Bartimeus: Pelajaran Dari Seorang Buta, Sembuh Karena Iman

Teks: Markus 10:46-52

Pendahuluan

Salam sejahtera di dalam nama Yesus Kristus Tuhan kita. Mari kita membuka Alkitab kita di Markus 10:46-52.

Akhirnya saya paham mengapa orang buta kebanyakan memakai kacamata hitam. Selama ini Saya kira mereka pakai kacamata hitam untuk menutupi kebutaan mereka. Atau supaya terlihat modis dan keren.

Ada beberapa alasan mengapa orang buta suka menggunakan kacamata hitam. Misalnya untuk melindungi mata dari sinar matahari. Untuk memberitahu orang lain. Untuk estetika. dll

Menjadi orang buta sudah pasti tidak nyaman. Mereka akan terkendala memiliki pekerjaan. Sulit untuk belanja dan menyediakan makanan sendiri. Tidak bisa memilih warna pakaian.

Tidak dapat mengendarai kendaraan. Sulit mengikuti proses belajar. Dll.

Karena itu kita menemukan banyak orang-orang buta yang akhirnya menjadi pengemis. Karena itulah pekerjaan yang paling mudah dilakukan untuk mencari nafkah.

Di dalam Alkitab ada cerita tentang seorang pengemis yang buta. Dicatat di tiga kitab injil, Matius 20:29-34; Markus 10:46-52; Lukas 18:35-43.

Di Matius disebut bahwa pengemis itu dua orang. “Ada dua orang buta yang duduk di pinggir jalan mendengar, bahwa Yesus lewat, lalu mereka berseru: “Tuhan, Anak Daud, kasihanilah kami!” Mat 20:30.

Tatapi Markus dan Lukas hanya menyebut satu orang. Namun perhatikan, baik Markus maupun Lukas tidak menyatakan bahwa HANYA SATU. Mereka hanya memilih untuk fokus pada orang yang terus berseru kepada Yesus (Luk 18:39).

Siapakah Bartimeus?

Kemudian Markus mencatat salah seorang pengemis itu bernama Bartimeus. Ayahnya bernama Timues.

Tidak banyak informasi mengenai Bartimeus. Sudah berapa lama dia buta. Apakah sejak lahir atau tudak. Mengapa dia buta? Umur berapa Bartimeus, apakah masih muda atau sudah tua.

Semua informasi itu absen dalam cerita ini. Jadi informasinya pendek, ada seorang pengemis buta, namanya Bartimeus, duduk dipinggir jalan.

Dari informasi yang pendek ini, kita dapat melihat, beberapa hal tentang dia. Pertama: Status Sosialnya. Dia kelompok masyarakat yang paling rendah. Kedua: Status ekonominya orang miskin.

Disebutkan bahwa dia mengemis dipinggir jalan. Jalan dimana dia mengemis adalah jalan besar yang mungkin menghubungkan Yeriko dengan Yerusalem.

Itu tempat yang strategis bagi pengemis. Apalagi kalau menjelang paskah tiba. Jalan itu ramai dengan para peziarah menuju Yerusalem.

Berjumpa dengan Yesus

Menjelang paskan, banyak orang mendadak dermawan kepada pengemis.

Ayat 46, Lalu tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Yerikho. Dan ketika Yesus keluar dari Yerikho, bersama-sama dengan murid-murid-Nya dan orang banyak yang berbondong-bondong..

Ini adalah perjalanan terakhir Yesus dari Yeriko menuju Yerusalem. Sekaligus juga mujizat penyembuhan terakhir Yesus yang dicatat dalam Markus.

Jadi perjumpaan Yesus dengan Bartimeus adalah tidak disengaja. Tidak ada protokoler yang mengatur bahwa Yesus akan melawat Bartimeus.

Yesus hanya sambil lewat dari jalan itu. Dan Bartimeus tidak tahu bahwa Yesus akan lewat dari sana.

Ayat 47, “Ketika didengarnya, bahwa itu adalah Yesus orang Nazaret, mulailah ia berseru: “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!”

Pada waktu rombogan Yesus berjalan. Melewati jalan dimana Bartimues mengemis. Dia tidak dapat melihat rombongan itu. Dia mengandalkan telinganya untuk mendengar, apa yang sedang terjadi.

Karena suasana jalan tiba-tiba begitu riuh. Suara-suara orang berteriak, tertawa, dll, menimbulkan rasa penasaran Bartimeus.

Belum pernah suasana seramai ini dijalan itu. Intinya saat itu banyak orang berbondong-bondong mengerumuni Yesus dalam perjalanan.

Karena itu maka Bartimeus bertanya kepada orang disekiratnya, “Apa itu?” Kata orang kepadanya: “Yesus orang Nazaret lewat.” (Lukas 18:36-37).

Ketika dia dengar bahwa itu adalah Yesus, dia mulai berseru, “Yesus anak Daud kasihanilah aku..!

Pengetahuan Bartimeus tentang Yesus

Apa yang membuat Bartimeus seketika berseru memanggil nama Yesus? Apa yang dia ketahui tentang Yesus?

Bukankah dia buta? Benar dia buta. Tetapi dia masih punya telinga untuk mendengar. Yesus saat itu begitu popular. Berita tantang-Nya selalu viral. Khususnya berita-berita tentang penyembuhan.

Dan Bartimeus mendengar semua cerita itu dengan baik. Tetapi pertanyaan yang dari mana Bartimeus tahu Yesus anak Daud?

Bukankah ayah jasmani Yesus adalah Yusuf? Ibunya Maria? Mengapa dia memanggil Yesus anak Daud? Daud itu hidup ribuan tahun sebelumnya.

Ketika dia memanggil Yesus anak Daud. Bartimeus tidak sedang melihat Yesus dari sisi kemanusiaan-Nya.

Walau dia buta matanya, tetapi imannya melihat. Dia mempelajari kita taurat. Tulisan tulisan para nabi. Dia belajar nubuatan kedatangan Mesias dari keturunan Daud.

Dan dia yakin bahwa Yesus yang beritanya viral itu adalah Mesias. Maka dengan menyebut Yesus “Anak Daud,” dia menegaskan keyakinannya bahwa Yesus adalah Mesias

Saudara tahu, Kebenaran tentang Yesus sebagai Mesias tidak popular saat itu. Bahkan para pemuka agama menutup mata kepada kebenaran itu. Hanya murid-muridnya yang mengakui terus terang bahwa Yesus Mesias.

Lihat saja, pada waktu Yesus lahir. Firman Tuhan sudah jelas memberitakan, nama, tempat lahir sudah diberitahukan. Tetapi orang-orang Yahudi tidak siap. Hanya gembala dan orang majus.

Lihat saja perlakuan para pemuka agama kepada-Nya. Dibenci dan hendak dibunuh. Maka pelajaran tentang Yesus sebagai Mesias, tidak banyak diajarkan. Pelajaran yang tidak popular.

Sungguh ironis bahwa sementara sebagian besar bangsa Israel buta akan kehadiran Mesias, dua orang buta memiliki wawasan rohani dan mengakui Yesus sebagai Mesias, “Anak Daud”…

Telinganya begitu tajam kepada kebenaran. Tidak peduli orang banyak meragukannya. Tetapi dia percaya Yesus Mesias.

Jadi walaupun mata jasmani Bartimeus buta. Tetapi mata rohaninya melihat. Dia melihat kebenaran Firman Tuhan dengan jelas dan firman itu menyembuhkan dia.

Sebab sekiranya, dia tidak mengetahui kebenaran, dia akan buta sampai selamanya. Demikian juga dengan kita, kita akan buta selamanya jika tidak mengetahui kebenaran Firman-Nya. itulah sebabnya saya selalu mendorong, baca, pelajari Firman Tuhan.

Orang yang mengetahu kebenaran dan percaya kepada Firman itu seperti Bartimeus akan diselamatkan. Hosea 4:6, “Umat-Ku binasa karena kekurangan pengetahuan..”

Kita tidak mau binasa karena kurang pengetahuan. Karena itu kita harus belajar.

Terhalang bertemu Yesus

Kita Kembali kepada Bartimeus. Di perikop ini diceritakan bahwa sebanyak 2 kali dia berseru memanggil nama Yesus.

Panggilan pertama belum berhasil. Yesus terus berjalan. Seakan tidak mendengar teriakan Bartimeus. Mungkin karena suasana begitu ramai. Maka teriakan Bartimeus tenggelam ditengah keriuhan orang banyak.

Dan dalam peristiwa itu, terjadi sebuah tragedi. Yaitu mereka yang mengikuti Yesus hanya memiliki sedikit belas kasihan.

Hati mereka tidak tergerak belaskasihan kepada orang buta ini. Mereka tidak berpikir untuk mengubah nasib orang miskin ini.

Gantinya melihat Bartimeus sebagai orang yang perlu ditolong, mereka melihatnya sebagai gangguan. Itu sebabnya, banyak orang menegor dia supaya diam.

Seperti halnya orang banyak itu. Kita mungkin sering memandang orang miskin sebagai gangguan. Sehingga kita menutup pintu rumah kita bagi mereka.

Mereka semua mementingkan diri. Seharusnya mereka dapat membantu Bartimeus untuk memanggil Yesus.

Adalah sebuat tragedy bagi gereja Ketika orang-orang percaya tidak memiliki belaskasihan, kepada mereka yang menderita. Kita mengaku pengikut Yesus tetapi tidak peduli kepada orang yang susah.

Mereka yang menghalangi Bartimeus adalah orang buta sesungguhnya. Mereka menjadi batu sandungan bagi Bartimeus untuk merubah keadaannya.

Berapa banyak diantara kita yang menjadi penghalang atau batu sandungan kepada orang lain? Jangan jadi batu sandungan.

Mereka punya mata tetapi tidak melihat. Hidup mereka gelap. Karena itu mata rohani jauh lebih berharga dari mata jasmani.

Buat apa punya mata, tapi buta. Lebih baik buta, tapi melihat. Tapi lebih baik lagi dua-duanya.

Bartimeus tidak menyerah

Bartimeus disandung tapi dia tidak tersandung. Dihalangi dia lompati penghalangnya. Karena Dia tahu ini kesempatan langka. Sekali seumur hidunya. iJika ini berlalu, maka harapan untuk sembuh akan sirna.

Ingat, Setiap kali kita percaya kepada Tuhan, kita akan menghadapi rintangan.

Tetapi Bartimeus tidak ingin Yesus berlalu begitu saja tanpa menyembuhkannya. Dia percaya kepada Yesus, satu-satunya orang yang dapat memenuhi harapannya.

Karena itulah untuk kedua kalinya, semakin keras ia berseru: “Anak Daud, kasihanilah aku!”

Kata. “Semakin keras ia berseru..” Lukas menggunakan kata boao. Artinya tangisan keras. Atau teriakan dengan ekspresi yang kuat.

Matius kata krazo. Tangisan yang nyaring. Kedua kata kerja ini memberi kita gambaran kata yang jelas tentang adegan ini .

Bartimeus berteriak sambik menangis meminta tolong kepada Yesus, berkali-kali. Mengapa Sampai sebegitunya Bartimues?

Bartimeus tidak ingin melewatkan kesempatan yang berharga itu untuk berjumpa dengan Yesus. Kesempatan yang akan berlalu kalau tidak diambil.

Menggunakan waktu yang ada

Kata KESEMPATAN berasal dari bahasa Latin “ob portu.” Di zaman kuno Ketika Pelabuhan belum seperti sekarang.

Kapal yang ingin bersandar harus menunggu waktu air laut pasang kemudian kapal bisa sampai ke pelabuhan dengan aman.

Jadi kata “OB PORTU”, menggambarkan kapal yang menunggu “BERSANDAR KE PELABUHAN”.

Mereka bersiap untuk memanfaatkan momen penting ketika air pasang tiba.

Kapten tahu bahwa jika dia melewatkan air pasang yang lewat, kapal harus menunggu air pasang berikut yang datangnya tidak pasti.

Tuhan memberi kita masing-masing banyak “ob portu’s” (Kesempatan) tetapi kita harus melihat dan menangkap kesempatan itu.

Kita semua dihadapkan pada serangkaian peluang besar (ob portu’s) yang langka dan mustahil”

Singkatnya, Bartimeus memiliki kesempatan (Op Portu) yang singkat, dan dia ambil kesempatan itu dengan cepat. Dia dapat melihat.

Anak Daud kasihanilah aku. Bartimeus memiliki kebutuhan yang mendesak saat itu. Dia ingin melihat.

Bartimeus menangis untuk belaskasihan Tuhan berkali-kali. Karena dia ingin melihat. Kita perlu berdoa menangis untuk belaskasihan Tuhan seperti Bartimeus.

Karena sebagai orang berdosa kita mungkin buta secara rohani dan mata rohani kita gelap terpisah dari Terang dunia!

Bartimeus hidup dalam kegelapan, namun dia berseru dalam iman kepada Terang dunia dan sebagai hasilnya, dia tidak hanya menerima penglihatannya tetapi juga “Terang kehidupan!” (Yoh 8:12)

Adalah hal yang baik bahwa Bartimeus mencari Tuhan hari itu karena Juruselamat tidak pernah melewati jalan itu lagi!”

Belajar dari Bartimeus

Saudara, kita berlu seperti Bartimeus. Melihat diri kita sebagai orang yang buta. Melihat diri kita sebagai orang berdosa yang menuju Neraka.

Saat ini Yesus sedang melewati hatimu. Menangislah untuk belas kasihan-Nya. Mohon kepada-Nya untuk penglihatan rohani.

JANGAN tunda hari ini, karena besok akan terlambat, karena Yesus mungkin tidak akan pernah melewati hati kita lagi. (2 Kor 6:2).

Kita perlu menangis. Kasihanilah Aku..kita ini seperti Bartimeus. Yang setiap hari duduk dipinggir jalan. Artinya kondisi kita miskin, malang, buta secara rohani.

Setiap hari kita melakukan dosa, dalam pikiran, perkataan dan perbuatan, beberapa tidak kita sadari.

Kita perlu seperti pengemis buta ini, menangis memohon belas kasihan dari Yesus Imam Besar kita.

Yesus mendengar seruan Bartimeus

Satu-satunya cara seseorang dapat datang kepada Kristus adalah dengan berseru, “Yesus, kasihanilah aku. aku yang berdosa. Saya yang buta secara rohani. Tuhan, tolong berbelas kasihlah kepadaku!”

Yoel 2;32 mengatakan, “Dan barangsiapa yang berseru kepada nama TUHAN akan diselamatkan,”

Lalu Yesus berhenti dan berkata: “Panggillah dia!” Mereka memanggil orang buta itu dan berkata kepadanya: “Kuatkan hatimu, berdirilah, Ia memanggil engkau.”

Lalu ia menanggalkan jubahnya, ia segera berdiri dan pergi mendapatkan Yesus.

Bartimeus menanggalkan jubahnya pengemisnya, melambangkan iman yang sejati, yang meninggalkan semua predikat lamanya untuk mengikuti Kristus.

Tanya Yesus kepadanya: “Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Jawab orang buta itu: “Rabuni, supaya aku dapat melihat!”

Lalu kata Yesus kepadanya: “Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!” Pada saat itu juga melihatlah ia, lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya.

Kata-kata Yesus, “Imanmu telah menyelamatkan mu,” memiliki arti ganda. Pada satu satu sisi, dia “diselamatkan” secara fisik, sehingga dia sekarang bisa melihat.

Tetapi pada sisi yang lebih dalam, imannya telah menyelamatkannya secara rohani. Itulah keajaiban yang lebih besar.

Seketika Tuhan mengampuni dosa-dosanya dan memberikan kehidupan baru kepadanya, menjadikannya anak Tuhan.

Seperti yang Yesus katakan, “Barangsiapa mendengar firman-Ku, dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia memiliki hidup yang kekal, dan tidak masuk ke dalam penghakiman, melainkan telah berpindah dari maut ke dalam hidup” (Yohanes 5:24).

Jani Tuhan

Allah berjanji bahwa “barangsiapa memanggil nama Tuhan akan diselamatkan” (Rm 10:13).

Yesus menghubungkan kesembuhan Bartimeus dengan imannya. Ada banyak aspek penting dari imannya yang membuatnya siap untuk menerima berkatdari Yesus.

Imanlah yang menginginkan Yesus.

Imanlah yang mengetahui siapa Dia.

Imanlah yang tahu apa yang pantas dia terima dari Yesus.

Imanlah yang dapat memberi tahu Yesus apa yang diinginkannya.

Imanlah yang dapat memanggil Yesus Tuhan.

Iman mengubah hidup seseorang dari gelap kepada terang. Jadi kalau kita masih hidup dalam kegelapan, kita tidak beriman.

Jadi penyembuhan Bartimeus adalah gambaran cara manusia berpegang pada semua yang Yesus sediakan yaitu Iman.

Memuliakan Tuhan

Kita hanya perlu datang kepada Yesus, yakin bahwa Dia sanggup menyelamatkan. Iman itu adalah saluran di mana kebaikan Tuhan mengalir.

Namun, perhatikan bahwa iman adalah awal dari kehidupan baru, bukan hanya akhir dari yang lama.

Orang buta itu dapat melihat dan mengakhiri tahun-tahun dalam kegelapan. Karena itu dia mengikut Yesus dan memuji Tuhan.

Ini adalah sifat utama dari kehidupan baru karena iman.

“Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!” Pada saat itu juga melihatlah ia, lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya.

Iman Bartimeus menyembuhkan kebutaanya, hasilnya dia melihat, dan mengikut Yesus.

Tanda iman sejati kepada Yesus Kristus adalah bahwa orang yang diselamatkan memuliakan Tuhan dan memulai hidup baru mengikuti Yesus dan orang lain dituntun untuk memuji Tuhan.

Iman Bartimeus adalah sarana yang melaluinya keselamatan datang kepadanya. Itu adalah kuasa Allah melalui Yesus yang memberinya penglihatan.

Kekuatan dan keinginan untuk menyembuhkan sepenuhnya berada di tangan Tuhan. Iman hanyalah tangan yang menerima anugerah hidup kekal dari Tuhan.

Bahkan iman adalah anugerah dari Tuhan. Jadi tidak ada yang bisa membanggakan imannya yang besar.

Sekarang mata Bartimeus tidak buta lagi. Hidupnya telah diubahkan. Perubahan hidupnya itu telah mengubah banyak orang.

Lukas 18:43, “Seluruh rakyat melihat hal itu dan memuji-muji Allah.” banyak orang diubahkan, karena iman Bartimeus.

Bagaimana kita mengubah dunia? Bartimeus telah mengajarkannya saat ini.

Sadari keadaan kita, buta secara rohani. Menangislah untuk meminta belas kasihan Tuhan. Datang kepada Yesus.

Biarlah Dia menyembuhkan mata rohani kita yang buta. Supaya kita dapat melihat terang kebenaran Tuhan.

Dunia akan melihat iman kita. Dan mereka akan memuliakan Tuhan. Mereka akan diubahkan. Diubahkan untuk mengubah.

Bagikan:

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *