Bagaimana Menghindari Kompromi Rohani?

Kata kompromi bukan kata yang asing bagi kita. Kata itu akrab bagi kita karena kita sering kompromi dalam banyak hal dalam hidup.

Apakah itu kompromi? Apakah kita bisa kompromi? Kompromi seperti apa yang tidak boleh dan yang boleh?

Arti Kompromi

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) membuat arti kompromi adalah persetujuan dengan jalan damai atau saling mengurangi tuntutan (tentang persengketaan dan sebagainya).

Kamus Cambridge membuat definisi kompromi adalah kesepakatan dalam argumen di mana orang-orang yang terlibat mengurangi tuntutan mereka atau mengubah pendapat mereka untuk menyetujui.

Beberapa contoh kalimat sebagai berikut:

Diharapkan dalam pembicaraan hari ini akan tercapai kompromi.

Dalam kompromi antara manajemen dan serikat pekerja, kenaikan gaji empat persen disepakati sebagai imbalan atas peningkatan produktivitas.

• Pemerintah telah mengatakan bahwa tidak akan ada kompromi dengan teroris.

Dari definisi dan contoh diatas, masing-masing kita dapat mengambil kesimpulan bahwa kompromi itu ada yang bersifat positif ada juga yang negatif.

Kompromi Positif dan Negatif

Kompromi yang positif adalah kesepakatan bersama untuk saling menguntungkan tanpa melanggar prinsip hukum atau moral dan tidak ada yang dirugikan.

Sementara kompromi yang bersifat negatif adalah penerimaan standar yang lebih rendah dari yang diinginkan.

Artinya demi kesepatakan kita rela menurunkan standar hukum dan moral serta prinsip kebenaran Firman Tuhan.

Misalnya, Tuhan telah melarang seorang pengikut Kristus menyembah allah lain. Dalam keluaran 20:3, “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.”

Dengan kata lain, kita tidak boleh memiliki berhala, dan apa pun yang mengganggu persekutuan perjanjian kita dengan TUHAN.

Ini adalah prinsip hukum dan moral. Bila ini dikompromikan, maka kita telah melanggar prinsip kebenaran Firman Tuhan.

Arus Kompromi

Pada awal tahun 1900-an, sebuah kapal Amerika karam di lepas pantai Inggris. Sebenarnya, suasana laut tenang dan cuaca cerah, tetapi kapal itu terjebak dalam arus berbahaya yang perlahan-lahan membawa kapal keluar dari jalurnya.

Sebelum kapten dan awak kapal menyadari apa yang telah terjadi, kapal telah menabrak bebatuan.

Seperti halnya kapal tersebut, setiap orang percaya perlu menyadari “arus kompromi” yang kuat itu yang dapat menangkap jiwa kita dan membawa kita ke “kapal karam”. (baca 1Tim 1:18-19.

Penyimpangan rohani biasanya lambat dan tidak terlihat, dan itu terjadi ketika kita kehilangan perlawanan kuat terhadap kejahatan dan tidak ada hasrat yang kuat terhadap kebenaran yang kita ketahui!

Bahwa pertahanan terbaik melawan arus yang menghanyutkan adalah “kompas Firman Allah yang akan menjaga kita dari kehancuran rohani.”

Apakah kita memeriksa “kompas” setiap hari untuk memastikan kita tetap berada di jalur yang benar?

Bahaya Kompromi

Mengomentari bahaya KOMPROMI kita dapat belajar dari ilustrasi berikut ini:

“Di Brasil, tumbuh tumbuhan biasa, yang oleh penduduk hutan disebut matador, atau “pembunuh”.

Batangnya yang ramping mula-mula merayap di sepanjang tanah; tetapi segera setelah ia bertemu dengan pohon yang kuat, kemudian, dengan cengkeraman yang melekat, ia menempel padanya, dan memanjatnya, dan, saat memanjat, terus, dalam jarak pendek, mengirimkan sulur-sulur seperti lengan yang memeluk pohon itu.

Saat si pembunuh naik, pengikat ini tumbuh lebih besar, dan menggenggam lebih erat. Naik, naik, naik seratus kaki, bahkan dua ratus jika perlu, sampai puncak menara tertinggi terakhir diperoleh dan dibelenggu.

Kemudian, seolah-olah dalam kemenangan, benalu itu menembakkan kepala bunga yang besar di atas puncak yang tercekik, dan dari sana, dari mahkota pohon yang mati, menyebarkan benihnya untuk melakukan lagi pekerjaan kematian.

Ilustrasi diatas menggambarkan bagaimana keduniawian telah mencekik lebih banyak gereja daripada yang pernah dilakukan oleh penganiayaan.”

Tokoh Alkitan tidak kenal kompromi

Daniel seorang yang berintegritas (secara moral sehat, jujur, bebas dari pengaruh atau motif yang merusak) dan seorang pria yang “tidak berkompromi” dari awal hingga akhir!

Dalam catatan Daniel 1:8 kita membaca bahwa sebagai seorang pemuda “Daniel membulatkan tekadnya (KJV = niat dalam hatinya) bahwa dia tidak akan menajiskan dirinya dengan makanan pilihan raja atau dengan anggur…Jadi dia meminta izin dari komandan para pejabat agar dia tidak menajiskan dirinya sendiri.”

Daniel terus menjadi orang yang berintegritas sampai akhir, Kitab Suci mencatat bahwa Daniel, Ketika berusia sekitar 80-an, menolak untuk berkompromi dengan “dekrit larangan berdoa” raja dan “terus berlutut tiga kali sehari, berdoa dan memberi terima kasih di hadapan Tuhannya, seperti yang telah dia lakukan sebelumnya.” (Dan 6:10)

Daniel menolak untuk berkompromi dan Tuhan mengangkatnya ke posisi terkemuka sepanjang hidupnya.

Ketika kita meniru sikap Daniel (bdk. Ibr 6:12) dan menerima kedaulatan Tuhan bagi kita, kita dapat sukses, apa pun bentuknya.

Jika ada godaan untuk mengkompromikan prinsip Anda, jangan menyerah. Kita harus berani menjadi Daniel!

Daniel tidak berkompromi karena Daniel memiliki keyakinan.

Ketiga rekan Daniel, Sadrakh, Mesakh dan Abednego, juga adalah orang-orang beriman yang perkasa, orang-orang yang “tidak berkompromi,” wawlau ada ancaman hukuman mati oleh Nebukadnezar, jika mereka tidak menyembah patung berhalanya.

“Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.” (Dan 3:17-18)

Yusuf adalah seorang orang yang “tidak berkompromi” bahkan ketika istri Potifar mencoba membujuk Yusuf dengan berbisik lembut “Tidurlah denganku,” Yusuf dengan tegas menolak.

Dia katakan, “Dengan bantuanku tuanku itu tidak lagi mengatur apa yang ada di rumah ini dan ia telah menyerahkan segala miliknya pada kekuasaanku, bahkan di rumah ini ia tidak lebih besar kuasanya dari padaku, dan tiada yang tidak diserahkannya kepadaku selain dari pada engkau, sebab engkau isterinya. Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?” (Kej 39:7-9)

Mazmur terpanjang dalam Alkitab dimulai dengan gambaran tentang pria dan wanita yang berintegritas dan “tanpa kompromi.”

“Berbahagialah orang-orang yang hidupnya tidak bercela, yang hidup menurut Taurat TUHAN…yang juga tidak melakukan kejahatan, tetapi yang hidup menurut jalan-jalan yang ditunjukkan-Nya.” (Mzm 119:1,3).

Dalam PB, Paulus membahas masalah kompromi pada orang-orang kudus di Korintus dengan mengutip Allah sendiri yang memanggil mereka untuk “KELUAR” dari antara mereka dan PISAHKAN dirimu,” Firman Tuhan. “dan JANGAN MENJAMAH apa yang najis dan aku akan menerima kamu.” (2 Korintus 6:17).

Yesus mengajarkan bahwa “Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Mat 6:24)

Rasul Petrus memenrintahkan kita “Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu,” (1Ptr 1:14-15).

Menghindari kompromi

Jadi apa pesan yang kita dapat terapkan? Bagi pengikut Kristus, hasil yang menyedihkan dari kompromi dengan dunia sangat mirip dengan pohon anggur “matador” yang menakutkan, yang mencekik kehidupan dari pohon induknya!

Memang, kompromi dengan dunia akan “mencekik” “kehidupan rohani” orang percaya dan gereja.

Seperti yang dikatakan John Blanchard, “Jika Anda menahan sesuatu dari Tuhan, maka Tuhan menahan sesuatu dari Anda!….

Kita tidak boleh puas dengan HARMONI/KESELARASAN dengan mengorbankan KEKUDUSAN, atau DAMAI dengan mengorbankan PRINSIP.”

Mereka yang mengikuti orang banyak dengan cepat tersesat di dalamnya.

Apa pun yang mengambil TEMPAT Tuhan adalah KELUAR DARI TEMPATNYA!” Atau Bagian tengah jalan adalah tempat yang buruk untuk berjalan.

Ini adalah tempat yang buruk untuk dikendarai. Ini adalah tempat yang buruk untuk hidup!…

Contoh orang kompromi adalah jemaat di Pergamus dan Tiatira, akibatnya Bileam dan Izebel mengambil keuntungan dari toleransi palsu dan merusak kehidupan gereja.

Kadang-kadang kita salah mengira kompromi sebagai amal dan MEMBERIKAN apa yang seharusnya kita PUTUSKAN!”

Spurgeon mengatakan, “Jika Anda menyerah hari ini, Anda akan menyerah besok.”

Dan akhirnya seperti yang dikatakan Malcolm Watts “Kita bisa tahu kapan kita telah dipengaruhi oleh dunia. Itu adalah saat kita menemukan diri kita tidak panas atau dingin, hanya dikompromikan. (Wahyu 3:15, 16)

Kita harus memutuskan: Untuk mengikuti Tuhan dengan sepenuh hati.

Kita harus memutuskan: Apakah orang lain melakukannya atau tidak, saya akan melakukannya.

Jadi, jangan kompromikan prinsip kebenaran, hukum dan moral supaya dapat berterima.

Bagikan:

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *