Pastordepan Media Ministry
Beranda Studi Alkitab Apakah Orang Kristen Masih Wajib Memberikan Persepuluhan Sekarang ini?

Apakah Orang Kristen Masih Wajib Memberikan Persepuluhan Sekarang ini?

Dasar Alkitabiah sistem persepuluhan di Perjanjian Baru

Persepuluhan menjadi topik yang panas diperdebatkan saat ini. Pro-kontra terjadi. Mereka yang kontra berpandangan bahwa Perpuluhan tidak wajib dan tidak lagi berlalu sekarang ini..

Alasanya karena imam-imam dan orang lewi sudah tidak adalagi sekarang ini. Sistem persepuluhan hanya untuk orang-orang Israel. Gereja masa kita tidak relevan lagi mengumpulkan persepuluhan.

Lagi pula tidak ada perintah dalam perjanjian baru untuk mengumpulkan persepuluhan. Penekanan perjanjian baru adala persembahan sukarela.

Bagi mereka yang pro persepuluhan alasanya juga masuk akal, berpandangan bahwa ini berlaku dan masih relevan untuk gereja masa kini.

Tidak adanya perintah tentang persepuluhan di perjanjian baru bukan karena tidak berlaku lagi, namun karena ini bukan isu yang terjadi pada masa itu.

Jika harus tertulis dalam bentuk perintah, maka harus ada tertulis juga perintah bahwa persepuluhan sudah tidak berlaku lagi.

Tidak tertulis tidak berarti dihapuskan. Sebab sistem persepuluhan itu dibuat untuk kelangsungan pelayanan injil sampai Akhir Zaman.

Mungkin masih banyak lagi alasan dari pro dan kontra tentang persepuluhan di perjanjian baru. Sekarang mari kita lihat kelangsungan persepuluhan di Perjanjian Baru.

Prinsip Persepuluhan perjanjian baru

Tampaknya memang tidak ada perintah langsung dalam Perjanjian Baru mengenai persepuluhan. Prinsip persepuluhan kesimpulannya diambil dari prinsip-prinsip Perjanjian Lama.

Keterangan PL mungkin tidak cukup kuat untuk mewajibkan orang percaya pada Perjanjian Baru mengembalikan persepuluhan.

Lebih jauh lagi, sistem persepuluhan dalam Perjanjian Lama sangat berbeda dengan sistem yang dianut oleh gereja saat ini.

Pertimbangan-pertimbangan ini akan membenarkan penyelidikan topik ini berdasarkan kitab suci Perjanjian Baru.

Satu-satunya referensi mengenai persepuluhan yang disampaikan Yesus kita ditemukan dalam Matius 23:23 , dimana Kristus mendukungnya sebagai bagian dari kewajiban keagamaan.

“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.”

Yesus tidak memerintahkan orang-orang Farisi dan ahli Taurat untuk mengabaikan persepuluhan, Dia memerintahkan itu kepada mereka..

Allah menetapkan bahwa sepersepuluh dari semua yang dimiliki seseorang harus diberikan kepada Tuhan untuk pekerjaan Allah yang berkelanjutan melalui orang-orang Lewi dan para imam (misalnya, Im. 27:30–33; Bil. 18:21, 24; Ulangan 12:5–19).

Masalah yang terjadi disini bukan pada perpuluhannya tetapi pada hati mereka yang dalam bertindak tidak seimbang.

Saat mereka melakukan perintah Allah, mereka mengabaikan inti dari perintah itu yaitu kasih dan belas kasihan, keadilan dan kesetiaan.

Itu sebabnya Yesus katakan, yang satu harus dilakukan (memberi persepuluhan), tetapi yang lain jangan diabaikan (keadilan, kasih dan belaskasihan).

Tujuan Persepuluhan Perjanjian Lama dan Baru

Tujuan pemberian persepuluhan dalam Perjanjian Lama didefinisikan dengan jelas: persepuluhan yang pertama untuk pemeliharaan imamat dan kaum Lewi.

Kedua untuk memungkinkan individu berpartisipasi dalam perayaan keagamaan tahunan di Yerusalem.

Ketiga untuk orang miskin.

Beberapa referensi dalam Perjanjian Baru mengenai dukungan pelayanan tidak menyebutkan kata persepuluhan.

Namun, teks-teks tersebut cukup jelas untuk menghancurkan gagasan beberapa orang yang menyangkal institusi pelayanan “profesional” dalam Perjanjian Baru serta hak mereka atas kompensasi materi yang memadai dari gereja.

Hal ini sering dilakukan dengan mengutip 2 Korintus 11:7 di mana Paulus berkata: “ Apakah aku berbuat salah, jika aku merendahkan diri untuk meninggikan kamu, karena aku memberitakan Injil Allah kepada kamu dengan cuma-cuma?”

Orang-orang seperti itu gagal membaca ayat kedelapan di mana sang rasul menyatakan: ” Jemaat-jemaat lain telah kurampok dengan menerima tunjangan dari mereka, supaya aku dapat melayani kamu!”

Dalam terjemahan bahasa inggris KJV, kata tunjangan disebut “upah”

Bahwa Paulus hingga saat itu berhutang budi kepada setidaknya satu gereja—meskipun ia menyebutkan gereja—terbukti dari Filipi 4:15 .

Gereja tersebut telah mendukungnya secara finansial, namun tetap atas dasar sukarela, sebuah kemitraan Kristen.

Di luar ayat-ayat ini Paulus membahas dukungan pelayanan Kristen dalam 1 Korintus 9:13, 14. Di sana ia mengacu pada hukum alam, tatanan Perjanjian Lama, dan pelayanan di Bait Suci.

Kemudian dia menyimpulkan: ” Tidak tahukah kamu, bahwa mereka yang melayani dalam tempat kudus mendapat penghidupannya dari tempat kudus itu dan bahwa mereka yang melayani mezbah, mendapat bahagian mereka dari mezbah itu?

Demikian pula Tuhan telah menetapkan, bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu.”

Nampaknya kesimpulan-kesimpulan ini sangat pasti, karena kesimpulan-kesimpulan ini tidak hanya didasarkan pada ketetapan-ketetapan Perjanjian Lama sebagai perbandingan..

Namun diakhiri dengan mengatakan bahwa Tuhan memerintahkan agar para pekerja Injil mencari penghidupan mereka melalui Injil, yaitu dari gereja-gereja.

Betapapun konkritnya penegasan rasul ini, namun tetap mereka yang kontra akan memaknai ini atas dasar sumbangan sukarela, tidak tetap besarnya atau persentasenya, dan bukan sebagai perintah untuk membayar persepuluhan.

Oleh karena itu, pertanyaan kita adalah apakah ada bukti alkitabiah lebih lanjut yang menetapkan atau mendukung prinsip pembayaran persepuluhan dalam Perjanjian Baru.

Bukti Alkitabiah Persepuluhan Perjanjian Baru

Surat Ibrani menawarkan sebuah perbandingan yang ringkas dan lengkap antara ibadah dan ritual Perjanjian Lama dengan penggenapannya dalam pelayanan Kristus.

Mungkin dimaksudkan untuk mempersiapkan orang-orang percaya Yahudi-Kristen untuk menghadapi goncangan yang akan menimpa mereka melalui penghancuran Yerusalem, Bait Suci dan ibadah-ibadahnya..

Bersamaan dengan berhentinya keimamatan dan pengorbanan pada tahun 70 M, sang rasul menguraikan makna yang sebenarnya dari ibadah Perjanjian Lama.

Dan dengan mengalihkan pelayanan dari kemuliaan Bait Allah di Yerusalem yang telah berlalu kepada kemuliaan yang kekal di tempat kudus surgawi, ia membuat terang perjanjian yang baru bersinar.

Selangkah demi selangkah hal-hal yang berbeda dibandingkan, yang menunjukkan bahwa dalam setiap kejadian penggenapannya jauh melebihi manfaat dari bayang-bayang Perjanjian Lama..

Janji yang lebih baik, perjanjian yang lebih baik, darah yang lebih baik, pengharapan yang lebih baik, tempat perlindungan yang lebih baik.

Pada titik ini rasul harus menjelaskan pertanyaan mengenai imamat Perjanjian Baru. Mungkinkah ada yang lebih baik daripada Harun?

Dan, siapakah Imam Besar Perjanjian Baru? Dalam Ibrani pasal tujuh masalah ini terpecahkan.

Jawabannya adalah bahwa Allah telah menyediakan imamat yang lebih baik, dan untuk mengubah imamat, Dia juga harus mengubah hukum yang menetapkan bahwa hanya orang-orang dari suku Lewi dan keluarga Harun yang dapat melayani di tempat kudus (Ibrani 7:12).

Juga dinyatakan bahwa perubahan seperti itu sama sekali bukan penemuan para pengikut Kristus, tetapi didasarkan pada dua faktor penting:

Pertama, sebuah peristiwa historis yang terkenal, dan kedua, sebuah janji dan sumpah yang sungguh-sungguh dari Allah (Kej. 14:17-20; Mzm. 110:4).

Menurut janji ini, keimamatan orang yang bertemu dengan bapa leluhur mereka, Abraham, dan yang lebih besar darinya, adalah keimamatan yang kekal, yang tidak didasarkan pada keturunan jasmani, tetapi pada segi rohani.

Dengan demikian, kisah dan hubungan Melkisedek dengan Yesus Kristus adalah topik dari kitab Ibrani pasal tujuh.

Dengan demikian, Melkisedek adalah raja Salem dan juga seorang imam dari Allah yang mahatinggi. Dan sementara ia adalah raja kebenaran dan raja damai, ia juga memikul jabatan imam.

Apa yang terjadi selanjutnya pada ayat ketiga telah menjadi topik diskusi dan penafsiran yang beragam. Yang diikuti oleh penulis diterima oleh banyak sarjana konservatif.

Untuk memahami bahasa rasul kita harus ingat bahwa ia mengarahkan dirinya kepada sekelompok orang yang terbiasa dengan terminologi agama tertentu.

Oleh karena itu, ketika teks tersebut menyatakan mengenai manusia Melkisedek bahwa ” Ia tidak berbapa, tidak beribu, tidak bersilsilah, harinya tidak berawal dan hidupnya tidak berkesudahan” , jelaslah bahwa yang dimaksudkan adalah sesuatu yang berbeda dari hubungan alamiah.

Setiap orang Israel sangat memperhatikan silsilahnya. Hal ini penting karena beberapa alasan, terutama dalam persoalan warisan.

Tidak memiliki ayah berarti tidak memiliki ayah orang Israel (lihat Yohanes 8:39-41 ; Ezra 2:59 ).

Ketika seseorang mengklaim keimamatan, alasan serupa dapat digunakan dalam menelusuri silsilah. Oleh karena itu, makna teks kita adalah “[Melkisedek] tidak mempunyai ayah [imam], atau ibu [imam] atau silsilah [imam].”

Namun terlepas dari fakta-fakta ini, dia tetaplah seorang imam yang diakui oleh Tuhan. Inilah inti perbandingannya:

Seperti Melkisedek, demikian pula Yesus, karena Ia juga tidak mempunyai Bapa imam, tidak mempunyai ibu imam, dan tidak mempunyai silsilah imam, karena “Tuhan kita berasal dari suku Yehuda dan mengenai suku itu Musa tidak pernah mengatakan suatu apa pun tentang imam-imam.” ( Ibr. 7:14 )

Sang rasul telah menyatakan maksudnya: bukanlah hal yang baru bahwa ada imam-imam di luar keimamatan Harun dan bahkan sebelum imamat Harun.

Tugas berikutnya adalah menunjukkan keunggulan imamat tersebut dibandingkan imamat Harun.

Hal ini dilakukan dengan mengacu pada beberapa faktor, misalnya keutamaan spiritual terhadap keturunan jasmani, dan sumpah Tuhan.

Namun sang rasul ingin membuktikan argumentasinya lebih dari sekadar penafsirannya terhadap Mazmur 110:4.

Karena itu, ia mengutip sebuah kejadian dari Taurat, instruksi yang diilhami dari Tuhan. Apa yang terjadi ketika Abraham Bapa kita bertemu Melkisedek, imam yang baru saja dibicarakannya?

Baca Juga: Tiga Jenis Persepuluhan di Perjanjian Lama

Abraham memberikan persepuluhan kepada Melkisedek dan, pada gilirannya, diberkati oleh imam yang ditunjuk Tuhan itu.

Dengan ini ia menyimpulkan: ” Memang tidak dapat disangkal, bahwa yang lebih rendah (Abraham) diberkati oleh yang lebih tinggi (Melkisedek).“ ( Ibr. 7:7 ) sehingga menegaskan bahwa imamat Kristus lebih besar daripada imamat Harun.

Setelah semua pendahuluan ini diselesaikan, kita kembali ke topik persepuluhan dalam Perjanjian Baru.

Keunggulan imamat Melkisedek telah ditegakkan—namun atas dasar apa?

“Camkanlah betapa besarnya orang itu (Melkisedek), yang kepadanya Abraham, bapa leluhur kita, memberikan sepersepuluh dari segala rampasan yang paling baik.” (Ibrani 7:4).

Oleh karena itu, argumen yang signifikan adalah pemberian persepuluhan oleh Abraham kepada Melkisedek, sebuah substansi material yang berfungsi sebagai konfirmasi atas kebenaran rohani yang tidak hanya mengakui Melkisedek sebagai imam yang lebih tinggi daripada Harun, tetapi juga bahwa dalam tatanan keimamatan ini, persepuluhan merupakan sebuah institusi yang diterima.

Poin ini ditekankan dari berbagai sudut pandang oleh sang rasul dalam ayat 5 sampai 10. Salah satu yang paling menarik bagi kita adalah kekekalan persepuluhan di dalam kekekalan imamat Melkisedek:

“Dan di sini (Dibawah keimamatan Harun) manusia-manusia fana menerima persepuluhan, dan di sana Ia (Keimamatan Melkisedek), yang tentang Dia diberi kesaksian, bahwa Ia hidup.”(Ibrani 7:8).

Dan karena keimamatan ini diabadikan di dalam Tuhan kita, maka kita memahami bahwa Kristus yang kekallah yang menerima persepuluhan-persepuluhan ini selama keimamatan-Nya masih ada.

Pada titik ini akan tepat untuk menjelaskan bagian terakhir dari Ibrani 7:3 : ” tidak berawal dan hidupnya tidak berkesudahan”

Jelaslah bahwa rujukan kepada Melkisedek ini tidak menyimpulkan keabadiannya, karena kalau tidak, ia akan tetap hidup.

Artinya, sama seperti tidak ada catatan yang menunjukkan keturunan seorang imam, demikian pula tanggal lahirnya maupun waktu kematiannya tidak dicatat.

Penekanannya adalah pada kelanggengan imamatnya dan fungsinya. Jika Kristus tidak datang, imamat Melkisedek akan berakhir dengan kematiannya.

Hanya melalui Kristus imamat ini menjadi kekal dan jabatan Melkisedek serta lembaga-lembaganya hidup melalui Dia: Raja kebenaran, Raja perdamaian, Imam dari Allah Yang Maha Tinggi.

Kesimpulan yang benar seperti itu terlihat dari Ibrani 7:24 : ” Tetapi, karena Ia tetap selama-lamanya, imamat-Nya tidak dapat beralih kepada orang lain.”

Dengan keabadian Kristus dan kelanggengan imamat Kristus serta kedudukan-Nya yang kekal sebagai raja, harapan semua orang beriman akan terpenuhi.

Penulis Surat Ibrani telah dengan hati-hati mengembangkan pentingnya prototipe Perjanjian Lama dan menunjukkan bahwa institusi pelayanan Bait Suci menemukan pemenuhannya dalam pelayanan Kristus yang sempurna.

Dengan melakukan hal ini ia harus membuktikan bahwa Kristus bukan hanya Imam Besar Perjanjian Baru tetapi juga bahwa imamat-Nya jauh lebih unggul daripada imamat Harun.

Peristiwa sejarah yang ia gunakan untuk membuktikan pendapatnya—selain rujukan pada janji Tuhan—adalah perjumpaan Abraham dengan Melkisedek, prototipe Kristus.

Dan sama seperti Abraham memberikan persepuluhan kepada seorang imam yang lebih tinggi daripada imam Yahudi, demikian pula semua orang yang menerima Kristus sebagai imam besar mereka harus memberikan persepuluhan kepada Kristus, karena Dialah yang “diberi kesaksian bahwa Dia hidup”.

Kitab Ibrani pasal tujuh tampaknya memberikan cukup bukti untuk menetapkan sistem persepuluhan sebagai bagian dari ajaran Perjanjian Baru.

Oleh: C Tuland

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan