Arti “Masa Hidup Kami 70 Tahun” di Mazmur 90:1-17

Teks: Mazmur 90:1-17

Pendahuluan

Salam sejahtera untuk kita semua. Kita sudah tiba di hari terakhir tahun 2023. Kita telah melewati 365 hari. 52 sabat. 12 bulan. 8.760 jam. 525.600 menit. 31.536.000 detik.

Waktu berlalu begitu cepat. Dia tidak dapat dihentikan, atau diperlambat. Atau dikembalikan. Dia akan berjalan terus.

Walaupun jam dinding kita mati, karena kehabisan baterai, waktu akan terus berjalan. Siang dan malam akan terus berganti. Musim-musim akan terus berganti.

Musim menanam, musim menuai akan terus berlangsung secara bergantian selama bumi masih ada.

Kita orang tua akan semakin tua dan merosot. Anak-anak kita akan besar dan dewasa. Kita akan berlalu, digantikan generasi baru.

Dan yang paling penting, kita lebih dekat kepada kekekalan. Kedatangan Yesus kedua kali..

Akhir tahun mungkin sering menjadi tahun untuk menyesali banyak hal. Apakah yang umumnya kita sesali? Boleh jadi kita menyesali terlalu banyak waktu untuk kuatir.

Kita menyesal tidak menunjukkan perasaan yang sebenarnya kepada orang yang kucintai. Kita menyesali terlalu memedulikan apa yang dipikirkan orang lain.

Kita menyesali tidak mengikuti passion atau semangat kita untuk melakukan apa yang kita sukai..

Kita menyesali tidak sepenuhnya hidup di masa sekarang dan menikmati momen-momen menakjubkan..

Kita menyesali tidak cukup melakukan perjalanan. Kita menyesali tidak berani mengambil risiko. Kita menyesali terlalu sedikit waktu dengan orang-orang yang dikasihi..

Saudara bisa tambahkan dafar lebih banyak lagi, hal-hal yang kita sesali diakhir tahun seperti ini..kemudian diawal tahun, kita akan kembali membuat resolusi awal tahun..dan resolusi itu akan kembali kitat sesali diakhir tahun, karena kita gagal menjalankan resolusi kita..

Demikian yang terjadi kepada kita dari tahun ketahun..supaya kita tidak menyesal diakhri tahun, supaya semua bernilai, mari kita pelajari Mazmur 90:1-17.

Doa Musa

Perikop Mazmur 90 ini adalah Doa Musa, abdi Allah. Satu-satunya mazmur yang dihubungkan dengan Musa di kitab Mazmur. Tetapi ini bukan satu-satunya puisi yang ditulis oleh Musa..

Ada dua nyanyian Musa yang yang dinyanyikan orang Israel setelah mereka melintasi laut Merah, bebas dari Firaun, dicatat di Keluaran 15:1-18.

Lagu lainnya dibacakan Musa sebelum dia naik ke gunung Nebo di Ulangan. 32:1-43. Lagu pertama adalah pujian murni, perayaan yang penuh kegembiraan.

“Baiklah aku menyanyi bagi TUHAN, sebab Ia tinggi luhur, kuda dan penunggangnya dilemparkan-Nya ke dalam laut.

TUHAN itu kekuatanku dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku. Ia Allahku, kupuji Dia, Ia Allah bapaku, kuluhurkan Dia…

Yang kedua adalah pengingat akan pemberontakan Israel di masa lalu terhadap Tuhan dan penghakiman oleh Tuhan.

Latar Belakang Doa Musa

Mazmur 90 adalah komposisi puisi yang paling suram dan juga paling pribadi. Kemungkinan Musa menulis lagu ini dilatar belakangi oleh peristiwa di Bilangan 20.

1. Miryam, kakak perempuan Musa meninggal dunia (1)

2. Dosa Musa yang memukul batu karang di padang gurun sehingga ia tidak dapat memasuki Tanah Perjanjian; (11)

3. Kematian Harun saudara Laki-laki Musa (28-29)

Peristiwa menyedihkan ini tercermin di seluruh mazmur 90. Namun Mazmur 90 tidak bernada kekalahan atau kepahitan.

Hanya pengakuan bahwa manusia itu lemah dan penuh dosa dan bahwa ia membutuhkan Tuhan yang kekal sebagai satu-satunya harapan dan rumah baginya.

Seorang bernama H. C. Leupold, prof Theoloy mencatat tentang Mazmur 90, “Tampaknya tidak ada sedikit pun kepahitan atau pesimisme…” kata-kata dalam mazmur sangat realistis..

Lalu seorang bernama Isak Watt menggubah sebuah kidung jemaat berdasarkan Mazmur 90 dengan judul “Tuhan kita, Penolong Kita di Masa Lalu..”

“Tuhan kita, Penolong kita di masa lampau, Harapan kita untuk tahun-tahun mendatang, Tempat kita Berteduh dari hembusan badai, Dan Rumah abadi kita…”

Seperti Musa, Isak Watts menyadari bahwa hidup kita tidak penting dan cepat berlalu. Setelah beberapa saat kita melayang lenyap “terlupakan seperti mimpi”.

Namun dia juga tahu bahwa orang percaya mempunyai rumah kekal di dalam Tuhan.

Karena itu Gagasan Mazm 90 adalah hidup ini singkat seperti bayangan. Tetapi kita akan aman didalam Tuhan dengan memanfaatkan dan menebus waktu dengan baik.

Poin yang ingin disampaikan adalah Kematian dan dosa mengingatkan kita akan singkatnya hidup dan perlunya kasih karunia.

Semua keinginan kita yang belum terpenuhi, dan khususnya janji-janji Allah yang belum terpenuhi, bergantung pada karakter Allah.

Karena Bilangan 20 sebagai latar belakang dari Mazmur 90, dimana Musa kehilangan kakak perempuannya, kehilangan Kakak Laki-lakinya, Karena dosa dia tidak bisa masuk ke tanah Kanaan dan sebentar lagi dia juga akan mati..

Refleksi Singkatya hidup

Seperti Bilangan 20, Mazmur 90 merupakan refleksi atas kematian manusia dan singkatnya hidup dan jugan tentang keyakinan kepada Tuhan yang menjadi harapan teguh orang-orang benar.

Disini dibandingkan antara keagungan Tuhan dan kelemahan manusia. Dan mungkin, Musa satu-satunya orang yang memiliki perasaan yang paling kuat tentang keagunan Tuhan..

Karena Musa mengenal Tuhan secara intim dan bercakap-cakap muka dengan muka (Bil 12:8). Karena itu, pasal ini dimulai dengan keberadaan Tuhan sebagai tempat perlindungan abadi bagi umat-Nya..

Tuhan, Engkaulah tempat perteduhan kami, turun-temurun. Sebelum gunung-gunung dilahirkan, dan bumi dan dunia diperanakkan, bahkan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya Engkaulah Allah. (1-2).

Dia bilang, Engkaulah tempat perteduhan kami..40 tahun mereka mengembara dipadang belantara. Mereka tidak mempunyai tempat permanen..

Musa mengakui bahwa jiwanya bersemayam di dalam Tuhan..dan itulah tempat persemayaman yang sebenarnya.

Generasi akan datang silih berganti, tetapi Tuhan tetap ada di tengah ketidakpastian. Musa sadar, bahwa hidup ini tidaklah pasti. Karena itu dia sadar akan keberadaan Tuhan sebagai satu-satunya landasan hidup..

Maka orang yang berlabuh dalam Tuhan akan aman selamannya. Maka kata, tempat perteduhan kami’ menjadi sangat penting..artinya tempat perlindungan..

“Allah yang abadi adalah tempat perlindunganmu..” Ul 33:27. Dunia ini adalah tempat persinggahan sementara. Kita adalah musafir, numpang lewat. Tujuan akhir kita bukan disini..

Musa, Abraham, dan para leluhur Perjanjian Lama lainnya, mereka “ menantikan kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah..” Ibr 11:10.

Apakah kita menantikan tempat tinggal seperti itu? Atau apakah kita menaruh harapan dan seluruh upaya duniawi kita pada benda-benda yang mudah rusak dan akan segera lenyap ini?

Paulus berkata, “Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal..” 2 Kor 4:18.

Setelah Musa mengatakan tentang Allah yang kekal dan tetap. Lalu dia membawa kita kepada kelemahan manusia, pertama adalah singkatnya hidup kita di dunia (ay.3-6).

Engkau mengembalikan manusia kepada debu, dan berkata: “Kembalilah, hai anak-anak manusia!” Sebab di mata-Mu seribu tahun sama seperti hari kemarin, apabila berlalu, atau seperti suatu giliran jaga di waktu malam.

Engkau menghanyutkan manusia; mereka seperti mimpi, seperti rumput yang bertumbuh, di waktu pagi berkembang dan bertumbuh, di waktu petang lisut dan layu. (3-6)

Hidup itu singkat dan kita akan mati semua..

Petrus mengatakan, “..di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari..” 2 Pet 3:8.

Musa tidak mengatakan bahwa waktu cepat berlalu bagi Tuhan..tetapi bagi kitalah waktu cepat berlalu.. Sekalipun kita hidup seribu tahun, seperti yang hampir dialami Metuselah (lihat Kej. 5:27), ‘ itu seperti hari kemarin, apabila berlalu..”

Karena nanti Musa akan berbicara tentang “umur kita” adalah “tujuh puluh tahun, atau delapan puluh tahun, jika kita kua” (ayat 10).

Hidup Singkat Karena Dosa

Sekarang kelemahan kedua manusia di sebutkan di ayat 7-12 yaitu kita orang berdosa dan akan menghadap penghakiman Allah..

Dosa yang menyebabkan kita mati dan menderita. Musa ingat Adam dan Hawa jatuh dalam dosa..dia juga ingat dosanya yang memukul batu, sehingga dia tidak dapat masuk tanah Kanaan..

7Sungguh, kami habis lenyap karena murka-Mu, dan karena kehangatan amarah-Mu kami terkejut. 8Engkau menaruh kesalahan kami di hadapan-Mu, dan dosa kami yang tersembunyi dalam cahaya wajah-Mu.

9Sungguh, segala hari kami berlalu karena gemas-Mu, kami menghabiskan tahun-tahun kami seperti keluh. 10Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan;

sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap. 11Siapakah yang mengenal kekuatan murka-Mu dan takut kepada gemas-Mu? 12Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.

Ayat ini sangat dalam maknanya. Musa tidak hanya mengatakan kekekalan Allah. Singkatnya hidup manusia. Dia menelusuri kematian sampai keakarnya, bahwa kematian sebagai hukuman dosa.

Dengan demikian Musa mencoba menunjukkan bahwa kematian ada hubungannya dengan dosa dan dan kematian akibat dosa..

Kita mati karena Adam berdosa (lihat Roma 5:12-21). Dosa membuat kita tidak Bahagia. Dosa merusak hubungan kita, Kesehatan. Harapan kitaa, rencana kita. Dosa membua kita terpisah dari Tuhan selamanya..

Jika kita sadar akibat dosa sangat kejam, maka kita tidak akan menganggap enteng dosa. Kita akan berdoa seperti Daud, “Bebaskanlah aku dari apa yang tidak kusadari…” maz 19;12.

“Lindungilah hamba-Mu.. Maka aku menjadi tak bercela dan bebas dari pelanggaran besar..” (13)

Arti Umur 70-80

Lalu apa maksudnya, Ketika musa menyebut angka 70-80 sebagai masa hidup, yang penuh derita dan kesukaran? Apakah Musa sedang membuat Batasan umur hanya 70-80 tahun saja?

Kita terlalu akrab dengan ayat ini, sehingga sering kita menjadikan ayat ini sebagai acuan batas umur. Dan itu kurang tepat..

Ketika Musa mengatakan ini dia sementara berumur diatas 80 tahun. Dia mati umur 120 tahun. Maka dia tidak mengatakan ini sebagai Batasan, namun sebagai perkiraan sebuah jangka hidup..

Penekanannya adalah pada kesia-siaan hidup.

Ketika dia menulis ini, Israel sementara dalam pengembaraan dipadang belantara. Mereka yang melakukan perjalanan melalui padang gurun mengalami cobaan berat dan akhirnya meninggal.

Banyak di antara mereka yang meninggal dunia tanpa pernah melihat Tanah Perjanjian yang mereka harapkan (Bilangan 14:33-35).

Poinnya, hidup ini singkat. Penuh kesusahan dan penderitaan. Rentang umur 70-100 tahun singkat. Tidak Panjang. Dan akan berakhir dengan kematian..

Karena singkatnya hidup maka Musa mengatakan, “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.”

Ini adalah doa agar Tuhan membantu kita untuk menjalani kehidupan suci, yaitu jalan kebijaksanaan sejati. Bagaimana kita menjadikan setiap hari berarti bagi Tuhan?

Pertama, dengan menyadari singkatnya hidup. Kedua, dengan menjalani hidup setiap hari untuk Tuhan.

Seorang pelajar Alkitab menulis dengan bijak, “ Kita tidak akan dapat berhikmat, kecuali kita menghitung setiap hari sebagai hari terakhir kita.”

Dari semua ilmu matematika ini yang paling sulit: menghitung hari-hari kita. Kesadaran akan singkatnya hidup akan menghasilkan “hati yang bijaksana”

Ajari kami menghitung hari-hari kami. Artinya, manusia harus diajar oleh Tuhan untuk menghitung hari-harinya di bumi karena jumlahnya sedikit.

Begitu setiap orang menghitung hari-harinya, barulah ia mampu mempersembahkan hati yang penuh hikmah kepada Tuhan.

Puas dengan Allah

Manusia harus berhati-hati untuk tidak menyia-nyiakan hidupnya dalam hal-hal sepele tetapi menginvestasikannya untuk kekekalan.

Karena itu Musa mengatakan, “Kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan kasih setia-Mu, supaya kami bersorak-sorai dan bersukacita semasa hari-hari kami.” (14)

Ini merupakan seruan kepada Allah agar mencurahkan kasih karunia-Nya kepada kita. Supaya kita puas dengan Allah.

Agar pekerjaan kita dapat bertahan sebagai sesuatu yang bernilai kekal meskipun kita sendiri akan segera meninggal dunia.

Satu-satunya hal yang dapat menjamin kebahagiaan seumur hidup adalah hati yang puas dengan pengalaman kasih Tuhan.”

Artinya, tidak ada yang bisa memuaskan hati manusia pada akhirnya kecuali Tuhan.

Jadi lupakan mencoba mengisi hidupmu dengan hal-hal yang sia-sia. Itu sementara. Bahkan jangan menaruh harapanmu pada orang lain. Mereka akan mati.

“Kiranya kemurahan Tuhan, Allah kami, atas kami, dan teguhkanlah perbuatan tangan kami, ya, perbuatan tangan kami, teguhkanlah itu.” (17)

Musa meminta agar Tuhan menegakkan pekerjaan tangan kita, menjadikannya efektif dan bertahan lama.

Tanpa berkat Tuhan dalam hidup kita, pekerjaan kita dan efektivitasnya akan berlalu dengan cepat dan dampaknya kecil.

Intinya, Musa meminta agar Tuhan mau bekerja dengan manusia. “Meskipun hari-hari kita singkat, hari-hari itu dimuliakan karena kita diizinkan menjadi alat Tuhan.”

“Kepuasan, kegembiraan, keberhasilan dalam bekerja, semuanya harus datang dari hubungan yang benar antara kita manusia yang penuh kelemahan dengan Tuhan yang kekal.”

Mazmur ini memanggil kita untuk menjalani hidup setiap hari dengan bijaksana. Setiap orang memiliki waktu yang terbatas diatas dunia ini..

Tebuslah waktu. Gunakan waktu dengan bijak. Investasikan dengan hati-hati.

Kerjakan pekerjaan mu dan pekerjaan Tuhan..

Menebus Waktu

Mari kita memohon kepada Tuhan untuk membantu kita menghargai nilai waktu. Salah satu tragedi terbesar dalam hidup adalah kesempatan yang terbuang–tidak memanfaatkan apa yang telah Tuhan berikan kepada kita.

Menebus waktu berarti menyelamatkannya dari sampah kehidupan yang tidak bijaksana dan membawanya ke tempat yang dapat digunakan dengan baik dan memuliakan Tuhan.

Tidak masalah jika kita hidup hanya sampai usia 36 atau bahkan 100 tahun, hidup ini singkat. Kita semua akan mati dan mempertanggungjawabkan hidup kita.

Kitab Suci menasihati kita untuk memanfaatkan “waktu ini, karena hari-hari ini jahat” (Efesus 5:16).

Semua kita dikaruniakan Tuhan karunia yang sama: Waktu, talenta, uang, tubuh..maukah kita menggunakan semua itu selagi hayat dikandung badan?

Maukah kita menggunakan semua itu untuk tujuan Tuhan: Keselamatan?

Ada satu hal yang tidak dapat kia lakukan di surga: membawa yang terhilang kepada Yesus. Ini akan terlambat. Kita harus memikirkan Pekerjaan Tuhan…

Hidup ini singkat, Terlalu singkat untuk membuang waktu. Terlalu singkat untuk membenci. Terlalu singkat untuk menyerah.

Terlalu singkat untuk dihabiskan untuk hal-hal yang tidak bertahan lama. Hidup ini singkat. Jadi hiduplah dengan baik.

“Hidup ini singkat – layani Tuhan.” “Hidup ini singkat – jangkaulah orang-orang sekitar kita.”

Hidup ini singkat, Yesus pasti datang segera..

Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana. Mazmur 90:12

Bagikan:

2 Respon

  1. Terimakasih atas berkat2 rohaninya,,blh menambahkan pengetahuan firman Tuhan, & ijin utk di khotbah kan di jemaat kami..Tuhan kiranya Memberkati sdr Pdt🙏🙏

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *