• Tak Berkategori

Bagaimana Membangun Kepercayaan Kepada Tuhan?

Ada kebutuhan dasar manusia untuk percaya. Kita semua percaya sesuatu atau seseorang. Ketika kita memutar kunci mobil kita, kita percaya bahwa mesin akan menyala.

Ketika kita pergi untuk mengunjungi dokter kita, kita percaya bahwa dia akan bisa membantu kita.

Ketika kita menelepon polisi, kita percaya bahwa mereka akan datang menolong. Kalau kita akan turun tebing bergantung pada tali, kita percaya bahwa orang di atas tidak akan melepaskan tali, dan kita percaya bahwa talinya tidak akan putus.

Kepercayaan adalah kebutuhan dasar manusia, karena hubungan dibangun atas dasar kepercayaan. Memenuhi kebutuhan ini meningkatkan apa yang psikolog sebut dengan “keterikatan yang aman”.

Kita belajar untuk mempercayai orang-orang yang peduli dan peka terhadap kebutuhan kita, yang terbukti dapat kita percaya dan andalkan.

Kepercayaan atau ketidakpercayaan?

Erik Erikson, seorang psikolog terkenal, memulai konsep delapan pertanyaan penting yang harus dipecahkan dalam hidup.

Dilema pertama dan yang paling mendasar yang manusia harus memutuskan adalah kepercayaan atau ketidakpercayaan.

Bahkan bayi dan balita mulai percaya atau tidak percaya sejak awal kehidupan. Dalam hidup ini siapa yang bisa saya percayai?

Sayangnya, beberapa menyimpulkan bahwa mereka tidak bisa mempercayai siapa pun. Kamus Bahasa Inggris Random House mendefinisikan kepercayaan sebagai:

“Kepastian, keyakinan, iman, jaminan, kepercayaan diri. Percaya menyiratkan keyakinan naluriah tanpa ragu dalam ketergantungan pada sesuatu atau seseorang. “

Penyembuhan kolam betesda (Yohanes 5:1-18)

Seorang lumpuh tergeletak menunggu disamping Kolam Betesda, dimana teman-temannya telah membawanya.

Selama tiga puluh delapan tahun ia datang ke tempat yang sama, berharap bahwa ketika air beriak, seseorang akan berada di sana untuk membantu dia menjadi yang pertama masuk ke dalam kolam, agar ia bisa disembuhkan.

Tapi tidak ada satu orangpun yang datang untuk membantu dia. Setelah kekecewaan yang berulang kali sebelumnya, ia berbaring di tikar jerami.

Suatu hari ia mendongak dan melihat wajah yang lembut dan penuh penuh kasih membungkuk di atasnya dan mendengar sebuah pertanyaan yang hampir luar biasa:

“Maukah engkau sembuh?” Sayangnya dia menjawab menegadah kepada sang Pembicara yang ia tidak kenali, “Tuhan, tidak ada orang yang mau menolongku untuk menjadi sembuh.”

Lalu Yesus berbicara dengan suara yang lembut dan dengan senyum,”Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah. “

Pria itu siap untuk disembuhkan dan bahkan tidak mempertanyakan Yesus. Dia mempercayai perintahNya.

Seketika “setiap saraf dan otot bergairah dengan kehidupan baru, dan kesehatan mendatangi tubuhnya yang lumpuh. . . Melompat tinggi, dia menemukan dirinya dapat beraktifitas kembali.”

Seseorang yang lumpuh tidak lagi lumpuh! Dia bisa berjalan! Dia bisa melompat! Dia bersukacita dalam kekuatan barunya.

Kebahagiaan membanjiri hatinya saat ia bergegas berjalan untuk membagikan kabar baik itu dengan keluarganya yang terheran-heran.

Orang lumpuh itu percaya. Dia percaya. Dia mengambil tindakan. Dia ingin bangun, dan dia bangun, dan dia berjalan. Yesus berbicara langsung kepada keinginannya.

“Dapatkah kamu mempercayai Aku?” Kepercayaan yang tertinggi adalah transaksi dimana melalui tindakan yang berdaulat dari apa yang diingini, kita menempatkan hidup kita tanpa syarat ke tangan Pencipta kita dan Penebus kita.

Bagaimana jika pria itu ragu bahwa Yesus akan menyembuhkannya? Bagaimana jika di kepalanya ia berkata, “Yah, sembuhkan saya lebih dahulu, baru kemudian aku akan mencoba untuk bangun”?

Pria ini percaya sepenuhnya dan sepenuhnya ia sembuh.

Sangat menarik bahwa Yesus sering berkata kepada mereka yang Ia sembuhkan, “Imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!”4.

Jika Anda menderita beberapa masalah kesehatan, apakah ini permohonan hati Anda? Apakah Anda mengatakan, “Itulah yang aku inginkan. Penyembuhan yang sempurna. Saya ingin sembuh! “

Percaya, apakah itu?

• Kepercayaan adalah jantung dari sebuah hubungan. Kepercayaan merupakan ukuran dari sebuah hubungan.

• Untuk sepenuhnya percaya, kita perlu menyingkirkan apapun yang menghalangi hubungan itu.

Orang lumpuh di Kolam Bethesda percaya kepada Yesus, dan hidupnya berubah. Dia menaruh kesehatannya di tangan Tabib Agung.

Kita juga dapat menempatkan masalah kesehatan kita di tangan Yesus.

Bagaimana cara membina hubungan kepercayaan dengan Tuhan?

  1. Melalui doa.
  2. Dengan membaca Alkitab dan menuntut janji-janjinya.

Filipi 4:6 mengatakan,

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.”

Dengan kata lain, tidak ada yang terlalu sulit bagi Allah. Dia memiliki ribuan cara untuk menolong kita.

Dengan kekuatan dinamit-Nya, Dia dapat melakukan apa saja yang Ia telah tetapkan. Diatas segalanya, Dia akan memberi kita damai-Nya di tengah-tengah dunia yang bermasalah ini.

Ini adalah kedamaian yang melampaui segala akal manusia. Tuhan yang mengasihi kita memiliki cara-cara yang tak terlukiskan, menakjubkan, dan yang luar biasa untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan kita, jika kita menyatakan permintaan kita kepada-Nya.

Sebuah dunia kebohongan dan pikiran yang keliru

Salah satu masalah manusia yang besar adalah bahwa kita hidup didalam dunia kebohongan. Kebohongan seperti, Kamu tidak berarti.

Kebohongan seperti, Lakukan apapun yang ingin kamu lakukan, selama kamu berbahagia. Ini adalah pikiran yang keliru.

Jutaan orang percaya pada kebohongan. Buku-buku psikologi yang mengisi toko buku kita mengatakan kepada kita bahwa semua yang perlu Anda lakukan adalah percaya diri.

Yang benar adalah bahwa rekening bank, pekerjaan, posisi, dan orang-orang bisa berada di sini hari ini dan lenyap besok.

Beberapa percaya kebohongan bahwa mereka bisa makan apa pun yang mereka inginkan, berolahraga sedikit atau tidak sama sekali, menggunakan narkoba, membohongi pasangan mereka – dan masih bisa menjadi sehat dan bahagia. Itu bohong! Itu adalah pikiran yang keliru!

Jutaan saat ini mempercayai kebohongan tentang Tuhan. Mereka percaya kebohongan bahwa Allah tidak mencintai mereka.

Mereka percaya kebohongan bahwa Allah bertanggung jawab atas penyakit mereka. Jutaan lainnya percaya kebohongan bahwa tidak ada Allah.

Kita hidup di dunia penuh dengan keraguan. Hingga kini, kita telah diajarkan untuk mempertanyakan kepercayaan kita. Mungkin sudah waktunya untuk mempertanyakan keraguan kita.

Siapa yang benar-benar bisa Anda percaya?

Dapatkah Anda percayai diri Anda sendiri?

Apakah Anda memiliki semua jawaban yang tepat untuk segala sesuatu yang tidak diketahui dalam hidup ini?

Dapatkah Anda percaya kepada pendapat umum? Siapa yang Anda percaya ketika krisis memukul atau Anda memiliki masalah medis yang serius?

Apakah Anda percaya kepada kekayaan, harta, dan kekayaan materi?

Amsal 3:5-6 berkata, “Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.

Bagikan:

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *