Arti Ayat ‘Siapa yang Terbesar dalam Kerajaan Sorga?’

“Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?”

Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka

lalu berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” Matius 18:1-4

Latar belakang pertanyaan, siapakah yang terbesar dalam kerajaan Sorga, bukan karena ingin tahu tentang Sorga. Tetapi datang dari ambisi pribadi mereka untuk penonjolan diri sendiri.

Pertanyaan itu datang dari hasil pertengkaran mereka sendiri tentang siapa yang terbesar diantara mereka semua.

Lukas 9:46 mencatat, “Maka timbullah pertengkaran di antara murid-murid Yesus tentang siapakah yang terbesar di antara mereka.”

Mereka mungkin berdebat, adu argementasi tentang kehebatan mereka masing-masing yang membuat mereka layak menjadi terbesar, terhebat, terpenting..

Yesus mendengar dan mengetahui ribut-ribut tersebut. Setelah tiba dirumah Yesus bertanya tentang apa yang mereka ributkan dijalan..

Tetapi mereka diam, tidak menjawab. “..sebab di tengah jalan tadi mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka.” Markus 9:33-34.

Keengganan mereka menjawab karena mereka tahu apa yang mereka lakukan tidak sesuai dengan ajaran Yesus tentang kerendahan hati.

Fakta bahwa mereka berdebat tentang siapa yang terbesar, menunjukkan mereka tidak menerapkan apa yang diajarkan kepada mereka.

Mungkin kita juga sama seperti murid-murid. Mempertengkarkan sesuatu karena kita belum menerapkan ajaran Yesus dalam hidup kita..

Ambisi pribadi kita untuk menjadi pemimpin dalam gereja atau ditempat lain menimbulkan pertengkaran, dan kita merasa yang paling layak dari semuannya..

Ini menunjukkan kita belum menerapkan ajaran Yesus tentang kerendahan hati.

Dari cara mereka bertanya, jelas mereka mengharapkan Dia untuk menyebutkan salah satu dari mereka sebagai yang terbesar.

Karena mereka mengharapkan Yesus segera mendirikan kerajaan dunia, dan masing-masing dari mereka berharap memiliki kedudukan yang tinggi dalam kekuasaan itu.

Mereka sangat ingin bersaing untuk menjadi nomor satu. Mereka belum mengerti sepenuhnya misi Yesus datang kedunia..

Pelajaran ini sangat dibutuhkan gereja saat ini. Dimana ambisi dan egois merajalela, sehingga tugas kewajiban kepada sesama anak Tuhan diabaikan.

Seperti para murid, kita semua membutuhkan kerendahan hati dan untuk mengajarkan kerendahan hati kepada murid dan kita semua, Yesus menggunakan metode sederhana.

Yesus tidak memilih siapa yang terbesar diantara mereka. Gantinya dia memanggil seorang anak kecil untuk menjelaskan kebesaran sejati dan kerendahan hati.

Anak kecil dalam teks ini dari kata paidion yaitu anak yang masih sangat muda. Bahkan masih bayi. Anak balita yang sudah bisa berjalan dan berlari..

Ketika Yesus memanggil, anak itu berlari kepada-Nya. Kemungkinan mereka sedang berada dirumah Petrus. Dan anak itu masih anggota keluarga Petrus dan sudah kenal baik dengan Yesus.

Itu sebabnya dia mau datang kepada Yesus.

“Maka Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu …” Markus 9:36.

Poin pertama ajaran Yesus tentang kebesaran ada diayat 3, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.”

Ini adalah persyaratan mutlak. Untuk menjadi yang terbesar dalam kerajaan Allah menuntut keserupaan dengan anak kecil.

Kerajaan surga, kalimat yang Matius gunakan sekitar 32 kali, identik dengan kerajaan Allah.

Kerajaan Surga cara lain untuk mengatakan Tuhan. Kedua kalimat itu merujuk pada pemerintahan Tuhan..

Kerajaan surga menekankan lingkup dan karakter pemerintahan-Nya, dan kerajaan Tuhan dengan tegas menunjuk pada penguasa itu sendiri.

Tuhan memerintah kerajaan-Nya dengan prinsip-prinsip surgawi.. Menjadi yang terbesar berarti tunduk di bawah pemerintahan Allah yang berdaulat.

Orang yang ingin terbesar dalam kerajaan Allah bersedia membuat pengakuan umum tentang keinginannya untuk mengikuti Tuhan.

Orang yang terbesar di kerajaan sorga harus menyangkal diri dan memikul salibnya dan mengikut Yesus.

Jadi saat Yesus menggendong anak kecil dihadapan mereka dan mengatakan” jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.”

Kata bertobat dari kata streph di dalam PB selalu diterjemahkan dengan gagasan “berbalik” Itu berarti membuat wajah berbalik dan pergi ke arah yang berlawanan.

Pertobatan adalah menyesali dosa dan berpaling darinya; pertobatan adalah ekspresi kehendak yang sepenuhnya berbalik dari dosa kepada Tuhan.

Yesus menjelaskan, untuk dipertobatkan seseorang harus menjadi seperti anak kecil. Seorang anak kecil itu sederhana, bergantung, tidak berdaya, tidak terpengaruh, bersahaja, tidak ambisius.

Yesus berkata, “Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga.”

Kata kerja kerendahan hati adalah tapeino, yang memiliki arti literal membuat rendah. Di mata Tuhan, orang yang merendahkan dirinya adalah orang yang ditinggikan..

Orang yang dengan tulus menganggap dirinya paling kecil adalah orang yang dianggap Tuhan paling besar.

Di Matius 23:11-12 Yesus mengatakan, “barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan..”

Orang yang tidak mau merendahkan diri seperti Yesus “merendahkan diri” (Flp. 2:8) tidak akan mendapat tempat di kerajaan Yesus.

Seorang anak kecil tidak mengklaim kelayakan atau kehebatan. Dia tunduk pada perawatan orang tuanya dan orang lain yang mencintainya, mengandalkan mereka untuk semua yang dia butuhkan.

Dia tahu dia tidak dapat memenuhi kebutuhannya sendiri dan tidak memiliki sumber daya untuk tetap hidup.

Itulah jenis ketundukan yang rendah hati yang menghasilkan keagungan di mata Tuhan dan kerajaan-Nya.

Itulah jenis iman yang bersahaja, tidak munafik, rendah hati, seperti anak kecil yang Yesus bicarakan.

Jadi arti yang terbesar di kerajaan surga adalah orang yang rendah hati, tidak terpengaruh, benar-benar tulus, tidak menuntut, tidak mementingkan diri sendiri, menerima apa pun yang ditawarkan Tuhan, dan dengan penuh semangat menaati apa pun yang Dia perintahkan.

Bagi Yesus kebesaran sejati adalah kerendahan hati. Selama kita masih merasa paling layak, besar, paling pintar dan hebat dari yang lain, kita tidak cocok dengan standar Yesus.

Boleh jadi kita mencapai ambisi pribadi kita, tapi ingat itu bukan standar Yesus dan tidak cocok dengan kerajaan-Nya.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *