Bagaimana Mengerti Trinitas Keallahan

[pastordepan.com] Salah satu perbedaan yang paling penting dan menonjol antara manusia dari hewan ialah bahwa manusia mendapat karunia berpikir logis sedangkan hewan tidak. Dalam membaca Kitab Suci,1 kita sebagai manusia yang berpikir logis ini, sering mengalami kesulitan untuk mengerti perihal keesaan Allah yang dinyatakan dalam tiga pribadi, atau yang lazim disebut dengan sebutan trinitas.

Pertanyaan yang sering dilontarkan ialah, “Bagaimana mungkin satu (esa) tetapi tiga pribadi atau tiga pribadi tetapi satu (esa)?” Menurut ilmu berpikir atau logika manusia hal itu tidak mungkin. Kalau satu ya satu. Kalau tiga ya tiga. Tidak mungkin satu tetapi tiga dan tiga tetapi satu.

Namun karena Kitab Suci adalah penyataan Allah yang tidak bisa salah dalam menyatakan jalan, kebenaran dan kehidupan (keselamatan) kepada manusia, maka pada kesempatan ini marilah kita mengizinkan Kitab Suci itu sendiri menerangkan dirinya sendiri tentang makna keesaan Allah yang sesungguhnya.

Tulisan ini akan menolong sesama pencari kebenaran untuk melihat hal ini dari sudut pandang Kitab Suci itu sendiri, bukan sebaliknya menggunakan sudut pandang kita untuk mengerti sudut pandang Kitab Suci.

Setelah mengikuti analisis dalam tulisan ini, melalui pertolongan Roh Kudus, para pembaca diharapkan mengerti bahwa keesaan Allah selaras dengan trinitas.

Arti Trinitas

Sebenarnya kata trinitas itu sendiri tidak terdapat dalam Kitab Suci dan itu bukanlah istilah yang digunakan Kitab Suci.2 Walaupun Tertullian menggunakan kata itu pada akhir dekade abad kedua sesudah Masehi, kata itu belum digunakan secara formal dalam dunia teologi hingga pada abad keempat.3

Sebenarnya apakah arti kata trinitas itu? Trinitas adalah satu istilah yang digunakan para teolog Nasrani untuk menerangkan Sang Ilahi yang adalah Pencipta, Pemelihara dan Penyelamat umat manusia yang dinyatakan dalam Kitab Suci sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus.4

“Ketiga pribadi” ini bukan berarti tiga Allah dalam pengertian bilangan matematika, tetapi tiga dalam arti peran yang unik dan khas yang ditampilkan oleh Bapa, Anak dan Roh Kudus dalam pelaksanaan rencana keselamatan umat manusia.

Karena istilah trinitas tidak terdapat dalam Kitab Suci, sebagian teolog lebih memilih untuk menggunakan istilah triunitas gantinya trinitas sebab ini lebih cocok menyatakan kesatuan dan keesaan dari Bapa, Anak dan Roh Kudus.5

Jadi entah seorang memilih menggunakan trinitas atau triunitas tidak menjadi soal. Yang penting diketahui ialah bahwa istilah tersebut tidak boleh dipandang dalam pengertian bilangan matematika tetapi harus dalam konsep rencana dan pewujudan keselamatan manusia berdosa oleh Sang Ilahi yang adalah Pencipta, Pemelihara dan Penyelamat.

Konsep Trinitas dalam Kisah Penciptaan7

Firman Tuhan berkata, “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi.8

Bila kita perhatikan dengan saksama pada petikan di atas terdapat kata “Allah,” “Roh Allah,” dan “…Firman Allah” yang aktif dalam penciptaan bumi dan semua yang ada di dalamnya, termasuk manusia.

Sudah barang tentu Allah tidak menciptakan bumi dan kemudian meninggalkannya. Allah senantiasa menopang segalanya agar tetap eksis dan berfungsi sesuai dengan rencana-Nya. Paulus menandaskan hal ini di Atena dengan mengatakan, “Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada.”9

Keberadaan dan kehidupan kita dimungkinkan hanya karena karya penciptaan dan pemeliharaan Sang Khalik, Pemelihara dan Penyelamat.

Konsep Trinitas dalam Kisah Penebusan

Yohanes yang menulis kisah penjelmaan Firman dalam wujud yang dapat dilihat oleh manusia berkata sebagai berikut, “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.

Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.”10

Kemudian dia meneruskan lagi, “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.”11

Jelaslah bahwa adanya sebutan Bapa dan Anak Tunggal untuk Allah pada ayat-ayat di atas adalah untuk menekankan kasih karunia Allah, bukan dalam pengertian biologis jasmani manusia, tetapi dalam rencana keselamatan manusia.

Dalam suratnya Yohanes juga menulis, “Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah.”12

Kasih Allah

Pengangkatan manusia menjadi anak-anak Allah dimungkinkan oleh iman kepada Sang Firman yang menjelma. “… semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.”13

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.”14

Sebelum Sang Firman yang menjelma ini memulai misi penyelamatan-Nya, Dia dipenuhi dan dikuasai oleh Sang Roh dalam kisah penciptaan tadi.

Yohanes menulis, “… aku pun tidak mengenal-Nya, tetapi Dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku: Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus. Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah.”15

Hal ini juga disebutkan dengan kata-kata lain tetapi mempunyai makna atau konsep yang sama oleh Matius,

“Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari surga yang mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.”16

Jelaslah sudah bahwa adanya sebutan Bapa, Anak dan Roh Allah adalah karena kasih Allah yang menyelamatkan manusia.

Konsep Trinitas dalam Penyembahan

Dalam penglihatan tentang penyembahan yang dituliskan oleh Yohanes dalam Kitab Wahyu, dia menulis, “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa, yang sudah ada dan yang ada dan yang akan datang.”17 Tiga kali sebutan “kudus” disampaikan kepada Tuhan Allah.

Tuhan Allah yang dimaksud adalah “Dia yang duduk di atas takhta,”18 yang layak menerima “puji-pujian dan hormat dan kuasa” karena Ia telah “menciptakan” segala sesuatu.19

Ucapan “kudus” itu juga ditujukan kepada “Anak Domba”20 yang maknanya adalah Yesus yang menghapus dosa manusia di dunia.21 Ucapan “kudus” itu juga ditunjukkan kepada “tujuh obor menyala-nyala di hadapan takhta itu: itulah ketujuh Roh Allah.”22

Dengan demikian kalau Anak Domba itu adalah Yesus dan tujuh obor adalah Roh Allah, maka Dia yang duduk di atas takhta adalah Bapa. Jadi Bapa, Anak dan Roh Kudus terlihat dalam penyembahan surgawi setelah penciptaan dan penebusan berlangsung sukses.

Gunakan Logika Kitab Suci

Kesulitan para pencari kebenaran mengerti hal trinitas ialah karena mereka coba menggunakan logika bilangan matematika terhadap hal-hal rohani.

Karena sebutan Kitab Suci tentang Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah hal rohani-bukan hal ilmu bilangan-maka sudah logislah tidak kompatibel (cocok) mengerti hal itu berdasarkan kaidah yang non-rohani.

Paulus menyebutkan prinsip ini dengan kata-kata sebagai berikut, “kami berkata-kata tentang karunia-karunia Allah dengan perkataan yang bukan diajarkan kepada kami oleh hikmat manusia, tetapi oleh Roh.

Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.18

Sebutan Bapa, Anak dan Roh Kudus berasal dari Roh Allah yang mengilhami penulis Kitab Suci. Bagi manusia duniawi ini tidak masuk akal-tidak logis-yang menurut Paulus disebut dengan istilah satu kebodohan.

Jadi selama seseorang masih menggunakan logika duniawi yang artinya tanpa bantuan Roh Allah yang mengilhami penulis dan tentu juga pembaca, hal trinitas adalah satu kebodohan alias tidak logis.

Tetapi pada saat pembaca membaca Kitab Suci-termasuk topik trinitas-diilhami Roh Kudus yang adalah sumber sebutan Bapa, Anak, dan Roh Kudus itu, saat itu juga pasti mereka mengerti dengan benar apa yang dikatakan Roh itu.

Kesimpulan

Konsep trinitas atau triunitas jelaslah bukan konsep matematika. Itu konsep kasih karunia Allah yang menciptakan dan menyelamatkan manusia seperti Anda dan saya.

Dia patut dimuliakan, dipuji, dan dihormati karena Dia telah menjadikan manusia bahkan mengorbankan hidupnya agar manusia selamat.

Bila para pencari kebenaran yang rindu mengerti masalah “satu tetapi tiga, dan tiga tetapi satu,” alamilah lebih dulu kuasa kasih keselamatan-Nya, maka melalui pertolongan Roh Kudus-Nya, hal ini akan menjadi jelas.

Pengertian ini hanya akan dapat dimengerti dengan cara mengenal kasih Allah yang mahabesar kepada manusia yang dosanya sangat besar.

Di Tulis oleh:Pdt. J. F. Manullang

Referensi:

  1. Kitab Suci yang dimaksud di sini adalah Alkitab, Perjanjian Lama dan Baru.
  2. J. D. Douglas, ed., The New Bible Dictionary (Grand Rapids, Michigan: Wm. B. Eerdmans Publishing Company, 1979), s. v. “Trinity.”
  3. Walter A. Elwell, ed., Evangelical Dictionary of Theology (Grand Rapids, Michigan: Baker Book House, 1989), s. v. “Trinity”.
  4. Paul Enns, The Moody Handbook of Theology (Chicago: Moody Press, 1989), hlm.199.
  5. Ibid.
  6. Kitab Kejadian adalah kitab pertama dari lima kitab Musa yang disebut dengan istilah Pancajilid yaitu Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan.
  7. Kejadian 1:1-3
  8. Kisah 17:28
  9. Yohanes 1:1-4
  10. Yohanes 1:14
  11. 1 Yohanes 3:1
  12. Yohanes 1:12
  13. Yohanes 3:16, 17
  14. Yohanes 1:33, 34
  15. Matius 3:16, 17
  16. Wahyu 4:8
  17. Wahyu 4:9, 10
  18. Wahyu 4: 11
  19. Wahyu 5:12
  20. Yohanes 1:29
  21. Wahyu 4:5
  22. 1 Korintus 2:13, 14
Bagikan:

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.