Pastordepan Media Ministry
Beranda Studi Alkitab Arti Perumpamaan Tentang Penggarap Kebun Anggur di Matius 21:33-46

Arti Perumpamaan Tentang Penggarap Kebun Anggur di Matius 21:33-46

“Dengarkanlah suatu perumpamaan yang lain. Adalah seorang tuan tanah membuka kebun anggur dan menanam pagar sekelilingnya. Ia menggali lobang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga di dalam kebun itu. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain.

Ketika hampir tiba musim petik, ia menyuruh hamba-hambanya kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima hasil yang menjadi bagiannya.

Tetapi penggarap-penggarap itu menangkap hamba-hambanya itu: mereka memukul yang seorang, membunuh yang lain dan melempari yang lain pula dengan batu.” Matius 21:33-39.

Tidak cukup hanya satu perumpamaan. Perlu dua. Bahkan tiga, untuk menerangkan keengganan mereka melakukan kehendak Allah.

Perumpamaan pertama ceritanya masih halus. Kedua, ceritanya keras, sebagai ilustrasi mengecam kemunafikan dan sikap permusuhan para pemuka agama.

Kisahnya mudah dipahami dan ditebak kepada siapa ditujukan.

Situasi yang terdapat dalam perumpamaan tentang tuan tanah yang membuka kebun anggur merupakan hal yang lumrah dalam masyarakat agraris dan mudah dikenali oleh para pendengar-Nya.

Pada zaman Perjanjian Baru, lereng bukit Palestina ditutupi dengan kebun anggur, yang merupakan andalan perekonomian.

Bukan hal yang aneh bagi orang kaya untuk membeli sebidang tanah dan mengembangkannya untuk kebun anggur.

Pertama-tama dia akan memasang dinding batu atau pagar tanaman di sekelilingnya untuk melindunginya dari binatang liar dan pencuri.

Dia kemudian membuat alat pemeras anggur, terkadang harus memotongnya dari batuan dasar. Di baskom atas yang lebar dan dangkal, buah anggur akan diperas, dan sarinya akan mengalir melalui bak ke baskom bawah.

Dari sana jus anggur akan dituangkan ke dalam kantong kulit anggur atau toples tanah liat untuk disimpan.

Seringkali pemiliknya membangun sebuah menara, yang akan digunakan sebagai pos pengintaian terhadap perampok, sebagai tempat berlindung bagi para pekerja, dan sebagai tempat penyimpanan benih dan peralatan.

Dan ketika semuanya sudah beres, dia menyewakannya kepada para petani anggur yang dia anggap sebagai pengurus yang dapat diandalkan, dan membuat perjanjian dengan mereka untuk membayar sejumlah persentase tertentu dari hasil penjualan kepadanya sebagai uang sewa.

Sisanya akan menjadi milik mereka, sebagai bayaran atas kerja keras mereka dalam mengolah kebun anggur.

Puas karena usaha kebun anggurnya berada di tangan yang tepat, pemiliknya pun melanjutkan perjalanan..

Beberapa bulan kemudian, ketika waktu panen sudah tiba, pemilik kebun mengirimkan tiga orang asistennya ke penggarap kebun anggur untuk menerima persentase hasil yang disepakati.

Bukannya diberikan, para penggarap kebun anggur itu malah mengambil ketiga hambanya dan memukuli salah satu budaknya, membunuh yang lain, dan melempari yang ketiga dengan batu.

Dari catatan Markus kita mengetahui bahwa ketiga hamban tersebut datang secara terpisah, satu demi satu (Markus 12:2-5).

Para penggarap jahat itu mencambuk hamba yang pertama, meninggalkannya dengan memar dan berdarah disekujur tubuhnya.

Hamba kedua langsung mereka bunuh dan hamba ketiga dilempari batu. Jika rajam mengacu pada jenis hukuman mati yang dilakukan orang Yahudi, kemungkinan besar budak tersebut dibunuh juga.

Setelah itu, tuan tanah mengirimkan sekelompok hamba lain yang lebih besar jumlahnya dari yang pertama, dan mereka melakukan hal yang sama terhadap mereka..

“..ada yang mereka pukul dan ada yang mereka bunuh.” Markus 12:5.

Para penggarap itu telah diberikan kesempatan luar biasa untuk mendapatkan penghasilan yang cukup. Mereka tidak perlu bayar sewa, hanya bagi hasil.

Ternyata itu tidak cukup. Mereka tidak puas. Mereka ingin semua hasilnya. Dan mereka meraihnya dengan kekerasan dan pembunuhan..

Setelah penolakan brutal terhadap para pelayannya, sang pemilik kebun anggur mengirimkan anaknya sendiri kepada mereka sambil berkata, “Anakku akan mereka segani.”

Bukanya mereka segan dan hormat, sebaliknya mereka menjadi sangat serakah dan berkhianat. Ketika mereka melihat anak pemilik kebun anggur itu, mereka berkata..

“Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, supaya warisannya menjadi milik kita..” Dan mereka menangkapnya, melemparkannya ke luar kebun anggur, dan membunuhnya.

Awalnya, mereka hanya berencana untuk mengambil semua hasil dari kebun anggur. Sekarang mereka berencana untuk mengambil alih seluruh kebun anggur itu.

Para penggarap telah merencanakan pembunuhan terhapa anak pemilik kebun itu. Mereka mengenalnya sebagai ahli waris, dan mereka ingin merebut warisan dengan membunuh.

Kisah ini menimbulkan rasa kasihan yang besar dari orang banyak yang mendengarnya, kepada pemilik kebun anggur yang telah dikhianati oleh para penggarap..

Mereka marah terhadap para petani yang kejam dan tidak berperasaan itu. Mereka bersimpati kepada pemilik kebun yang kesabaran luar biasa..

Sementara prilaku yang brutal para penggarap itu sangat mengherankan, diluar nalar dan tidak normal.

Beberapa kritikus Alkitab menilai bahwa Yesus berlebihan dalam cerita tersebut atau para penulis Injil melebih-lebihkan versi aslinya.

Apa yang Yesus ceritakan dalam perumpamaan ini adalah realita. Pertama keunikan pemilik kebun anggur yang penuh kesabaran. Kedua, kejahatan para penggarap.

Yesus ingin dua karakter ini diperhatikan baik-baik oleh pendengar dan pembaca.

Siapa itu pemilik kebun anggur dan siapa para penggarap, dengan mudah kita tau diakhir cerita. Poinnya, dunia ini panggung sandiwara.

Kita adalah para pemainnya. Kita membentuk karaktek kita sendiri. Kita bisa jadi menjadi pemeran antagonis atau orang baik..Semua tergantung kita.

Kita semua penggarap kebun anggur Allah, karakter seperti apakah yang ingin kita miliki? Atau kita ingin menjadi penggarap yang seperti apa?

Pemilik Kebun Anggur Turun

Maka apabila tuan kebun anggur itu datang, apakah yang akan dilakukannya dengan penggarap-penggarap itu?”

Kata mereka kepada-Nya: “Ia akan membinasakan orang-orang jahat itu dan kebun anggurnya akan disewakannya kepada penggarap-penggarap lain, yang akan menyerahkan hasilnya kepadanya pada waktunya.” Matius 21:40-43

Sadis benar para penggarap ini. Tidak ada yang mereka takuti. Sang ahli waris pun mereka bunuh. Tinggal satu yang tersisa, pemilik kebun anggur.

Kira-kira apa yang akan dilakukan kepada para penggarap kejam itu? Tanya Yesus kepada pendengarnya..

Imam-imam kepala dan tua-tua langsung menjawab dengan nada marah..

“Ia akan membinasakan orang-orang jahat itu dan kebun anggurnya akan disewakannya kepada penggarap-penggarap lain, yang akan menyerahkan hasilnya kepadanya pada waktunya.”

Mereka dengan tepat dapat menebak akhir perumpamaan ini, yaitu bahwa pemilik yang marah pertama-tama akan menghukum dengan berat para petani yang jahat dan kemudian menggantikan mereka dengan orang lain, yang baik dan jujur.

Yesus bertanya dan menyindir, “Apakah kamu belum pernah membaca Kitab Suci?” Kemudian Yesus mengutip ayat dari Mazmur 118:22..

Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru:

hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita.

Tujuan Yesus mengutip untuk memperkuat maksud perumpamaan itu. Dan sekarang dia mengubah kiasan perumpamaannya..

Yesus mengutip Mazmur yang sama, yang menjadi sumber sorak-sorai orang banyak ketika Ia memasuki Yerusalem dengan penuh kemenangan. Ia dipuji dengan gelar Mesiasik, Anak Daud.

Karena pujian mesianik itu, Dia ditegur para pemimpin agama. Sekarang dengan mengutip Mazmur yang sama, Yesus mengingatkan mereka tentang batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan yang kemudian menjadi batu penjuru.

Batu penjuru adalah bagian paling mendasar dan penting dari sebuah bangunan. Itu seperti batu fondasi, yang menentukan penempatan dan kesejajaran yang tepat dari setiap bagian lainnya.

Jika batu penjuru dipotong atau ditempatkan tidak sempurna, simetris, maka stabilitas seluruh bangunan akan berada dalam bahaya.

Kadang-kadang tukang bangunan membuang sejumlah batu sebelum memilih batu yang tepat. Dalam kisah ini, salah satu batu yang ditolak akhirnya menjadi batu penjuru.

Selama berabad-abad, Israel telah menjadi batu yang ditolak oleh raja-raja dunia. Mereka diremehkan, dieksploitasi dan dibuang.

Namun, dalam rencana ilahi Tuhan, Israel dipilih untuk menjadi batu penjuru dalam sejarah penebusan dunia, bangsa yang melaluinya keselamatan akan datang.

Melalui Israel penyelamat dunia akan datang sebagai batu penjuru, menebus manusia dari dosa. Petrus menyebut dalam kotbahnya pada hari pantekosta..

Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan — yaitu kamu sendiri —, namun ia telah menjadi batu penjuru. (Kisah 4:10-12)

Batu yang lebih besar dari Israel adalah Yesus Kristus. Para tukang bangunan yang menolak Dia adalah para pemimpin Yahudi, yang mewakili seluruh Israel dan semua orang-orang dunia yang tidak percaya.

Batu yang ditolak adalah Kristus yang disalibkan, dan Batu penjuru utama yang dipulihkan adalah Kristus yang telah bangkit.

Sekarang mari kita ulangi lagi beberapa symbol dalam perumpamaan ini. Pemilik kebun anggur itu adalah Allah Bapa. Kebun anggur itu adalah dunia ini..

Para penggarap jahat adalah orang-orang yang tidak percaya. Para hamba yang diutus adalah para nabi Allah sepanjang sejarah Perjanjian Lama.

Anak pemilik kebun anggur itu adalah Yesus Kristus, yang datang ke dunia, tetapi ditolak dan dibunuh.

Saat Yesus bertanya tentang akan diapakan para penggarap jahat ini? Para pemimpin agama menjawab dan menghakimi diri mereka sendiri, “ orang jahat itu perlu dibinasakan..” dan tempat mereka digantikan dengan orang lain..

Allah telah mempersiapkan suatu tempat yang sangat indah dan penuh berkat dan dengan murah hati memberikan pengelolaannya kepada umat-Nya, Israel.

Itu adalah tempat yang penuh janji, harapan, pembebasan, keselamatan, dan keamanan. Namun Israel menyalahgunakan semua berkat itu untuk kemuliaan diri sendiri..

Mereka menganiaya para nabi yang diutus-Nya, yang dengan sabar dan penuh kasih memanggilnya mereka agar bertobat.

Tradisi Yahudi menyatakan bahwa Yesaya telah digergaji menjadi dua bagian dengan gergaji kayu. (lihat Ibrani 11:37).

Yeremia dilempar ke dalam lubang sempit, dan menurut tradisi dia akhirnya dia dirajam sampai mati. Yehezkiel ditolak, Elia dan Amos harus melarikan diri, wajah Mikha dihantam oleh orang-orang yang menolak mendengarkan pesannya (1 Raja-raja 22:24)..

Zakharia dibunuh di Bait Allah sendiri (2 Taw. 24:20-22). Sejarah Perjanjian Lama menjadi saksi atas hati mereka yang jahat dan kejahatan mereka akan berujung pada pembunuhan Anak Allah.

Melalui perumpaan ini, Yesus menerangkan sejarah kejahatan Israel dimasa lalu dan pada masa kini pun, kejahatan itu tetap sama dan yang melakukan kejahatan itu adalah para pemuka agama..

Seperti halnya Israel, yang tidak menghargai keistimewaan mereka sebagai bangsa pilihan, kepada kita pun hal yang sama bisa terjadi..

Penolakan kita mungkin tidak ekstrim, tapi halus. Setiap kali kita menolak untuk bertobat, kita menolak Yesus.

Ketika kita lebih mengutamakan pekerjaan, karir, harta, dll dari pada hubungan dengan Yesus, kita menolak Dia. Ketika meninggalkan iman untuk pernikahan, kita menolak Yesus..

Kelihatan sepele, tetapi ini akan berdampak kepada keselamatan akhir kita. Kita bisa menjadi penggarap kebun yang tidak berguna..

Sepanjang sejarah, dan hingga saat ini, banyak orang yang menolak menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat dan Tuhan bukan karena kurangnya bukti..

Namun karena mereka menolak mempercayai bukti tersebut. Mereka tidak percaya, karena tidak mau percaya.

Baca Juga:

Arti Perumpamaan Orang-orang Upahan di Kebun Anggur di Matius 20:1-16

Arti Perumpamaan Hutang 10.000 Talenta di Matius 18:23-35

Arti dan Makna Perumpamaan Harta Terpendam

Diambil dan Diberikan Kepada Bangsa Lain

“Sebab itu, Aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu.

[Dan barangsiapa jatuh ke atas batu itu, ia akan hancur dan barangsiapa ditimpa batu itu, ia akan remuk.]”

Ketika imam-imam kepala dan orang-orang Farisi mendengar perumpamaan-perumpamaan Yesus, mereka mengerti, bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya.

Dan mereka berusaha untuk menangkap Dia, tetapi mereka takut kepada orang banyak, karena orang banyak itu menganggap Dia nabi.” Matius 21:43-46

Kita pasti melakukan hal yang sama, bila investasi kita tidak berkembang ditangan orang yang dipercayakan, pasti akan mengambilnya dan memindahkannya kepada orang lain..

Poinnya, jika tidak menghasilkan, ambil dan berikan kepada orang lain. Begitulah kesimpulan dari pengajaran Yesus tentang pohon ara yang tidak berbuah dan kebun anggur dan penggarap..

Dan semua itu tentang mereka, para pemimpin agama Yahudi. Mereka tidak memenuhi kewajian mereka kepada Tuhan, baik dalam kehidupan mereka sendiri maupun dalam memimpin bangsa Israel.

Mereka tidak bertobat. Mereka menolak para nabi-nabi, dan menolak Yesus. Dengan demikian ayat ini menjadi pengumuman penghakiman terhadap mereka.

Dimana secara simbolis kita lihat dengan mengutuk pohon ara karena tidak menghasilkan buah (21:18-21).

Peran istimewa para pemimpin agama dalam memelihara “kebun anggur” Allah kini mulai ambil. Menunjukkan bahwa peran istimewa Israel dalam pendirian kerajaan Allah akan diambil dan diberikan kepada bangsa lain.

Kata ‘suatu bangsa,’ adalah bentuk tunggal ethnos. Kata ini merujuk kepada gereja, yang satu waktu akan menyatukan orang-orang dari segala bangsa, suku dan bahasa untuk menjadi satu “bangsa” yang baru untuk mewartakan kerajaan Allah.

Petrus kemudian juga menggunakan bentuk tunggal ethnos dalam konteks ayat “batu” untuk merujuk pada gereja (1 Petrus 2:9).

Kerajaan Allah akan menghasilkan buahnya kepada bangsa-bangsa lain, yang mengarah pada pekerjaan Roh Kudus dalam pembentukan perjanjian baru.

Jadi, bangsa, atau umat, yang menghasilkan buah kerajaan adalah gereja, “bangsa terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri” (1 Ptr. 2:9).

Kemudian Yesus menekankan penghakiman dengan mengatakan,

[Dan barangsiapa jatuh ke atas batu itu, ia akan hancur dan barangsiapa ditimpa batu itu, ia akan remuk.]”

Kata-kata untuk batu yang digunakan di sini berbeda dengan Matius 21:42, dari segi makna ada hubungannya.

Gambaran dari dua batu tersebut mungkin agak membingungkan, namun disini yang ingin ditekankan adalah mengenai penghakiman.

Artinya, para pemimpin Yahudi yang menolak dan membunuh Yesus akan hancur berkeping-keping. Paulus katakan, “Siapa yang tidak mengasihi Tuhan, terkutuklah ia.” 1 Kor 16:22.

Orang tersebut dipecah-pecah, dihancurkan menjadi bubuk dan diceraiberaikan seperti debu, seperti yang telah diperingatkan oleh Tuhan Yesus Kristus sendiri.

Musuh-musuh Tuhan akan dihancurkan dan dibinasakan. Dilenyapkan menjadi tidak ada lagi. Mereka yang ingin menghancurkan Kristus, berarti memastikan kehancuran diri sendiri.

Kemungkian Yesus mengutip dari Yesaya 8:13-15, dimana mereka jatuh kedalam dosa tidak mengakui identitas Yesus dengan benar.

Pada akhirnya Yesus akan datang sebagai hakim dan menimpa mereka yang sudah menolaknya.

Ketika imam-imam kepala dan orang-orang Farisi mendengar perumpamaan-perumpamaan Yesus, mereka mengerti, bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya.

Mereka tahu bahwa mereka adalah anak yang mengatakan kepada ayahnya akan pergi bekerja di ladang, tetapi kemudian tidak pergi..

Mereka juga tahu bahwa merekalah penggarap kebun anggur yang kejam itu, yang telah memukuli serta membunuh para pelayannya dan akhirnya membunuh putranya.

Mereka juga tahu bahwa merekalah para tukang bangunan yang telah menolak batu yang akan menjadi batu penjuru dan karena penolakan itu mereka sendiri akan ditolak oleh Allah dan buang.

Tetapi seperti biasa, pengetahuan dan kesadaran itu tidak membuat mereka merenung dan bertobat. Mereka semakin menunjukkan kebenaran perumpamaan tersebut..

Mereka mendengar, tetapi mengabaikan. Mereka tidak mau bertobat, dan karena itu merek tidak dapat diampuni.

Mereka mengetahui kebenaran yang penuh rahmat tentang Yesus tetapi tidak mau mengikuti Dia.

Satu-satunya pikiran mereka hanyalah pembenaran diri dan balas dendam. Reaksi mereka adalah menangkap Yesus dan membunuh Dia, seperti yang telah mereka rencanakan sejak awal pelayanan-Nya.

Dan mereka berusaha untuk menangkap Dia, tetapi mereka takut kepada orang banyak, karena orang banyak itu menganggap Dia nabi.

Mereka lebih takut kepada manusia daripada Tuhan. Itu sebabnya mereka menunda menangkap Yesus. semakin mereka berkeras hati, semakin jauh rahmat Tuhan dari mereka.

Pilihan mereka menolak Yesus, yang akan membuat mereka dihakimi dan mati kekal.

Mari dengarkan teguran Yesus. berpalinglah dari dosa-dosa kita. Jangan keraskan hati. Biarlah hati kita dilembutkan oleh kasih-Nya. Ikutilah Yesus.

Mengabaikan pesan para nabi, hamba-hamba Allah, sama dengan mengabaikan Allah. Pengabaian berarti pengerasan hati. Hari yang keras tidak dapat disentuh oleh rahmat Allah.

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan