Ayat Alkitab di Perjanjian Lama, Menerangkan Trinitas

Walaupun kata Trinitas (Lat. trinitas “tri-unity” atau “tiga dalam kesatuan”) tidak terdapat dalam Alkitab (juga kata inkarnasi), ajaran yang digambarkannya dengan jelas terdapat dalam Alkitab.

Secara ringkas, ajaran Trinitas adalah konsep bahwa “Allah ada selamalamanya dalam tiga pribadi, Bapa, Anak dan Roh Kudus, dan setiap pribadi adalah sepenuhnya Allah, dan hanya ada satu Allah.”

Allah sendiri adalah sebuah misteri, lebih-lebih lagi inkarnasi atau Trinitas. Namun demikian, sekalipun kita tidak sanggup mengerti secara logis berbagai aspek Trinitas, kita perlu mencoba memahami sebaik mungkin ajaran Alkitab tentang hal tersebut.

Segala usaha untuk menerangkan Trinitas pasti ada kekurangan, “khususnya bila kita menjelaskan hubungan tiga pribadi itu dengan esensi Ilahi . . . semua analogi gagal dan kita menjadi sangat menyadari kenyataan bahwa Trinitas adalah sebuah misteri di luar batas pemahaman kita. Ini adalah sebuah kemuliaan yang tak terpahami darihal Keallahan.”

Jadi, kita bisa saja mengakui bahwa “manusia tidak dapat memahaminya dan membuat itu masuk akal.

Hal itu masuk akal dalam beberapa hubungan dan jenis manifestasinya, tetapi tidak masuk akali dalam sifat hakikinya.

Dalam mempelajari Trinitas di Alkitab kita perlu menyadari bahwa kita hanya bisa mencapai sebagian pemahaman tentang apa Trinitas itu.

Saat kita mendengar Firman Allah, unsur-unsur terntentu tentang Trinitas menjadi jelas, sementara hal lain tetap sebuah misteri.

“Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini” (Ul 29:29).

Trinitas di Perjanjian Lama

Beberapa bagian dalam PL menyatakan dan mengisyaratkan bahwa Allah ada lebih dari satu pribadi, bukan dalam Trinitas, tetapi paling tidak dua pribadi.

1. Kejadian 1

Pada cerita penciptaan di Kejadian 1 kata untuk Allah adalah Elohim, bentuk jamak dari Eloha.

Pada umumnya, bentuk jamak ini telah diterjemahkan sebagai sebuah bentuk jamak keagungan dan bukan jumlah.

Namun, G.A.F. Knight telah dengan tepat memberi penjelasan bahwa untuk menyatakan ini sebagai jamak keagungan berarti kita membaca naskah Ibrani kuno dengan kacamata konsep modern, karena raja-raja Israel dan Yehuda dinyatakan dalam bentuk tunggal dalam catatan Alkitab.

Lebih jauh, Knight menunjukkan bahwa kata-kata Ibrani untuk air dan langit juga jamak. Para ahli tatabahasa telah mengistilahkan fenomena ini jamak kuatitatif.

Air dapat mucul dalam bentuk tetesantetesan kecil atau pun lautan yang besar. Ragam kuantitatif dalam kesatuan ini, kata Knight, cocok dengan pengertian jamak Elohim.

Ini juga menjelaskan mengapa bentuk tunggal Adonai ditulis dalam bentuk jamak.

Dalam Kejadian 1:20, kita baca, “Berfirmanlah Allah, Baiklah Kita (jamak) menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita (jamak).”

Yang penting di sini adalah peralihan dari tunggal ke jamak. Musa tidak menggunakan sebuah kata kerja jamak untuk Elohim, tetapi Allah menggunakan sebuah bentuk kata kerja jamak dan kata ganti orang jamak untuk diri-Nya.

Beberapa penafsir percaya bahwa di sini Allah sedang berbicara kepada para malaikat. Tetapi menurut Alkitab, para malaikat tidak berpartisipasi dalam penciptaan.

Penjelasan terbaik adalah bahwa dalam pasal pertama kitab Kejadian sudah ada sebuah indikasi pluralitas pribadi dalam Keallahan itu.

2. Kejadian 2:24

Menurut Kejadian 2:24, laki-laki dan perempuan “mejadi satu (echad) daging,” sebuah kesatuan dua pribadi terpisah.

Dalam Ulangan 6:4 kata yang sama digunakan untuk Allah, “Dengar, hai orang Israel: TUHAN itu Allah, TUHAN itu esa (echad).”

Millard J. Erickson berkata, “Tampaknya ada sesuatu yang sedang ditegaskan di sini tentang Allah Dia adalah sebuah makhluk, yaitu, sebuah kesatuan dari bagian-bagian yang berbeda.

Musa seharusnya bisa menggunakan kata yachid (hanya satu, unik) dalam Ulangan 6:4, tetapi Roh Kudus memilih untuk tidak menggunakannya.”

3. Ayat-ayat PL Lainnya yang Menggambarkan Pluralitas

Setelah kejatuhan manusia Allah berkata, “Lihatlah, manusia telah menjadi seperti salah satu di antara Kita” (Kej 3:22).

Beberapa saat kemudian, ketika manusia mulai membangun Babel, TUHAN berkata, “Marilah Kita turun ke bawah dan mengacaukan bahasa mereka” (Kej 11:7).

Selalu pluralitas Keallahan ditekankan.

Dalam khayal terkenalnya tentang takhta, Yesaya mendengar TUHAN bertanya, “Siapakah yang akan Kuutus dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” (Yes 6:8).

Di sini Allah menggunakan bentuk tunggal dan jamak pada kalimat yang sama. Banyak pakar modern yang menggunakan ini untuk menerangkan dewan musyawarah surga.

Tetapi apakah Allah pernah meminta nasihat dari ciptaan-Nya? Dalam Yes 40:13, 14 tampaknya dia menolak ide ini.

Bentuk jamak, dengan demikian, walau tidak membuktikan Trinitas, mengisyaratkan bahwa ada sebuah pluralitas makhluk pada pihak si pembicara.

4. Malaikat Tuhan

Ungkapan “malaikat TUHAN” muncul 58 kali dalam Perjanjian Lama, dan “malaikat Allah” sebelas kali. Kata Ibrani mal’ak berarti “utusan.”

Dengan demikian, jika “Malaikat TUHAN” adalah seorang utusan TUHAN, tentu Dia harus lah berbeda dari TUHAN itu sendiri.

Namun dalam sejumlah ayat “Malaikat TUHAN” juga disebut “Allah” atau “TUHAN” (Kej 16:7-13; Bil 22:31-38; Hak 2:1-4; 6:22).

Bapa-bapa Gereja mengidentifikasi Dia dengan Logos sebelum inkarnasi. Pakar modern mengartikan Dia sebagai sebuah makhkluk yang mewakili Allah, sebagai Allah sendiri, atau sebagai kuasa eksternal Allah.

Para pakar konservatif pada umumnya setuju bahwa “utusan ini harus diartikan sebagai sebuah manifestasi khusus dari makhkluk Allah sendiri.”

Jika ini benar, kita mempunyai indikator lain tentang kejamakan pribadi-pribadi dalam Keallahan.

Bagikan:

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.