Pastordepan Media Ministry
Beranda Renungan Arti “Pergi Kepersimpangan Jalan” di Matius 22:9-10

Arti “Pergi Kepersimpangan Jalan” di Matius 22:9-10

Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu.

Maka pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu. Matius 22:9-10.

Para undangan yang tidak layak itu telah menerima hukuman mereka. Maka jangan lagi berharap kepada mereka. Masih banyak orang yang mau hadir di pesta perkawinan anak raja.

Karena itu Raja itu beralih kepada orang-orang lain..

Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu.

Nah, ini merupakan adegan ketiga, yaitu membuat undangan baru. Para tamu baru yang diundang untuk menggantikan mereka yang berulang kali menolak panggilan raja.

Undangan ini unik. Bukan undangan khusus formal kepada segmen tertentu seperti yang pertama. Undangan ini ditujukan kepada siapa saja yang ditemui dijalan.

Itu adalah perintah Yesus kepada para murid-murid-Nya di Matius 28:19, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid Ku.”

Karena Israel telah ditolak. Melalui Hosea hal itu sudah diramalkan jauh hari, “Kamu ini bukanlah umat-Ku,” Hosea 1:10.

Paulus menuliskan hal yang sama, “keselamatan telah sampai kepada bangsa-bangsa lain..” Roma 11;11.

Poinnya, undangan dialihkan dari golongan khusus kepada semua orang. Tidak ada lagi keistimewaan.

Semua orang memiliki hak dan kesempatan yang sama menghadiri perjamuan kawin kerajaan. Tidak mengenal jenis kelamin, kaya miskin, suku dan bangsa.

Ini dilakukan untuk mendapatkan kembali kehormatan raja. Walau pun dia telah mendapatkan kehormatan dengan membinasakan mereka yang menolak.

Dalam salah satu cerita Yahudi, bahkan seorang pemungut pajak yang jahat, yang dihina oleh semua tamu undangannya, yaitu orang-orang terhormat di kota itu..

Demi menjaga martabatnya, dia akan mengundang orang-orang miskin untuk menjaga makanan agar tidak terbuang percuma, dan dengan demikian mendapatkan kembali kehormatan yang hilang.

Maka pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu.

Karena undangan ini tanpa pengecualian, siapa saja diundang, maka tamu-tamu pesta itu beraneka ragam. Tetapi dari segi sifat, mereka terdiri dari dua bagian. Orang jahat dan orang baik.

Menunjukkan secara moral ada yang tidak layak datang kepesta kerajaan. Para tamu yang pertama, mereka diundang bukan karena alasan moral atau karena mereka lebih rohani..

Mereka yang berada di jalan raya sama dengan para pemungut cukai dan orang-orang berdosa di Israel, yang secara mengejutkan menjadi sasaran pelayanan Yesus (baca 9:10-11).

Dan dengan orang-orang bukan Yahudi, yang akan menjadi sasaran pelayanan-Nya melalui para murid yang menjangkau di seluruh dunia.

Keduan golongan ini: Pemungut cukai dan orang berdosa lainnya dan orang kafir, senantiasa mendapat label orang berdosa dan kayu bakar api neraka dari pemuka agama Yahudi..

Tuhan selalu menyampaikan seruan keselamatan-Nya kepada orang jahat dan orang baik, karena keduanya tidak benar dan keduanya sama-sama membutuhkan keselamatan.

Mereka yang dijalan raya datang menghadiri jamuan pesta perkawinan anak raja.

Nah, istilah “perjamuan” di sini mengacu pada jamuan makan yang dilakukan pada pagi hari. Paling lambat tengah hari.

Maka Ketika Yesus menggunakan kata kegelapan yang gelap di ayat 13, itu karena jamuan makan ini terjadi pada malam hari.

Kenapa malam? Karena pesta ini tertunda sepanjang hari akibat penolakan tamu yang pertama.

Sekarang aula pernikahan dipenuhi oleh tamu-tamu yang tidak layak menerima undangan yang penuh rahmat (22:10).

Baca Juga: Makna Perumpamaan Perjamuan Kawin di Matius 22:1-8

Menunjukkan bahwa kasih karunia Allah menjangkau semua orang. Memang dalam cerita berikutnya, ada tamu yang tidak layak berada dipesta tersebut..

Maka poin dibagian ini adalah panggilan kerajaan Allah pertama ditujukan kepada Umat-Nya Israel. Tetapi mereka menolak.

Maka Raja Sorga melayangkan undangan kepada semua orang secara pribadi-pribadi. Intinya undangan Tuhan kepada semua orang. Respon akan berbeda-beda..

Akan ada yang menolak. Mereka diwakili para pemuka agama. Orangg-orang yang merasa diri benar. Orang-orang yang fanatik dan formalitas. Orang yang agamanya sekedar jubah.

Mereka yang menerima undangan, diwakili oleh orang-orang yang ditemukan dijalan raya. Mereka orang berdosa dan orang-orang yang tulus.

Mereka mengenal diri mereka. Sadar akan keberdosaan mereka. Mereka rindu diubahkan. Mereka tersentuh dengan undangan raja. Tanpa bas abasi, mereka segera datang ke pesta tersebut..

Jenis yang manakah kita dalam menyikapi panggilan Tuhan untuk masuk kedalam kerajaan-Nya? Apakah jenis pemuka agama atau jenis orang jalanan?

Jika kita memilih jenis kedua, marilah kita hidup dalam kasih karuna Tuhan yang berlimpah-limpah.

Seperti halnya Maria yang duduk dideka kaki Yesus, biarlah kerinduan kita untuk selalu dekat dengan Yesus dan mendengar sabda-Nya..

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan