Arti Perkataan Yesus, “Ikuti Ajarannya, Jangan Ikut Perbuatannya”

“Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa.

Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.” Matius 22:1-3

YESUS membungkam orang-orang Farisi. Mereka tidak dapa menjawab pertanyaan Yesus. mereka agak menjauh dari Yesus, tetapi mereka masih tetap ada disana..

Kemudian Yesus memperingatkan orang banyak dan murid-murid-Nya tentang beban yang dibebankan oleh para ahli taurat dan orang-orang Farisi kepada mereka..

Mereka duduk di kursi Musa dan memberikan pernyataan tentang hukum yang mereka harapkan untuk diikuti oleh umat..

Namun mereka tidak memberikan bantuan praktis agar mereka benar-benar melaksanakannya.

Sejarah bagaimana ahli taurat dan orang farisi menduduki kursi Musa menarik dipelajari..

Ketika orang-orang Yahudi kembali ke Palestina setelah tujuh puluh tahun ditawan di Babel, saat itu Kitab Suci untuk sementara waktu kembali mendapat tempat utama dalam kehidupan dan ibadah Israel..

Itu terjadi karena kebangunan rohani kembali di bawah pemimpin Nehemia dan Ezra (lihat Neh. 8:1 -8).

Ezra adalah salah satu penulis Yahudi atau ahli taurat pertama, yang kemudian hari gelar tersebut digunakan pada zaman Yesus.

Ada pepatah Yahudi kuno menyatakan bahwa Tuhan memberikan hukum kepada para malaikat, para malaikat memberikannya kepada Musa, Musa memberikannya kepada Yosua..

Yosua memberikannya kepada para tua-tua, para tua-tua memberikannya kepada para nabi, dan para nabi memberikannya kepada para orang-orang di sinagog, yang kemudian disebut ahli Taurat.

Selama bertahun-tahun, para ahli Taurat sinagog tersebut bertanggung jawab tidak hanya menyalin dan melestarikan tetapi juga mengajarkan dan menafsirkan hukum Allah.

Karena tidak ada lagi nabi setelah masa pembuangan, dan para ahli Taurat mewarisi peran utama kepemimpinan rohani di Israel.

Pada zaman Yesus, ahli-ahli Taurat terdapat di antara orang-orang Farisi dan Saduki, namun lebih umum dikaitkan dengan orang-orang Farisi..

Mengenai asal usul orang Farisi secara pasti tidak diketahui, namun mereka muncul diperkirakan sebelum pertengahan abad ke 2 SM.

Mereka berjumlah sekitar enam ribu orang, banyak di antara mereka juga adalah ahli-ahli Taurat, ahli dalam hukum Yahudi, baik kitab suci maupun tradisi.

kaum Farisi merupakan kelompok agama yang dominan di Israel pada zaman Yesus dan paling populer di kalangan masyarakat.

Kelompok besar lainnya, kaum Saduki, sebagian besar bertanggung jawab atas Bait Suci, namun perhatian utama mereka bukanlah pada agama melainkan pada uang dan kekuasaan.

Herodian adalah partai politik yang setia kepada keluarga Herodes. Kaum Eseni, yang tidak disebutkan dalam Kitab Suci, adalah sekte yang tertutup, yang mencurahkan sebagian besar upaya mereka untuk menyalin Kitab Suci..

Kaum Zelot adalah kaum nasionalis radikal yang berupaya menggulingkan Roma secara militer.

Seperti kaum Saduki, minat kaum Herodian dan Zelot terhadap agama sebetulnya hanya sebagai kendaraan unuk mendapatkan keuntungan pribadi dan politik.

Oleh karena itu, kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisilah masyarakat mencari bimbingan rohani dan otoritas keagamaan, sebuah peran yang sangat mereka junjung tinggi.

Dalam Talmud (Sotah, 22b) berbicara tentang tujuh macam orang Farisi. Pertama disebut sebagai “orang Farisi pundak.”

Dinamakan demikian karena kebiasaan mereka memperlihatkan perbuatan baik mereka di pundak mereka agar orang lain dapat melihatnya dan mengaguminya.

Ketika mereka berdoa, mereka menaruh abu di kepala mereka sebagai tindakan kerendahan hati dan menampilkan wajah sedih untuk menunjukkan kesalehan.

Jenis farisi kedua ia sebut “tunggu sebentar,” karena kemampuan cerdik mereka dalam membuat alasan rohani yang dibuat-buat untuk menunda melakukan sesuatu yang baik. Alasan-alasan yang baik menjadi andalan mereka dalam berdagang.

Ketiga disebut farisi “memar dan berdarah”. Agar mereka tidak berbuat dosa dengan memandang wanita dengan penuh nafsu, orang-orang Farisi itu menutup mata mereka setiap kali ada wanita di sekitar mereka.

Akibatnya, mereka sering terbentur tembok, tiang, dan objek lainnya. Sehingga mereka banyak mendapat luka memar dan lecet dibagian kepala dan lainnya.

Mereka mengukur kesalehan mereka berdasarkan jumlah dan tingkat keparahan luka yang mereka alami.

Jenis Farisi keempat adalah “si bungkuk yang terjatuh”. Untuk menunjukkan kerendahan hati, mereka membungkuk dengan punggung bungkuk dan berjalan dengan kaki yang diseret..

Karena jalan mereka tidak normal, sehingga mereka sering tersandung dan terjatuh.

Jenis Farisi kelima adalah kelompok yang “selalu mencari”, dinamakan demikian karena mereka mencatat perbuatan baik mereka dengan cermat..

Tujuannya untuk menentukan seberapa besar pahala yang harus diberikan kepada mereka oleh Tuhan.

Jenis Farisi keenam adalah orang-orang Farisi yang “takut”, Mereka takut masuk neraka. Dan itu menjadi motivasi mereka melakukan segala hal.

Jenis Farisi ketujuh dan terakhir adalah kelompok “takut akan Tuhan,” yaitu mereka yang hidupnya dimotivasi oleh kasih yang tulus kepada Tuhan dan keinginan untuk menyenangkan Dia.

Nikodemus, orang Farisi (baca Yohanes 3:1; 19:39) kemungkinan termasuk dalam kelompok ini.

Namun Nikodemus dan beberapa orang Farisi lainnya yang percaya kepada Yesus adalah pengecualian.

Umumnya, orang-orang Farisi adalah pengkritik Yesus yang paling keras dan musuh yang paling keras kepala.

Di dalam Matius 23:2-7, Yesus memaparkan lima ciri ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang tidak beriman. Ciri-ciri yang melambangkan pemimpin rohani yang palsu.

Poinnya, seperti orang farisi, berbagai jenis juga karakter para pemimpin rohani. Demikian juga karakter orang-orang percaya..

Marilah kita menjadi pemimpin rohani dan anggota jemaat yang takut akan Tuhan, yang mencari dan mengikut Tuhan dengan tulus..

Bisa mengajar, tapi tidak bisa melakukan

Kursi, istilah untuk jabatan atau posisi. Kursi berasal dari kathedra, istilah Yunani yang menjadi asal kata katedral, yang awalnya mengacu pada tempat, atau kursi, otoritas gerejawi.

Bagi orang Yahudi, Musa adalah pemberi hukum tertinggi, juru bicara tertinggi Tuhan. Oleh karena itu, duduk di kursi Musa sama artinya menjadi juru bicara Allah yang berotoritas..

Dan para ahli taurat dan orang farisi disebutkan oleh Yesus sebagai orang-orang yang menduduki posisi seperti Musa sebagai juru bicara Tuhan..

Mereka tidak ditunjuk oleh Tuhan untuk duduk di posisi tersebut dan bahkan mereka tidak dipilih oleh umat. Mereka mengambil posisi tersebut untuk diri mereka sendiri.

Jadi menduduki kursi Musa artinya, mereka mengambil peran sebagai pemimpin rohani seperti Musa, yaitu mengajar umat Firman Allah dan hukum Allah.

Karena posisi itulah mereka iri terhadap Yesus, karena Yesus bertindak mengajar dengan otoritas dari Sorga. Sementara mereka merasa otoritas itu adalah bagian mereka.

Karena mereka telah mengambil posisi sebagai pemimpin rohani, maka nasehat Yesus kepada Jemaah adalah “turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu.”

Pernyataan ini mengejutkan, mengingat banyak ajaran orang farisi yang tidak benar. Artinya setiap ajaran atau penafsiran yang benar harus diikuti.

Orang-orang Farisi mempunyai banyak hal baik untuk dikatakan, dan doktrin mereka lebih mirip dengan doktrin Yesus dalam banyak isu krusial dibandingkan dengan kelompok lain.

Yesus tidak menyangkal bahwa ajaran mereka bermanfaat bagi kehidupan rohani. Yesus tidak mengkomplain ajaran mereka yang bersumber dari kitab suci..

Yang sering dikomplain Yesus adalah tradisi lisan mereka yang kadang tidak sesuai dengan perjanjian lama.

Poinnya, sejauh mereka mengatakan kebenaran Tuhan, maka itu harus dilakukan dan dituruti.

Firman Tuhan tetaplah Firman Tuhan, meskipun diucapkan oleh guru palsu. Sejauh ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi secara akurat mengajarkan hukum Musa dan kitab para nabi, maka ajaran mereka harus diindahkan.

Apa yang tidak perlu diikuti adalah perilaku mereka..

“..tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.”

Di sini dia menunjuk pada isu-isu spesifik di mana orang-orang Farisi mengajarkan satu nilai kebenaran tetapi mereka sendiri tidak mengamalkannya. Ini adalah bentuk kemunafikan.

Mereka beragama, mengenakan jubah agama, mengajarkan ajaran agama, tetapi tidak mempraktekkan apa yang mereka ajarkan.

Mengapa mereka tidak melakukan apa yang mereka ajarkan? Karena mereka tidak mempunyai kuasa Roh Allah yang mengubahkan..

Pikiran mereka tidak terhubung dengan sumber kuasa tersebut. Mereka menolak kasih karunia Allah bagi mereka..mereka melihat fiman Allah secara hurufiah, bukan dalam makna..

Ketika kita tidak terhubung dengan kuasa Roh Allah, kita akan mudah jatuh dalam perilaku hidup kemunafikan. Kita akan menjadi pandai dalam teori bukan praktek..

Itulah masalah banyak para pemimpin rohani, kurangnya keteladanan, karena hanya dapat mengajar dengan bagus, tetapi kurang menghidupkan apa yang sudah diajarkan..

Jadi, kasih Allah tidak ada pada mereka, sehingga tidak ada yang bisa ditunjukkan dalam bentuk perbuatan.

Sebagai orang percaya, terkadang kita akan menemui para pemimpin rohani dikomunitas rohani kita, yang hidup tidak sesuai dengan apa yang diajarkan..

Mungkin kita kesal dengan hal itu, bahkan kita kecewa, tetapi ingat kata-kata Yesus, “..turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka..”

Diatas semuannya, berdoa untuk para pemimpin rohani Anda, supaya mereka tidak jatuh dalam dosa kemunafikan..doakan supaya mereka hidup sesuai dengan ajaran Firman Allah..

Dan jangan sungkan untuk menegur, kemunafikan pemimpin rohani Anda..

Kekerasan Rohani

“…karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya.” Matius 23:3-4

Pada jaman Yesus, bebera hewan yang menjadi alat transportasi adalah Keledai, Unta atau hewan lainnya. Selain alat transportasi, hewan-hewan ini juga digunakan sebagai pengangkut barang..

Merupakan pemandangan yang biasa, memuat barang-barang diatas punggung keledai dan unta, baik untuk urusan perjalanan atau pun memindahkan barang..

Pemilik hewan angkut tersebut akan berjalan disamping dan tidak membawa apa-apa. Sering pemilik hewan menaruh beban yang melebihi kapasitas keatas punggung keledai dan hewan dipaksa mengangkutnya..

Pada saat seperti itu hewan tersebut terkadang kepayahan berjalan dan lambat, tetapi oleh pemilik, hewan itu akan dibentak, dipecut atau dipukul dengan tongkat, tanpa mempedulikan perasaan atau kesejahteraan hewan tersebut..

Cara seperti itulah yang dilakukan para ahli taurat dan orang farisi terhadap orang-orang, menaruh beban dipundak orang lain.

Beban adalah sesuatu yang dipikul, biasanya di pundak. Diperlukan energi tambahan untuk menanggungnya. Beban sering kali membatasi apa yang mampu dicapai seseorang.

Beban berat, yang merupakan tradisi lisan para rabi adalah ciri khas Yudaisme dalam hal ini kaum Farisi.

Banyak sekali peraturan agama, aturan, tradisi dan ritual yang mereka bebankan di Pundak orang-orang hingga menjadi tak tertahankan dan mustahil untuk dipikul.

Dan ketika orang-orang gagal memenuhi seluruh persyaratan, seperti yang telah ditetapkan untuk mereka lakukan, mereka dimarahi dan ditegur oleh para pemimpin agama.

Bahkaan mereka akan dipermalukan, diusir dari sinagoga dan komunitas keagamaan jika mereka tidak memenuhi persyaratan.

Hal itu menambah beban rasa bersalah pada mereka yang kelelahan dan frustrasi. Standar mereka sangat tinggi, dan peraturan legalistik mereka tidak ada ampun.

Orang-orang Farisi yang tak kenal belas kasihan, yang memikul beban di pundak manusia, tidak mau memindahkan beban itu walau dengan satu jari.

Mereka memaksakan aturan, namun mereka sendiri tidak menaati aturan tersebut.

Dalam hal ini mereka tidak mempraktekkan hukum yang kedua, kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri..

Karena tidak menaati perintah terbesar kedua, oomatis mereka melanggar perintah pertama (Matius 22:37-40).

Tradisi lisan mereka rancang sebagai pagar yang mengelilingi taurat. Tambahan-tambahan yang mereka buat itu seringkali tidak masuk akal dan membebani..

Anehnya mereka sendiri tidak mau memikul aturan-aturan yang mereka buat..

Peraturan orang Farisi tidak memberikan kehidupan. Sebaliknya, itu adalah beban yang menghancurkan jiwa.

Aturan-aturan mereka tidak akan menghasilkan keharmonisan dengan Tuhan dan sesama.

Banyak orang yang ingin hidup menyenangkan Tuhan, namun mereka dihancurkan oleh para pemimpin rohani mereka.

Orang-orang yang tertindas secara rohani ini merasa lelah dan berbeban berat. Dan tidak ada pilihan lain, karena itu mereka tetap bertahan di bawah beban yang tak tertahankan itu.

Sebab kalaua mereka melawan, mereka akan ditolak dan hidup sebagai orang buangan di antara orang-orang berdosa dan orang-orang bukan Yahudi.

Sangat berbeda dengan Yesus, Dia datang untuk melepaskan beban-beban berat yang diletakkan oleh para pemimpin agama..

Yesus menunjukkan cara beragama yang benar. Agama yang baik memberi kehidupan. Dia mengatakan,

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”

“Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.” Matius 11:28-30.

Agama yang Buruk bersifat menindas dan menghancurkan jiwa. Agama yang Baik itu membebaskan dan memberi kehidupan.

“Agama yang benar membawa manusia kepada keselarasan dengan hukum-hukum Allah, secara jasmani, pikirani dan akhlak.

Itu mengajarkan pengendalian diri, ketenangan dan pertarakan. Agama meluhurkan pikiran, menghaluskan perasaan, dan menyucikan pertimbangan.

Agama secara langsung cenderung untuk menyehatkan, memperpanjang hidup, dan menambahkan kesukaan kita akan segala berkatberkatnya. Itu membukakan kepada jiwa kita satu sumber kebahagiaan yang tidak pernah kering. (Para Nabi dan Bapa, Vol 2, 205)

“Dalam cerita tentang orang Samaria yang murah hatinya, Kristus melukiskan sifat agama yang benar.”

“Ia menunjukkan bahwa agama yang benar itu bukannya bergantung pada peraturan, kepercayaan atau upacara agama, melainkan dalam melakukan perbuatan kasih, membawa keuntungan terbesar kepada orang lain, dan kebaikan sejati.” (Kerinduan Segala Zaman 2, 114)

Kekerasan rohani adalah Ketika kita menaruh beban dipundak orang dan memaksa mereka memikulnya, sementara kita sendiri tidak memikulnya..

Bagikan:

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *