Pastordepan Media Ministry
Beranda Seri Kitab Ayub Asal-usul, Nama dan Karakter Ayub yang Sempurna

Asal-usul, Nama dan Karakter Ayub yang Sempurna

“Ada seorang laki-laki di tanah Us bernama Ayub; orang itu saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Ia mendapat tujuh anak laki-laki dan tiga anak perempuan..” Ayub 1:1-2.

Ayub diperkenalkan dengan singkat. Namanya, asalnya, karakternya, dan anak-anaknya, kekayaannya.

Kalimat pembuka untuk memulai cerita Ayub, penulis menggunakan kalimat, “Ada seorang laki-laki..” kemudian disebutkan asal usulnya dari tanah Uz.

Dimana sebenarnya lokasi tanah Uz tidak disebutkan. Uz merupakan sebuat wilayah bukan kota. Yang pasti wilayah itu berada diluar Israel.

Uz dihubungkan dengan gurun Suriah, yang membentang dari Mesopotamia hingga Arabia. Uz juga kadang-kadang dikaitkan dengan Aram. Ditempat lain dengan Edom.

Namun Edom lebih sesuai dari Aram. Mengingat Edom sebagai tempat kebijaksanaan dan asal usul Eliphaz orang Teman dari wilayah Edom.

Selain itu, kita juga menemukan seorang pria bernama Uz ditemukan dalam silsilah Edom (Kejadian 36:28; 1 Taw 1:42).

Beberapa teman Ayub juga memiliki nama yang terkait dengan silsilah Edom dan ini semakin memperkuat bahwa Ayub terkait dengan tanah Edom.

Terlepas dari lokasinya, hal ini penting untuk menunjukkan bahwa Ayub bukan orang Israel. Walau demikian kitab ini menunjukkan sudut pandang Israel.

Kisah Ayub yang bukan Israel, telah dibentuk secara sastra oleh penulis Israel untuk pendengar Israel. Dia menyembah Allah yang benar seperti Melkisedek dan Yitro.

Kemudian tentang Nama. Nama Ayub tidak ditemukan dalam bahasa Ibrani. Nama ini dikenal dari beberapa sumber di luar Alkitab sebagai nama Semit.

Banyak pandangan tentang nama Ayub. Ada yang menghubungkannya dengan Jobab Raja Edom. Namun dia tidak ada hubungan dengan raja Edom.

Ada yang menghubungkan namanya dengan Ibrani sebagai ,”Oyeb’ artinya musuh. Atau dalam bahasa Arab, ‘aba’ orang yang akhirnya kembali.

Namun, nama tersebut bukanlah nama yang dibuat-buat, seperti yang dikemukakan oleh pandangan-pandangan tersebut.

Nama Ayub telah banyak ditemukan di Timur Tengah pada milenium kedua.

Jadi intinya, apa makna nama Ayub tidak pasti atau tidak terlalu jelas. Nama ini telah diinterpretasikan sebagai “Di mana ayahku?”

‘ Ayahku’ kemungkinan merujuk pada Tuhan. Di sisi lain, nama ini juga dikaitkan dengan kata kerja Ibrani yang berarti “membenci” atau “menjadi musuh.”

Kata kerja ini menjadi dasar untuk kata benda “musuh” (ʾōyēb), dan jika asosiasi ini benar, hal ini dapat dijelaskan oleh fakta bahwa untuk sementara waktu Ayub menjadi musuh Allah.

Setelah menyebutkan nama Tokoh utama dan tempat tinggalnya, kemudian narrator memberitahu pembaca bagian yang lebih penting yaitu menggambarkan karakter Ayub.

Ayub diperkenalkan dengan dua kata, yang menggambarkan dia sebagai orang yang berakhlak mulia dan teguh dalam iman.

Kata itu adalah saleh, jujur. Kedua kata tersebut menunjukkan bahwa Ayub adalah orang yang memiliki motivasi murni.

Pertama, Kata saleh. Dalam bahasa Ibrani, ‘tam.’ Kata ini sering digunakan untuk menggambarkan hewan kurban yang dipersembahkan sebagai ‘tanpa noda-tanpa cacat’

Bila kata ini digunakan untuk menggambarkan manusia, artinya adalah integritas pribadi, bukan kesempurnaan tanpa dosa (Yos. 24:14; Hak. 9:16, 19).

“Tam” merupakan gambaran yang tepat untuk orang-orang yang memiliki integritas ketika diukur berdasarkan standar manusia pada umumnya.

Contohnya, ketika Abimelech, yang menyatakan bahwa “ia mengambil Sarah dengan hati yang tulus dan dengan tangan yang suci.” Kej 20:5.

Dan Tuhan mengkonfirmasi ketulusan hati Abimelek.

Jadi, orang saleh adalah mereka yang hidup tak bercela, hidup dalam persekutuan yang erat dengan Allah (Kej. 17:1) dan yang senang menaati hukum-Nya (Mzm. 119:1). Ia melayani Allah dengan sepenuh hati.

Di kitab Amsal kata Saleh banyak digunakan (2:7, 21; 11:3, 20; 13:6; 19:1), merujuk kepada orang yang secara moral benar.

Mereka adalah orang-orang yang menaati perintah ayah dan memperoleh kebijaksanaan. Hidup mereka sebagian besar ditandai oleh kebenaran etis dan ketaatan hukum.

Dengan demikian Ayub disebut sebagai orang saleh yang berintegritas, hidupnya tidak bercela, erat dengan Tuhan, menaati perintah Tuhan, melayani Allah dengang sepenuh hati.

Kesalehan Ayub merupakan panggilan kepada kita untuk memiliki karakter atau tabiat yang murni, integritas, ditengah dunia yang penuh kemunafikan..

Mari kita hidup dalam kesalehan Ayub.

Amsal mengatakan, “Orang benar yang bersih kelakuannya —berbahagialah keturunannya.” Amsal 20:7

“Siapa bersih kelakuannya, aman jalannya, tetapi siapa berliku-liku jalannya, akan diketahui.” Amsal 10:9


KARAKTER KEDUA AYUB DAN IMANNYA – JUJURN DAN TAKUT AKAN ALLAH

“Takut akan TUHAN adalah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat.” Amsal 8:13

KARAKTER kedua yang dimiliki Ayub adalah jujur. kata Ibraninya ‘yasar’ artinya jujur, tegak lurus.

Kata ini menggambarkan orang-orang yang beriman setia pada ketetapan Allah (lih. I Raj 14:8; 15:5) dan sikap jujur, penuh kasih sayang dalam berhubungan dengan orang lain.

Ayub memperlakukan orang lain, termasuk hamba-hambanya, dengan adil dan benar (31:13-23). Dia menunjukkan belas kasihan kepada mereka yang malang.

Jadi ‘Jujur atau Yasar’ adalah sebuah istilah yang biasa digunakan untuk menggambarkan orang-orang yang berperilaku sesuai dengan harapan Tuhan.

Orang jujur akan mendapat kemurahan Tuhan (Ul. 6:18). Allah sendiri adalah orang yang jujur (Ul. 32:4), dan Dia menjadikan umat manusia orang yang jujur (Pkh. 7:29)..

Namun manusia terus mencari siasat. Menipu, bernohong, mengurangi takaran, memutar balikan fakta, dll.

Jadi, karakter Ayub yang disebut sebagai Tam dan Yasar atau saleh dan jujur, dicapai melalui usaha yang gigih untuk mengatur jalan hidupnya sesuai dengan konsep kesalehan yang lazim.

Tam dan yasar tidak menggambarkan orang-orang yang menjalani kehidupan dalam kesempurnaan tanpa dosa..

Sebaliknya, mereka menggambarkan orang-orang yang mendapat perkenanan di mata Tuhan dan manusia lainnya (lih. Ams 3:4).

Setelah kita mempelajari pasangan pertama karakter Ayub: tam dan Yasar (Saleh dan jujur), sekarang kita pelajari pasangan kedua, yang menggambarkan iman Ayub.

Dia takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan..

Takut akan Tuhan adalah ungkapan yang sering ditemukan di Perjanjian Lama dan sering ditemukan dalam literatur Hikmat.

Pembukaan kitab Amsal menyatakan bahwa “takut akan TUHAN” adalah permulaan pengetahuan (Amsal 1:7).

Rasa takut akan Tuhan dibarengi dengan penolakan terhadap kejahatan. Amsal 3:7, “…takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan..”

Di sini “ketakutan” bukan berarti kengerian, sejenis emosi yang membuat seseorang lari dan bersembunyi.

Kata ‘takut’ juga disini juga bukan sekedar memiliki rasa hormat atau respek, namun kata yang lebih baik adalah kekaguman.

Mereka yang takut akan TUHAN menyadari bahwa mereka adalah ciptaan. Maka Tuhan adalah pusat hidup mereka.

Jadi, orang yang takut kepada Allah bersedia mendengarkan Allah dan menaati Allah, dan itulah awal dari kebijaksanaan/pengetahuan.

Dengan demikian, Ayub segera digambarkan sebagai teladan kebijaksanaan sebagaimana dijelaskan dalam Kitab Amsal.

Allah sendiri akan mengukuhkan penggambaran ini dalam Ayub 1:8. Pembaca tidak diragukan lagi mengenai karakter Ayub. Dia adalah salah satu orang bijak yang saleh.

Melalui Amsal, kita mengenai karakter Ayub. Dia adalah salah satu orang bijak yang saleh.

Jadi, Kitab hikmat menempatkan nilai tertinggi pada rasa takut akan TUHAN. kitab ini menegaskan bahwa hal itu merupakan dasar utama bagi kebijaksanaan yang sejati (Ayub 28:28; Amsal 1:7; 9:10).

Poinnya, Siapa pun yang takut akan Allah akan menghindari segala bentuk kejahatan (Amsal 16:6b).

Ia akan menjauhi segala godaan untuk berbuat jahat (Ams 31:1-12) dan tidak pernah menaruh kepercayaan pada dewa atau benda lain (31:24-28).

Gabungan empat karakter ini dan kekayaan besarnya menjadi bukti dalam budayanya bahwa Ayub unggul dalam kebijaksanaan (lihat Amsal 3:9-10).

Kasih Ayub kepada TUHAN dan perbuatan belas kasihnya terhadap sesama manusia menjadikan dia sebagai legenda. Namanya abadi. Menjadi model tentang kesalehan sepanjang masa.

Itu sebabnya, Yehezkiel mencantumkan dia bersama Nuh dan Daniel sebagai orang-orang yang paling saleh sepanjang masa (Yehezkiel 14:14, 20).

Takut akan Tuhan dalam Alkitab bukan berarti rasa takut yang ketakutan, melainkan rasa hormat, kagum, dan menyerahkan diri kepada Tuhan karena kebesaran, kekudusan, dan kuasa-Nya.

Takut akan Tuhan juga mendorong seseorang untuk menghindari kejahatan, melakukan yang benar, dan hidup sesuai dengan perintah-Nya.

Kenapa banyak orang tidak taku kepada Tuhan? jawabnya, karena manusia begitu takut kepada manusia sehingga begitu sedikit rasa takut kepada Tuhan.

Pengkhotbah 12:13: “Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang.”

Join channel telegram websitekami.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya

Join now
Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan