Dari tradisi lisan menjadi teks tertulis.

Ketika kita melihat Alkitab, hal pertama yang perlu kita ubah adalah cara kita membayangkan Alkitab.

Sekarang ini, kita hidup dalam dunia yang penuh buku. Karena itu sering kita Alkitab ditulis seperti jaman kita sekarang ini.

Ketika kita mengatakan: “Musa menulis..”

kita mungkin membayangkan Musa duduk di meja, membuka sebuah buku kosong, lalu mulai menulis seperti seorang penulis buku modern.

Kita perlu tahu bahwa gambaran seperti itu disebut anakronistik atau tidak sesuai..

Alkitab muncul dalam dunia yang belum mengenal buku seperti yang kita kenal sekarang ini.

Pada masa itu, tulisan hadir dalam bentuk gulungan, prasasti, dokumen, arsip, dan berbagai bentuk tulisan lainnya.

Buku dalam bentuk kodeks—lembaran yang dijilid seperti buku modern—baru muncul kemudian. Ini penting sekali kita ketahui..

Alkitab tidak langsung muncul sebagai sebuah “buku”

Kita sekarang memegang satu Alkitab. Ada sampulnya, ada halamannya, ada nomornya, ada daftar isinya. Kita punya 66 kitab.

Tetapi pada zaman Israel kuno, belum ada satu buku yang disebut “Alkitab” seperti yang kita kenal sekarang.

Yang ada adalah berbagai tradisi, perkataan, cerita, hukum, puisi, catatan, dokumen, dan teks yang secara bertahap ditulis dan diwariskan.

Alkitab sendiri sebenarnya merupakan kumpulan kitab atau gulungan.

Jadi, Alkitab tidak pertama-tama menjadi sebuah buku. Alkitab mengalami proses menjadi kumpulan teks yang kemudian menjadi Kitab Suci.

Israel kuno adalah masyarakat yang utamanya bersifat lisan

Ini mungkin bagian yang paling menarik. Saat ini, kita hidup dalam budaya tertulis. Kalau ingin mengingat sesuatu, kita: menulis di WhatsApp, membuat catatan, mengambil foto, menyimpan PDF, merekam video, atau mencari di internet.

Tetapi masyarakat kuno tidak hidup seperti itu.

Sebelum abad ketujuh SM, Israel kuno sebagian besar masih merupakan masyarakat yang tidak melek huruf secara luas.

Bagaimana sebuah budaya lisan seperti Israel kuno mengekspresikan identitasnya melalui teks tertulis?

Artinya, kelisanan mempunyai peranan besar dalam kehidupan Israel kuno.

Misalnya, melalui cerita disampaikan. Tradisi diingat. Pengajaran diteruskan. Peristiwa diceritakan kembali.

Jadi, Firman disampaikan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Kemudian, secara bertahap, berbagai tradisi tersebut semakin dituangkan ke dalam bentuk tulisan.

Dari “suara yang hidup” menuju tulisan

Salah satu gagasan penting adalah perubahan otoritas dari lisan kepada tulisan.

Dalam budaya lisan, seorang guru atau pemimpin menyampaikan tradisi kepada komunitas. Mereka menyampaikan banyak hal melalui perkataan lisan.

Karena itu, pengetahuan akan hidup melalui: guru → murid → komunitas → generasi berikutnya.

Tetapi tulisan mengubah sesuatu. Ketika perkataan dituliskan, perkataan tersebut dapat: disimpan, disalin, dibaca kembali, dibawa ke tempat lain, diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dengan demikian, tulisan perlahan memperoleh otoritas budaya dan agama. Proses ini sebagai “tekstualisasi Israel kuno.”

Apa itu “tekstualisasi”?

Tekstualisasi, secara sederhana dapat kita jelaskan sebagai:

proses ketika tradisi, perkataan, hukum, sejarah, dan pengalaman suatu masyarakat semakin dituangkan, dipelihara, dan diberi otoritas dalam bentuk teks tertulis.

Jadi, bukan sekadar “menulis sebuah teks.” Tetapi disana terjadi perubahan budaya:

Dari tradisi lisan → tulisan → teks yang memiliki otoritas → komunitas yang hidup berdasarkan teks.

Salah satu momen penting terjadi ketika tulisan yang sebelumnya terbatas terutama pada lingkungan istana dan bait suci mulai menyebar lebih luas dalam masyarakat Israel.

Siapa yang bisa menulis?

Di sini kita bertemu dengan kelompok yang sangat penting, yaitu: Juru tulis — scribe

Dalam dunia kuno,tidak semua orang memiliki kemampuan membaca dan menulis.

Ada orang-orang yang secara khusus dilatih untuk membaca, menulis, membuat dokumen, dan mengelola catatan. Mereka adalah juru tulis.

Karena itu juru tulis merupakan bagian penting dalam pemerintahan di Timur Dekat kuno. Bahkan negara-negara kota kecil memiliki juru tulis kerajaan.

Mereka menulis surat dan menyimpan catatan administratif. Juru tulis juga berhubungan dengan: istana, pemerintahan, bait suci, administrasi, ekonomi, dan dokumentasi.

Jadi ketika kita berbicara mengenai bagaimana tradisi Israel akhirnya menjadi teks, kita tidak boleh melupakan dunia para juru tulis.

Menulis bukan sekadar pekerjaan pribadi

Ini juga penting.

Dalam masyarakat modern, seseorang bisa membeli laptop lalu menulis sebuah buku sendirian.

Dalam dunia kuno, produksi tulisan lebih terkait dengan institusi dan komunitas tertentu.

Poinnya, tulisan pada awalnya sangat berkaitan dengan institusi seperti: pemerintahan, bait suci, perdagangan, administrasi.

Karena itu, ketika kita membayangkan terbentuknya teks-teks Alkitab, kita perlu melihat adanya komunitas, tradisi, juru tulis, dan institusi di belakang dunia tulisan tersebut.

Kapan tulisan mulai menjadi penting di Israel?

Setelah terjadi perkembangan besar dalam sejarah Israel ketika literasi mulai menyebar lebih luas.

Pada masa sebelumnya, tulisan lebih banyak berada dalam lingkungan: istana + bait suci + juru tulis.

Kemudian tulisan menyebar ke dalam: birokrasi pemerintahan + ekonomi + masyarakat yang lebih luas.

Kita bisa melihat perkembangan ini secara khusus dengan masa Hizkia dan Yosia, serta perubahan besar yang terjadi dalam penggunaan teks tertulis.

Yang penting bukan hanya semakin banyak orang bisa membaca, tetapi munculnya gagasan tentang: Otoritas teks

Tulisan tidak lagi sekadar catatan. Tetapi mulai memiliki otoritas dalam kehidupan agama dan masyarakat.

Reformasi Yosia dan pentingnya teks

Dalam kisah reformasi Yosia, kita menemukan kitab Taurat yang menjadi dasar pembaruan kehidupan umat.

Kita bisa melihat perkembangan ini sebagai bagian penting dari munculnya otoritas teks tertulis.

Dengan kata lain: Tulisan bukan lagi sekadar alat untuk menyimpan informasi.

Tulisan mulai menjadi: dasar pengajaran, dasar kehidupan umat, dasar reformasi, sumber otoritas agama.

Ini merupakan perubahan besar.

Dari Taurat yang diajarkan menjadi Taurat yang tertulis

Ada perkembangan yang lebih menarik..

Kata Torah pada awalnya memiliki arti yang berkaitan dengan instruksi atau pengajaran.

Instruksi dapat disampaikan secara lisan. Tetapi kemudian instruksi tersebut semakin dikaitkan dengan Taurat yang tertulis.

Contohnya kitab Tawarikh. Dalam 2 Tawarikh 17:9, para imam mengajar Yehuda dengan membawa gulungan kitab Taurat YHWH.

Di sini kita melihat hubungan: teks tertulis + guru + komunitas.

Tulisan tidak menggantikan pengajaran. Sebaliknya, teks menjadi dasar pengajaran.

Tulisan “membekukan” tradisi

Dalam budaya lisan, tradisi dapat terus mengalami penyampaian dan pengulangan. Ketika tradisi ditulis, sesuatu berubah.

Tulisan membuat perkataan itu dapat dipertahankan dalam bentuk yang lebih stabil.

Dalam budaya lisan, kegiatan mengarang, mempelajari, dan mentransmisikan tradisi dapat bercampur; sedangkan tulisan memberikan bentuk yang lebih tetap kepada tradisi.

Karena itu tulisan mempunyai kekuatan besar: Apa yang ditulis dapat dibaca kembali oleh generasi berikutnya.

Lalu bagaimana dengan Musa, Daud, dan nabi-nabi?

Di sinilah kita harus berhati-hati.

Bagaimana masyarakat Israel kuno berubah dari budaya yang terutama lisan menuju budaya tekstual, dan bagaimana perubahan itu membantu menjelaskan munculnya Alkitab sebagai teks tertulis?

Jadi, bagaimana Alkitab ditulis?

Untuk pembaca awam, kita dapat merangkumnya seperti ini:

TAHAP 1: Allah menyatakan kehendak-Nya dan umat mengalami karya-Nya.

↓

TAHAP 2: Tradisi disampaikan secara lisan.

↓

TAHAP 3: Tradisi, hukum, cerita, puisi, dan berbagai materi mulai ditulis.

↓

TAHAP 4: Juru tulis dan komunitas memelihara serta meneruskan teks.

↓

TAHAP 5: Tulisan semakin memperoleh otoritas dalam kehidupan Israel.

↓

TAHAP 6: Berbagai teks akhirnya menjadi bagian dari kumpulan Kitab Suci.

Ini bukan berarti setiap kitab mengikuti urutan yang persis sama. Ini adalah gambaran umum mengenai proses tekstualisasi.

Alkitab bukan hanya “buku”

Di sinilah kita kembali kepada pertanyaan awal. Ketika kita membuka Alkitab hari ini, kita melihat: satu buku.

Tetapi sejarahnya jauh lebih kompleks.

Kita sebenarnya sedang memegang sebuah perpustakaan kecil yang terdiri dari banyak kitab, yang lahir dalam berbagai zaman, melalui berbagai penulis, komunitas, tradisi lisan, juru tulis, dan proses penulisan serta transmisi.

Kita harus ingat, Alkitab ditulis sebelum keberadaan buku dalam pengertian modern seperti yang kita kenal sekarang.

Kodeks baru muncul pada abad pertama Masehi dan menjadi umum beberapa abad kemudian. Jadi kita akan melihat Alkitab dengan cara yang baru.

Sebuah gambaran sederhana

Bayangkan seorang kakek menceritakan kepada cucunya: “Dahulu Allah melakukan ini kepada nenek moyang kita.”

Cucunya mendengar dan mengingat. Lalu, Ia menceritakannya lagi kepada anak-anaknya. Kemudian sebagian tradisi mulai ditulis.

Juru tulis menyalinnya. Komunitas membacanya. Teks itu menjadi dasar pengajaran. Generasi berikutnya membacanya kembali.

Dengan demikian: PENGALAMAN → CERITA → TRADISI LISAN → TULISAN → TEKS → KITAB SUCI

Tentu proses sejarah sebenarnya jauh lebih kompleks daripada diagram ini. Tetapi gambaran tersebut membantu kita memahami konsep dasar tekstualisasi.

Apa yang berubah ketika kita memahami ini?

Kita mulai menyadari bahwa pertanyaan: “Siapa yang menulis Alkitab?” tidak cukup.

Kita juga harus bertanya: “Bagaimana tradisi Israel menjadi teks?” dan “Bagaimana teks itu memperoleh otoritas dalam komunitas?”

Kesimpulan

Alkitab tidak muncul begitu saja sebagai sebuah buku modern. Ia lahir dalam dunia kuno yang sangat berbeda dari dunia kita.

Israel pada mulanya memiliki budaya yang kuat secara lisan. Tradisi, pengajaran, sejarah, hukum, dan pengalaman iman diwariskan melalui komunitas.

Kemudian tulisan semakin berkembang. Juru tulis memainkan peranan penting. Tulisan menyebar. Tradisi semakin dituangkan ke dalam teks.

Dan teks tertulis mulai memperoleh otoritas agama dan budaya.

Perkembangan besar ini disebut sebagai: “tekstualisasi Israel kuno.”

Dengan memahami proses ini, kita belajar membaca Alkitab bukan hanya sebagai buku yang sudah selesai di tangan kita, tetapi sebagai kumpulan teks yang mempunyai sejarah, komunitas, bahasa, tradisi, dan proses transmisi yang panjang.

Dan justru karena itulah pertanyaan berikutnya menjadi sangat menarik:

Kalau Alkitab sudah mulai ditulis, dengan apa orang Israel menulisnya?

Apa bahan yang mereka gunakan? Bagaimana alfabet Ibrani berkembang?

Siapa yang mengajar orang membaca dan menulis? Bagaimana sebuah gulungan dibuat?

Dan bagaimana tulisan-tulisan itu disalin dari satu generasi ke generasi berikutnya?

Itulah yang akan kita lihat berikutnya: Dengan Apa Alkitab Ditulis? Bahasa, Alfabet, Gulungan, dan Dunia Para Juru Tulis

Sumber utama

William M. Schniedewind, How the Bible Became a Book: The Textualization of Ancient Israel. Cambridge: Cambridge University Press, 2004.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *