Arti ‘Barangsiapa Terbesar, Hendaklah Menjadi Pelayanmu’

“Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.

Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” Matius 23:11-12

Untuk mengakhiri peringatan-Nya terhadap kemunafikan, legalisme, pertunjukan kesalehan, dan gelar kehormatan, Yesus mengingatkan mereka kepada ajaran-Nya di Matius 20:26-27..

“Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu..” Matius 20:26-27

Sehubungan dengan gelar. Menurut kamus bahasa Indonesia, gelar adalah sebutan kehormatan, kebangsawanan, atau kesarjanaan yang biasanya ditambahkan pada nama orang seperti raden, tengku, doktor, sarjana ekonomi..

Ada juga gelar yang didapatkan setelah menikah atau setelah tua. Ada juga gelar yang berkaitan dengan keadaan seseorang.

Gelar kebangsawanan hanya disandang orang-orang tertentu, misalnya keluarga keraton. Gelar keagamaan juga disangang orang tertentu..

Dalam konteks kita saat ini mungkin gelar yang setiap orang dapat sandang adalah gelar akademik. Karena setiap orang saat ini punya kesempatan luas untuk sekolah..

Tidak ada yang salah dengan itu. Berusaha meraih gelar akademik yang tinggi misalnya S1, s2, s3, dll. Tentu baik bila bisa mencapai gelar tersebut.

Namun perlu hati-hati apa motifasi untuk meraih gelar itu. Perlu merenung dengan pikiran yang jernih agar motifnya tidak menyimpang untuk penonjolan dan kemuliaan diri..

Jangan sampai karena gelar akademik kita yang sudah tinggi, kita menganggap orang lain rendah dan tidak berpendidikan..

Kita dinilai bukan karena gelar tetapi dari cara kita menghargai dan memanusiakan orang lain. Maka yang tidak punya gelar, jangan minder dan merasa rendah diri..

Karena sesungguhnya, hikmat dan kebijaksanaan serta adab, tidak ditentukan gelar akademik. Semua gelar akademik perlu dicapai tetapi itu bukan tujuan hidup kita..

Sebelumnya kita sudah melihat, para pemimpin rohani yang palsu sangat bangga dengan gelar mereka dan dengan gelar itu mereka mengambil keuntungan..

Mereka mengeksplotasi rakyat. Menipu. Gelar menjadi alat memuji betapa hebat dirinya..

Kondisi pemimpin rohani masa kini boleh jadi terulang pada oknum-oknum pemimpin tertentu.

Tidak jarang mereka yang punya gelar akademik yang tinggi, merasa tidak layak hanya menjadi pemimpin rohani dijemaat kecil.

Atau mereka yang telah menjadi pemimpin rohani ditingkat yang lebih tinggi, merasa tidak terhormat atau merasa terbuang bila menjadi gembala jemaat..

Istilah yang sering digunakan baik oleh para pemimpin dan anggota adalah turun pangkat. Naik jabatan-turun jabatan.

Padahal jabatan pelayanan gerejani bukan jabatan karir, dimana seseorang akan terus naik sampai pada titik tertentu..

Jabatan gereja adalah jabatan pelayanan. Disini seharusnya tidak mengenal istilah “naik-turun” pangkat.

Maka seharusnya tidak perlu mencari dan mengejar posisi tertentu, apalagi sampai harus menggunakan cara-cara yang tidak rohani, yang biasa digunakan oleh para politikus kotor diluar sana.

Maka para pemimpin yang saleh, sekali pun memiliki gelar yang tinggi, namun mereka bersedia menerima pelayanan yang rendah dalam nama Tuhan, mengikuti teladan Yesus.

Seperti yang dicontohkan dengan indah oleh Yesus sendiri, orang yang paling besar adalah orang yang rela menjadi hamba.

Yesus adalah Raja alam semesta. Pencipta. Dia rela meninggalkan jabatan Sorgawi-Nya dan menjadi hamba.

Dia mengatakan, “..sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Mat 20:28

Pada akhir pelayanannya diruang atas, Yesus mengambil baskom berisi air, mengambil handuk dan membasuk kaki para murid-Nya.

“Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan.

Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu..” Yohanes 13:13-14..

Itulah jalan menurun menuju kemuliaan..

Orang yang terhebat dalam pandangan Allah bukanlah orang yang mempunyai derajat atau gelar atau penghargaan terbanyak, melainkan orang yang mengabdi dengan kerendahan hati yang tulus sebagai hamba yang tidak mementingkan diri sendiri.

Dunia mengajarkan bahwa siapa yang meninggikan atau menonjolkan dirilah yang unggul, dan siapa yang merendahkan dirinya yang kalah dan tersingkir.

Mencari nomor satu adalah prinsip sukses yang berlaku dan diterima.

Berbeda dengan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang congkak dan angkuh, pemimpin rohani sejati bekerja dalam otoritas Tuhan..

Dia hidup dalam integritas, simpati, spiritualitas, kerendahan hati, dan pelayanan yang rendah hati.

Dia dipenuhi dengan rahmat, belas kasihan, cinta, dan rela memberikan diri. Seperti Tuannya, Tuhan Yesus Kristus, ia mewujudkan hati seorang hamba yang merendahkan diri dan meninggikan Tuhan.

Ajaran Yesus adalah “Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

Orang yang sombong, suka pamer, angkuh, mementingkan diri sendiri pada akhirnya akan direndahkan Tuhan.

Orang yang rendah hati, bersahaja, rela memberikan diri, dan melayani pada akhirnya akan dimuliakan Tuhan.

Kebesaran sejati adalah menjadi pelayan. Pemimpin sejati adalah seorang pelayan. Bukan bos. Hidupnya untuk melayani dengan memberi dan berkorban.

Cacatnya seorang pemimpin rohani adalah Ketika dia mulai bertindak sebagai penguasa dengan kewenangan yang digunakan secara sewenang-wenang..

Bagikan:

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *