Dari Banyak Kitab Menjadi Satu Alkitab

Setelah mempelajari bagaimana Alkitab ditulis, bahan yang digunakan, bahasa aslinya, dan bagaimana naskah-naskahnya dipelihara, sekarang kita masuk ke pertanyaan berikutnya:

Bagaimana kumpulan tulisan yang berasal dari masa, penulis, dan situasi yang berbeda akhirnya menjadi satu Alkitab?

Pertanyaan ini penting. Sebab Alkitab bukanlah satu buku yang ditulis sekaligus oleh satu orang.

Alkitab terdiri dari banyak kitab dengan bentuk sastra, latar belakang sejarah, dan tujuan penulisan yang beragam.

Ada kitab sejarah, hukum, puisi, nubuat, Injil, surat, dan tulisan apokaliptik.

Sebagian besar Perjanjian Lama ditulis dalam bahasa Ibrani, sementara beberapa bagiannya menggunakan bahasa Aram. Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani.

Namun, semua kitab itu kemudian dikenal sebagai bagian dari satu kumpulan Kitab Suci.

Bagaimana prosesnya berlangsung? Siapa yang menentukan kitab mana yang termasuk dalam Alkitab?

Apakah proses ini terjadi dalam satu peristiwa, atau melalui perjalanan sejarah yang panjang?

Mari kita mempelajarinya.

1. Alkitab bukan satu buku yang langsung jadi

Ketika kita memegang Alkitab modern, kita melihat sebuah buku dengan sampul, daftar isi, pembagian pasal, dan nomor ayat.

Bentuk ini terasa biasa bagi kita. Namun, kita tidak boleh membayangkan bahwa Alkitab sejak awal hadir dalam bentuk seperti itu.

Pada zaman kuno, tulisan-tulisan diproduksi dan disimpan dalam bentuk naskah, termasuk gulungan.

Berbagai tulisan dapat beredar, digunakan, disalin, dan diwariskan dalam lingkungan masyarakat yang berbeda.

William M. Schniedewind, dalam bukunya, How the Bible Became a Book, membahas perubahan penting dalam sejarah Israel kuno:

tradisi yang sebelumnya diwariskan secara lisan semakin dituangkan ke dalam tulisan. Ia menyebut proses ini sebagai tekstualisasi Israel kuno.

Perubahan tersebut bukan sekadar soal memindahkan kata-kata dari ucapan ke tulisan.

Ketika sebuah ajaran atau tradisi dituangkan ke dalam teks, tulisan itu dapat disimpan, disalin, dipelajari, dan digunakan kembali oleh generasi berikutnya.

Dengan demikian, sejarah Alkitab perlu dipahami sebagai sebuah perjalanan panjang. Kita perlu membedakan setidaknya tiga hal:

• Penulisan: bagaimana suatu teks dihasilkan.

• Pemeliharaan dan transmisi: bagaimana teks disalin dan diwariskan.

• Pembentukan kanon: bagaimana kitab-kitab tertentu diakui sebagai bagian dari Kitab Suci.

Ketiganya saling berkaitan, tetapi bukan proses yang sama.

Sebuah tulisan dapat sudah ada sebelum kumpulan kitab yang memuatnya terbentuk. Demikian juga, sebuah teks dapat disalin selama berabad-abad tanpa berarti proses penentuan kanonnya berlangsung pada waktu yang sama.

2. Apa Arti kanon Alkitab?

Sebelum membahas sejarahnya, kita perlu memahami istilah kanon.

Kata kanon digunakan untuk menyebut kumpulan kitab yang diakui sebagai Kitab Suci yang berotoritas dalam suatu komunitas iman.

Dalam pembahasan Alkitab, pembentukan kanon berarti proses sejarah ketika kitab-kitab tertentu diterima dan diakui sebagai bagian dari kumpulan Kitab Suci.

Kita perlu berhati-hati di sini. Ada perbedaan antara sebuah tulisan yang dipandang berotoritas dan sebuah tulisan yang sudah termasuk dalam kumpulan kanon yang batas-batasnya jelas. Kedua hal ini tidak selalu muncul pada waktu yang sama.

Lee Martin McDonald, dalam The Biblical Canon, menekankan kompleksitas sejarah pembentukan kanon.

Penelitiannya memperlihatkan bahwa proses ini melibatkan berbagai bukti sejarah, penggunaan kitab dalam komunitas, serta perkembangan pengakuan terhadap kitab-kitab tersebut.

Tidak semua persoalan mengenai waktu dan batas kanon dapat dijawab secara sederhana.

Jadi, ketika kita bertanya, “Siapa yang menentukan kitab-kitab Alkitab?”, kita tidak boleh langsung membayangkan satu orang atau satu pertemuan yang memilih semua kitab sekaligus.

Kita perlu mempelajari bagaimana kitab-kitab itu digunakan, diwariskan, dan diakui dalam kehidupan umat Allah.

3. Bagaimana Kitab-Kitab Perjanjian Lama Dihimpun?

Perjanjian Lama memiliki sejarah yang panjang. Tulisan-tulisannya berasal dari berbagai periode dan mencakup hukum, sejarah, puisi, hikmat, serta nubuat.

Dalam tradisi Yahudi, kumpulan Kitab Suci dikenal dalam tiga kelompok besar:

  1. Taurat — pengajaran atau hukum.
  2. Nabi-nabi — kitab-kitab yang berkaitan dengan para nabi dan kesaksian kenabian.
  3. Tulisan-tulisan — kumpulan kitab lain, termasuk Mazmur dan kitab-kitab hikmat.

Pembagian ini dikenal sebagai Tanakh, yang namanya berasal dari huruf awal ketiga kelompok tersebut.

Namun, ketiga kelompok itu tidak berarti bahwa semua kitab langsung dihimpun dan diakui pada satu waktu.

Taurat dan otoritas tulisan

Salah satu perkembangan penting adalah semakin kuatnya kedudukan tulisan dalam kehidupan keagamaan Israel.

Schniedewind membahas bagaimana istilah Torah, yang pada awalnya dapat berarti pengajaran atau instruksi, juga berkembang dalam konteks tradisi tertulis.

Dalam 2 Tawarikh 17:9, para pengajar membawa kitab Taurat TUHAN dan mengajarkannya kepada masyarakat. Gambaran ini menunjukkan pentingnya teks tertulis dalam penyampaian pengajaran agama.

Tulisan memungkinkan pengajaran diwariskan dan dipelajari melampaui kehadiran langsung orang yang menyampaikannya.

Dari Taurat menuju kumpulan kitab yang lebih luas

Seiring perjalanan sejarah, kitab-kitab lain juga memperoleh kedudukan penting dalam kehidupan umat Yahudi.

Pengakuan terhadap Taurat, Nabi-nabi, dan Tulisan-tulisan berkembang melalui sejarah yang panjang.

McDonald meneliti berbagai bukti yang digunakan untuk memahami perkembangan tersebut, termasuk prolog kitab Sirakh, tulisan-tulisan Yahudi kuno, dan rujukan dalam Perjanjian Baru.

Bukti-bukti itu membantu peneliti memahami perkembangan kumpulan Kitab Suci, meskipun tidak semua pertanyaan tentang batas dan waktu kanon dapat diselesaikan dengan kepastian yang sama.

Hal penting: kita tidak seharusnya menyederhanakan sejarah Perjanjian Lama seolah-olah seluruh kitabnya baru dipilih dalam satu rapat pada satu tanggal tertentu.

4. Apakah Yesus Mengenal Kitab Suci sebagai Kumpulan yang Berotoritas?

Dalam Perjanjian Baru, kita menemukan bahwa Yesus menggunakan Kitab Suci dalam pengajaran dan pelayanan-Nya.

Salah satu contoh terdapat dalam Lukas 24:44. Yesus menyebut hukum Taurat Musa, kitab nabi-nabi, dan kitab Mazmur.

Ayat ini penting karena memperlihatkan bahwa kelompok-kelompok tulisan tersebut dikenal dalam kerangka Kitab Suci yang digunakan oleh Yesus.

Yesus juga berulang kali merujuk kepada Kitab Suci ketika mengajar dan menjawab pertanyaan. Dalam Matius 4:4, 7, dan 10, misalnya, Ia menjawab pencobaan dengan mengutip tulisan Kitab Suci.

Namun, kita perlu membedakan dua pertanyaan:

• Apakah suatu kitab digunakan dan dipandang berotoritas?

• Apakah batas seluruh kumpulan kitab yang diakui sudah ditetapkan secara persis?

Kedua pertanyaan itu berkaitan, tetapi tidak identik. Penggunaan sebuah tulisan sebagai Kitab Suci tidak otomatis menjawab seluruh persoalan sejarah mengenai batas kanon.

5. Bagaimana Kitab-Kitab Perjanjian Baru Diakui?

Perjanjian Baru berisi empat Injil, Kisah Para Rasul, surat-surat, dan kitab Wahyu. Kitab-kitab ini muncul dalam lingkungan gereja Kristen awal yang tersebar di berbagai wilayah.

Para rasul dan pemberita Injil menyampaikan ajaran tentang Yesus Kristus. Sebagian kesaksian itu diwariskan secara lisan, sedangkan sebagian lainnya dituangkan ke dalam tulisan.

Surat-surat para rasul dibacakan dan digunakan dalam kehidupan jemaat.

Kolose 4:16, misalnya, menunjukkan adanya praktik saling membaca surat di antara jemaat. Dalam 1 Tesalonika 5:27, Paulus meminta agar suratnya dibacakan kepada semua saudara seiman.

Hal ini memperlihatkan bahwa tulisan-tulisan Kristen sejak awal memiliki fungsi nyata dalam kehidupan komunitas.

Mengapa diperlukan pengakuan terhadap kumpulan kitab?

Ketika gereja berkembang, berbagai tulisan beredar dengan nama, isi, dan tingkat penerimaan yang berbeda.

Gereja perlu mempertimbangkan tulisan mana yang layak diterima sebagai Kitab Suci yang berotoritas.

McDonald membahas beberapa faktor yang digunakan dalam penelitian sejarah kanon Perjanjian Baru, antara lain:

• Hubungan apostolik: keterkaitan tulisan dengan para rasul dan kesaksian apostolik.

• Kesesuaian ajaran: keselarasan dengan iman yang diterima gereja.

• Kekunoan: hubungan tulisan dengan masa awal gereja.

• Penggunaan: penerimaan dan penggunaan tulisan dalam komunitas Kristen.

Faktor-faktor tersebut merupakan kerangka yang dibahas dalam studi kanon. Namun, kita tidak boleh menganggap setiap faktor diterapkan secara seragam di semua tempat atau bahwa setiap keputusan historis berlangsung tanpa perdebatan.

Apakah semua kitab langsung diterima?

Tidak. Sejarah penerimaan beberapa kitab Perjanjian Baru memperlihatkan adanya perbedaan pendapat.

Sebagian kitab diterima secara luas sejak awal, sedangkan sebagian lainnya mengalami perdebatan mengenai statusnya.

Perbedaan daftar kitab dalam sejumlah sumber kuno menjadi salah satu bukti bahwa proses pengakuan kanon berlangsung melalui perkembangan sejarah.

Karena itu, tidak tepat mengatakan bahwa seluruh kitab Perjanjian Baru ditentukan dalam satu pertemuan gereja yang sederhana dan langsung disepakati oleh semua pihak.

6. Apakah Konsili yang Menentukan Isi Alkitab?

Ini merupakan pertanyaan yang sering muncul.

Jawabannya memerlukan pembedaan antara proses pengakuan kitab-kitab sebagai Kitab Suci dan keputusan atau daftar kanon yang dicatat dalam sejarah gereja.

Pertemuan gereja dan daftar kitab pada masa-masa kemudian memang penting untuk memahami sejarah kanon. Namun, bukti sejarah tidak mendukung gambaran sederhana bahwa satu konsili memilih seluruh kitab Alkitab dari sekumpulan tulisan yang sebelumnya tidak memiliki kedudukan apa pun.

Banyak tulisan sudah digunakan dan dipandang berotoritas dalam komunitas sebelum daftar kanon yang lebih formal muncul.

Pada saat yang sama, sejarah juga memperlihatkan adanya pertanyaan dan perbedaan pendapat tentang kitab tertentu.

Dengan kata lain, pengakuan terhadap kitab-kitab Alkitab berkembang melalui proses sejarah, bukan sekadar satu keputusan yang berdiri sendiri.

Penting pula untuk memahami bahwa tradisi Kristen tidak semuanya memiliki daftar Perjanjian Lama yang identik.

Alkitab Protestan, Katolik, dan Ortodoks memiliki perbedaan dalam jumlah dan penerimaan beberapa kitab Perjanjian Lama. McDonald membahas perbedaan tersebut sebagai bagian dari persoalan sejarah kanon.

Karena itu, saat membahas kanon, kita perlu menyebutkan tradisi yang sedang dibicarakan, bukan menganggap seluruh komunitas Kristen selalu memiliki daftar yang sama.

7. Bagaimana Banyak Kitab Menjadi Satu Alkitab?

Setelah memahami sejarah pengakuan kitab-kitab, kita kembali kepada bentuk Alkitab yang kita miliki sekarang.

Ada beberapa perkembangan yang perlu dibedakan:

  1. Tulisan-tulisan dihasilkan

Berbagai teks muncul dalam konteks sejarah, bahasa, dan kebutuhan komunitas yang berbeda.

  1. Teks disalin dan diwariskan

Para penyalin membantu meneruskan tulisan kepada generasi berikutnya.

  1. Kitab-kitab digunakan dan diakui

Komunitas iman menggunakan tulisan-tulisan tertentu sebagai Kitab Suci dan mengenali kumpulan yang berotoritas.

  1. Kumpulan kitab disusun dan diwariskan

Kitab-kitab dihimpun dalam koleksi dan kemudian hadir dalam bentuk naskah serta edisi Alkitab yang dikenal sekarang.

Urutan ini merupakan gambaran umum, bukan garis waktu yang berlaku persis sama bagi setiap kitab.

Proses penulisan, penyalinan, pengakuan kanon, dan penyusunan koleksi saling berhubungan, tetapi dapat berlangsung pada masa yang berbeda.

Schniedewind membantu kita memahami bagaimana teks tertulis berkembang dalam sejarah Israel kuno.

McDonald membantu kita melihat persoalan yang lebih luas mengenai pengakuan kitab-kitab sebagai kanon. Keduanya membahas pertanyaan yang berkaitan, tetapi tidak persis sama.

8. Apa yang Dapat Kita Pelajari dari Sejarah Kanon?

Sejarah pembentukan Alkitab mengajarkan kita untuk membaca dengan lebih teliti.

Pertama, jangan menyamakan Alkitab dengan buku modern. Alkitab merupakan kumpulan tulisan yang memiliki sejarah panjang sebelum hadir dalam bentuk buku yang kita kenal.

Kedua, bedakan pemeliharaan teks dari pembentukan kanon. Penyalinan menjelaskan bagaimana teks diwariskan. Kanon berkaitan dengan kitab-kitab yang diakui sebagai Kitab Suci.

Ketiga, gunakan bukti sejarah secara hati-hati. Tidak semua pertanyaan tentang proses kanonisasi memiliki jawaban yang sederhana. Perbedaan pendapat dalam penelitian sejarah perlu dipahami, bukan disembunyikan.

Keempat, pahami bahwa kesatuan Alkitab tidak berarti semua kitab memiliki bentuk dan tujuan yang sama.

Kitab sejarah tidak dibaca persis seperti puisi. Surat tidak dibaca dengan cara yang sama seperti nubuat apokaliptik. Kesatuan perlu dipahami bersama keragaman bentuk dan konteksnya.

Bagi pembaca Alkitab, pengetahuan ini bukan alasan untuk menjauh dari Kitab Suci. Sebaliknya, pengetahuan tersebut menolong kita memahami sejarah Alkitab dengan lebih bertanggung jawab.

Kesimpulan: Dari Banyak Kitab Menjadi Satu Alkitab

Alkitab yang kita baca sekarang memiliki sejarah panjang. Tulisan-tulisannya dihasilkan dalam berbagai konteks, disalin dan diwariskan, digunakan oleh komunitas iman, serta diakui sebagai bagian dari kumpulan Kitab Suci.

Tidak semua proses itu berlangsung pada waktu yang sama. Tidak semua pertanyaan sejarah memiliki jawaban yang sama sederhana. Karena itu, kita perlu membedakan sejarah penulisan, transmisi teks, dan pembentukan kanon.

Memahami sejarah tersebut menolong kita melihat Alkitab bukan sebagai buku yang muncul begitu saja dalam bentuk modern, melainkan sebagai kumpulan tulisan yang diwariskan melalui perjalanan sejarah yang panjang.

Bagi orang percaya, mempelajari sejarah ini juga mengingatkan kita untuk membaca Alkitab dengan tekun, memahami konteksnya, dan tidak terburu-buru menarik kesimpulan.

Pertanyaan:

  1. Apa perbedaan antara penulisan Alkitab, pemeliharaan teks, dan pembentukan kanon?
  2. Apa yang dimaksud dengan kanon Alkitab?
  3. Mengapa kita tidak dapat mengatakan bahwa seluruh kitab Alkitab ditentukan dalam satu pertemuan saja?
  4. Apa yang dapat kita pelajari dari penggunaan Kitab Suci oleh Yesus dalam Lukas 24:44?
  5. Mengapa penting membedakan fakta sejarah dari kesimpulan atau asumsi kita sendiri?

“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.”— 2 Timotius 3:16

Ayat ini mengingatkan kita tentang fungsi Kitab Suci dalam kehidupan iman. Ketika mempelajari sejarah Alkitab, tujuan kita bukan hanya mengetahui bagaimana kitab-kitab itu diwariskan dan dihimpun, tetapi juga belajar membaca dan menerapkan Firman Tuhan dengan lebih bertanggung jawab.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *