“Lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” — Markus 10:25

Apakah orang kaya sukar masuk sorga? Pertanyaan ini sering menjadi bahan diskusi atau ujaran dikalangan banyak orang..

Pertanyan tersebut dikutip dari perkataan Yesus, yang membuat banyak orang terkejut..

Tidak sedikit orang yang kemudian menyimpulkan, “Kalau begitu, orang kaya pasti sulit masuk surga.”

Benarkah demikian?

Apakah memiliki banyak harta membuat seseorang otomatis jauh dari Allah? Ataukah Yesus sedang mengajarkan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar soal kekayaan?

Untuk memahaminya, kita perlu melihat konteks perkataan Yesus.

Ketika Orang Kaya Datang kepada Yesus

Peristiwa ini dimulai dengan kedatangan seorang muda yang kaya (Markus 10:17–31). Ia bukan orang sembarangan. Secara moral dia orang baik. Taat menjalankan hukum taurat.

Ia datang dengan sebuah kerinduan untuk memperoleh hidup yang kekal. Kemungkinan dia tidak terlalu yakin dengan hidupnya selama ini..

Dia bertanya kepada Yesus, “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” (Markus 10:17)

Untuk menjawabnya, Yesus mengarahkan pikirannya kepada hukum moral. Yesus mengutip hukum kasih kepada sesama manusia..

Jangan membunuh, jangan berzinah,

jangan mencuri,

jangan mengucapkan saksi dusta,

jangan mengurangi hak orang,

hormatilah ayahmu dan ibumu!”

Lalu kata orang itu kepada-Nya: “Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku..”

Mendengar jawabnya, Yesus tidak memuji penurutannya kepada hukum moral tersebut. Sebaliknya Yesus memandangnya dengan penuh belas kasihan (Markus 10:21).

Selanjutnya Yesus berkata kepada-Nya,

“Juallah segala milikmu, berikanlah kepada orang-orang miskin… kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.”

Mendengar perkataan Yesus, dia bukannya gembira telah mengetahui rahasai hidup kekal. Sebaliknya raut wajahnya mengkerut..

Dengan sedih dia pergi meninggalkan Yesus. Bukan untuk pergi kepada orang miskin, sebaliknya dia pergi untuk menyangkal perkataan Yesus..

Mengapa? Karena hartanya telah menjadi penguasa hatinya.

Masalahnya bukan pada jumlah kekayaannya, melainkan pada hati, tempat kekayaan itu di dalam hidupnya.

Yesus Tidak Pernah Mengutuk Kekayaan

Alkitab tidak pernah mengatakan bahwa menjadi kaya adalah dosa. Banyak tokoh iman diberkati dengan kekayaan.

Seperti, Abraham sangat kaya dalam ternak, emas, dan perak (Kejadian 13:2).

Ayub menerima berkat yang berlimpah setelah pencobaannya (Ayub 42:10–17).

Daud dan Salomo juga memiliki kekayaan yang luar biasa.

Bahkan beberapa pengikut Yesus adalah orang-orang yang berkecukupan dan menggunakan harta mereka untuk mendukung pelayanan-Nya.

Jadi, Alkitab tidak menentang kekayaan. Alkitab hanya memberi peringatkan bahwa akar kejahatan adalah cinta akan uang.

Rasul Paulus menulis, “Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang.” (1 Timotius 6:10)

Perhatikan, bukan uang yang disebut akar kejahatan, melainkan cinta kepada uang.

Uang hanyalah alat. Hati manusialah yang menentukan apakah alat itu menjadi berkat atau menjadi berhala.

Mengapa Kekayaan Bisa Menjadi Bahaya?

Kekayaan bisa berbahayan karena kekayaan itu sering kali memberikan rasa aman yang semu. Sebab ketika seorang kaya, dia merasa dapat membeli segala sesuatu..

Dengan demikian, seseorang mulai merasa tidak membutuhkan Tuhan. Ia percaya kepada saldo rekening lebih daripada pemeliharaan Allah.

Ia merasa mampu mengendalikan hidupnya sendiri.

Itu sebabnya, Yesus berkata, “Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” (Matius 6:21)

Harta memiliki kemampuan yang hebat untuk menarik hati manusia. Itu sebabnya orang akan melakukan apa saja demi uang.

Dengan kekayaan, sedikit demi sedikit, perhatian bergeser dari Tuhan kepada kekayaan.

Yang dahulu rajin berdoa menjadi sibuk mengejar keuntungan. Yang dahulu murah hati mulai sulit memberi.

Yang dahulu mencari Kerajaan Allah kini lebih mengejar kenyamanan dunia.

Mungkin itulah yang terjadi kepada orang muda yang kaya itu. Dia terlalu nyaman dengan kekayaannya. Hatinya terikatn dengan itu, sampai dia lupa memikirkan orang miskin disekitarnya..

Melihat hati orang itu, yang sudah dikuasai kekayaannya, maka Yesus menyebutkan sebuah perkataan dalam bentuk peribahasan..

“Lebih mudah unta masuk lubang jarum dari pada orang kaya masuk surga”

Banyak penafsiran mencoba menjelaskan istilah “lubang jarum” sebagai sebuah pintu kecil di Yerusalem.

Namun bukti sejarah untuk penafsiran itu tidak meyakinkan.

Kemungkinan besar Yesus menggunakan hiperbola, yaitu gambaran yang sangat berlebihan untuk menegaskan sesuatu.

Seekor unta adalah hewan terbesar yang dikenal masyarakat Palestina saat itu.

Lubang jarum adalah salah satu lobang terkecil. Artinya secara literal, tidak mungkin unta yang besar masuk kesana..

Jadi ungkapan tersebut jelas merujuk pada suatu kemustahilan. Tidak mungkin orang kaya seperti penguasa muda itu bisa masuk kerajaan surga..

Mengapa tidak mungkin?

Salah satu alasannya adalah orang kaya cenderung memiliki rasa aman palsu atas kekayaannya. Karena kekayaan dapat memenuhi semua kebutuhan fisik dan banyak hal di luar kebutuhan..

Orang kaya cenderung mengandalkan uang mereka untuk membeli apa pun yang mereka inginkan, sehingga mereka tidak melihat alasan untuk bergantung pada Tuhan.

Jadi, masalah yang dihadapi oleh penguasa muda ini bukanlah kekayaannya, melainkan kepercayaannya terhadap kekayaannya dan pada kemampuan dirinya untuk memenuhi standar penerimaan Tuhan.

Dia ingin memasuki kerajaan Allah dan ingin menerima hidup kekal dengan caranya sendiri, melalui uangnya sendiri, dan usahanya sendiri.

Itu sebabnya, kerinduannya itu sulit terpenuhi atau tidak mungkin terpenuhi. Karena bukan seperti itu cara masuk sorga. Itu cara yang salah. Sudah pasti tidak akan sampai ke Sorga.

Pesan Yesus jelas:

Secara manusia, mustahil orang yang mengandalkan kekayaannya dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.

Tetapi Yesus segera menambahkan,

“Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah.” (Markus 10:27)

Harapan tetap ada. Bukan karena kekayaan dapat menyelamatkan. Tetapi karena kasih karunia Allah sanggup mengubah hati manusia.

Orang Kaya yang Menggunakan Hartanya untuk Tuhan

Alkitab juga memberikan contoh orang-orang kaya yang setia. Zakheus adalah pemungut cukai yang kaya raya.

Setelah bertemu Yesus, ia berkata, “Setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin…” (Lukas 19:8)

Perubahan bukan dimulai dari dompetnya. Perubahan dimulai dari hatinya.

Yusuf dari Arimatea adalah orang kaya yang menyediakan kuburnya sendiri bagi Yesus (Matius 27:57–60).

Lidia, seorang pengusaha kain ungu, membuka rumahnya untuk menjadi tempat pelayanan jemaat mula-mula (Kisah Para Rasul 16:14–15).

Mereka menunjukkan bahwa kekayaan dapat menjadi alat untuk memuliakan Tuhan ketika berada di tangan yang benar.

Ilustrasi: Pisau di Tangan Seorang Ahli Bedah

Bayangkan sebuah pisau bedah. Di tangan seorang dokter, pisau itu menyelamatkan nyawa.

Di tangan seorang penjahat, pisau yang sama dapat melukai orang.

Masalahnya bukan pada pisaunya. Masalahnya ada pada siapa yang memegangnya.

Demikian pula dengan kekayaan. Di tangan yang dikuasai keserakahan, harta menjadi berhala.

Di tangan yang dikuasai kasih Kristus, harta menjadi saluran berkat.

Pertanyaan yang Lebih Penting

Mungkin pertanyaan yang tepat bukanlah,

“Apakah orang kaya sulit masuk surga?”

Tetapi,

“Siapakah yang menjadi tuan atas hati kita?”

Apakah Kristus?

Ataukah kekayaan?

Seseorang bisa miskin tetapi sangat mencintai uang.

Sebaliknya, seseorang bisa kaya tetapi hidup sebagai penatalayan yang setia.

Allah tidak melihat jumlah harta kita. Ia melihat siapa yang menguasai hati kita.

Renungkan

Tuhan tidak memanggil semua orang percaya agar mereka miskin. Kerinduan Allah orang-orang percaya Makmur..

Namun panggilan Tuhan kepada orang percaya adalah agar kita tidak diperbudak oleh kekayaan. Harta tidak boleh menguasai hati kita..

Karena harta adalah titipan. Bukan tujuan hidup.

Bukan sumber keamanan. Karena faktanya banyak orang kaya tidak aman hidupnya..

Bukan ukuran keberhasilan rohani.

Karena itu, jika Tuhan mempercayakan banyak berkat kepada kita, kari kita gunakan untuk memberkati sesama, mendukung pekabaran Injil, menolong mereka yang membutuhkan, dan memuliakan nama-Nya.

Pada akhirnya, yang akan dibawa ke surga bukanlah rumah, kendaraan, rekening, atau investasi kita.

Yang kita bawa adalah karakter yang telah diubahkan oleh kasih karunia Kristus.

Sebab bukan orang kaya atau orang miskin yang diselamatkan.

Yang diselamatkan adalah mereka yang menaruh seluruh pengharapannya kepada Yesus Kristus.

Intinya, Alkitab tidak mengutuk kekayaan, tetapi memperingatkan bahaya ketika kekayaan mengambil tempat yang seharusnya hanya dimiliki oleh Tuhan dalam hati manusia.

Jadi, tidak sulit bagi orang kaya masuk sorga kalau mereka menaruh harapan mereka kepada Tuhan. menggunakan kekayaan untuk kemuliaan Tuhan..

Karena itu jangan takut menjadi orang kaya. Bersyukurlah untuk itu. Tuhan membutuhkan orang kaya sebagai penatalayan harta milik-Nya.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *