Pastordepan Media Ministry
Beranda Seri Kitab Ayub Berdoa agar cepat mati (Ayub 6:8-10)

Berdoa agar cepat mati (Ayub 6:8-10)

Mari kita kembali melanjutkan seri Ayub, sebuah eksplorasi mendalam tentang kedaulatan Tuhan, keterbatasan hikmat manusia, dan panggilan untuk tetap beriman di tengah penderitaan yang tak dapat dijelaskan..

TIDAK sedikit orang ketika menderita, bukan kesembuhan yang dia minta tetapi kebinasaan. Ayub, salah seorang yang tidak mengharapkan pemulihan dari penderitaanya.

Dalam keluhan dia mengatakan, “Ah, kiranya terkabul permintaanku dan Allah memberi apa yang kuharapkan! Kiranya Allah berkenan meremukkan aku, kiranya Ia melepaskan tangan-Nya dan menghabisi nyawaku!” (Ayub 6:8-9)

Dia meminta kehancuran daripada pemulihan. Dalam ratapan-ratapannya di pasal 3, dia mengungkapkan keinginannya agar tidak pernah dilahirkan.

Dalam pikirannya, mungkin Tuhan telah melakukan hal terburuk padanya. Tuhan telah membuatnya menderita dengan mengerikan. Kematian akan lebih baik.

Perhatikan, bahwa Ayub tidak pernah berkeinginan untuk bunuh diri..

Ada banyak orang ketika menderita memilih mengakhiri hidupnya dengan tanganya sendiri.

Misalnya, seorang pria paruh baya di Blitar ditemukan tewas gantung diri. Korban nekat mengakhiri diri karena diduga tak kuat dengan sakit yang dideritanya. (detik.com, 25 Februari 2022).

Contoh lainnya, EN, perempuan 34 tahun, ditemukan tewas gantung diri di kusen pintu kamarnya. Dua anaknya yang berusia 9 tahun dan 11 bulan ditemukan tak bernyawa tak jauh dari sang ibu.

Menurut polisi, kemungkinan besar sang ibu adalah pelaku penganiayaan terhadap kedua anaknya. Kesimpulan ini diperkuat dengan penemuan surat wasiat yang ditulis oleh sang ibu.

Surat itu mengungkapkan masalah keluarga, tepatnya kesulitan ekonomi, dan berisi pula permintaan maaf untuk seluruh keluarganya, termasuk kepada kedua anaknya yang telah meninggal. (BBC.Com, 10 September 2025).

Perhatikan, Ayub tidak pernah mempertimbangkan bunuh diri sebagai pilihan terakhir mengakhiri penderitaannya. Bisa saja dia memilih opsi itu.

Karena ia melihatnya sebagai satu-satunya jalan keluar dari rasa sakitnya yang luar biasa

Apa yang dia lakukan adalah ia menyerahkan dirinya ke tangan Tuhan dan mendesak Tuhan untuk membunuhnya.

Bagi Ayub, bunuh diri adalah pengkhianatan terhadap Tuhan. Tuhan yang memberi kehidupan, biarlah Tuhan sendiri yang mengambil hidupnya. Menyelesaikan penderitaannya.

Itu maka dia katakan, “Kiranya Allah berkenan meremukkan aku, kiranya Ia melepaskan tangan-Nya dan menghabisi nyawaku!..” (6:9)

Kata meremukkan artinya seseorang dipukuli dengan brutal atau diinjak-injak sampai mati.

Ayub merasa Tangan Tuhan terikat. Karena Ayub berpikir bahwa Tuhan menahan diri untuk tidak menimpanya sepenuhnya..

Itu sebabmnya ia berdoa agar Tuhan melepaskan serangan sepenuhnya dengan meremukkan dirinya seperti orang yang terinjak-injak. Dipukuli hingga mati.

Dia juga menggunakan kalimat “menghabisi nyawaku..” dari kata ibrani bâtsa‛ artinya memotong benang sehingga kain dapat dilepas dari alat tenun..

Di Perjanjian Lama, gambaran ini menggambarkan kematian (misalnya, Ayub 27:8; Yesaya 38:12).

Ayub percaya bahwa satu-satunya harapannya adalah kematian itu sendiri. dan walau pun dia ingin mati, ia dengan tegas menolak bunuh diri..

Itu sebabnya dia katakan, “Itulah yang masih merupakan hiburan bagiku, bahkan aku akan melompat-lompat kegirangan di waktu kepedihan yang tak kenal belas kasihan, sebab aku tidak pernah menyangkal firman Yang Mahakudus.” Ayub 6:10)

Jika kematian akan datang, biarlah itu datang dari Tuhan. Dan mengetahui kematiannya sudah dekat, itu menjadi penghiburan baginya.

Dan penderitaannya akan sedikit lebih mudah ditanggung, karena kenyataan bahwa Tuhan telah menjawab permohonannya dan itu akan menjadi penghiburan.

Ia akan melompat, meskipun dipenuhi rasa sakit yang tak tertahankan

Umumnya ketika orang-orang menderita, apalagi dengan penyakit yang berat, umumnya orang-orang akan memberikan penghiburan dengan kata-kata harapan agar cepat sembuh..

Tentu akan menjadi aneh dan menimbulkan sakit hati bagi yang sakit dan keluarga, jika seseorang mengatakan dan mendoakan agar orang yang sakit ini segera mati..

Orang sakit perlu penghiburan. Bagi Ayub, penghiburannya adalah agar Tuhan segera mengakhiri hidupnya, agar dia tidak mengkhianati Tuhan..

Ia tidak akan menyangkal “firman Yang Mahakudus,” ini mungkin merujuk pada serangkaian perintah ilahi yang telah dipatuhinya sebagai orang saleh.

Yang mana teman-teman Ayub merasa, dia telah melanggar perintah Tuhan, sehingga dia dikutuk. Disini Ayub ingin membuktikan bahwa penderitaannya bukan karena dia telah berbuat dosa..

Motivasi Ayub untuk permohonan ini adalah untuk mengetahui bahwa Tuhan menerimanya sebagai hamba yang setia, bukan untuk menyingkirkan rasa sakitnya dengan cara apa pun.

Jika Tuhan mempercepat kematiannya, itu akan menjadi saksi bagi semua orang bahwa Tuhan telah mendengarnya dan mengabulkan doanya.

Seperti Musa (Bilangan 11:15) dan Elia (1 Raja-raja 19:4), mereka menginginkan Allah mengambil nyawanya, karena itu akan memberikan kelegaan besar dari penderitaannya.

Namun, mereka tidak menyatakan pilihan untuk bunuh diri tetapi menyerahkan hidupnya ke tangan Allah.

Bagi Ayub yang penting adalah integritasnya di hadapan Allah (6:10), dan ia tidak ingin sampai pada titik di mana ia menyangkal Allah.

Dalam hidup bisa saja kita berada dalam situasi yang sulit seperti Ayub. Atau saat ini kita sedang mengalaminya.

Kita ingin derita kita segera berlalu, tapi seperti Ayub, kiranya kita tetap berintegritas dalam Tuhan. penderitaan tidak membuat kita jauh dari Tuhan atau menyangkal Tuhan..

Tidak sedikit orang ketika berada pada situasi sulit, pilihanya menjauh dari Tuhan. Meninggalkan gereja dan menyangkal semua kebaikan Tuhan dimasa lalu..

Seseorang bertanya kepada CS Lewis, “Mengapa orang benar menderita?” “Mengapa tidak?” jawabnya. “Hanya mereka yang mampu menanggungnya.”

Penderitaan mengajarkan kita kesabaran. Kata-kata ini ditemukan tertulis di dinding sel penjara di Eropa:

“Aku percaya pada cinta bahkan ketika aku tidak merasakannya. Aku percaya pada Tuhan bahkan ketika Dia diam.”

Tuhan tidak menjanjikan langit yang selalu biru,

jalan setapak yang selalu dipenuhi bunga untukmu.

Tuhan tidak menjanjikan matahari tanpa hujan,

sukacita tanpa dukacita, kedamaian tanpa penderitaan.

Tetapi Dia telah menjanjikan kekuatan dari atas,

simpati yang tak pernah padam, dan kasih yang abadi.

“Berdiamlah di hadapan Tuhan dan nantikanlah Dia dengan sabar; janganlah gelisah karena orang yang berhasil dalam jalannya, atau karena orang yang melakukan perbuatan jahat!” Mazmur 37:7

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan