peringatan Keras dalam Kitab Ibrani

Penulis Ibrani memperingatkan tentang bahaya kemurtadan: “Yang murtad lagi, tidak mungkin dibaharui sekali lagi.” (Ibrani 6:4-6)

Dan:

“Jika kita sengaja berbuat dosa sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran…” (Ibrani 10:26-29)

Ayat-ayat ini berbicara tentang orang yang pernah mengalami anugerah Allah tetapi kemudian memilih meninggalkan-Nya.


  • Keselamatan Itu Pasti, Tetapi Bukan Jaminan Tanpa Syarat

Alkitab tidak mengajarkan bahwa orang percaya memiliki jaminan mutlak bahwa mereka pasti akan bertahan sampai akhir tanpa memandang pilihan hidup mereka.

Namun Alkitab memberikan jaminan keselamatan saat ini bagi mereka yang hidup dalam Kristus.

Paulus berkata:

“Tidak ada sesuatu pun yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah dalam Kristus Yesus.” (Roma 8:38-39)

Dan:

“Ia yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu akan meneruskannya sampai pada akhirnya.” (Filipi 1:6)

Artinya, Allah setia memelihara umat-Nya. Masalahnya bukan Allah meninggalkan kita, tetapi manusia dapat memilih meninggalkan Allah.


Ketegangan antara Jaminan dan Tanggung Jawab

Orang Kristen hidup dalam dua kenyataan:

  1. Kita memiliki jaminan keselamatan selama tetap tinggal di dalam Kristus.
  2. Kita dipanggil untuk terus beriman, taat, dan bertahan sampai akhir.

Karena itu, kita tidak hidup dalam ketakutan, tetapi juga tidak hidup dalam rasa aman palsu.


Kesimpulan

Alkitab tidak mendukung doktrin “sekali selamat, tetap selamat” dalam arti bahwa seseorang tidak mungkin kehilangan keselamatannya.

Sebaliknya, Alkitab mengajarkan bahwa:

• Kristus mati untuk semua manusia.

• Keselamatan diberikan kepada semua yang percaya.

• Orang percaya dipanggil untuk bertekun dalam iman.

• Kemurtadan adalah kemungkinan yang nyata.

• Hanya mereka yang bertahan sampai akhir yang akan diselamatkan (Matius 10:22).

Keselamatan bukan didasarkan pada predestinasi tanpa syarat, tetapi pada hubungan iman yang terus hidup dengan Kristus.

Kita dapat memiliki kepastian bahwa Allah setia menjaga kita, tetapi setiap hari kita harus memilih untuk tetap tinggal di dalam Dia.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *